Chapter 2 of 10

Chapter 2 — Rumah di Bawah Pohon

1.1k words

Pagi pertama Evan di dunia baru dimulai dengan suara burung. Bukan suara alarm. Bukan suara kendaraan. Bukan suara orang berteriak. Dan yang paling penting— tidak ada suara mesin. Evan membuka sebelah matanya. Cahaya matahari menembus celah-celah dedaunan dan jatuh tepat ke wajahnya. “...Pagi.” Ia menguap panjang. Beberapa detik kemudian, matanya kembali tertutup. “Lima menit lagi.” Di sampingnya, Koda yang sejak tadi tidur menggulung tubuh langsung mengangkat kepala. Husky itu menatap Evan. Kemudian menatap matahari. Kemudian kembali menatap Evan. “Woof.” “Lima menit, Koda.” “Woof.” “Gua serius.” Koda berdiri. “Woof!” Evan membuka mata. “...Lu bisa gak sih sekali aja dukung keputusan gua?” Koda hanya memiringkan kepala. Evan akhirnya bangkit sambil menghela napas. “Yaudah, yaudah.” Ia berdiri dan meregangkan tubuh. Semalam mereka memang tidur di bawah The Haven Tree. Bukan karena Evan tidak ingin membuat tempat tinggal. Masalahnya sederhana. Ia terlalu malas untuk melakukannya malam itu. Lagipula, setelah bertahun-tahun menjelajahi tempat-tempat ekstrem di dunia lamanya, tidur di alam terbuka bukanlah sesuatu yang asing baginya. Hanya saja— dunia ini berbeda. Evan berjalan beberapa langkah dan melihat sekeliling. Lembah luas membentang di hadapannya. Rumput hijau bergerak perlahan diterpa angin pagi. Di kejauhan, pegunungan mengelilingi Everdawn Valley seperti dinding raksasa. Dan di antara semuanya, Main Lake memantulkan cahaya matahari. Tenang. Jernih. Hampir tidak ada suara selain angin dan burung. Evan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “...Oke.” Ia tersenyum tipis. “Tempatnya bagus.” Koda berlari menuju tepi danau. “Woof!” “Jangan nyebur.” Koda berhenti. Menoleh. Kemudian perlahan-lahan memasukkan satu kaki ke air. Evan menyipitkan mata. “Koda.” Kaki kedua masuk. “Koda.” Koda langsung melompat. BYUR! Air danau muncrat ke segala arah. Evan terdiam. “...Gua baru ngomong.” Koda muncul dari permukaan air dengan wajah puas. “Woof!” Evan mengusap wajahnya. “Dasar anjing.” Ia tidak marah. Justru tertawa kecil. Sudah lama ia tidak merasakan pagi seperti ini. Tidak ada jadwal. Tidak ada misi. Tidak ada orang yang menunggunya menyelesaikan sesuatu. Tidak ada gunung yang harus didaki. Tidak ada hutan yang harus dipetakan. Tidak ada makhluk berbahaya yang harus dihindari. Hanya dirinya. Koda. Dan tempat asing yang entah bagaimana terasa begitu nyaman. Namun kemudian sebuah jendela transparan muncul di depan wajahnya. [Selamat pagi.] Evan berkedip. “...Oh.” Ia hampir lupa. Sistem. [Sistem Manajemen Kebun Binatang aktif.] [Status wilayah: Belum dikembangkan.] [Status pengelola: Evan.] [Lokasi terdeteksi: Everdawn Valley.] [Fasilitas utama yang direkomendasikan: Tempat Perlindungan.] Evan menggaruk kepalanya. “Jadi kita mulai dari tempat perlindungan?” [Benar.] “Terus apa yang harus gua lakuin?” Beberapa detik berlalu. Kemudian muncul tulisan baru. [Tujuan awal:] [Membangun tempat tinggal pengelola.] Evan terdiam. Ia melihat The Haven Tree. Pohon raksasa itu menjulang tinggi di tengah danau. Akar-akarnya membentuk bagian pulau kecil yang cukup luas. Cabang-cabang besarnya menyebar seperti atap alami. Evan kemudian melihat rumah kecil yang kemarin ia buat secara seadanya dari beberapa kayu dan dedaunan. Atapnya miring. Dindingnya tidak rata. Salah satu tiangnya bahkan terlihat seperti akan roboh kalau terkena angin terlalu kencang. Evan menatapnya beberapa detik. “...Kayaknya sistem punya maksud.” [Apakah pengelola ingin menggunakan The Haven Tree sebagai lokasi tempat tinggal?] Evan langsung menjawab. “Boleh.” [Memproses.] Cahaya tipis muncul di sekitar pulau. Tidak terang. Tidak mencolok. Hanya cukup untuk membuat Evan mengangkat alis. Akar-akar besar bergerak perlahan. Bukan seperti monster. Lebih seperti pohon yang sedang menyesuaikan dirinya terhadap sesuatu. Beberapa cabang membentuk struktur yang menyerupai lantai. Batang-batang kecil tumbuh di antara cabang, membentuk dinding alami. Kayu-kayu yang sebelumnya Evan kumpulkan tersusun dengan sendirinya menjadi bagian dari bangunan. Beberapa menit kemudian— sebuah rumah pohon sederhana sudah berdiri di antara cabang The Haven Tree. Evan naik melalui tangga kayu sederhana. Begitu masuk, ia menemukan sebuah ruangan utama. Tidak besar. Namun cukup. Ada meja kayu. Dua kursi. Tempat tidur sederhana di sudut. Dapur kecil. Rak kosong. Dan sebuah balkon yang langsung menghadap Main Lake. Evan berdiri di ambang pintu balkon. Angin pagi menyentuh wajahnya. Ia melepas topi jeraminya sebentar. “...Lumayan.” Koda masuk sambil menggoyangkan tubuhnya. Air beterbangan ke mana-mana. Evan langsung menoleh. “WOI!” Koda berhenti. Setetes air jatuh dari bulunya. Plak. Evan menutup wajah. “Baru masuk rumah.” Koda berjalan santai menuju sudut ruangan. Kemudian— BRUK. Ia langsung menjatuhkan tubuh di lantai. Evan menatapnya. “...Yaudah.” Ia menghela napas. Setidaknya rumah ini sudah punya penghuni pertama. Evan meletakkan topinya di atas meja. Kemudian duduk di kursi balkon. Untuk beberapa saat, ia hanya diam. Ia melihat danau. Beberapa ikan kecil berenang di dekat permukaan. Burung-burung melintas di atas air. Jauh di sisi lain lembah, beberapa hewan kecil terlihat bergerak di antara rerumputan. Dunia ini terasa hidup. Benar-benar hidup. Evan tersenyum. Sebagai seorang biologist, pemandangan seperti itu membuat rasa penasarannya muncul. Ia ingin melihat lebih dekat. Mempelajari spesiesnya. Mengamati perilakunya. Mengetahui apakah ekosistem di dunia ini bekerja seperti yang ia kenal. Namun untuk sekarang— ia tidak terburu-buru. Evan mengambil sepotong rumput. Memasukkannya ke mulut. Lalu bersandar di kursinya. “Besok aja.” [Pengelola belum memulai pembangunan fasilitas utama.] “Besok.” [Pembangunan tempat perlindungan dapat dimulai hari ini.] “Besok.” [Apakah pengelola ingin menunda pembangunan?] “Betul.” Hening. [Permintaan diterima.] Evan tersenyum puas. “Pinter.” System tidak menjawab. Evan kemudian memandang ke arah danau lagi. Tiba-tiba ia melihat sesuatu bergerak di dekat tepian. Seekor kelinci. Bulu cokelat muda. Telinganya panjang. Hewan itu sedang memakan rumput. Evan langsung memperhatikan. Ia tidak bergerak. Tidak mendekat. Hanya mengamati. Kelinci itu berhenti makan. Mengangkat kepala. Memandang Evan dari kejauhan. Kemudian kembali makan. Evan tersenyum. “...Kelinci.” Koda mengangkat kepala. “Woof?” “Jangan.” Koda berdiri. Evan menunjuknya. “Jangan dikejar.” Koda duduk lagi. “Bagus.” Beberapa saat kemudian, kelinci itu pergi perlahan menuju semak. Evan mengikuti pergerakannya dengan mata. Tidak ada rasa takut berlebihan. Tidak ada tanda agresi. Hanya kehidupan sederhana. Dan entah kenapa, pemandangan itu membuat Evan merasa sedikit aneh. Di dunia lamanya, ia selalu mencari tempat-tempat yang belum tersentuh manusia. Sekarang— ia mendapat kesempatan untuk membuat sebuah tempat seperti itu. Tempat di mana makhluk hidup bisa tinggal tanpa harus takut diburu. Tempat manusia bisa datang untuk melihat alam tanpa merusaknya. Tempat yang bukan sekadar kebun binatang. Evan menatap hamparan lembah. “Kalau begitu...” Ia berdiri. Mengambil topinya. Memakainya kembali. “Gua bikin tempat ini.” Koda menatapnya. “Tempat buat hewan-hewan hidup.” Evan berjalan menuju tangga. Kemudian berhenti. “...Tapi besok.” Koda menatapnya seolah sudah menduga. “Woof.” Evan tertawa. “Iya, iya.” Ia kembali duduk. Angin kembali bertiup. Daun-daun The Haven Tree bergoyang perlahan. Di tengah Everdawn Valley, sebuah rumah kecil berdiri di antara cabang pohon raksasa. Belum ada pengunjung. Belum ada kandang. Belum ada fasilitas. Belum ada hewan langka. Belum ada makhluk spiritual. Belum ada legenda. Hanya seorang pria dengan topi jerami, seekor husky, dan sebuah impian sederhana. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama— Evan tidak memiliki tujuan yang harus dikejar. Dan mungkin... justru itulah awal dari petualangan terbesarnya. [The Living Haven] [Status: Belum didirikan.] [Pengelola: Evan.] [Hari pertama dimulai.]

End of Chapter 2