Chapter 1 of 18
BAB 1 — Anak dari Daerah Kumuh
1.2k words
Tahun 2101.
Sudah tujuh puluh enam tahun sejak dunia berubah.
Pada tahun 2025, monster-monster dari luar angkasa turun ke Bumi dan menghancurkan tatanan kehidupan manusia. Kota-kota runtuh, wilayah-wilayah kehilangan kendali, dan pada titik terburuknya, hampir seluruh umat manusia berada di ambang kepunahan.
Namun manusia bertahan.
Pada tahun 2040, sesuatu yang kemudian dikenal sebagai Tamer Panel muncul.
Manusia memperoleh kemampuan untuk membuat kontrak dengan monster.
Era baru pun dimulai.
Era Tamer.
Kini, enam puluh satu tahun setelah Era Tamer dimulai, umat manusia telah merebut kembali sebagian wilayahnya. Sebanyak 110 pangkalan manusia berdiri sebagai tempat perlindungan di seluruh dunia.
Tetapi dunia di luar tembok masih bukan milik manusia.
Sekitar lima puluh lima persen daratan masih dikuasai monster.
Dan di antara semua tempat yang pernah ditemukan manusia, ada satu tempat yang bahkan para Tamer terkuat belum mampu pahami sepenuhnya.
The Dungeon.
Satu-satunya Dungeon yang diketahui manusia.
Tidak ada yang tahu kapan tepatnya Dungeon itu terbentuk.
Sebagian ilmuwan menghubungkannya dengan peristiwa invasi tahun 2025. Sebagian lainnya percaya Dungeon sudah ada sebelum monster datang.
Yang diketahui hanyalah satu.
Tidak ada yang pernah menemukan ujungnya.
Selama puluhan tahun, manusia telah mengirim ekspedisi ke dalamnya.
Semakin jauh mereka masuk, semakin luas dan aneh wilayah yang mereka temukan.
Gua.
Hutan.
Danau.
Reruntuhan.
Bahkan wilayah yang menyerupai kota.
Namun tidak peduli seberapa jauh mereka menjelajah, Dungeon tetap memiliki jalan lain yang belum pernah dipetakan.
Karena itulah menjadi petualang Dungeon merupakan salah satu pekerjaan paling berbahaya di dunia.
Dan dua orang pernah menjadikannya pekerjaan mereka.
Orang tua Kaiser.
---
“Empat puluh tiga.”
Kaiser menghitung beberapa keping uang di atas telapak tangannya.
Empat puluh tiga.
Ia menatapnya selama beberapa detik.
Kemudian menghela napas.
“Masih kurang.”
Kaiser memasukkan uang itu ke dalam saku celananya dan berdiri.
Usianya baru enam belas tahun, tetapi kehidupannya telah membuat wajahnya terlihat lebih lelah daripada anak-anak seusianya.
Rambut hitamnya berantakan.
Pakaiannya sederhana dan sudah beberapa kali dijahit.
Sepasang sepatunya bahkan mulai terbuka di bagian depan.
Ia berdiri di sebuah lorong sempit di kawasan kumuh yang berada di luar tembok kota.
Di kejauhan, dinding raksasa kota berbenteng menjulang tinggi.
Di baliknya terdapat pasar, sekolah, rumah sakit, toko senjata, pusat pelatihan Tamer, dan kehidupan yang jauh lebih nyaman.
Namun Kaiser tidak tinggal di sana.
Ia tinggal di tempat seperti ini.
Tempat yang bahkan pemerintah kota jarang perhatikan.
Kaiser berjalan melewati gang sempit sambil membawa sebuah tas tua.
Hari ini dia hanya mendapatkan sedikit uang dari menjual barang bekas.
Tidak cukup.
Bahkan jauh dari cukup.
“Seminggu.”
Ia bergumam pelan.
Tujuh hari.
Itulah waktu yang diberikan kepadanya.
Jika dalam tujuh hari dia tidak membayar sebagian utang keluarganya, orang-orang dari sindikat akan mulai mengambil barang-barang yang masih ia miliki.
Tidak banyak.
Tapi bagi Kaiser, sedikit pun tetap berarti.
Terutama karena sebagian besar barang itu merupakan peninggalan orang tuanya.
Kaiser berhenti di depan sebuah gudang tua.
Bangunannya sudah lama ditinggalkan.
Dindingnya retak dan sebagian atapnya runtuh.
Ia membuka pintu samping yang rusak dan masuk.
Kemudian turun melalui tangga sempit menuju basement.
Inilah rumahnya.
Satu ruangan kecil.
Sebuah kasur tipis.
Meja kayu.
Beberapa pakaian.
Pisau kecil.
Dan sebuah kotak kayu tua.
Kaiser meletakkan tasnya di atas meja.
Ia duduk.
Lalu membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa benda yang tersisa dari kedua orang tuanya.
Sebuah cincin.
Potongan kain.
Beberapa koin lama.
Dan sebuah kristal.
Kaiser mengambilnya.
Kristal itu berwarna pucat dengan retakan besar yang membelah permukaannya.
Ia sudah melihat benda itu selama bertahun-tahun.
Tidak pernah berubah.
Tidak pernah bercahaya.
Tidak pernah menunjukkan sesuatu yang istimewa.
Hanya sebuah kristal aneh yang dibawa pulang orang tuanya dari Dungeon.
“Kalau dipikir-pikir…”
Kaiser memutar kristal tersebut di tangannya.
“Apa sebenarnya yang kalian temukan waktu itu?”
Ia tidak pernah mendapatkan jawabannya.
Kedua orang tuanya adalah petualang.
Mereka pernah menjelajah cukup dalam ke The Dungeon.
Menurut cerita yang pernah ia dengar dari orang-orang yang mengenal mereka, ekspedisi terakhir mereka membawa mereka ke wilayah Dungeon yang belum tercatat dalam peta mana pun.
Mereka kembali membawa beberapa barang.
Termasuk kristal ini.
Beberapa minggu kemudian, mereka kembali masuk ke Dungeon.
Dan tidak pernah kembali.
Kaiser masih terlalu kecil saat itu.
Yang tersisa hanyalah barang-barang mereka.
Dan utang.
Banyak utang.
“Hebat.”
Kaiser tertawa hambar.
“Warisan keluarga.”
Ia meletakkan kristal itu kembali ke dalam kotak.
Tidak ada gunanya memikirkannya.
Kristal itu tidak bisa dimakan.
Tidak bisa dijual.
Bahkan ketika pernah diperiksa oleh seseorang yang memahami kristal, tidak ada informasi berarti yang diperoleh.
Tidak teridentifikasi.
Tidak ada fungsi yang diketahui.
Bagi Kaiser, benda itu hanya peninggalan orang tuanya.
Ia menutup kotak.
Kemudian terdengar ketukan.
Tok. Tok. Tok.
Kaiser langsung diam.
Ketukan kedua terdengar.
Tok. Tok. Tok.
Ia tidak bergerak.
Suara seorang pria terdengar dari luar.
“Kaiser.”
Kaiser menghela napas.
Mereka datang lagi.
Ia berdiri dan membuka pintu basement.
Tiga pria berdiri di sana.
Pria yang berada paling depan memiliki tubuh besar dan tatapan dingin.
“Sudah waktunya,” katanya.
“Belum.”
“Bukankah kami memberimu waktu?”
“Dan gue bilang gue belum punya uang.”
Pria itu menatapnya tajam.
“Kau terus mengatakan hal yang sama.”
“Karena situasinya memang sama.”
Salah satu pria di belakangnya maju.
“Kau pikir kami akan terus menunggu?”
Kaiser memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Kalau kalian mau membunuh gue, silakan.”
Ketiganya terdiam.
Kaiser melanjutkan.
“Tapi kalau gue mati, siapa yang bakal bayar utangnya?”
Pria di depannya menyipitkan mata.
Kaiser tahu dirinya sedang bermain dengan bahaya.
Tapi itu satu-satunya kartu yang ia punya.
Setelah beberapa detik, pria itu mundur.
“Tujuh hari.”
Kaiser tidak menjawab.
“Tujuh hari lagi.”
Mereka pergi.
Kaiser menutup pintu.
Kemudian bersandar di sana.
Ia mengembuskan napas panjang.
“Masalah yang sama.”
Ia menatap ruangan kecilnya.
Tidak ada makanan yang cukup.
Tidak ada pekerjaan tetap.
Tidak ada koneksi.
Tidak ada kekuatan.
Dan untuk menjadi Tamer, ia masih harus menjalani Upacara Kelayakan.
Kalau berhasil pun, menjadi Tamer bukan berarti langsung menjadi kuat.
Kaiser tahu itu.
Ia pernah melihat Tamer dari dekat.
Sebagian besar membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai level tinggi.
Tapi Kaiser tidak punya waktu bertahun-tahun.
Ia membutuhkan sesuatu sekarang.
Kaiser mengambil pisaunya.
Besok dia akan kembali ke tempat pembuangan.
Mungkin ada komponen berharga.
Mungkin ada barang yang masih bisa dijual.
Atau mungkin—
sesuatu yang lebih baik.
Ia berjalan kembali menuju kasurnya.
Sebelum berbaring, matanya sempat melirik kotak kayu tua di atas meja.
Kristal retak itu masih berada di dalamnya.
Diam.
Tidak bergerak.
Tidak bercahaya.
Kaiser memejamkan mata.
Malam semakin larut.
Di luar, suara monster terdengar samar dari wilayah liar di kejauhan.
Namun beberapa menit kemudian—
krek.
Kaiser membuka mata.
Ia menoleh.
Kotak kayu itu masih tertutup.
Tidak ada apa-apa.
“...?”
Kaiser bangkit dan berjalan mendekat.
Tangannya menyentuh tutup kotak.
Ia membukanya.
Kristal itu masih berada di sana.
Tetapi kali ini—
retakan di tengah kristal tersebut memancarkan cahaya tipis.
Kaiser terdiam.
“...Apa?”
Cahaya itu menghilang.
Seketika.
Seolah tidak pernah ada.
Kaiser mengambil kristal tersebut.
Tidak terjadi apa-apa.
Ia memeriksanya dari segala sisi.
Tetap sama.
“Gue cuma capek.”
Ia mengembalikan kristal itu.
Lalu kembali berbaring.
Tanpa mengetahui bahwa beberapa kilometer dari tempatnya berada, jauh di dalam wilayah liar—
sesuatu sedang bergerak.
Dan tanpa mengetahui bahwa besok pagi akan menjadi hari terakhir dalam hidupnya sebagai manusia biasa.
Bersambung.