Chapter 1 of 10
Chapter 1 — The Straw-Hatted Wanderer
1.0k words
Angin berembus pelan melewati padang rumput.
Rerumputan hijau bergoyang mengikuti arah angin, menciptakan suara lembut yang hampir menyerupai bisikan. Di kejauhan, pegunungan berdiri mengelilingi sebuah lembah luas. Kabut tipis menggantung di antara pepohonan, sementara cahaya matahari pagi perlahan menyentuh permukaan sebuah danau.
Tenang.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada gedung tinggi.
Tidak ada manusia yang berteriak.
Hanya alam.
Di tengah padang rumput itu, seorang pria terbaring santai dengan kedua tangan di belakang kepala.
Topi jerami menutupi sebagian wajahnya.
Sehelai rumput terselip di antara bibirnya.
Di sampingnya, seekor Siberian Husky berbulu hitam-putih sedang tidur dengan posisi yang tidak kalah santainya.
Pria itu membuka sebelah mata.
Menatap langit.
Kemudian menutupnya lagi.
“...”
Beberapa detik berlalu.
“Gue masih hidup?”
Husky di sampingnya membuka satu mata.
Pria itu mengangkat kepalanya sedikit.
“Kalau ini akhirat, tempatnya lumayan.”
Husky itu hanya menguap.
“Setuju, Koda?”
Koda kembali tidur.
Evan terkekeh kecil.
“Yaudah.”
Ia kembali berbaring.
Tidak ada kepanikan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada pertanyaan seperti Kenapa aku ada di sini?!
Setidaknya, belum.
Karena Evan sudah pernah melihat tempat-tempat yang jauh lebih aneh daripada ini.
Dalam kehidupan sebelumnya, ia adalah seorang petualang yang menjelajahi berbagai penjuru dunia. Hutan yang belum tersentuh manusia, gunung dengan jalur berbahaya, gua yang bahkan tidak tercatat di peta, lautan luas, gurun, hingga tempat-tempat ekstrem yang membuat kebanyakan orang memilih untuk tinggal di rumah.
Selain itu, ia juga seorang ahli biologi.
Alam adalah sesuatu yang ia pahami.
Makhluk hidup adalah sesuatu yang ia cintai.
Dan perjalanan adalah bagian dari hidupnya.
Namun ada satu hal yang selalu menjadi masalah.
Evan terlalu suka bersantai.
Kalau sebuah perjalanan bisa ditempuh dalam dua hari, ia tidak keberatan menghabiskan empat hari.
Kalau bisa berjalan, ia kadang memilih duduk.
Kalau bisa duduk, ia memilih berbaring.
Dan kalau tidak ada alasan untuk bangun...
Ya, jangan bangun.
Itulah Evan.
Namun kehidupan lamanya sudah berakhir.
Dan entah bagaimana, sekarang ia berada di dunia yang sama sekali berbeda.
Evan perlahan bangkit.
Ia melihat sekeliling.
“Hmm.”
Baru kali ini ia benar-benar memperhatikan tempat itu.
Padang rumput luas.
Pegunungan.
Hutan di sisi lembah.
Sebuah danau besar dengan air yang begitu jernih sampai dasar dangkalnya bisa terlihat dari kejauhan.
Evan berdiri dan membersihkan rumput yang menempel di pakaiannya.
Kemudian ia mengambil topi jeraminya dan memasangnya kembali.
“Tempat bagus.”
Koda ikut berdiri.
Husky itu meregangkan tubuh, lalu berjalan beberapa langkah sebelum mengendus tanah.
Evan memperhatikan gerakannya.
Tidak ada tanda-tanda stres.
Tidak ada perilaku gelisah.
Koda justru terlihat nyaman.
Itu cukup untuk membuat Evan sedikit tenang.
“Setidaknya lu juga nggak keberatan.”
Koda menoleh.
“Guk.”
“Bagus.”
Evan berjalan menuju danau.
Semakin dekat ia mendengar suara air yang lebih jelas.
Namun sesuatu membuat langkahnya berhenti.
Di tengah danau terdapat sebuah pulau kecil.
Dan di atas pulau itu...
sebuah pohon raksasa tumbuh menjulang tinggi.
Batangnya begitu besar sehingga beberapa orang dewasa mungkin harus bergandengan tangan untuk mengelilinginya.
Cabang-cabangnya membentang luas.
Daunnya bergerak perlahan tertiup angin.
Akar-akarnya bahkan terlihat menjulur sampai ke tepi air.
Evan menyipitkan mata.
“...Itu pohon?”
Koda menggonggong sekali.
“Guk.”
“Gue juga tahu itu pohon.”
Evan diam beberapa saat.
Kemudian ia tersenyum.
“Cuma ukurannya agak nggak sopan.”
Ia berjalan menyusuri tepian danau.
Beberapa menit kemudian, ia menemukan sebuah perahu kayu kecil yang terdampar di pinggir air.
Evan mengangkatnya.
Masih cukup kuat.
Ia menoleh ke arah Koda.
“Naik.”
Koda langsung masuk.
“Cepat juga.”
Evan mendorong perahu ke air, kemudian duduk dan mulai mendayung.
Perjalanan menuju pulau kecil itu tidak lama.
Begitu tiba, Evan turun dan mengikat perahu pada salah satu akar pohon.
Ia mendongak.
“Kalau gue tinggal di sini...”
Matanya menyapu seluruh lembah.
Danau.
Pegunungan.
Hutan.
Padang rumput.
Semuanya masih liar.
Semuanya masih alami.
Tidak ada manusia lain yang terlihat.
Tidak ada suara kota.
Tidak ada kewajiban.
Tidak ada pekerjaan.
Evan tersenyum.
“...kayaknya gue nggak perlu pergi ke mana-mana lagi.”
Koda duduk di sampingnya.
Evan menepuk kepala husky itu.
“Gimana?”
Koda menjulurkan lidah.
“Guk.”
“Berarti setuju.”
Untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia baru, Evan merasa benar-benar tenang.
Ia kemudian berjalan mengelilingi pohon raksasa itu.
Di salah satu sisi batang terdapat bagian yang cukup datar dan luas.
Tempat yang sempurna untuk membangun sesuatu.
Evan menatapnya beberapa saat.
“Rumah di pohon...”
Ia membayangkannya.
Sebuah kamar.
Dapur kecil.
Tempat tidur.
Balkon.
Tempat Koda tidur.
Tidak perlu mewah.
Yang penting nyaman.
Evan tersenyum.
“Cukup.”
Tiba-tiba—
TING!
Sebuah suara mekanis terdengar tepat di depannya.
Evan berhenti.
Koda langsung mengangkat kepala.
Sebuah layar transparan muncul di udara.
Tulisan berwarna putih terlihat jelas.
[Zoo Management System telah diaktifkan.]
Evan berkedip.
“...”
Koda menggonggong.
“Guk?”
Evan menatap layar itu beberapa detik.
“Jangan bilang dunia ini punya sistem.”
[Selamat datang, Pengelola.]
[Sistem akan membantu pembangunan dan pengembangan tempat perlindungan bagi kehidupan.]
[Tujuan utama: Membangun The Living Haven.]
Evan membaca kalimat terakhir dua kali.
“The Living Haven?”
[Nama fasilitas telah ditetapkan.]
[Tahap saat ini: Tempat Perlindungan.]
[Fasilitas awal tersedia.]
[Tempat tinggal sederhana.]
[Habitat dasar.]
[Sumber air.]
[Informasi perawatan makhluk hidup.]
Evan mengangkat alis.
“Jadi... gue dapat sistem zoo?”
[Benar.]
“Kenapa?”
[Pertanyaan tidak memiliki relevansi dengan fungsi sistem.]
Evan terdiam.
Lalu tertawa kecil.
“Jawaban yang dingin.”
Koda berjalan mendekati layar.
Hidungnya hampir menyentuh permukaan transparan itu.
Evan menariknya kembali.
“Jangan dimakan.”
Koda menatapnya seolah tersinggung.
Evan kembali melihat sistem.
“Jadi gue bisa bikin tempat perlindungan?”
[Benar.]
“Buat hewan?”
[Benar.]
“Dan gue bisa tinggal di sini?”
[Benar.]
Evan terdiam.
Ia melihat danau.
Kemudian padang rumput.
Kemudian pohon raksasa di bawah kakinya.
Senyumnya perlahan melebar.
“Kalau begitu...”
Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku.
“Kayaknya gue dapat kehidupan kedua yang lumayan.”
Angin kembali berembus.
Daun-daun pohon raksasa bergemerisik di atas kepalanya.
Evan memandang lembah yang luas itu.
Ia belum tahu apa yang tinggal di balik hutan.
Ia belum tahu makhluk seperti apa yang ada di dunia ini.
Ia juga belum tahu bahwa suatu hari nanti tempat kecil ini akan didatangi banyak orang.
Bahwa makhluk-makhluk yang hanya dianggap legenda akan berjalan di tanahnya.
Bahwa nama The Living Haven suatu hari akan dikenal jauh melewati Everdawn Valley.
Untuk sekarang...
Evan hanya punya satu tujuan.
Membangun rumah.
Mencari makanan.
Merawat Koda.
Dan hidup dengan tenang.
Ia mengambil kembali sebatang rumput dan memasukkannya ke mulut.
“Besok mulai.”
Koda menggonggong.
Evan menoleh.
“Sekarang tidur dulu.”
Koda langsung menjatuhkan tubuhnya ke tanah.
Evan tertawa.
“Pinter.”
Di bawah pohon raksasa yang kelak dikenal sebagai The Haven Tree, kehidupan baru seorang pengembara bertopi jerami akhirnya dimulai.
Dan tanpa disadarinya...
sebuah sanctuary kecil baru saja mengambil langkah pertamanya.