Chapter 14 of 18

BAB 14 — Langkah Seorang Tamer

1.1k words

Malam telah tiba. Kaiser duduk di lantai gudang tua sambil memperhatikan barang-barang yang baru dibelinya. Pakaian baru. Sepatu baru. Tas baru. Beberapa perlengkapan medis. Tali. Botol air. Dan sebuah dagger yang sekarang terpasang di pinggangnya. Tidak ada satu pun barang yang terlihat mewah. Namun bagi Kaiser, semuanya terasa seperti barang mahal. Ia mengambil dagger tersebut. Bilahnya memantulkan cahaya lampu kecil di ruangan. Kaiser memutarnya perlahan. “Lebih enak daripada pisau bekas.” Nox yang sedang berbaring di sudut ruangan membuka satu mata. Kaiser melirik. “Kenapa?” Nox kembali menutup mata. “...Sombong.” Kaiser meletakkan dagger. Ia kemudian membuka Panel. [Tamer Status] Nama: Kaiser Usia: 16 Level: 5 Rank: Dasar Contract: 1 Kaiser menatap angka Level 5. Sudah beberapa hari sejak Awakening. Dari tidak memiliki apa-apa... sekarang ia sudah memiliki monster kontrak. Perlengkapan. Sedikit uang. Dan hutang yang mulai berkurang. Namun satu hal belum berubah. Kemampuannya sendiri. Kaiser menatap tangannya. Energy Barrier. Fusion. Dua hal yang bahkan belum ia pahami sepenuhnya. Ia mencoba mengaktifkan Barrier. Cahaya tipis muncul di sekitar tubuhnya. Kaiser memperhatikan permukaannya. “Kalau begini terus, gua bisa mati.” Nox membuka mata lagi. Kaiser melanjutkan. “Bukan karena monster.” Ia mengetuk Barrier dengan jarinya. “Karena gua nggak ngerti cara pakainya.” Barrier menghilang. Kaiser berdiri. Ia melihat ruang kosong di dalam gudang. “Besok latihan.” Nox berdiri. Kaiser menatapnya. “Lu juga.” Nox menggeram kecil. “Jangan protes.” Pagi berikutnya. Kaiser dan Nox meninggalkan kawasan kumuh sebelum matahari terlalu tinggi. Mereka menuju sebuah area kosong di luar pemukiman. Tempat itu dipenuhi reruntuhan bangunan lama. Tidak banyak orang datang ke sana. Cocok untuk latihan. Kaiser meletakkan tas. Kemudian mencabut dagger. Ia berdiri dengan posisi yang belum sempurna. Nox berdiri beberapa meter di depannya. Kaiser menunjuk Nox. “Serang.” Nox langsung melesat. Kaiser terkejut. “Cepat—” DUK! Tubuh Kaiser terpental dan jatuh ke tanah. Ia mengerang. “...Gua belum siap.” Nox berdiri di atasnya. Kaiser menatapnya. “Lu serius?” Nox menatap balik. Kaiser bangkit sambil membersihkan debu dari pakaian. “Oke.” Ia mengambil posisi lagi. “Sekali lagi.” Nox melesat. Kali ini Kaiser lebih siap. Ia mengaktifkan Energy Barrier tepat sebelum Nox menyerang. BOOM! Tubuh Kaiser terdorong beberapa meter. Namun ia tetap berdiri. Kaiser melihat Barrier yang bergetar. “Jadi begini rasanya.” Ia mulai memahami sesuatu. Barrier bukan sekadar dinding. Ia harus mengatur energi. Kalau terlalu banyak... boros. Kalau terlalu sedikit... pecah. Kaiser menarik napas. “Nox.” Nox menatapnya. “Serang pelan.” Nox bergerak. Kaiser mengaktifkan Barrier. Serangan datang. DUK. Barrier menahan. Kaiser terdorong sedikit. “Bagus.” Serangan kedua. DUK. Lebih kuat. Barrier bergetar. Kaiser mengatur energi. Tidak terlalu banyak. Tidak terlalu sedikit. Serangan ketiga. Kali ini ia tetap berdiri. Kaiser tersenyum. “Mulai ngerti.” Latihan berlanjut. Serangan demi serangan. Kaiser mencoba membaca gerakan Nox. Menghindar. Memblokir. Menggunakan Barrier. Kadang berhasil. Kadang gagal. Beberapa kali ia jatuh. Beberapa kali Nox sengaja mengurangi kekuatannya. Namun semakin lama... gerakan Kaiser mulai membaik. Ia mulai memahami jarak. Timing. Posisi tubuh. Dan yang paling penting— kapan harus bertahan dan kapan harus menghindar. Setelah hampir satu jam, Kaiser duduk di tanah. Napasnya berat. Nox juga terlihat lelah. Kaiser membuka Panel. Tidak ada kenaikan level. Tidak ada hadiah. Tidak ada misi. Kaiser tersenyum kecil. “Bagus.” Nox menatapnya. “Kalau setiap latihan harus dikasih hadiah, gua malah curiga.” Nox mengibaskan ekornya. Kaiser kemudian berdiri. “Sekarang bagian kedua.” Ia menggenggam dagger. Kali ini Nox tidak menyerang. Kaiser yang maju. Ia bergerak mendekati Nox. Langkah pertama. Lambat. Langkah kedua. Lebih cepat. Ia mencoba menusuk. Nox menghindar. Kaiser memutar tubuh dan menyerang dari samping. Nox kembali menghindar. Kaiser berhenti. “Lu terlalu cepat.” Nox mengangkat kepalanya. Kaiser menghela napas. “Kalau lawan gua monster biasa, mungkin masih bisa.” Ia menatap dagger. “Tapi kalau ketemu Tamer lain...” Kaiser terdiam. Itulah hal yang baru ia sadari. Selama ini ia hanya melawan monster. Padahal dunia Tamer bukan cuma tentang monster. Ada Tamer lain. Dan mereka bisa bertarung. Kaiser menatap Nox. “Gua harus bisa bertarung tanpa bergantung sepenuhnya sama lu.” Nox mendekat. Kaiser mengusap kepalanya. “Bukan berarti gua nggak percaya lu.” Nox duduk. “Justru karena gua percaya lu.” Kaiser tersenyum. “Kalau suatu hari lu nggak bisa bergerak...” Ia mengepalkan dagger. “Gua tetap harus bisa bertahan.” Nox menatapnya beberapa detik. Kemudian berdiri. Kaiser tertawa kecil. “Udah, jangan pasang muka serius begitu.” Menjelang siang, mereka memutuskan untuk berburu. Bukan demi Level. Bukan demi kristal. Kaiser ingin menguji hasil latihan. Mereka masuk ke wilayah yang pernah mereka lewati sebelumnya. Nox bergerak lebih dulu. Indra penciumannya mendeteksi sesuatu. Kaiser mengangkat tangan. “Berhenti.” Nox berhenti. Kaiser berjongkok. Jejak kaki. Monster. Beberapa. Ia memperhatikan tanah. “Lima.” Nox menggeram pelan. Kaiser menarik dagger. “Jangan langsung maju.” Mereka menunggu. Beberapa detik kemudian, lima monster kecil muncul dari balik reruntuhan. Kaiser mengenalinya. Horn Lizard. Level rendah. Kaiser tersenyum tipis. “Masih ingat yang pertama?” Nox menatap mereka. Kaiser menunjuk salah satu. “Yang itu buat lu.” Nox melesat. Pertarungan dimulai. Namun kali ini berbeda. Kaiser tidak hanya berdiri di belakang. Ia bergerak. Satu Horn Lizard mencoba menyerang Nox dari samping. Kaiser langsung masuk. Slash! Dagger mengenai tubuh monster tersebut. Monster itu mundur. Nox langsung menyelesaikannya. Kaiser berpindah posisi. Monster lain mengejar. Energy Barrier muncul tepat saat serangan datang. DUK! Kaiser menahan. Ia kemudian memutar tubuh dan menyerang bagian samping monster tersebut. Nox melompat melewati Kaiser. Shadow Fang. Serangan Nox menghantam target. Monster jatuh. Dua lainnya mencoba melarikan diri. Kaiser melihat Nox. “Jangan biarin.” Nox menggunakan Dusk Step. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari pandangan. Kemudian muncul di depan salah satu monster. Kaiser menyelesaikan yang lainnya. Beberapa menit kemudian... Pertarungan selesai. Kaiser berdiri sambil mengatur napas. Ia melihat Nox. “Lebih bagus.” Nox mengibaskan ekornya. Kaiser tersenyum. “Sekarang kita mulai kelihatan seperti tim.” Ia mengumpulkan kristal monster yang tersisa. Kemudian memasukkannya ke dalam tas. Namun saat ia hendak pergi— Panel tiba-tiba muncul. [MISI TERDETEKSI.] Kaiser berhenti. Nox menoleh. Kaiser membaca layar. [MISI] Nama: Langkah Berikutnya Tujuan: Mencapai Level 10. Batas Waktu: Tidak ada. Hadiah: ??? Kaiser terdiam. Kemudian membaca bagian bawah. [Petunjuk: Jalan menuju Level 10 tidak berada di tempat yang sama dengan jalan menuju Level 5.] Kaiser mengerutkan kening. “...Maksudnya?” Tidak ada jawaban. Panel menghilang. Kaiser berdiri diam. Kemudian tersenyum tipis. “Jadi kita harus pergi lebih jauh.” Nox menatapnya. Kaiser memasukkan dagger kembali ke sarungnya. “Besok kita cari tempat baru.” Ia mengangkat tas. “Dan kali ini...” Kaiser melihat ke arah wilayah yang belum pernah mereka jelajahi. “Gua pengen tahu seberapa besar dunia ini.” Nox berjalan di sampingnya. Dua sosok itu mulai meninggalkan reruntuhan. Tanpa mereka sadari, perjalanan menuju Level 10 akan membawa mereka semakin jauh dari kawasan tempat Kaiser dibesarkan. Dan semakin dekat... kepada dunia para Tamer yang sebenarnya.

End of Chapter 14

Chapter 14: BAB 14 — Langkah Seorang Tamer - The Shadow Tamer: Awakening | Novel AI Studio