Chapter 16 of 18
Chapter 16 — Mata yang Mengamati
1.4k words
Langkah Kaiser melambat ketika suara pertarungan di belakangnya semakin samar.
Zona Liar terasa berbeda dari wilayah yang biasa ia datangi.
Tidak ada jalan yang jelas.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada tanda-tanda bahwa manusia sering melewati tempat ini.
Hanya pepohonan liar, bebatuan besar, tanah yang tidak rata, dan suara-suara makhluk yang sesekali terdengar dari kejauhan.
Kaiser menarik napas pelan.
Nox berjalan beberapa meter di depannya.
Tubuh Duskfang Wolf itu bergerak tanpa suara, telinganya terus bergerak mengikuti berbagai bunyi di sekitar.
Kaiser menatap punggung Nox.
"Lu ngerasa ada sesuatu?"
Nox berhenti.
Kepalanya sedikit menoleh.
Beberapa detik kemudian, ia menggeram pelan.
Kaiser langsung berhenti.
Tangannya bergerak mendekati gagang dagger.
"Berapa?"
Nox mengangkat kepalanya.
Satu.
Dua.
Tiga.
Kaiser memperhatikan arah pandang Nox.
Dari balik semak-semak di sebelah kiri, terdengar suara ranting patah.
Krek.
Kaiser tidak langsung menyerang.
Ia menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga.
Kemudian sesuatu melompat keluar.
Seekor monster kecil berbentuk seperti kadal dengan empat kaki pendek dan tanduk kecil di kepalanya menerjang ke arah Kaiser.
[Identify]
Spesies: Horn Lizard
Jenis: Beast
Atribut: Earth
Level: 6
Rarity: Cammeon
Kondisi: Sehat
Kaiser mundur satu langkah.
"Nox."
Tidak perlu perintah kedua.
Nox menghilang.
Dusk Step.
Bayangan di bawah kakinya seakan menyatu dengan tubuhnya.
Dalam sekejap, Nox muncul di samping Horn Lizard.
BAM!
Cakar Nox menghantam sisi tubuh monster itu.
Horn Lizard terlempar dan berguling di tanah.
Namun sebelum Nox mengejarnya, dua monster lain keluar dari semak-semak.
Kaiser menyipitkan mata.
"Jadi ada tiga."
Ia baru saja hendak memberi perintah ketika menyadari sesuatu.
Monster pertama bangkit.
Dua monster lainnya tidak menyerang.
Mereka hanya mengitari.
Kaiser diam.
Ia memperhatikan.
Monster pertama maju dari depan.
Yang kedua bergerak ke kanan.
Yang ketiga memutar ke belakang.
"Mereka bukan asal nyerang."
Kaiser langsung bergerak.
Ia berlari ke arah batu besar di sebelahnya.
Monster ketiga mencoba mengejar.
Kaiser berhenti mendadak.
Energy Barrier.
Lapisan energi muncul di depan tubuhnya.
DUK!
Horn Lizard menghantam barrier.
Kaiser terdorong beberapa langkah.
Tangannya terasa bergetar.
"Berat juga."
Ia menahan posisi.
Biasanya ia akan menunggu Nox menghabisi monster tersebut.
Namun kali ini berbeda.
Ia teringat pertarungan tiga Tamer yang ia lihat sebelumnya.
Swordsman.
Archer.
Support.
Mereka tidak hanya menyerang.
Mereka mengatur posisi.
Mereka membuat lawan bergerak sesuai keinginan mereka.
Kaiser melirik Nox.
"Nox!"
Nox langsung memahami.
Ia menyerang monster yang berada di sisi kanan.
Shadow Fang!
Cakar Nox bergerak cepat.
Monster itu mencoba menghindar, tetapi Nox tidak mengejar terlalu jauh.
Ia justru mundur.
Kaiser mengerti.
"Bagus."
Monster kedua kehilangan fokus.
Ia mengejar Nox.
Pada saat yang sama, monster pertama masih berhadapan dengan Kaiser.
Kaiser mematikan Barrier.
Horn Lizard langsung menerjang.
Kaiser bergeser ke samping.
WHUSSH!
Tanduk monster lewat hanya beberapa sentimeter dari tubuhnya.
Kaiser memutar tubuh.
Dagger di tangannya bergerak.
TAK!
Bukan ke tubuh.
Melainkan ke tanah tepat di depan kaki monster.
Horn Lizard terkejut dan kehilangan keseimbangan.
Kaiser memanfaatkan momen itu untuk menendang sisi tubuhnya.
Monster tersebut jatuh.
Nox langsung muncul.
SLASH!
Pertarungan selesai.
Kaiser berdiri sambil mengatur napas.
Ia menatap monster yang tersisa.
Yang kedua masih mengejar Nox.
Yang ketiga mulai mendekat dari belakang.
Kaiser tersenyum tipis.
"Kalau begini..."
Ia mengambil batu kecil dari tanah.
Kemudian melemparkannya ke arah semak di sebelah kanan.
Tak.
Monster ketiga menoleh.
Kaiser langsung berlari ke arah yang berlawanan.
Monster itu mengikuti suara langkahnya.
"Berhasil."
Kaiser berlari menuju Nox.
"Nox, kanan!"
Nox berbalik.
Monster yang mengejarnya masuk ke jalur yang sama dengan monster ketiga.
Keduanya hampir bertabrakan.
Nox memanfaatkan kesempatan itu.
Dusk Step.
Tubuhnya berubah menjadi bayangan.
Dalam sekejap ia muncul di belakang salah satu monster.
Shadow Fang.
Satu serangan.
Monster jatuh.
Kaiser maju.
Barrier muncul.
Monster terakhir menyerang.
DUK!
Kaiser menahan hantaman.
Kali ini ia tidak hanya bertahan.
Ia menggunakan dorongan serangan monster untuk memutar tubuh.
Dagger bergerak menuju sisi tubuh monster.
Slash!
Monster mundur.
Nox muncul dari samping.
Serangan terakhir menghantam.
Monster itu roboh.
Kaiser terdiam beberapa saat.
Kemudian Panel muncul.
[Monster dikalahkan.]
[Level EXP diperoleh.]
[Technique EXP diperoleh.]
Kaiser menatap tulisan itu.
"Technique EXP..."
Ia baru benar-benar menyadari sesuatu.
Selama ini ia terlalu fokus pada Level.
Level 5.
Level 10.
Evolusi.
Monster.
Namun Panel sudah memberinya sesuatu yang berbeda.
Technique EXP.
Berarti ada sesuatu yang bisa berkembang selain angka level.
Kaiser membuka status dirinya.
[Tamer Status]
Nama: Kaiser
Usia: 16
Level: 5
Rank: Dasar
Contract Monster: 1
Teknik:
Energy Barrier — Dasar
Dagger Combat — Dasar
Innate Ability:
Fusion — Terkunci
Kaiser memperhatikan bagian teknik.
"Jadi..."
Ia mengangkat tangan.
Energy Barrier muncul.
Bentuknya masih sederhana.
Sebuah lapisan energi transparan yang menutupi bagian depan tubuhnya.
Kaiser mencoba memperkecilnya.
Barrier berubah menjadi lebih kecil.
Ia memperbesar lagi.
Barrier kembali melebar.
Kaiser terdiam.
"Selama ini gua cuma mikir barrier itu tembok."
Ia melihat telapak tangannya.
"Padahal bisa dibentuk."
Nox duduk di dekatnya.
Kaiser menatap Nox.
"Lu juga punya kemampuan yang harus gua pahami."
Nox mengibaskan ekornya.
Kaiser tertawa kecil.
"Jangan sok ngerti."
Nox memalingkan wajah.
Kaiser langsung menunjuknya.
"Eh."
Nox tetap tidak melihatnya.
"Lu beneran ngerti, ya?"
Nox menguap.
Kaiser menghela napas.
"Ya udah."
Ia mengambil beberapa Monster Crystal dari monster yang baru mereka kalahkan.
Kemudian ia memasukkannya ke dalam tas.
Setelah itu Kaiser duduk di atas batu.
Ia kembali membuka Panel.
Misi masih terpampang.
[MISI]
Nama: Mata yang Mengamati
Tujuan: Pelajari teknik bertarung Tamer lain.
Batas Waktu: Tidak ada.
Hadiah: ???
Progress: 1/3
Kaiser mengangkat alis.
"Baru satu?"
Ia berpikir sejenak.
"Berarti gua harus mengamati tiga hal."
Kaiser tidak tahu apa yang dimaksud Panel.
Tetapi ia tidak terlalu mempermasalahkannya.
Sistem tidak memberinya jawaban.
Hanya arah.
Dan kali ini arah itu jelas.
Ia harus belajar.
Bukan sekadar melihat orang bertarung.
Ia harus memahami apa yang mereka lakukan.
Kaiser menoleh ke belakang.
Dari kejauhan, suara pertarungan kembali terdengar.
Boom!
Tanah bergetar ringan.
Kaiser berdiri.
"Nox."
Duskfang Wolf itu bangkit.
"Kita lihat lagi."
Mereka bergerak menuju sumber suara.
Namun kali ini Kaiser tidak mendekat seperti sebelumnya.
Ia memilih tempat yang lebih tinggi.
Sebuah batu besar menjadi tempat persembunyian.
Dari sana ia bisa melihat area pertarungan tanpa terlalu dekat.
Di bawah, terdapat empat Tamer.
Berbeda dari kelompok sebelumnya.
Seorang pria membawa tombak.
Seorang wanita menggunakan busur.
Seorang pria lain berdiri di belakang dengan tongkat.
Dan seorang pemuda menggunakan dua pedang pendek.
Mereka sedang menghadapi dua monster.
Satu monster besar seperti banteng dengan lapisan batu di tubuhnya.
Satu lagi berbentuk serigala dengan tanduk.
Kaiser menggunakan Identify.
[Identify]
Stone Horn
Level 8
Rarity: Uncammeon
Attribute: Earth
Kemudian ia mengarahkan Panel ke monster kedua.
[Identify]
Horn Wolf
Level 8
Rarity: Uncammeon
Attribute: Earth
Kaiser memperhatikan.
Tamer tombak berdiri paling depan.
Ia tidak menyerang sembarangan.
Setiap kali Stone Horn maju, ia mundur sedikit.
Membuat monster itu terus mengejarnya.
Pemuda dengan dua pedang bergerak dari samping.
Setiap kali Stone Horn kehilangan keseimbangan, ia menyerang kaki belakangnya.
Archer tidak menembakkan panah terus-menerus.
Ia menunggu.
Menunggu momen ketika monster berhenti.
Kemudian—
TAK!
Panah melesat.
Tepat mengenai bagian leher.
Kaiser terdiam.
"Timing."
Ia baru menyadarinya.
Bukan jumlah serangan yang penting.
Tetapi kapan serangan dilakukan.
Ia melanjutkan pengamatan.
Tamer dengan tongkat tidak terlihat kuat.
Namun setiap beberapa detik ia mengeluarkan energi.
Sebuah lapisan cahaya tipis menyelimuti tubuh rekannya.
Kemudian saat Horn Wolf mencoba menyerang dari samping—
BOOM!
Sebuah penghalang muncul.
Serangan monster terpental.
Kaiser mempersempit pandangannya.
"Support bukan berarti cuma berdiri di belakang."
Ia mencatat semuanya di kepalanya.
Posisi.
Timing.
Jarak.
Peran.
Komunikasi.
Kemudian sesuatu menarik perhatiannya.
Tamer tombak tiba-tiba berteriak.
"Tarik!"
Semua orang mundur.
Stone Horn menerjang.
Keempat Tamer tidak melawan.
Mereka justru membiarkan monster itu maju.
Kaiser mengerutkan kening.
Kemudian ia melihat alasannya.
Di belakang Stone Horn terdapat tanah berlumpur.
Monster itu menginjaknya.
KRAK!
Kakinya tenggelam.
"Ah."
Kaiser tersenyum.
"Mereka nggak ngelawan monster."
Ia menatap pertarungan itu dengan lebih serius.
"Mereka ngelawan situasinya."
Panel tiba-tiba muncul.
[Misi Mata yang Mengamati]
Progress diperbarui.
2/3
Kaiser terdiam.
"Jadi itu maksudnya."
Ia tidak perlu meniru teknik mereka satu per satu.
Ia perlu memahami cara berpikir seorang Tamer.
Kaiser turun dari batu.
Nox berjalan di sampingnya.
Kaiser menatap langit yang mulai berubah warna.
Hari semakin sore.
"Kayaknya gua mulai ngerti."
Ia mengepalkan tangan.
"Kalau gua cuma ngejar level, gua bakal jadi orang yang punya angka tinggi."
Ia melihat Nox.
"Tapi kalau gua belajar bertarung..."
Tatapannya berubah tajam.
"...gua bisa jadi Tamer."
Nox mengeluarkan suara rendah.
Kaiser tersenyum tipis.
Mereka berbalik meninggalkan area itu.
Namun sebelum pergi terlalu jauh—
KRAK.
Suara ranting patah terdengar dari belakang.
Kaiser berhenti.
Nox langsung berdiri waspada.
Kaiser perlahan menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya pepohonan.
Ia menunggu.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada apa pun.
Kaiser menyipitkan mata.
"Lu dengar?"
Nox mengangguk.
Kaiser tidak langsung bergerak.
Ada sesuatu di dalam Zona Liar ini.
Sesuatu yang sejak tadi memperhatikan mereka.
Dan untuk pertama kalinya sejak memasuki wilayah tersebut—
Kaiser merasa bukan hanya dirinya yang sedang mengamati.
Ada sesuatu yang juga sedang mengamati Kaiser.