Chapter 5 of 10

Chapter 5 — Tidak Semudah yang

1.1k words

Dibayangkan Pagi berikutnya, Evan bangun tanpa perlu dibangunkan Koda. Itu sebuah pencapaian. Setidaknya menurut Evan. Ia membuka mata perlahan. Menatap langit-langit kayu rumah pohonnya. Kemudian kembali memejamkan mata. “...Masih pagi.” Di luar, suara burung terdengar. Angin berembus melewati dedaunan The Haven Tree. Evan menarik selimut sedikit lebih tinggi. “Masih bisa tidur.” Tiga detik kemudian— [Selamat pagi, Pengelola.] Mata Evan langsung terbuka. “...System.” [Benar.] “Kenapa lu gak pernah muncul pas gua udah bangun?” [Pengelola telah bangun.] “Secara teknis gua belum.” [Pengelola telah membuka mata.] “...” Evan menatap langit-langit. “Lu ngeselin juga.” Dari bawah tempat tidur terdengar suara. “Woof.” Evan menoleh. Koda sudah berdiri. Entah sejak kapan. “Lu juga?” Koda menggoyangkan ekornya. “Woof!” Evan akhirnya bangkit. “Yaudah.” Beberapa menit kemudian, Evan sudah berada di luar rumah. Topi jerami terpasang. Sepotong rumput menggantung dari mulutnya. Tangannya membawa sebuah ember kayu. Hari ini ia punya pekerjaan. Memberi makan. Kemarin ia baru menyadari satu hal penting. Membuat tempat aman untuk hewan memang gampang. Tapi mempertahankan tempat itu? Berbeda cerita. Ia berjalan menuju area perlindungan. Dan langsung berhenti. “...” Tanah di sekitar tempat makan penuh jejak kaki. Ada sisa rumput berserakan. Air di wadah minum sudah bercampur tanah. Beberapa daun bahkan masuk ke dalamnya. Evan menatap semuanya. “...Baru sehari.” Koda berdiri di sampingnya. Evan menunjuk area tersebut. “Lu lihat?” “Woof.” “Ini baru tujuh hewan.” Koda duduk. Evan menghela napas. “Kalau nanti seratus?” Koda memiringkan kepala. “Seribu?” Koda tetap diam. “Sepuluh ribu?” Koda akhirnya menguap. Evan mengangguk. “Ya. Gua juga males mikirin.” Ia mulai membersihkan. Sisa makanan dikumpulkan. Wadah air dicuci. Tanah dirapikan. Tanaman yang terinjak diperiksa. Beberapa bibit yang rusak diganti. Pekerjaan sederhana. Namun cukup menguras tenaga. Setelah hampir satu jam— Evan duduk di atas batu. Keringat mengalir dari dahinya. “...Capek.” Koda datang. Evan melihatnya. “Jangan minta jalan-jalan.” Koda duduk. “Bagus.” Evan mengambil air. Meneguknya. Kemudian melihat area perlindungan. Semuanya kembali rapi. Namun ia menyadari sesuatu. “Gua harus bikin sistem pemeliharaan.” Panel muncul. [Permintaan terdeteksi.] Evan hampir tersedak. “Bukan permintaan.” [Apakah pengelola membutuhkan bantuan?] “Kalau bisa.” [Fungsi manajemen tersedia.] Sebuah menu baru muncul. [Manajemen Habitat] [Fitur:] [- Informasi kebutuhan spesies.] [- Jadwal pemberian pakan.] [- Pemantauan kondisi habitat.] [- Catatan kesehatan dasar.] Evan membaca satu per satu. Matanya sedikit berbinar. “Ini baru berguna.” Ia memilih Informasi kebutuhan spesies. Panel berubah. [Kelinci] Kebutuhan utama: Rumput Daun Sayuran tertentu Air bersih Tempat berlindung Catatan: Kelinci membutuhkan area dengan tempat bersembunyi untuk mengurangi stres. Evan mengangguk. “Masuk akal.” Ia membuka data bebek. [Bebek] Kebutuhan utama: Tumbuhan Biji-bijian Serangga Air Area daratan Catatan: Bebek membutuhkan akses ke air dan daratan. Evan mengangguk lagi. “Berarti jangan cuma kasih kolam.” Ia berhenti. Kemudian membuka data kambing. [Kambing] Kebutuhan utama: Rumput Daun Tumbuhan Air Tempat berteduh Evan menutup panel. “...Oke.” Ia menatap seluruh area. “Kalau hewan makin banyak, gua harus ngerti kebutuhan masing-masing.” Ia tersenyum. “Untung gua biolog.” Koda menggonggong. “Woof!” Evan menunjuknya. “Lu gak termasuk.” Koda menggeram kecil. “Lu husky.” “Woof.” “Gua tahu.” Evan berdiri. “Sekarang masalah berikutnya.” Ia berjalan menuju area rumput. Beberapa kelinci sedang makan. Bebek berenang di sungai. Beberapa burung hinggap di pohon. Semuanya terlihat baik-baik saja. Namun Evan memperhatikan sesuatu. Salah satu kelinci duduk agak jauh dari yang lain. Tidak makan. Evan langsung menyipitkan mata. “...Hmm.” Ia tidak langsung mendekat. Ia mengamati. Kelinci itu bergerak sedikit. Kemudian menggaruk telinganya. Berhenti. Menggaruk lagi. Evan berjongkok dari kejauhan. “Gatal?” Kelinci tersebut menggerakkan telinga. Evan memperhatikan bulunya. Tidak ada luka terbuka. Namun ada bagian bulu yang terlihat sedikit berbeda. Evan membuka System. [Kondisi individu terdeteksi tidak optimal.] Evan terdiam. “Bisa diperiksa?” [Pengelola dapat melakukan pemeriksaan langsung.] Evan mendekat perlahan. Kelinci itu tidak langsung lari. Evan mengulurkan tangan. Ia menyentuh tubuh kecil tersebut dengan lembut. Dan saat kulitnya menyentuh bulu— dunia di sekeliling Evan berubah. Sesaat. Ia melihat rumput. Langit. Sebuah lubang kecil. Bau tanah. Suara hujan. Kemudian rasa takut. Sangat singkat. Fragmen-fragmen yang tidak berurutan. Sebuah bayangan besar. Lalu suara keras. Kemudian kembali ke padang rumput. Evan menarik tangannya. Ia terdiam. Kelinci itu tetap berada di depannya. Tidak bergerak. “...Memory Trace.” Ia akhirnya mengerti. Kemampuan itu bukan sekadar melihat ingatan. Itu seperti menyentuh potongan kecil kehidupan makhluk lain. Tidak lengkap. Tidak jelas. Namun cukup untuk memberikan petunjuk. Evan melihat telinga kelinci tersebut. Kemudian bagian bulunya. “Lu pernah kena sesuatu?” Kelinci itu tentu tidak menjawab. Evan menghela napas. “Gua juga gak tahu lu ngerti gua atau enggak.” Ia memeriksa lebih teliti. Kemudian menemukan beberapa parasit kecil di bulu bagian belakang. “Ah.” Evan mengangguk. “Pantes.” Ia membuka System. [Kondisi: Gangguan parasit eksternal ringan.] [Tindakan yang disarankan: Pembersihan dan pemantauan.] Evan tersenyum. “Gak perlu obat aneh-aneh.” Ia mengambil beberapa bahan yang aman berdasarkan pengetahuannya. Membersihkan bagian bulu tersebut dengan hati-hati. Kelinci awalnya gelisah. Namun setelah beberapa saat, ia mulai tenang. Koda duduk tidak jauh dari mereka. Tidak mengganggu. Evan bekerja sampai selesai. Kemudian melepaskan kelinci itu. Hewan kecil tersebut diam beberapa detik. Lalu kembali menuju kelompoknya. Evan memperhatikannya. “Semoga membantu.” Kelinci itu berhenti. Menoleh sebentar. Kemudian pergi. Evan tersenyum kecil. Ia tidak tahu apakah kelinci itu memahami apa yang baru saja dilakukan. Mungkin tidak. Tapi tidak masalah. Evan kembali berdiri. Ia memandang tangannya. Memory Trace. Kemampuan aneh yang bahkan tidak ia mengerti sepenuhnya. Ia tahu sekarang bahwa kemampuan itu bukan sekadar fitur tambahan. Kalau digunakan dengan benar— kemampuan tersebut bisa membantu memahami makhluk yang tidak bisa berbicara. Dan itu membuat Evan terdiam cukup lama. “Kalau nanti ada hewan yang terluka...” Ia melihat lembah. “Gua bisa tahu apa yang mereka alami.” Bukan seluruhnya. Bukan sempurna. Tapi cukup. Koda mendekat dan menyenggol kakinya. Evan menunduk. “Kenapa?” “Woof.” “Lapar?” Ekor Koda bergerak. Evan tertawa. “...Ternyata dari tadi lu cuma nunggu makan.” Koda menggonggong lagi. “Yaudah.” Evan mengambil ember. “Waktunya makan.” Koda langsung berlari. “WOI!” Evan mengejarnya. “Jangan lari dulu!” Koda semakin cepat. “Gua belum bilang makanannya apa!” Koda berhenti mendadak. Evan hampir menabraknya. “...” Koda menoleh. Evan menunjuk wajahnya. “Lu jangan pernah lakukan itu lagi.” Koda menjilat hidung. “Woof.” Evan menghela napas. Namun akhirnya tertawa. Hari itu tidak menghasilkan bangunan besar. Tidak ada penemuan makhluk luar biasa. Tidak ada peristiwa yang akan mengubah dunia. Hanya seekor kelinci yang membutuhkan bantuan. Seekor husky yang terlalu bersemangat saat mendengar kata makan. Dan seorang mantan petualang yang perlahan belajar menjadi penjaga sebuah rumah bagi makhluk hidup. Di atas panel System, sebuah tulisan kecil muncul. [Misi Awal diperbarui.] [Kondisi The Living Haven: Stabil.] [Penghuni terdaftar: 7.] [Kepercayaan lingkungan: Meningkat.] Evan tidak melihatnya. Ia sedang sibuk mengejar Koda yang membawa sepotong makanan di mulutnya. “WOI, ITU PUNYA GUA!” “WOOF!” “BALIK!” Suara mereka menggema di seluruh lembah. Dan untuk pertama kalinya— Everdawn Valley mulai mengenal suara seorang pria bertopi jerami. Seorang pengembara yang tidak lagi mencari petualangan. Melainkan rumah.

End of Chapter 5