Chapter 4 of 18

BAB 4 — Kontrak Pertama

710 words

Cahaya di antara Kaiser dan monster itu perlahan menghilang. Kaiser menatap tangannya. Tidak ada perubahan. Tidak ada luka yang tiba-tiba sembuh. Tidak ada kekuatan besar yang muncul. Hanya sebuah sensasi aneh di dalam tubuhnya. Seperti ada benang tipis yang menghubungkan dirinya dengan makhluk di depannya. Kaiser memiringkan kepala. “...Jadi ini kontrak?” Monster di depannya menggerakkan telinganya. Kaiser menatapnya. Makhluk itu menatap balik. Mereka terdiam cukup lama. “Lu punya nama?” Monster itu hanya mengeluarkan suara kecil. “...Ya, gue juga nggak berharap lu jawab.” Kaiser menghela napas. Ia kemudian membuka panel. Sebuah informasi muncul. [Contract Monster] Nama: Shadow Hound Jenis: Beast Atribut: Shadow Level: 1 Rarity: Cammeon Kondisi: Terluka Kaiser membaca semuanya dengan teliti. “Level satu...” Ia menatap Shadow Hound. Kemudian menatap dirinya sendiri. “Berarti gue juga level satu?” Panel berubah. [Tamer Status] Nama: Kaiser Usia: 16 Level: 1 Rank: Dasar Contract: 1 Kaiser mengangguk pelan. “Masuk akal.” Ia kemudian melihat bagian kemampuan. Tidak banyak. Shadow Hound hanya memiliki kemampuan dasar yang sesuai dengan kondisinya. Kaiser mengerutkan kening. “Lemah.” Shadow Hound langsung memperlihatkan taringnya. Kaiser mengangkat tangan. “Bukan hinaan.” Monster itu masih menggeram. “Gue juga level satu.” Shadow Hound terdiam. Kaiser mengangguk puas. “Nah. Berarti kita sama-sama sampah.” Shadow Hound memalingkan wajah. “...Kayaknya lu tersinggung.” Untuk pertama kalinya sejak Awakening, Kaiser tertawa kecil. Kaiser kemudian memperhatikan luka Shadow Hound. Beberapa bagian tubuhnya masih terlihat lemah. Ia tidak tahu bagaimana cara menyembuhkan monster. Panel memberinya beberapa informasi dasar. [Contract Monster dapat dipulihkan melalui istirahat, makanan, perawatan, atau kemampuan pemulihan.] Kaiser melihat tasnya. Kosong. Ia menghela napas. “Gue nggak punya obat.” Shadow Hound menundukkan kepalanya. Kaiser berpikir sebentar. Kemudian ia melepas jaket luarnya. Ia merobek sebagian kain bagian dalam. “Gue pakai ini dulu.” Ia mendekati Shadow Hound perlahan. Monster itu mundur sedikit. “Tenang.” Kaiser berhenti. Tidak memaksa. “Kalau gue mau nyakitin lu, dari tadi udah gue lakuin.” Shadow Hound menatapnya. Beberapa detik kemudian, monster itu membiarkan Kaiser mendekat. Kaiser membalut bagian yang terluka semampunya. Hasilnya tidak bagus. Sangat jauh dari bagus. Bahkan terlihat seperti seseorang mengikat kain secara asal. Kaiser menatap hasilnya. “...Yang penting nempel.” Shadow Hound menatap kakinya. Kemudian menatap Kaiser. “Jangan protes.” Matahari mulai turun. Kaiser sadar ia harus pulang. Ia mengambil tasnya. Kemudian menatap tumpukan barang yang berhasil dikumpulkannya. Sebagian masih bisa dijual. Tapi sekarang ada masalah baru. Ia punya monster. Dan monster membutuhkan makanan. Kaiser menatap Shadow Hound. Shadow Hound menatap Kaiser. Keduanya saling diam. Kaiser menghela napas. “Gue tahu.” Ia mengangkat tas. “Kita cari makanan.” Shadow Hound mengikuti. Langkahnya masih pincang. Kaiser memperlambat langkah. Tanpa sadar, ia berjalan menyesuaikan kecepatan monster tersebut. Perjalanan pulang terasa berbeda. Sebelumnya Kaiser selalu berjalan sendirian. Sekarang ada langkah lain di belakangnya. Kadang Shadow Hound berjalan di samping. Kadang di belakang. Kadang berhenti mencium sesuatu. Kaiser beberapa kali harus menunggunya. “Lu kalau mau jalan bareng, jangan tiba-tiba berhenti.” Shadow Hound menatapnya. Kaiser menunjuk jalan. “Kita pulang.” Monster itu kembali berjalan. Kaiser tersenyum tipis. Mungkin... memiliki seseorang di sampingnya tidak terlalu buruk. Namun sebelum mereka mencapai kawasan kumuh— Kaiser berhenti. Di kejauhan berdiri dua orang. Mengenakan pakaian gelap. Lencana kecil berbentuk rantai terpasang di dada mereka. Sindikasi penagih hutang. Kaiser langsung mengenali mereka. Salah satu dari mereka melihat Kaiser. Kemudian melihat Shadow Hound. Ekspresinya berubah. “Bocah.” Kaiser diam. Pria itu berjalan mendekat. “Kemarin kami sudah memberimu tujuh hari.” “Masih enam.” Kaiser menjawab santai. Pria itu mengernyit. “Jangan pintar-pintar.” Kaiser tidak membalas. Ia hanya berdiri. Namun kali ini berbeda. Pria tersebut memperhatikan sesuatu. Sebuah cahaya tipis muncul di sekitar tubuh Kaiser. Energy Barrier. Matanya melebar. “Kau...” Kaiser juga baru menyadarinya. Pria itu menatap Shadow Hound. Kemudian kembali kepada Kaiser. “Kau sudah Awakening?” Kaiser mengangkat bahu. “Kayaknya.” Suasana langsung berubah. Pria itu tidak melanjutkan langkah. Ia justru mundur sedikit. “Berapa level?” Kaiser terdiam. Ia sebenarnya ingin menjawab. Tapi kemudian teringat sesuatu. Tujuh hari. Hutang. Sindikasi. Dan sekarang... Tamer. Untuk pertama kalinya, Kaiser menyadari bahwa Awakening bukan hanya memberinya kekuatan. Awakening juga membuat hidupnya menjadi jauh lebih rumit. Ia tersenyum kecil. “Kayaknya gue harus mulai belajar cara kerja dunia ini.” Di sampingnya, Shadow Hound menggeram pelan. Kaiser meliriknya. “Tenang.” Ia berjalan melewati kedua pria itu. “Belum waktunya berantem.” Untuk saat ini. Kaiser hanya ingin pulang. Namun tanpa ia sadari, sejak hari itu... nama Kaiser, yang sebelumnya bahkan tidak dikenal siapa pun, mulai masuk ke dalam dunia para Tamer.

End of Chapter 4