Chapter 10 of 10

Chapter 10 — Suara dari Dalam Hutan

1.3k words

Malam telah sepenuhnya menyelimuti Everdawn Valley. Di atas Haven Tree, angin bergerak pelan melewati dedaunan. Suara serangga terdengar dari rerumputan, sementara Main Lake memantulkan cahaya bulan di antara sela-sela pepohonan. Biasanya, suasana seperti itu cukup untuk membuat Evan mengantuk. Malam ini tidak. Ia duduk di balkon rumah pohon dengan kedua kaki disandarkan pada pagar kayu. Topi jeraminya menutupi sebagian wajah. Koda berbaring di lantai balkon. Keduanya diam. Evan masih memikirkan suara burung pemangsa tadi. Bukan karena suara itu aneh. Melainkan karena arah terbangnya. Burung itu tidak sekadar kembali ke sarang. Ia seperti sengaja menarik perhatian Evan ke dalam hutan. Evan mengunyah ujung rumput yang terselip di mulutnya. "Atau gua aja yang terlalu banyak mikir." Koda membuka satu mata. "Jangan lihat gua begitu." Koda menutup mata lagi. "Besok kita lihat." Beberapa detik kemudian— Krakk. Evan membuka mata. Suara ranting patah. Dari arah hutan. Ia menegakkan tubuh. Koda juga langsung bangun. Keduanya mendengarkan. Sunyi. Tidak ada suara lagi. Evan berdiri dan melihat ke arah pepohonan. "Kalau lu mau bikin suasana horor, timing lu bagus." Koda berdiri di sampingnya. Evan mengambil lampu kecil dari dalam rumah. Namun sebelum ia sempat turun— Fwoosh! Sesuatu terbang melewati atas Haven Tree. Bayangannya melintas di bawah cahaya bulan. Evan mendongak. Burung pemangsa tadi. Burung itu berputar sekali di atas rumah pohon. Kemudian terbang menuju hutan. Evan menghela napas. "Yaudah." Ia mengambil tas kecilnya. Koda langsung berdiri. "Kita cuma lihat sebentar." Ekor Koda bergerak. "Kalau ada yang aneh, kita balik." Koda menggonggong kecil. "Dan jangan sok berani." --- Mereka memasuki hutan sekitar lima belas menit kemudian. Evan membawa lampu minyak kecil. Tidak terlalu terang, tapi cukup untuk melihat beberapa meter di depan. Burung tadi masih terlihat sesekali di atas pepohonan. Evan mengikuti arah terbangnya. Semakin dalam mereka masuk, semakin sedikit suara yang terdengar. Tidak ada suara rusa. Tidak ada suara burung kecil. Bahkan serangga pun terdengar lebih jarang. Evan berhenti. Ia menatap sekeliling. "Ini aneh." Koda mengendus tanah. Evan berjongkok. Ada jejak. Bukan satu. Banyak. Jejak kaki kecil dan besar bercampur. Namun semuanya menuju arah yang sama. Evan menyentuh tanah. Masih lembap. "Baru." Ia berdiri. Kemudian memperhatikan pohon di depannya. Ada bekas goresan pada batang. Tapi berbeda dengan bekas beruang yang ia temukan pagi tadi. Goresannya lebih rendah. Dan lebih tipis. Evan mengamati beberapa detik. "Kayaknya bukan predator besar." Ia berjalan lagi. Beberapa menit kemudian, mereka menemukan sumber suara. Sebuah cekungan kecil di antara pepohonan. Di dalamnya terdapat semacam mata air. Airnya jernih dan mengalir perlahan menuju sungai kecil yang mereka temukan sebelumnya. Namun di sekitar mata air itu... ada banyak jejak. Evan menyorotkan lampu. Koda mengendus tanah. Kemudian tiba-tiba telinganya berdiri. Ia menatap semak di sebelah kanan. Evan langsung mematikan lampu. Mereka menunggu. Tap. Tap. Suara langkah kecil terdengar. Kemudian sesuatu muncul dari balik semak. Seekor makhluk kecil. Evan menahan napas. Bentuknya seperti perpaduan antara musang dan kucing hutan. Tubuhnya kecil. Bulu abu-abu kecokelatan. Telinganya agak panjang. Matanya berwarna kuning keemasan. Makhluk itu menatap mereka. Koda memiringkan kepala. Evan juga. "..." Makhluk itu maju satu langkah. Koda maju satu langkah. Evan langsung memegang kerah Koda. "Jangan." Makhluk itu justru mengendus udara. Kemudian berjalan mendekati mata air. Ia minum. Evan memperhatikan. Tidak ada tanda agresi. Tidak ada aura aneh. Ia mengeluarkan panel sistem. --- [Makhluk terdeteksi.] Spesies: Musang Hutan Elyndra Kategori: Makhluk Spiritual Tingkat: Rendah Status: Liar Kondisi: Sehat [Pendaftaran sebagai penghuni tersedia.] --- Evan terdiam. "Makhluk spiritual." Ia pernah mendengar istilah itu dari penjelasan awal sistem. Namun selama ini penghuni The Living Haven semuanya masih hewan biasa. Ini yang pertama. Evan tidak langsung mendekat. Ia justru duduk. Makhluk itu menoleh. Evan membuka tas. Ia tidak mengeluarkan makanan. Ia hanya mengambil botol air dan meminumnya sendiri. Koda ikut duduk. Beberapa menit berlalu. Makhluk itu mulai terbiasa dengan keberadaan mereka. Evan tersenyum. "Lu nggak perlu ikut kami." Makhluk itu menatapnya. "Kalau tempat ini nyaman buat lu, datang aja." Tidak ada jawaban. Tentu saja. Evan tertawa kecil. "Ya, gua ngomong sama hewan lagi." Koda menggonggong. "Lu juga jangan ikut-ikutan." Makhluk itu tiba-tiba mengangkat kepala. Ia menatap ke atas. Evan mengikuti arah pandangannya. Burung pemangsa tadi bertengger di dahan. Ia menatap ke bawah. Bukan pada Evan. Melainkan pada makhluk kecil itu. Evan memperhatikan keduanya. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Burung itu tidak terlihat seperti sedang berburu. Ia hanya mengawasi. Makhluk kecil itu juga tidak takut. Evan mengernyit. "Lu berdua saling kenal?" Burung itu mengepakkan sayap. Kemudian terbang. Makhluk kecil itu mengikuti dengan pandangan sampai burung tersebut menghilang. Evan menghela napas. "Kayaknya gua makin banyak pertanyaan." --- Malam semakin larut. Evan akhirnya memutuskan kembali. Namun sebelum pergi, ia melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan. Ia menyentuh makhluk kecil itu. Bukan untuk memaksanya. Ia hanya mengulurkan tangan. Makhluk tersebut mendekat sendiri. Hidungnya menyentuh jari Evan. Kemudian— Seketika pandangan Evan berubah. Hutan. Gelap. Suara air. Aroma tanah. Sebuah tempat berlindung di bawah akar pohon. Beberapa makhluk kecil berlari. Kemudian— Suara kepakan sayap. Bayangan besar melintas. Rasa aman. Kemudian rasa takut. Api. Asap. Pohon tumbang. Makhluk-makhluk kecil berlari meninggalkan tempat mereka. Lalu... Sebuah gambar yang sangat singkat. Sebuah bagian hutan yang terbakar. Bukan seluruh hutan. Hanya sebagian. Evan menarik tangannya. Ia terengah. Kepalanya sedikit berdenyut. Makhluk kecil itu mundur. Evan memejamkan mata. "Memory Trace..." Pengalaman itu jauh lebih kuat daripada ingatan kelinci pertama yang pernah ia sentuh. Ia melihat kembali potongan-potongan tadi. Api. Asap. Pohon tumbang. Makhluk kecil melarikan diri. Evan menatap hutan di sekelilingnya. "Jadi..." Ia menatap bekas-bekas pohon yang terlihat lebih muda dibandingkan pepohonan lainnya. "Di sini pernah terjadi kebakaran." Koda mendekat. Evan mengusap kepalanya. "Aman." Ia berdiri. Namun sebelum pergi, ia melihat sesuatu. Di antara pepohonan yang lebih tua, terdapat area yang terlihat berbeda. Tanahnya lebih gelap. Tumbuhan baru tumbuh di atasnya. Beberapa pohon masih lebih pendek. Evan langsung memahami. Bekas kebakaran lama. Bukan kemarin. Mungkin beberapa tahun lalu. Makhluk itu masih mengingatnya. Evan memandang ke arah hutan. "Jadi itu alasan lu tinggal di sini?" Makhluk itu hanya menatapnya. Evan tidak bertanya lagi. Ia memasukkan tangan ke saku. "Kalau suatu hari lu mau pindah ke Haven, tempatnya ada." Kemudian ia berjalan pulang. --- Keesokan paginya, Evan bangun lebih cepat dari biasanya. Bukan karena lapar. Bukan karena Koda. Ia langsung turun menuju pusat pengelolaan. Panel sistem muncul. Evan membuka data terbaru. --- [Pembaruan Ekosistem] Spesies baru terdeteksi: 1. Musang Hutan Elyndra Kategori: Makhluk Spiritual Tingkat: Rendah Populasi liar terdeteksi di wilayah sekitar The Living Haven. --- Evan membaca sampai selesai. Kemudian membuka menu pembangunan. Sebuah notifikasi baru muncul. --- [Persyaratan fasilitas baru telah terpenuhi.] Fasilitas tersedia: [Pusat Interaksi Alam] Status: Dapat dibangun. Deskripsi: Area khusus yang memungkinkan pengunjung berinteraksi secara terbatas dengan hewan dan makhluk yang memenuhi kriteria tertentu. Catatan: Interaksi tetap mengikuti kondisi dan kenyamanan makhluk hidup. --- Evan terdiam. Kemudian matanya berbinar sedikit. "Bisa dibangun?" Koda yang sedang makan menoleh. Evan melihatnya. "Kayaknya kita mulai punya fasilitas yang benar-benar menarik." Ia membuka detailnya. Namun sebelum menekan tombol pembangunan, ia berhenti. "Belum." Koda menatapnya. "Kita belum punya pengunjung." Evan menutup panel. "Bangun sekarang juga percuma." Ia memandang The Living Haven. Lima spesies. Empat belas penghuni. Satu makhluk spiritual yang masih hidup liar di hutan. Satu burung pemangsa misterius yang terus mengawasi tempat ini. Dan sebuah zoo yang perlahan-lahan mulai menjadi sesuatu. Evan memasukkan kedua tangannya ke saku. "Kayaknya waktunya mulai mikirin pengunjung." Koda menggonggong. Evan menatapnya. "Iya." Ia tersenyum. "Tapi bukan hari ini." Koda langsung mengibaskan ekornya. Evan berjalan menuju danau. Di tengah Main Lake, Haven Tree berdiri kokoh. Dan untuk pertama kalinya, di kejauhan terlihat sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Asap tipis. Bukan dari hutan. Melainkan dari arah jalan kecil di luar lembah. Evan berhenti. Ia memperhatikan asap itu beberapa detik. Kemudian membuka panel sistem. --- [Pemberitahuan] Kehadiran makhluk berakal terdeteksi di wilayah luar The Living Haven. Jarak: 7,4 kilometer. Jumlah: 3 individu. Status: Mendekati wilayah The Living Haven. --- Evan melepas rumput dari mulutnya. "...Pengunjung pertama?" Koda menggonggong keras. Evan memasang kembali topinya. "Kayaknya." Ia menatap jalan menuju lembah. Untuk pertama kalinya sejak The Living Haven berdiri... seseorang dari dunia luar sedang datang.

End of Chapter 10