Chapter 7 of 10

Chapter 7 — Sebuah Kebun Binatang Kecil

1.1k words

Pagi itu, Evan bangun dengan perasaan yang agak berbeda. Bukan karena ia tiba-tiba menjadi rajin. Bukan juga karena ada sesuatu yang mengejarnya. Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak tiba di Elyndra, ada sesuatu yang benar-benar ia tunggu. Hari ini adalah hari kelima. Dan hari ini— The Living Haven akan berubah. Evan keluar dari rumah pohon sambil membawa secangkir air hangat. Topi jeraminya sudah terpasang. Sehelai rumput menggantung di sudut mulutnya. Ia berjalan ke balkon. Dari sana, seluruh area yang telah ia bangun selama beberapa hari terakhir terlihat jelas. Padang rumput kecil. Sungai. Kolam. Area perlindungan. Beberapa tempat berteduh. Dan belasan hewan yang mulai terbiasa dengan keberadaan tempat itu. Beberapa kelinci sedang makan. Bebek berenang di sungai. Dua kambing berada di dekat pepohonan. Burung-burung beterbangan di sekitar The Haven Tree. Evan mengangguk pelan. “Lumayan.” Di bawahnya, Koda sedang mengejar seekor kupu-kupu. “...Koda.” “Woof!” “Jangan dimakan.” Koda berhenti. Kupu-kupu itu terbang pergi. Koda menatapnya dengan ekspresi kecewa. Evan tertawa. “Makanya.” Ia membuka System. Panel transparan muncul. [Zoo Management System] [Status saat ini: Tempat Perlindungan] [Persyaratan peningkatan telah terpenuhi.] [Peningkatan tersedia:] Tempat Perlindungan → Kebun Binatang Evan menatap tulisan itu. Untuk beberapa detik ia tidak melakukan apa-apa. Kemudian jarinya menyentuh panel. [Konfirmasi peningkatan?] “Konfirmasi.” Tidak ada ledakan. Tidak ada cahaya besar. Tidak ada suara gemuruh. Hanya— [Peningkatan dimulai.] Angin di sekitar The Haven Tree berhenti. Kemudian kembali bertiup. Tanah di sekitar area perlindungan bergetar sangat pelan. Evan berdiri tegak. Ia melihat beberapa bagian tanah yang sebelumnya kosong mulai berubah. Jalur tanah terbentuk secara alami. Beberapa batu tersusun di sisi jalan. Papan kayu muncul di dekat pintu masuk. Sebuah gapura sederhana tumbuh dari kayu dan akar. Di atasnya terdapat tulisan: THE LIVING HAVEN Evan menatapnya. “...Cepat juga.” System menampilkan informasi baru. [Peningkatan selesai.] [Status wilayah: Kebun Binatang.] [Fasilitas dasar tersedia.] [Area pengunjung: Belum dibuka.] [Fasilitas khusus: Terkunci.] [Kategori makhluk: Hewan Modern.] Evan membaca bagian terakhir. “Hewan modern.” Ia mengangguk. “Berarti untuk sekarang cuma hewan biasa.” [Benar.] “Bagus.” Evan tersenyum. “Gua juga belum siap ngurus naga.” [Kategori Makhluk Spiritual: Terkunci.] Evan langsung menatap panel. “...Naga?” [Naga merupakan salah satu kemungkinan spesies pada kategori Makhluk Spiritual dan Makhluk Mitologi.] Evan terdiam. Kemudian mengangguk pelan. “Jangan kasih gua ide.” System tidak menjawab. Evan menutup panel. Ia berjalan menuju gapura. Begitu melewatinya, sebuah jalan kecil membentang menuju area utama. Tidak besar. Namun jelas lebih teratur dibanding sebelumnya. Ada papan penunjuk. AREA PADANG RUMPUT AREA AIR TEMPAT PERLINDUNGAN Dan sebuah papan kosong. Evan mendekat. “Yang ini buat apa?” [Papan informasi spesies.] “Belum ada spesies yang didaftarkan?” [Benar.] Evan mengangguk. “Berarti gua yang isi.” Ia mengambil kapur. Kemudian menulis: KELINCI Habitat: Padang rumput dan semak. Makanan: Rumput, daun, sayuran tertentu. Catatan: Hewan pemalu. Jangan mengejar. Evan melihat hasilnya. “Bagus.” Koda datang dan mengendus papan. Evan langsung menatapnya. “Lu jangan coret.” Koda duduk. “Woof.” “Bagus.” Evan melanjutkan. Ia membuat papan untuk bebek. Kemudian kambing. Lalu beberapa jenis burung yang sudah ia identifikasi. Tidak semuanya lengkap. Namun cukup untuk memberikan informasi dasar. Ia tidak ingin tempat ini hanya menjadi tempat orang melihat hewan. Kalau suatu hari nanti ada pengunjung— mereka harus pulang dengan membawa pengetahuan. Bukan cuma foto. Menjelang siang, pekerjaan dasar selesai. Evan berdiri di tengah jalan. Ia menatap The Living Haven. Untuk pertama kalinya, tempat itu benar-benar terlihat seperti sebuah kebun binatang. Kecil. Sederhana. Namun nyata. Ia memasukkan tangan ke saku. “Gua punya kebun binatang.” Koda menggonggong. “Woof!” Evan menoleh. “Lu bangga?” Koda menggoyangkan ekor. “Jangan terlalu bangga.” Evan tertawa. Namun saat ia hendak kembali ke rumah, System berbunyi. [Fitur baru terbuka.] Evan berhenti. [Manajemen Spesies.] [Pengelola dapat mendaftarkan spesies yang telah diamati.] [Setiap spesies memiliki kebutuhan habitat, makanan, dan perawatan yang berbeda.] [Informasi lengkap dapat diperoleh melalui observasi.] Evan mengangguk. “Masuk akal.” Ia membuka daftar. [Spesies terdaftar: 4] Kelinci Bebek Kambing Burung lokal Evan melihat daftar tersebut. “Empat.” Kemudian ia menatap lembah yang luas. “Padahal masih banyak yang belum gua kenal.” Itu membuatnya tersenyum. Justru itu yang ia inginkan. Bukan sistem yang memberinya seluruh jawaban. Ia ingin menemukan semuanya sendiri. Sore harinya, Evan berjalan lebih jauh dari biasanya. Koda mengikuti. Mereka meninggalkan area The Living Haven dan masuk ke padang rumput yang lebih luas. Evan membawa buku catatan. Hari ini ia ingin mengetahui apa saja yang hidup di sekitar tempat itu. Tidak lama kemudian— ia menemukan jejak. Lebih besar dari jejak kelinci. Lebih besar dari kambing. Evan langsung berjongkok. “Hmm.” Jejak itu memiliki bentuk yang berbeda. Tiga jari. Tidak terlalu dalam. Evan menyentuh tanah. “Burung besar.” Koda mengendus jejak itu. Kemudian melihat ke arah bukit. Telinganya tegak. Evan ikut melihat. Di atas sebuah batu tinggi— seekor burung besar berdiri. Tubuhnya berwarna cokelat keabu-abuan. Sayapnya lebar. Paruhnya kuat. Seekor burung pemangsa. Evan tersenyum. “...Elang?” Burung itu membuka sayap. Kemudian terbang. Koda otomatis mengejar beberapa langkah. “Koda!” Koda berhenti. Evan menatapnya. “Gua bilang jangan ngejar.” “Woof.” “Kalau lu ngejar semua yang terbang, kapan kita selesai?” Koda menunduk. Evan menghela napas. Namun ia tersenyum. Ia mencatat bentuk burung tersebut. Kemudian menulis: Burung pemangsa besar — belum teridentifikasi. Habitat: Tebing/padang terbuka. Perilaku: Mengamati dari tempat tinggi. Evan menutup buku. “Besok kita cari tahu.” Mereka kembali menjelang matahari terbenam. Dari kejauhan, The Living Haven terlihat indah. Rumah pohon di tengah The Haven Tree. Jalur kecil. Padang rumput. Sungai. Hewan-hewan yang mulai menjadikan tempat itu rumah. Evan berhenti. Ia menatap semuanya. Kemudian tersenyum. “Kalau suatu hari nanti ada orang datang...” Ia membayangkan beberapa orang berjalan di jalan itu. Anak-anak melihat kelinci. Orang-orang mengamati burung. Keluarga duduk di dekat danau. Tidak ada kandang sempit. Tidak ada hewan yang dipaksa melakukan sesuatu. Hanya manusia dan kehidupan yang saling mengamati. Evan mengangguk. “Kayaknya bakal bagus.” Koda duduk di sampingnya. Untuk beberapa saat, keduanya hanya diam. Kemudian System muncul. [Pembaruan wilayah.] [The Living Haven telah mencapai tahap Kebun Binatang.] [Fitur baru akan tersedia secara bertahap.] [Pengunjung belum diizinkan.] Evan membaca kalimat terakhir. “Belum diizinkan?” [Kondisi belum memenuhi standar pembukaan.] “Berapa lama?” [Tidak ditentukan.] Evan tersenyum. “Berarti kita punya waktu.” Ia berjalan menuju rumah. “Besok kita tambah habitat.” Koda mengikuti. “Lusa cari spesies baru.” Koda menggonggong. “Terus kita lihat apa lagi yang bisa dibangun.” Evan menaiki tangga rumah pohon. Ia berhenti di tengah jalan. “Dan malam ini...” Ia menatap langit. “Gua tidur.” Koda menggonggong keras. “WOof!” “Kenapa?” Koda berlari lebih dulu menuju rumah. Evan tertawa. “Lu juga mau tidur?” Koda menghilang di balik pintu. Evan menggeleng. “Dasar.” Malam turun perlahan di Everdawn Valley. Bintang-bintang memenuhi langit. Dan di bawahnya, sebuah kebun binatang kecil berdiri untuk pertama kalinya. Tidak ada pengunjung. Tidak ada nama besar. Tidak ada ketenaran. Hanya beberapa hewan, sebuah rumah pohon, seekor husky, dan seorang pengelola yang bahkan lebih suka tidur daripada bekerja. Namun semuanya harus dimulai dari sesuatu. Dan bagi The Living Haven— semuanya dimulai dari empat spesies kecil. Satu rumah. Satu lembah. Dan seorang pengembara bertopi jerami yang akhirnya menemukan tempat untuk menetap.

End of Chapter 7

Chapter 7: Chapter 7 — Sebuah Kebun Binatang Kecil - The Straw-Hatted Wanderer | Novel AI Studio