Chapter 18 of 18
Chapter 18 — Sayap di Tengah Badai
1.5k words
Angin di Zona Liar terasa lebih dingin dibandingkan beberapa hari sebelumnya.
Kaiser berdiri di atas sebuah batu besar, memandang hamparan pepohonan yang terbentang di hadapannya. Dari tempat itu, dia bisa melihat beberapa bukit kecil dan tebing batu yang menjulang di kejauhan.
Nox berdiri di sampingnya.
Duskfang Wolf itu mengangkat kepalanya, mengendus udara.
Kaiser membuka Panel.
[Status Tamer]
Nama: Kaiser
Level: 5
Tingkat: Beginner
EXP: 0 / ???
Monster Kontrak: 1/—
Misi Utama: Langkah Berikutnya
Tujuan: Mencapai Level 10
Batas Waktu: Tidak ada
Hadiah: ???
Kaiser menghela napas.
"Masih jauh."
Nox menoleh.
"Jangan lihat gua begitu."
Nox memiringkan kepala.
"Gua tahu lu juga pengin naik level."
Nox mengibaskan ekornya.
Kaiser menyipitkan mata.
"Kalau lu bisa ngomong, gua yakin lu bakal bilang sesuatu yang menyebalkan."
Nox hanya mendengus.
Kaiser tersenyum tipis.
"Ya udah. Kita lanjut."
Mereka bergerak lebih dalam.
Sejak mendapatkan promosi menjadi Beginner, Kaiser mulai merasakan perbedaan kecil dalam cara dia memandang pertarungan.
Sebelumnya, dia hanya berpikir tentang bagaimana caranya bertahan hidup.
Sekarang, dia mulai memperhatikan hal-hal yang sebelumnya tidak terlalu penting.
Jarak.
Posisi.
Medan.
Arah angin.
Gerakan monster.
Bahkan suara langkah.
Semuanya bisa menjadi informasi.
Dan semakin lama berada di Zona Liar, Kaiser semakin sadar bahwa Level bukan satu-satunya hal yang menentukan hasil pertarungan.
Dia pernah melihat Tamer dengan monster yang lebih kuat kalah karena posisi buruk.
Dia juga pernah melihat kelompok yang levelnya lebih rendah menang karena kerja sama.
Itulah yang sedang dia coba pelajari.
Bukan sekadar menjadi lebih kuat.
Tetapi menjadi lebih pintar dalam menggunakan kekuatan.
"Berhenti."
Nox langsung berhenti.
Kaiser mengangkat tangan.
Hening.
Tidak ada suara langkah.
Tidak ada suara geraman.
Namun beberapa detik kemudian—
KRAAAK!
Sebuah dahan patah dari arah kiri.
Nox langsung merendahkan tubuh.
Kaiser mencabut pisaunya.
Dari balik pepohonan muncul tiga monster.
Horn Lizard.
Ketiganya memiliki Level 6.
Kaiser menyipitkan mata.
"Pas."
Nox melangkah maju.
"Yang kiri."
Nox menghilang.
Dusk Step.
Dalam sekejap, tubuh Nox berpindah ke sisi monster pertama.
SHAAK!
Shadow Fang menghantam bagian belakang lehernya.
Monster itu terhuyung.
Dua lainnya langsung menyerang.
Kaiser mengangkat tangan.
Energy Barrier!
DUUM!
Cakar salah satu Horn Lizard menghantam penghalang energi.
Kaiser terdorong beberapa langkah.
Dia mengertakkan gigi.
"Masih kurang kuat."
Kaiser memutar tubuh dan menghindari serangan berikutnya.
Pisau di tangannya bergerak.
Tebas!
Tidak cukup untuk mengalahkan monster itu, tetapi cukup untuk mengalihkan perhatiannya.
Nox muncul dari bayangan.
Satu serangan.
Dua.
Tiga.
Monster pertama tumbang.
Kaiser segera berpindah ke target berikutnya.
Pertarungan berlangsung beberapa menit.
Ketiganya akhirnya jatuh.
Panel muncul.
[Monster dikalahkan.]
[Level EXP diperoleh.]
Kaiser menghela napas.
"Belum."
Dia melihat statusnya.
Level 5.
Belum ada perubahan.
Kaiser mengangkat wajah.
"Berarti kita butuh monster yang lebih kuat."
Nox menatap ke depan.
Tiba-tiba telinganya bergerak.
Kaiser langsung sadar.
"Ada apa?"
Nox tidak menjawab—tentu saja—tetapi tubuhnya berubah waspada.
Kemudian terdengar suara.
BOOOOM!
Petir menyambar dari kejauhan.
Kaiser menatap langit.
Awan hitam mulai berkumpul.
"Cuaca berubah?"
Petir kedua menyambar.
Kali ini lebih dekat.
BOOOOM!
Angin berembus kencang.
Pepohonan bergoyang.
Namun ada sesuatu yang terasa aneh.
Kaiser menatap ke arah langit.
Bukan hanya badai.
Ada energi monster.
"Jangan bilang..."
Sebuah bayangan melintas di antara awan.
Cepat.
Sangat cepat.
Kaiser bahkan hampir tidak sempat melihat bentuknya.
Kemudian sesuatu jatuh dari langit.
BRRAAAK!
Tanah di depan mereka hancur.
Debu beterbangan.
Nox langsung mengambil posisi bertarung.
Kaiser menutup wajah dengan lengan.
Ketika debu mulai menghilang, dia melihat seekor burung besar berdiri di tengah kawah kecil.
Kaiser terdiam.
Burung itu memiliki tubuh yang ramping dan kuat.
Bulu-bulunya didominasi warna hitam pekat seperti arang.
Namun bagian dada dan lehernya memiliki warna ungu gelap yang menyatu dengan bulu hitam.
Beberapa bulu sayapnya juga memiliki gradasi hitam menuju ungu tua.
Pada tubuhnya terdapat pola seperti retakan.
Ungu.
Gelap.
Berdenyut.
Kemudian—
KRAK!
Petir ungu gelap menjalar dari dadanya menuju kedua sayap.
Angin berputar di sekeliling tubuhnya.
Mata burung itu menyala tajam.
Kaiser perlahan membuka Panel.
[Identifikasi Monster]
Spesies: Stormwing
Jenis: Beast
Atribut: Lightning / Storm
Level: 6
Rarity: Uncammeon
Kondisi: Terluka
Kaiser mengangkat alis.
"Stormwing..."
Nox menggeram pelan.
Stormwing langsung menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada rasa takut di mata monster itu.
Yang ada hanya kewaspadaan.
Dan kemarahan.
Kaiser memperhatikan salah satu sayapnya.
Ada bekas luka panjang di sana.
Beberapa bulunya rusak.
Tampaknya monster itu baru saja bertarung.
"Lu terluka."
Stormwing membuka kedua sayapnya.
Petir ungu gelap langsung menyambar tanah.
ZRAAAK!
Kaiser mundur.
"Oke."
Dia memasukkan pisaunya kembali ke sarung.
Nox menatapnya.
Kaiser mengangkat tangan.
"Jangan serang dulu."
Stormwing tetap mengawasi mereka.
Kaiser bisa merasakan bahwa monster itu tidak berniat menyerah.
Bahkan dalam kondisi terluka, auranya masih kuat.
Kaiser teringat sesuatu.
Monster memiliki kehendak sendiri.
Kontrak bukan sesuatu yang bisa dipaksakan.
Kalau monster itu tidak mau—
Dia tidak akan bisa mendapatkannya.
Kaiser perlahan duduk di atas sebuah batu.
Stormwing terlihat bingung.
Kaiser mengeluarkan sedikit makanan dari tasnya.
Dia meletakkannya di tanah.
"Nih."
Stormwing tidak bergerak.
Kaiser menunggu.
Satu menit.
Dua menit.
Lima menit.
Tidak ada respons.
Kaiser menghela napas.
"Lu keras kepala juga."
Nox duduk di samping Kaiser.
Kaiser menoleh.
"Jangan makan."
Nox langsung melihat makanan itu.
"...Gua tahu lu lapar."
Nox kembali melihat Stormwing.
Kaiser tersenyum tipis.
"Yang ini dulu."
Stormwing akhirnya bergerak.
Satu langkah.
Kemudian satu langkah lagi.
Namun bukannya mengambil makanan, Stormwing berjalan melewati makanan itu.
Ia mendekati Kaiser.
Nox langsung berdiri.
Kaiser mengangkat tangan.
"Tenang."
Stormwing berhenti tepat beberapa meter di depan Kaiser.
Matanya masih tajam.
Kaiser baru menyadari sesuatu.
Monster itu bukan hanya terluka.
Ia juga ketakutan.
Bukan terhadap Kaiser.
Terhadap sesuatu yang lain.
Kaiser menoleh ke arah hutan.
"Lu dikejar?"
Stormwing mengangkat kepala.
KRAAA!
Kemudian terdengar suara dari kejauhan.
BOOM!
Sebuah pohon tumbang.
Kaiser langsung berdiri.
Dari balik pepohonan muncul seekor monster lain.
Jauh lebih besar.
[Identifikasi Monster]
Spesies: Thunderhorn Bear
Jenis: Beast
Atribut: Lightning
Level: 9
Rarity: Uncammeon
Kaiser tersenyum kecil.
"Ah."
Nox menggeram.
Stormwing mengepakkan sayap.
Kaiser menarik pisaunya.
"Jadi lu lari dari dia."
Thunderhorn Bear meraung.
ROOOAAAR!
Tanah bergetar.
Kaiser menatap Nox.
"Nox."
Duskfang Wolf langsung bergerak.
Dusk Step!
Nox menghilang.
Stormwing ikut melompat.
Sayapnya terbuka lebar.
ZRAAAK!
Petir ungu gelap menyelimuti tubuhnya.
Kemudian ia terbang.
Kaiser tersenyum.
"Bagus."
Pertarungan dimulai.
Thunderhorn Bear menyerang Nox terlebih dahulu.
Nox menghindar ke samping.
Cakar monster itu menghantam tanah.
DUUM!
Kaiser bergerak dari sisi lain.
Energy Barrier!
Dia menahan serangan berikutnya.
Namun kekuatannya masih belum cukup.
Kaiser terlempar.
"Ugh!"
Dia berguling di tanah.
Thunderhorn Bear hendak mengejarnya.
Tiba-tiba—
ZRAAAK!
Petir ungu gelap menghantam punggung monster itu.
Thunderhorn Bear meraung.
Kaiser menatap ke atas.
Stormwing berputar di udara.
Gerakannya cepat.
Sangat cepat.
Burung itu tidak mencoba bertarung dari jarak dekat.
Ia menyerang.
Menjauh.
Berputar.
Menyerang lagi.
Kaiser langsung memahami gaya bertarungnya.
"Aerial combat..."
Stormwing kembali menyambar.
Nox memanfaatkan celah.
Shadow Fang!
Serangannya mengenai kaki belakang Thunderhorn Bear.
Monster itu kehilangan keseimbangan.
Kaiser langsung maju.
Energy Barrier!
Bukan untuk bertahan.
Kali ini dia menggunakannya untuk memperkuat momentum tubuhnya.
Kaiser melompat.
Pisau di tangannya menghantam bagian samping tubuh Thunderhorn Bear.
Tidak dalam.
Tetapi cukup untuk mengalihkan perhatian.
"Nox!"
Nox muncul di sisi lain.
Shadow Fang!
Stormwing menukik dari atas.
Petir ungu gelap memenuhi kedua cakarnya.
KRAAAASH!
Serangan terakhir menghantam Thunderhorn Bear.
Monster itu jatuh.
Hening.
Kaiser terengah-engah.
Panel muncul.
[Monster dikalahkan.]
[Level EXP diperoleh.]
[Level meningkat.]
Level: 6
Kaiser mengepalkan tangan.
"Akhirnya."
Nox berdiri di sampingnya.
Stormwing mendarat tidak jauh dari mereka.
Kaiser menatap burung itu.
"Lu kuat."
Stormwing menatap balik.
Kaiser membuka Panel.
[Target Monster memenuhi beberapa kondisi kontrak.]
[Apakah pengguna ingin mengajukan kontrak?]
Kaiser tidak langsung menekan apa pun.
Dia melihat Stormwing.
"Kalau lu mau, ikut gua."
Stormwing diam.
Kaiser melanjutkan.
"Gua nggak bakal ngurung lu."
Stormwing menatap langit.
Kaiser memahami maksudnya.
Ia menyukai kebebasan.
Kaiser tersenyum.
"Lu tetap bisa terbang sesuka lu."
Stormwing menoleh.
"Dan kalau suatu hari lu nggak mau ikut gua lagi..."
Kaiser berhenti.
"...gua nggak bakal maksa."
Hening.
Beberapa detik kemudian, Stormwing berjalan mendekat.
Panel berubah.
[Monster bersedia menerima kontrak.]
Kaiser sedikit terkejut.
"Serius?"
Stormwing menundukkan kepala.
Kaiser mengulurkan tangannya.
Cahaya kontrak muncul.
[Kontrak Monster kedua berhasil.]
[Contract Monster]
Nama: —
Spesies: Stormwing
Jenis: Beast
Atribut: Lightning / Storm
Level: 6
Rarity: Uncammeon
Potential: A
Kondisi: Terluka
Kaiser membaca semuanya.
Kemudian ia melihat Stormwing.
"Lu butuh nama."
Stormwing menatapnya.
Kaiser berpikir sebentar.
Angin berembus.
Petir ungu gelap masih samar terlihat di antara bulunya.
Kaiser tersenyum.
"Veyra."
Stormwing mengangkat kepalanya.
[Nama monster ditetapkan.]
[Nama: Veyra]
Kaiser mengangguk.
"Veyra."
Untuk pertama kalinya, Stormwing mengepakkan sayapnya tanpa menunjukkan sikap mengancam.
Nox berdiri di sebelahnya.
Dua monster.
Satu bayangan.
Satu badai.
Kaiser melihat keduanya.
"Kayaknya tim kita mulai kebanyakan gaya."
Nox mendengus.
Veyra mengeluarkan suara pendek.
Kaiser tertawa kecil.
Kemudian Panel muncul sekali lagi.
[Misi Utama: Langkah Berikutnya]
Tujuan: Mencapai Level 10.
Progress: Level 6/10
Batas Waktu: Tidak ada.
Hadiah: ???
Kaiser menatap angka itu.
Masih ada empat level.
Namun kali ini dia tidak sendirian.
Ia menatap Nox.
Kemudian Veyra.
"Kalau begitu..."
Kaiser memasukkan pisaunya kembali.
"...kita naik sampai sepuluh."
Di atas mereka, awan hitam bergerak perlahan.
Dan di baliknya, seberkas petir ungu gelap menyala di langit.