Chapter 3 of 10

Chapter 3 — Langkah Pertama

1.2k words

Pagi kedua datang lebih cepat dari yang Evan harapkan. Atau lebih tepatnya— Evan berharap pagi itu tidak datang sama sekali. “Lima menit lagi...” Ia menarik selimut sampai menutupi kepala. Di luar rumah pohon, suara burung terdengar bersahutan. Angin melewati dedaunan The Haven Tree. Cahaya matahari perlahan masuk melalui jendela. Dan di lantai— Koda sudah duduk. Menatap Evan. Sudah lima menit. Sepuluh menit. Lima belas menit. Evan masih tidak bergerak. Koda akhirnya menghela napas kecil. “...Huff.” Mata Evan terbuka. “Jangan ngegas.” Koda menatapnya. “Gua bangun.” Koda tetap menatap. “Serius.” Tatapan Koda semakin tajam. “...Iya, iya.” Evan bangkit. “Anjing macam apa yang jadi alarm hidup?” Koda menjawab dengan satu gonggongan. “Woof.” “Gak perlu bangga.” Setelah mencuci muka dan makan sarapan sederhana, Evan turun dari rumah pohon. Pagi itu ia membawa beberapa peralatan sederhana yang berhasil ia kumpulkan dari sekitar lembah. Kapak. Sekop. Tali. Pisau kecil. Dan sebuah tas. Ia berdiri di depan padang rumput luas di dekat The Haven Tree. Koda duduk di sampingnya. Evan melihat sekeliling. “Jadi...” Ia membuka telapak tangannya. Sebuah panel transparan muncul. [Zoo Management System] [Status: Tempat Perlindungan] [Fasilitas tersedia:] [- Tempat Tinggal Pengelola] [- Area Perlindungan Hewan] [- Sumber Air] [- Area Pakan Dasar] Evan mengangkat alis. “Cuma segini?” [Benar.] “Gua kira sistem bakal langsung ngasih kebun binatang.” [Tidak.] “Bagus.” Evan justru tersenyum. “Kalau langsung jadi, gak seru.” Koda menatapnya. Evan mengusap dagunya. “Dan gua juga gak mau ngurus kebun binatang sebesar kota sendirian.” Ia menunjuk padang rumput. “Mulai dari kecil.” Sebuah notifikasi muncul. [Misi Awal] [Bangun fondasi The Living Haven.] [Tujuan:] [1. Menentukan area utama.] [2. Menyediakan sumber makanan.] [3. Menyediakan tempat perlindungan.] [4. Menyediakan sumber air.] [5. Menyediakan lingkungan yang aman.] [Hadiah: Fasilitas dasar The Living Haven.] Evan membaca semuanya. Kemudian menatap padang rumput. “Hmm.” Ia berjalan beberapa meter. Menginjak tanah. Mengambil sedikit tanah dengan tangannya. Teksturnya cukup lembut. Tidak terlalu basah. Tidak terlalu kering. Ada banyak rumput. Di dekatnya terdapat beberapa pohon kecil. Sungai kecil juga mengalir tidak jauh dari sana dan bermuara ke Main Lake. Evan mengangguk. “Tanahnya bagus.” Ia berjalan lagi. Matanya memperhatikan tumbuhan yang tumbuh di sekitar. Beberapa rumput. Semak. Bunga liar. Pohon buah kecil. Evan berhenti di depan sebuah tanaman. Ia berjongkok. “Menarik.” Ia memperhatikan daunnya. Kemudian mencium aromanya. Bukan tanaman yang ia kenal dari Bumi. Namun struktur dasarnya cukup familiar. “Dunia lain, tapi prinsip biologinya mungkin masih mirip.” Evan mengambil buku catatan kecil dari tasnya. Ia mulai menulis. Tanaman lokal — belum teridentifikasi. Habitat: Everdawn Valley. Kondisi tanah: lembap sedang. Potensi: sumber makanan? Koda mendekat. Ia mencium tanaman tersebut. Kemudian bersin. “Ha—” Koda bersin lagi. “...Hatchi!” Evan menoleh. “Lu gak cocok jadi peneliti.” Koda memandangnya dengan kesal. “Woof.” “Yaudah.” Evan berdiri. Ia kemudian melihat ke arah hutan. Ada beberapa jejak kecil di tanah. Jejak kaki. Bukan manusia. Evan langsung tertarik. Ia berjongkok. Memeriksanya. “Hmm.” Ukuran kecil. Empat jari. Tidak ada tanda cakar yang terlalu panjang. Jejaknya masih baru. Evan memperhatikan arah pergerakannya. “Kayaknya ada beberapa herbivora kecil di sekitar sini.” Koda langsung berdiri. Telinganya tegak. Evan menoleh. “Jangan.” Koda menatap hutan. Kemudian Evan. Kemudian hutan lagi. “Gua tahu lu penasaran.” “Woof.” “Tapi jangan dikejar.” Koda akhirnya duduk. Evan tersenyum. “Pinter.” Ia kembali mengamati jejak tersebut. Seorang biolog tidak harus menangkap sesuatu untuk mempelajarinya. Kadang— cukup melihat jejak. Sisa makanan. Kotoran. Bulu. Atau bekas cakaran. Dari sana, banyak informasi bisa didapat. Evan mengikuti jejak itu beberapa meter. Kemudian menemukan sesuatu. Sebuah lubang kecil di bawah akar pohon. Di depan lubang terdapat beberapa sisa tanaman. Evan tidak menyentuhnya. Ia hanya mencatat. “Berarti mereka punya tempat tinggal di sini.” Ia berdiri. Kemudian melihat padang rumput sekali lagi. Senyumnya perlahan muncul. “Kayaknya gua gak perlu bawa semuanya ke sini.” Koda memiringkan kepala. Evan menjelaskan dengan santai. “Kalau kita bikin tempat yang bagus, mereka bakal datang sendiri.” Ia menunjuk sungai. “Air ada.” Menunjuk padang rumput. “Makanan alami ada.” Menunjuk pepohonan. “Tempat berlindung juga ada.” Ia memasukkan kembali bukunya. “Jadi tugas pertama bukan menangkap hewan.” Evan tersenyum. “Bikin mereka merasa aman.” Panel sistem muncul. [Konsep pengelolaan sesuai.] Evan mengangkat alis. “Lah, sistem bisa muji?” [Pernyataan tersebut bukan pujian.] “...Kaku banget.” Ia mulai bekerja. Hal pertama yang dilakukan Evan adalah membersihkan beberapa area yang terlalu penuh semak. Bukan menebangnya sembarangan. Ia memilih tumbuhan yang sudah mati atau mengganggu jalur. Kayu yang masih bagus dikumpulkan. Batu-batu besar dipindahkan. Beberapa bagian tanah diratakan. Koda ikut membantu dengan caranya sendiri. Yaitu— tidur. Evan berhenti bekerja. Menatap Koda yang tidur di bawah pohon. “Bantuan yang luar biasa.” Koda membuka satu mata. Kemudian menutupnya lagi. “...Gua iri.” Beberapa jam berlalu. Area kecil mulai terbentuk. Tidak besar. Hanya sebidang tanah yang cukup untuk beberapa hewan kecil. Evan menancapkan beberapa batang kayu sebagai pembatas. Bukan pagar tinggi. Lebih seperti tanda bahwa area tersebut adalah tempat perlindungan. Kemudian ia membuat tempat minum sederhana. Sebuah wadah kayu diletakkan di dekat sumber air. Ia juga menyiapkan beberapa tempat berteduh. Semuanya sederhana. Namun cukup. Evan berdiri sambil mengusap keringat. “Lumayan.” [Tujuan pertama selesai.] [Area utama ditentukan.] [Tujuan kedua selesai.] [Sumber air tersedia.] Evan tersenyum. “Cepat juga.” [Kemajuan: 2/5.] “Berarti tinggal makanan, perlindungan, sama keamanan.” Ia melihat sekitar. “Makanan gampang.” Evan mengumpulkan beberapa tanaman yang ia tahu aman untuk herbivora berdasarkan pengamatan awal. Kemudian ia menanam beberapa bibit di area tersebut. Bukan untuk menggantikan alam. Hanya untuk memastikan ada sumber makanan tambahan. Ia juga menyiapkan beberapa jenis biji-bijian. Sementara untuk hewan yang membutuhkan makanan lain, ia belum memikirkannya. Belum ada hewan di sini. Tidak perlu berlebihan. Setelah semuanya selesai, Evan duduk di atas batu. Ia mengambil topinya. Menaruhnya di wajah. Kemudian bersandar. “...Istirahat.” Koda langsung datang dan duduk di sampingnya. Untuk beberapa menit, keduanya hanya menikmati angin. Namun— sebuah suara kecil terdengar dari semak. Krek. Evan membuka mata. Koda mengangkat kepala. Krek... Semak bergerak. Evan tidak berdiri. Ia hanya menunggu. Beberapa detik kemudian— seekor kelinci keluar. Kelinci yang sama seperti kemarin. Ia melihat area baru itu. Mengendus. Kemudian melangkah perlahan. Evan menahan napas. Kelinci itu mendekati wadah air. Minum. Kemudian makan beberapa tanaman yang baru ditanam Evan. Evan tersenyum. “...Datang sendiri.” Koda menatap kelinci. Evan langsung menunjuknya. “Jangan.” Koda menghela napas. “Woof.” Kelinci itu tidak pergi. Ia tetap berada di sana. Tidak takut. Tidak terburu-buru. Evan mengambil bukunya. Namun kali ini ia tidak menulis. Ia hanya melihat. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Kemarin tempat ini hanyalah padang rumput kosong. Hari ini— sudah ada satu penghuni. Bukan karena ditangkap. Bukan karena dipaksa. Ia datang karena tempat itu terasa aman. Evan tersenyum kecil. “Selamat datang.” Kelinci itu tentu saja tidak menjawab. Ia hanya terus makan. Namun bagi Evan— itu sudah cukup. Panel sistem muncul perlahan. [Penghuni pertama terdeteksi.] Evan menatapnya. [Status: Hewan liar.] [Kondisi: Sehat.] [Hubungan dengan area: Positif.] Kemudian muncul satu baris terakhir. [The Living Haven mulai terbentuk.] Evan menatap tulisan itu beberapa detik. Kemudian tersenyum. Ia mengambil kembali topinya dan memakainya. “Kalau begitu...” Ia melihat kelinci itu. Lalu melihat lembah luas di hadapannya. “...kita mulai dari satu.” Di sampingnya, Koda menggonggong. “Woof!” Evan tertawa kecil. “Bukan berarti lu boleh ngejar dia.” Koda langsung diam. “Bagus.” Angin kembali bertiup. Dan di bawah bayangan The Haven Tree— penghuni pertama dari tempat yang kelak dikenal sebagai The Living Haven akhirnya tiba.

End of Chapter 3