Chapter 4 of 10

Chapter 4 — Penghuni-Penghuni Kecil

1.2k words

Keesokan paginya, Evan menemukan sesuatu yang tidak ia duga. Jejak kaki. Banyak jejak kaki. Ia berdiri di depan area perlindungan sambil memegang cangkir kayu berisi air hangat. Matanya menyapu tanah yang kemarin masih kosong. “...Hah?” Ada jejak kecil di dekat tempat minum. Jejak lain di sekitar tanaman. Beberapa bahkan mengarah masuk ke semak-semak yang sengaja ia biarkan tumbuh. Evan berjongkok. Ia menyentuh tanah dengan ujung jarinya. Masih lembap. Jejaknya baru. “Berarti semalam ada yang datang.” Koda berdiri di sampingnya. Husky itu mengendus tanah. Kemudian mengikuti salah satu jejak. Evan langsung menunjuk. “Pelan.” Koda berhenti. “Jangan dikejar.” Koda menoleh. “Woof.” “Bagus.” Evan kembali melihat jejak tersebut. Sebagai seorang yang sudah bertahun-tahun mempelajari alam, ia tahu satu hal sederhana. Kalau seekor hewan meninggalkan jejak di suatu tempat— berarti tempat tersebut mulai dianggap aman. Dan itu jauh lebih penting daripada sekadar jumlah penghuni. Ia berdiri. Kemudian berjalan menuju area perlindungan. Kelinci kemarin masih ada. Hewan kecil itu sedang duduk di antara rerumputan. Begitu melihat Evan, telinganya bergerak. Evan berhenti beberapa meter jauhnya. Tidak mendekat. Tidak mencoba menyentuh. “Pagi.” Kelinci itu tetap diam. “Masih betah?” Kelinci itu menggerakkan hidungnya. Evan mengangguk sendiri. “Gua anggap iya.” Koda duduk di samping Evan. Kelinci langsung menatap Koda. Koda menatap balik. Suasana menjadi hening. Evan melihat keduanya. “...Jangan.” Koda berkedip. “Gua tahu tatapan lu.” Kelinci melompat menjauh sedikit. Koda hanya menghela napas. “Woof.” “Bagus.” Evan kemudian membuka System. [Zoo Management System] [Status wilayah: Tempat Perlindungan] [Penghuni terdeteksi: 1] [Kondisi area: Stabil] Evan membaca informasi tersebut. “Penghuni terdeteksi satu.” Ia melihat sekitar. “Padahal semalam ada beberapa.” [Hanya penghuni yang menetap pada area perlindungan yang tercatat.] “Jadi yang cuma mampir gak dihitung?” [Benar.] Evan mengangguk. “Masuk akal.” Ia kemudian melihat satu bagian yang belum dibuka. [Data spesies: Terkunci.] Evan mengangkat alis. “Lah?” [Informasi spesies belum tersedia.] “Kenapa?” [Diperlukan pengamatan langsung.] Evan memandang kelinci. Kemudian System. Kemudian kelinci lagi. “...Oh.” Ia duduk. “Jadi gua harus belajar sendiri.” [Benar.] “Gak ada database instan?” [Tidak.] “Ensiklopedia?” [Tidak.] “Wikipedia?” Hening. Evan menghela napas. “Yaudah.” Ia mengambil buku catatan. Kemudian mulai mengamati. Ukuran tubuh. Warna bulu. Bentuk telinga. Pola aktivitas. Cara makan. Respons terhadap suara. Ia mencatat semuanya. Tidak lama kemudian, dua kelinci lain muncul dari semak. Evan berhenti menulis. “...Tiga.” Kelinci pertama bergerak mendekati dua lainnya. Tidak ada konflik. Ketiganya mulai makan rumput. Evan tersenyum. “Berarti yang kemarin bukan satu-satunya.” Koda melihat ketiga kelinci itu. Kemudian melihat Evan. Kemudian ketiga kelinci. Evan langsung berkata, “Jangan.” Koda duduk. “Pinter.” Namun belum selesai. Dari arah sungai terdengar suara lain. Kwek. Evan menoleh. Seekor bebek keluar dari rerumputan. Kemudian satu lagi. Dan satu lagi. Evan memandang mereka. “...Bebek?” Ketiga bebek itu berjalan menuju sungai. Mereka berhenti di tepian. Kemudian masuk ke air. Evan tersenyum. “Ini mulai ramai.” System kembali muncul. [Spesies tambahan terdeteksi.] [Bebek.] [Status: Hewan modern.] Evan mengangkat alis. “Sekarang bisa?” [Pengamatan dasar telah mencukupi.] “Jadi System cuma bantu mengklasifikasikan?” [Benar.] Evan mengangguk. “Lebih bagus.” Ia tidak ingin System melakukan semuanya. Kalau setiap makhluk langsung diberikan seluruh informasinya, maka tidak ada alasan baginya untuk mengamati. Padahal itulah bagian yang paling ia sukai. Memahami kehidupan. Ia berjalan menuju sungai. Koda mengikuti dari belakang. Bebek-bebek itu tidak takut. Salah satunya bahkan berenang mendekati Evan. Evan berjongkok. Ia melihat bentuk paruhnya. Kaki berselaput. Cara berenang. Kemudian mencatat. “Menarik.” Koda memandang Evan. “Jangan cemburu.” “Woof.” “Gua cuma lihat bebek.” Koda menghela napas. Evan tertawa. Setelah beberapa jam, ia mulai menyadari sesuatu. Tempat ini tidak perlu dipenuhi hewan melalui System. Hewan-hewan sudah ada di sekitar mereka. Mereka hanya membutuhkan alasan untuk datang. Air. Makanan. Tempat berlindung. Dan keamanan. Evan berdiri di atas sebuah batu. Ia melihat seluruh lembah. “Kalau begini...” Ia berpikir sejenak. “Gua gak perlu bikin kandang.” System muncul. [Koreksi.] Evan menoleh. “Apaan?” [Habitat tetap diperlukan.] “Ya, tapi bukan kandang.” [Definisi sesuai.] Evan tersenyum. “Bagus.” Ia mulai membayangkan tempat ini beberapa tahun ke depan. Bukan barisan kandang besi. Bukan hewan yang hanya berjalan bolak-balik di ruang sempit. Ia membayangkan hutan. Padang rumput. Danau. Pegunungan. Hewan yang bisa bergerak bebas. Pengunjung yang berjalan di antara habitat alami. Tempat di mana orang bisa belajar tentang kehidupan tanpa merasa sedang melihat sesuatu yang dipenjara. Evan mengambil rumput dari mulutnya. “Kayaknya nama kebun binatang biasa gak cocok.” Ia terdiam. Kemudian melihat kelinci. Bebek. Burung. Pohon. Dan danau. Tempat ini bukan sekadar kebun binatang. Bukan sekadar tempat perlindungan. Lebih seperti... rumah. Evan tersenyum. “The Living Haven.” Koda mengangkat kepala. “Woof?” Evan menatapnya. “Nama tempat ini.” Koda berkedip. “Udah. Jangan dipikirin.” “Woof.” Siang mulai bergeser. Evan kembali ke rumah pohon. Ia memasak makanan sederhana. Nasi. Sayuran. Beberapa buah. Tidak ada yang mewah. Koda mendapatkan makanannya sendiri. Setelah selesai makan, Evan membawa kursi keluar ke balkon. Ia duduk. Kakinya dinaikkan ke pagar kayu. Topi jerami menutupi sebagian wajahnya. Angin bertiup. Ia hampir tertidur. Hampir. Sampai— [Misi baru tersedia.] Evan membuka satu mata. “...Serius?” Panel muncul. [Misi: Sambut Penghuni Pertama.] [Tujuan:] [Sediakan lingkungan yang layak bagi minimal lima individu hewan.] [Status: 4/5.] Evan langsung duduk. “Empat?” Ia melihat ke bawah. Kelinci. Tiga. Bebek. Tiga. “...Tujuh.” System diam. Evan menyipitkan mata. “Bukannya tadi katanya penghuni menetap?” [Sebagian belum menetap.] “Yang mana?” [Tidak dapat ditentukan tanpa observasi lebih lanjut.] Evan menghela napas. “Yaudah.” Ia turun dari rumah. Koda ikut. Mereka berjalan menyusuri padang rumput. Tidak lama kemudian, Evan menemukan sesuatu. Di bawah semak dekat sungai— seekor anak kambing. Kecil. Sendirian. Evan langsung berhenti. Kambing itu menatapnya. Tidak lari. Tidak mendekat. Hanya diam. Evan berjongkok. “Hey.” Kambing itu mengembik kecil. “Meh.” Evan tersenyum. “Lu nyasar?” Koda mendekat. Anak kambing itu mundur. Evan menahan Koda dengan satu tangan. “Pelan.” Ia memperhatikan sekitar. Tidak ada kawanan. Tidak ada induk. Tidak ada jejak baru. Evan tidak langsung menyentuhnya. Ia justru menunggu. Beberapa menit. Kemudian dari kejauhan terdengar suara. “Meh!” Anak kambing itu langsung menoleh. Evan ikut melihat. Dari balik bukit kecil, seekor kambing dewasa muncul. Anak kambing itu langsung berlari. “Meh!” Induknya menyambut. Evan tersenyum. “Ah.” Ia berdiri. “Bukan nyasar.” Koda melihat mereka. Kemudian menatap Evan. Evan mengusap kepala Koda. “Nah, itu baru keluarga.” Ia tidak perlu mengambilnya. Tidak semua hewan yang datang harus menjadi penghuni. Sebagian hanya lewat. Sebagian mencari makanan. Sebagian mencari air. Sebagian hanya ingin beristirahat. Dan Evan mulai memahami bahwa The Living Haven bukan berarti memiliki semua makhluk yang datang. Tempat ini harus menjadi tempat yang bisa mereka pilih untuk kembali. Bukan tempat yang memaksa mereka tinggal. Ia kembali ke rumah sambil memasukkan tangan ke saku. Di belakangnya, kehidupan lembah terus berjalan. Kelinci kembali makan. Bebek berenang. Burung terbang. Kambing berjalan bersama anaknya. Tidak ada yang spektakuler. Tidak ada pertarungan. Tidak ada teknik kultivasi. Namun bagi Evan— semua itu sudah cukup menarik. Ia tersenyum. “Besok kita bikin lebih bagus lagi.” Koda menggonggong. “Woof!” Evan berhenti. “...Tapi setelah sarapan.” Koda menatapnya. “Dan tidur siang.” “Woof!” “Setuju.” Untuk pertama kalinya sejak tiba di Elyndra— Evan merasa bahwa ia benar-benar sedang membangun sesuatu. Bukan kerajaan. Bukan sekte. Bukan kekuatan. Hanya sebuah tempat kecil. Sebuah rumah. Sebuah perlindungan. Dan mungkin, suatu hari nanti— sebuah Haven bagi banyak kehidupan.

End of Chapter 4