Chapter 2 of 18

BAB 2 — Hari Terakhir

714 words

Pagi datang tanpa membawa sesuatu yang istimewa. Cahaya matahari menembus celah-celah dinding gudang tua dan jatuh dalam garis tipis ke lantai basement. Kaiser membuka matanya. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit beton di atasnya. Kemudian ia menghela napas. “...Masih hidup.” Kalimat pertama yang keluar dari mulutnya setiap pagi. Bukan karena dia pesimis. Kaiser hanya sudah terlalu terbiasa dengan kenyataan bahwa hidupnya bisa berakhir kapan saja. Ia bangkit dari kasur tipis yang sebenarnya hanya tumpukan kain bekas. Perutnya terasa kosong. Di sudut ruangan hanya ada sepotong roti keras dan sebotol air. Kaiser mengambil roti itu. Mencium baunya. Diam. “...Kalau benda ini bisa ngomong, mungkin dia juga minta dibakar.” Ia menggigitnya. Keras. Sangat keras. Kaiser mengunyah dengan ekspresi datar. “Lumayan.” Setelah sarapan, ia mengambil tas lusuh yang tergantung di dekat pintu. Hari ini dia harus pergi lebih jauh dari biasanya. Daerah pembuangan di luar tembok kota biasanya penuh barang bekas yang masih bisa dijual. Kabel, logam, komponen mesin, bahkan sisa perlengkapan Tamer. Tapi semakin jauh dari wilayah manusia, semakin besar risikonya. Monster liar terkadang berkeliaran di sana. Dan Kaiser bukan Tamer. Itu berarti satu hal. Kalau bertemu monster yang cukup kuat, dia hanya bisa lari. Kaiser keluar dari basement. Udara pagi terasa dingin. Di kejauhan, tembok kota menjulang tinggi. Dinding raksasa yang dibangun manusia setelah puluhan tahun peperangan. Di atasnya berdiri para penjaga. Beberapa membawa senjata. Beberapa lainnya ditemani monster kontrak. Kaiser memperhatikan mereka sebentar. Kemudian ia menundukkan kepala. “Bukan tempat gue.” Ia berjalan menuju daerah pembuangan. Beberapa jam kemudian. Tas Kaiser sudah setengah penuh. Logam tua. Kabel. Beberapa komponen mesin. Tidak banyak. Tapi cukup untuk mendapatkan beberapa keping uang. Kaiser berjongkok di antara tumpukan sampah ketika matanya menangkap sesuatu. Sebuah kotak logam kecil. Ia menariknya keluar. Kotak itu masih utuh. Kaiser membukanya. Kosong. “Yah.” Ia melemparkannya kembali. Lalu— KRAK. Kaiser berhenti. Suara itu berasal dari balik tumpukan puing. Bukan suara logam. Bukan suara angin. Sesuatu sedang bergerak. Tangannya perlahan masuk ke dalam tas. Ia menggenggam pisau pendek yang biasa digunakan untuk memotong kabel. Kaiser mundur satu langkah. Kemudian dua langkah. Tidak ada suara lagi. “...Jangan bilang.” Sebuah bayangan bergerak di balik puing. Kaiser langsung berbalik. LARI. Ia tidak menunggu untuk memastikan apa yang ada di sana. Kakinya menghantam tanah secepat mungkin. Tas di punggungnya bergoyang keras. Dari belakang terdengar suara geraman. Kaiser tidak menoleh. Ia tahu suara itu. Monster. “Kenapa hari ini?!” Ia berlari melewati tumpukan sampah. Di depannya ada jalan sempit menuju wilayah manusia. Sedikit lagi. Sedikit— Sesuatu melompat dari samping. Kaiser menjatuhkan tubuhnya. Cakar monster itu menyapu udara tepat di atas kepalanya. Ia berguling dan langsung bangkit. Untuk pertama kalinya ia melihat makhluk itu. Seekor monster berbentuk seperti serigala. Tubuhnya kurus. Bulu hitam menutupi sebagian besar tubuhnya. Salah satu kakinya terlihat terluka. Matanya menatap Kaiser tajam. Kaiser menggenggam pisaunya. Monster itu juga tidak langsung menyerang. Keduanya saling menatap. Kaiser menghitung jarak. Sepuluh meter menuju jalan. Monster itu lebih cepat. Tidak mungkin menang. Tapi mungkin... Kaiser melihat kaki monster itu. Kaki belakangnya terluka. “Jadi begitu.” Monster itu menggeram. Kaiser menarik napas. Kemudian ia melempar sebuah potongan logam ke arah berlawanan. Monster itu refleks menoleh. Kaiser langsung berlari. Namun hanya beberapa langkah— Monster itu sudah berada di depannya. “Cepat banget?!” Kaiser berhenti mendadak. Monster tersebut menerjang. Kaiser mengangkat pisau. Tubuhnya terlempar beberapa meter dan jatuh di tanah. Tasnya terlepas. Pisau pendeknya jatuh jauh. Kaiser mencoba bangkit. Tangannya gemetar. Monster itu berjalan mendekat. Pelan. Tidak terburu-buru. Seolah tahu mangsanya tidak bisa pergi. Kaiser menatap sekeliling. Tidak ada orang. Tidak ada penjaga. Tidak ada Tamer. Tidak ada siapa pun. Ia tertawa kecil. “...Sial.” Tangannya merogoh saku celana. Jarinya menyentuh sesuatu. Benda kecil. Keras. Dingin. Kaiser mengeluarkannya. Kristal retak milik orang tuanya. Kristal yang selama bertahun-tahun hanya ia anggap sebagai benda aneh tanpa kegunaan. Monster itu kembali menggeram. Kaiser menggenggam kristal tersebut. “Kalau memang ini warisan terakhir dari kalian...” Ia menatap monster di depannya. “...jangan cuma jadi batu.” Kristal itu tiba-tiba— BERCAHAYA. Kaiser membeku. Cahaya gelap menyelimuti permukaan kristal. Retakan di dalamnya menyebar. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup Kaiser... sebuah suara terdengar di dalam kepalanya. [Syarat Awakening terdeteksi.] Kaiser membuka matanya lebar. [Eligibility Crystal teridentifikasi.] [Kondisi pengguna: kritis.] [Proses Awakening dimulai.] Kaiser bahkan belum sempat memahami apa yang sedang terjadi. Sebuah jendela cahaya muncul di hadapannya. Dan tepat di saat itu— dunia Kaiser berubah untuk selamanya.

End of Chapter 2