Chapter 13 of 18
BAB 13 — Harga Sebuah Perubahan
1.2k words
Kaiser keluar dari kantor pemerintah bersama Nox.
Pintu besar di belakang mereka tertutup perlahan.
Kaiser berhenti di trotoar.
Ia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jaketnya.
“Nggak seburuk yang gua kira.”
Nox berdiri di sampingnya.
Kaiser melirik.
“Walaupun orang berlencana naga itu agak aneh.”
Nox mengibaskan ekornya.
“Lu juga ngerasa begitu?”
Nox hanya berjalan lebih dulu.
Kaiser tersenyum tipis.
“Ya udah.”
Mereka berjalan meninggalkan pusat kawasan.
Namun kali ini Kaiser tidak langsung pulang.
Ada satu urusan yang harus diselesaikan terlebih dahulu.
Beberapa hari terakhir, Kaiser dan Nox tidak hanya mendapatkan pengalaman.
Mereka juga mendapatkan sesuatu yang jauh lebih berharga bagi seorang anak yang hidup dalam kemiskinan.
Kristal monster.
Setiap monster yang mereka kalahkan memiliki kemungkinan meninggalkan kristal.
Beberapa kristal memiliki kualitas rendah.
Beberapa lainnya sedikit lebih baik.
Kaiser tidak mengetahui harga pastinya.
Karena itu, sebelum menjualnya, ia mencari tempat yang tepat.
Pasar Tamer berada tidak jauh dari pusat kota.
Tempat itu jauh lebih ramai daripada pasar biasa.
Berbagai macam barang dijual di sana.
Senjata.
Armor.
Obat.
Makanan khusus monster.
Monster Crystal.
Bahkan beberapa telur monster berada di dalam wadah khusus.
Kaiser berjalan melewati kerumunan.
Nox mengikuti di belakang.
Beberapa pedagang langsung memperhatikan Duskfang Wolf tersebut.
Namun Kaiser tidak berhenti.
Ia mencari toko yang membeli hasil buruan.
Akhirnya ia menemukan sebuah bangunan dengan papan bertuliskan:
Pusat Perdagangan Monster
Kaiser masuk.
Seorang pria paruh baya berada di belakang meja.
Ia mengangkat kepala.
“Perlu apa?”
Kaiser membuka tasnya.
Beberapa kristal dikeluarkan.
Tok.
Kristal pertama diletakkan di atas meja.
Kemudian kedua.
Ketiga.
Dan seterusnya.
Pedagang itu mulai memperhatikan.
“Dari mana kau mendapatkannya?”
“Berburu.”
“Sendiri?”
Kaiser menunjuk Nox.
“Berdua.”
Pedagang tersebut melihat Nox.
Kemudian kembali kepada kristal.
Ia mengambil salah satunya dan memeriksa dengan alat khusus.
Beberapa angka muncul di layar.
Pedagang itu mulai menghitung.
“Kristal Beast tingkat rendah... beberapa atribut berbeda.”
Ia memeriksa kristal lainnya.
“Jumlahnya lumayan.”
Kaiser menunggu.
Beberapa saat kemudian pedagang itu menyebutkan harga.
Kaiser terdiam.
Ia tidak menyangka jumlahnya sebanyak itu.
Bukan kekayaan.
Jauh dari itu.
Namun bagi seseorang seperti dirinya...
uang tersebut terasa sangat besar.
Kaiser menerima pembayaran.
Pedagang menyerahkan beberapa lembar uang dan kartu pembayaran.
“Kalau punya hasil buruan lagi, bawa ke sini.”
Kaiser memasukkan uang tersebut ke dalam tas.
“Siap.”
Ia berbalik.
Namun sebelum keluar, pedagang itu berkata,
“Anak muda.”
Kaiser menoleh.
“Kalau kau mau berburu lebih jauh, perlengkapanmu perlu diperbaiki.”
Kaiser melihat pakaiannya sendiri.
Jaket lama.
Celana yang mulai kusam.
Sepatu yang solnya sudah hampir lepas.
Pedagang itu tertawa kecil.
“Kelihatan sekali kau baru mulai.”
Kaiser mengangguk.
“Memang.”
“Jangan mati hanya karena perlengkapan buruk.”
Kaiser tersenyum tipis.
“Gua usahain.”
Mereka kembali berjalan menuju pasar.
Kaiser berhenti di sebuah toko pakaian.
Ia tidak memilih sesuatu yang mahal.
Hanya pakaian yang lebih layak.
Dua kaus.
Satu celana.
Jaket baru.
Beberapa pakaian dalam.
Sepasang sepatu.
Kaiser melihat harga semuanya.
Kemudian memasukkan barang ke keranjang.
Nox duduk di dekat pintu.
Seorang anak kecil yang lewat langsung menunjuknya.
“Ma! Ada monster!”
Ibunya menarik tangannya.
“Jangan dekat-dekat.”
Nox hanya menatap mereka.
Kaiser tersenyum.
“Lu terkenal sekarang.”
Nox memalingkan wajah.
Setelah pembayaran selesai, Kaiser membawa beberapa kantong.
Ia melihat pakaian lamanya yang masih dipakai.
“Kayaknya udah waktunya pensiun.”
Berikutnya adalah perlengkapan.
Kaiser masuk ke toko peralatan Tamer.
Matanya langsung tertuju pada berbagai macam senjata.
Pedang.
Busur.
Dagger.
Armor.
Sarung tangan.
Tas khusus.
Peralatan survival.
Kaiser melihat satu per satu.
Ia tidak punya pengalaman menggunakan pedang.
Busur terlalu sulit untuk sekarang.
Akhirnya pilihannya jatuh pada sebuah dagger sederhana.
Tidak terlalu panjang.
Tidak terlalu berat.
Cukup tajam untuk digunakan dalam jarak dekat.
Selain itu, ia membeli sarung tangan, beberapa perlengkapan medis dasar, tali, botol air, dan tas yang lebih kuat.
Penjual menghitung semuanya.
Kaiser membayar.
Setelah keluar, ia memasukkan dagger ke pinggang.
Ia menguji beratnya.
Jauh lebih nyaman daripada menggunakan barang seadanya.
Kaiser melirik Nox.
“Gimana?”
Nox mengendus dagger tersebut.
Kaiser tertawa kecil.
“Bukan buat lu.”
Nox menatapnya datar.
“Jangan lihat gua begitu.”
Namun masih ada satu hal.
Hutang.
Kaiser berjalan menuju sebuah bangunan tua di bagian lain kota.
Bangunan itu tidak memiliki papan nama.
Hanya simbol rantai kecil yang terpasang di pintu.
Sindikasi.
Kaiser berhenti di depan pintu.
Nox berdiri di belakangnya.
“Gua masuk sendiri.”
Nox menggeram pelan.
“Tenang.”
Kaiser menepuk kepala Nox.
“Kalau terjadi sesuatu, gua panggil.”
Nox akhirnya mundur.
Kaiser membuka pintu.
Di dalam terdapat beberapa orang.
Salah satunya adalah pria yang pernah mendatanginya beberapa hari lalu.
Pria itu langsung mengenali Kaiser.
“Bocah.”
Kaiser meletakkan sejumlah uang di atas meja.
Pria itu melihat uang tersebut.
Kemudian melihat Kaiser.
“Apa ini?”
“Bayar hutang.”
Pria tersebut menghitungnya.
Jumlahnya tidak sedikit.
Namun belum cukup untuk melunasi semuanya.
“Dari mana kau dapat uang sebanyak ini?”
Kaiser menjawab santai.
“Kerja.”
Pria itu menatap pakaian baru Kaiser.
Kemudian melihat dagger di pinggangnya.
Terakhir, ia melihat Nox yang berdiri di luar melalui pintu.
“Jadi benar.”
Tatapannya berubah.
“Kau sudah menjadi Tamer.”
Kaiser tidak membalas.
Pria itu selesai menghitung.
“Masih ada sisa.”
“Gua tahu.”
“Jatuh tempo berikutnya tetap berlaku.”
Kaiser mengangguk.
“Gua bayar lagi.”
Pria tersebut bersandar.
“Kau pikir setelah menjadi Tamer semuanya akan mudah?”
Kaiser menatapnya.
“Nggak.”
Ia memasukkan tangan ke saku.
“Makanya gua kerja.”
Pria itu diam.
Kaiser berbalik.
Sebelum keluar, pria tersebut berkata,
“Bocah.”
Kaiser berhenti.
“Kalau kau gagal membayar berikutnya...”
Kaiser tidak menoleh.
“Gua tahu.”
Ia keluar.
Pintu tertutup.
Nox langsung berjalan mendekat.
Kaiser menghela napas.
“Lumayan.”
Nox menatapnya.
“Hutang berkurang.”
Kaiser tersenyum.
“Walaupun belum selesai.”
Sore mulai turun.
Kaiser dan Nox berjalan pulang.
Tas lama sudah diganti.
Pakaian baru sudah digunakan.
Dagger tergantung di pinggang.
Perbekalan sudah cukup untuk beberapa hari.
Dan sebagian besar uang hasil buruannya telah berubah menjadi sesuatu yang lebih berguna.
Kaiser berhenti di depan sebuah toko makanan.
Ia melihat ke dalam.
Kemudian melihat Nox.
“Lu lapar?”
Nox langsung berdiri lebih tegak.
Kaiser tertawa.
“Gue tahu jawabannya.”
Mereka masuk.
Kaiser membeli makanan untuk dirinya sendiri.
Kemudian makanan yang aman untuk Nox.
Setelah keluar, mereka duduk di pinggir jalan.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama...
Kaiser makan tanpa harus menghitung apakah makanan itu cukup untuk bertahan sampai besok.
Ia menatap makanan di tangannya.
Kemudian melihat Nox yang sedang makan di sampingnya.
“Dulu gua mikir jadi kuat itu cuma soal bertahan hidup.”
Nox berhenti makan sebentar.
Kaiser melanjutkan.
“Ternyata ada hal lain.”
Ia melihat pakaian barunya.
Dagger.
Tas.
Kemudian uang yang tersisa.
“Kalau gua lebih kuat...”
Kaiser menatap langit sore.
“Gua bisa hidup sedikit lebih baik.”
Nox kembali makan.
Kaiser tersenyum kecil.
Hari itu tidak ada monster besar.
Tidak ada pertarungan hidup mati.
Tidak ada evolusi.
Tidak ada misi aneh dari Panel.
Hanya seorang anak berusia enam belas tahun yang menggunakan hasil perjuangannya untuk membeli kebutuhan hidup dan mengurangi hutang.
Namun bagi Kaiser...
itu sudah merupakan perubahan besar.
Karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia mulai merasa bahwa masa depan mungkin tidak harus selalu terlihat seperti jalan buntu.
Kaiser berdiri.
“Pulang, Nox.”
Duskfang Wolf itu ikut berdiri.
Mereka berjalan kembali menuju kawasan kumuh.
Kaiser tidak menjadi kaya.
Tidak menjadi terkenal.
Hutangnya juga belum lunas.
Tetapi hari itu...
hidupnya sedikit lebih baik daripada kemarin.
Dan untuk seseorang seperti Kaiser—
itu sudah cukup untuk terus melangkah.