Chapter 17 of 18

Chapter 17 — Mata yang Mengamati

1.3k words

Suara ranting yang patah membuat Kaiser berhenti berjalan. Krek. Nox yang berada beberapa langkah di depannya juga berhenti. Duskfang Wolf itu menurunkan tubuhnya sedikit. Telinganya bergerak. Kanan. Kiri. Kemudian ke belakang. Kaiser perlahan meletakkan tangannya di gagang dagger. "Lu denger juga?" Nox mengeluarkan geraman rendah. Kaiser tidak langsung menyerang. Ia justru diam. Beberapa detik berlalu. Angin melewati pepohonan. Daun-daun bergerak. Namun tidak ada monster yang muncul. Kaiser memperhatikan sekeliling. Tidak ada jejak. Tidak ada suara napas. Tidak ada gerakan mencurigakan. Akhirnya Nox kembali berdiri normal. Kaiser melepaskan tangannya dari dagger. "Kalau cuma ranting jatuh, kita buang waktu." Ia melanjutkan perjalanan. Namun kali ini langkahnya lebih hati-hati. Zona Liar bukan tempat yang bisa diperlakukan seperti wilayah sekitar permukiman. Di sini, bahkan suara kecil bisa menjadi tanda keberadaan sesuatu yang lebih besar. Kaiser sudah memahami itu. Tetapi ada hal lain yang terus mengganggu pikirannya. Pertarungan yang ia lihat sebelumnya. Tiga Tamer. Swordsman. Archer. Support. Mereka tidak terlihat jauh lebih kuat daripada dirinya. Namun cara mereka menghadapi monster berbeda. Mereka tahu kapan harus menyerang. Kapan harus bertahan. Kapan harus mundur. Dan yang paling penting— mereka tahu posisi masing-masing. Kaiser menatap Nox. "Selama ini kita cuma punya satu cara." Nox menoleh. "Gua kasih perintah. Lu nyerang." Nox memiringkan kepala. "Kadang gua ikut nyerang." Kaiser berhenti sebentar. "Dan kalau keadaan berubah, kita improvisasi." Nox menggeram pelan. Kaiser mengangguk. "Nah. Itu masalahnya." Ia kembali berjalan. "Kita terlalu bergantung sama improvisasi." Beberapa waktu kemudian, mereka menemukan area terbuka. Kaiser langsung berhenti. Di kejauhan terdengar suara benturan. BOOM! Disusul suara teriakan. "Tarik!" Kaiser menunduk. Ia dan Nox bergerak ke balik batu besar. Kaiser mengintip. Empat Tamer sedang bertarung. Di depan mereka terdapat seekor monster besar menyerupai banteng dengan tubuh yang sebagian tertutup lapisan batu. Kaiser mengaktifkan Identify. [Identify] Spesies: Stone Horn Jenis: Beast Atribut: Earth Level: 7 Rarity: Uncammeon Kaiser memperhatikan keempat Tamer tersebut. Seorang pria membawa pedang berdiri paling depan. Di belakangnya terdapat seorang wanita dengan busur. Seorang pria dengan tongkat berada agak jauh. Dan satu orang lagi menggunakan tombak. Kaiser tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya melihat. Stone Horn menerjang. Tamer pedang tidak menahannya. Ia bergerak ke samping. Monster melewatinya. Tamer tombak langsung maju. Satu tusukan. Tidak dalam. Hanya cukup untuk membuat perhatian Stone Horn berpindah. "Jadi begitu..." Kaiser memperhatikan. Monster berbalik mengejar pengguna tombak. Tamer pedang kemudian bergerak dari arah lain. Bukan menyerang. Menghalangi jalur. Stone Horn kembali berbelok. Monster itu dipaksa bergerak ke arah tertentu. Kaiser menyipitkan mata. "Mereka ngatur jalurnya." Nox menatap pertarungan. Kaiser menunjuk ke arah monster. "Lihat." Nox menggerakkan telinga. "Monster itu sebenarnya bisa nyerang siapa aja." Namun setiap kali hendak berpindah target, salah satu Tamer selalu muncul di jalurnya. Bukan untuk mengalahkan. Melainkan untuk memaksa monster memilih arah tertentu. Kaiser mulai memahami. Mereka tidak mengendalikan monster. Mereka mengendalikan situasi. Beberapa saat kemudian, Stone Horn mengangkat kedua kaki depannya. Tamer pedang langsung mundur. "Tiga langkah!" Tamer lainnya mundur. Monster menghantam tanah. BOOM! Gelombang debu menyebar. Namun tidak ada seorang pun yang terkena. Kaiser memperhatikan. Mereka sudah tahu jarak serangan monster. Mereka tahu kapan harus mundur. "Timing..." Kaiser bergumam. Kemudian ia melihat wanita dengan busur. Sejak tadi wanita itu tidak menembakkan banyak anak panah. Ia hanya menunggu. Menunggu. Menunggu. Stone Horn kembali mengangkat kepalanya. Wanita itu menarik tali busur. TAK! Anak panah melesat. Tepat mengenai bagian yang terbuka di antara dua lapisan batu. Stone Horn meraung. Kaiser sedikit membelalakkan mata. "Bukan karena panahnya kuat." Ia menatap wanita itu. "Dia nunggu kesempatan." Kaiser mulai memahami hal lain. Dalam pertarungan, serangan terkuat tidak selalu menjadi serangan terbaik. Serangan yang mengenai titik yang tepat pada waktu yang tepat jauh lebih berguna. Kemudian Tamer dengan tongkat bergerak. Cahaya tipis muncul di tubuh Tamer pedang. Kaiser memperhatikan. "Support." Namun bukan sekadar penyembuhan. Energi itu memperkuat tubuh Tamer pedang. Tamer pedang langsung bergerak lebih cepat. Stone Horn yang sudah kehilangan keseimbangan terkena tiga serangan berturut-turut. Satu. Dua. Tiga. Monster jatuh. Keempat Tamer tidak bersorak. Mereka hanya saling melihat. Tamer dengan tombak menghela napas. "Berhasil." Kaiser tetap diam. Ia merasa seperti baru saja membuka sebuah pintu. Bukan pintu menuju kekuatan. Melainkan pemahaman. Selama ini ia berpikir seorang Tamer yang kuat adalah orang yang memiliki monster kuat. Sekarang ia mulai menyadari bahwa itu hanya sebagian. Monster kuat memang penting. Namun orang yang mengendalikan situasi jauh lebih berbahaya daripada orang yang hanya memiliki kekuatan besar. Kaiser menatap Nox. "Nox." Duskfang Wolf itu menoleh. "Kalau suatu saat kita lawan monster yang lebih kuat dari kita..." Nox berdiri. "...kita nggak boleh cuma berharap lu lebih kuat." Nox menggeram. Kaiser tersenyum tipis. "Kita harus bikin lawan bertarung sesuai cara kita." Panel tiba-tiba muncul. [MISI] Nama: Mata yang Mengamati Tujuan: Pelajari teknik bertarung Tamer lain. Batas Waktu: Tidak ada. Progress: 3/3 Kaiser menatapnya. Tiga pengamatan. Pertama, ia belajar tentang posisi. Kedua, ia belajar tentang timing. Ketiga, ia belajar tentang kontrol situasi. Kaiser mengangguk pelan. "Kayaknya cukup." Tulisan pada Panel berubah. [Tujuan misi terpenuhi.] [Misi selesai.] Kaiser menunggu. Biasanya sistem akan menampilkan hadiah. Dan benar saja. [REWARD] Promosi Tamer Instan Kaiser terdiam. "...Hah?" Ia membaca lagi. [Reward: Promosi Tamer Instan] Kemudian tulisan berikutnya muncul. [Tingkat Tamer saat ini: Dasar] [Batas Level saat ini: Level 5] [Promosi tersedia.] Kaiser menatap layar. "Jadi ini maksud lu." Ia baru menyadari sesuatu. Sejak mencapai Level 5, tidak ada lagi Level EXP yang masuk. Padahal ia sudah mengalahkan beberapa monster setelah itu. Sekarang ia tahu alasannya. Level 5 adalah batas tingkat Dasar. Untuk berkembang lebih jauh, ia membutuhkan promosi. Dan sistemnya memberikannya. Tanpa ujian. Tanpa Eligibility Crystal. Tanpa prosedur pemerintah. Tanpa harus kembali ke kota. Kaiser menarik napas. "Terima." Panel bersinar. [Promosi diterima.] [Tamer Kaiser telah dipromosikan.] [Tingkat Tamer: Dasar → Beginner] Cahaya tipis menyelimuti tubuh Kaiser. Tidak ada ledakan. Tidak ada perubahan tubuh. Tidak ada kekuatan baru yang langsung muncul. Namun Kaiser bisa merasakan sesuatu berubah. Seolah sebuah batas yang selama ini menghalangi perkembangannya telah dibuka. Panel kembali muncul. [Batas Level sebelumnya telah dilewati.] [Level EXP kembali dapat diperoleh.] [Batas tingkat berikutnya: Level 10] Kaiser mengangkat alis. "Jadi sekarang gua bisa lanjut." Ia membuka statusnya. [Tamer Status] Nama: Kaiser Usia: 16 Level: 5 Tingkat: Beginner Contract Monster: 1 Innate Ability: Fusion — Terkunci Kaiser menatap angka levelnya. Masih 5. Tidak ada peningkatan level instan. Yang berubah adalah tingkatnya. Sekarang ia sudah menjadi Beginner dan bisa kembali mendapatkan Level EXP. Kaiser tersenyum. "Bagus." Nox mendekat. Kaiser mengusap kepala Nox sebentar. "Berarti perjalanan kita belum berhenti di Level 5." Nox mengeluarkan suara rendah. Kaiser berdiri. Namun sebelum mereka pergi, Kaiser kembali melihat ke arah tempat empat Tamer tadi bertarung. Mereka sudah pergi. Yang tersisa hanya jejak pertempuran. Kaiser memandanginya beberapa saat. Kemudian ia tersenyum tipis. "Mulai sekarang..." Ia menggenggam dagger. "...gua nggak cuma bakal belajar jadi lebih kuat." Tatapannya berubah. "Gua bakal belajar jadi Tamer." Nox berdiri di sampingnya. Mereka kemudian berjalan meninggalkan area tersebut. Kaiser membuka misi utamanya. [MISI UTAMA] Nama: Langkah Berikutnya Tujuan: Mencapai Level 10 Batas Waktu: Tidak ada Hadiah: ??? Kaiser melihat target itu. Level 10. Kini terasa berbeda. Sebelumnya, Level 10 hanyalah angka. Sekarang Level 10 adalah batas baru yang harus ia capai sebelum kembali menghadapi promosi berikutnya. Kaiser memasukkan tangan ke saku jaket. "Beginner, ya." Ia tersenyum kecil. "Setidaknya kedengarannya lebih keren daripada Dasar." Nox menatapnya. Kaiser melirik balik. "Apa?" Nox mengalihkan pandangan. Kaiser menghela napas. "Lu juga nggak perlu komentar." Mereka terus berjalan memasuki Zona Liar. Namun beberapa puluh meter dari sana— di antara pepohonan— sepasang mata memperhatikan mereka. Bukan mata monster biasa. Sosok itu berdiri diam. Tidak menyerang. Tidak mendekat. Hanya mengamati. Kemudian sosok tersebut berbalik dan menghilang di antara pepohonan. Kaiser tidak mengetahuinya. Baginya, hari itu hanyalah hari ketika ia mendapatkan promosi pertamanya. Namun tanpa ia sadari— sejak memasuki Zona Liar, bukan hanya Kaiser yang sedang mempelajari dunia. Dunia juga mulai mempelajari Kaiser.

End of Chapter 17