Pagi datang lebih cepat dari yang Kaiser harapkan.
Cahaya matahari masuk melalui celah dinding gudang tua, mengenai lantai yang dipenuhi debu.
Kaiser membuka mata.
Ia menatap langit-langit selama beberapa detik sebelum bangkit dari tempat tidurnya.
Di sisi lain ruangan, Nox sudah terjaga.
Duskfang Wolf itu duduk sambil memperhatikan pintu.
Kaiser mengusap wajah.
“Lu bangun duluan lagi.”
Nox hanya menggerakkan telinganya.
Kaiser berdiri dan mengambil jaket.
Hari ini dia harus pergi ke kantor pemerintah.
Pendataan.
Sebenarnya tidak terdengar sulit.
Tapi Kaiser tidak suka situasi seperti ini.
Semakin banyak orang yang mengenalnya, semakin banyak pula pertanyaan yang akan muncul.
Dan semakin banyak pertanyaan, semakin besar kemungkinan seseorang menemukan sesuatu yang ingin ia sembunyikan.
Kaiser membuka Panel.
Informasi muncul di hadapannya.
[Tamer Status]
Nama: Kaiser
Usia: 16
Level: 5
Rank: Dasar
Contract: 1
Kaiser kemudian membuka informasi Nox.
[Contract Monster]
Nama: Nox
Spesies: Duskfang Wolf
Jenis: Beast
Atribut: Shadow
Level: 5
Rarity: Rare
Potential: B
Kaiser memperhatikan data tersebut.
Beberapa hari lalu, Nox bahkan masih seekor Shadow Hound yang terluka.
Sekarang...
Rare.
Kaiser mengusap dagunya.
“Lumayan.”
Nox menoleh.
“Jangan besar kepala.”
Nox langsung memalingkan wajah.
Kaiser tersenyum tipis.
“Berangkat.”
Kantor pemerintah Tamer berada di salah satu bagian pusat kawasan.
Bangunannya jauh berbeda dari lingkungan tempat Kaiser tinggal.
Dindingnya kokoh.
Energy Barrier mengelilingi bangunan.
Beberapa Tamer keluar masuk dengan monster kontrak mereka.
Ada yang membawa pedang.
Ada yang mengenakan armor.
Ada pula yang terlihat seperti baru saja selesai melakukan Awakening.
Kaiser berhenti beberapa langkah dari pintu.
Nox berdiri di sampingnya.
Beberapa orang langsung memperhatikan.
Kaiser tidak perlu menebak alasannya.
Duskfang Wolf bukan monster yang biasa dilihat berkeliaran di kawasan seperti ini.
Kaiser memasukkan kedua tangannya ke saku.
“Jangan peduliin mereka.”
Nox berjalan masuk bersamanya.
Di dalam, seorang petugas langsung menghampiri.
“Kaiser?”
“Iya.”
“Silakan ikut saya.”
Kaiser mengangguk.
Mereka berjalan melewati beberapa ruangan sampai akhirnya tiba di sebuah ruangan pemeriksaan.
Di tengah ruangan terdapat sebuah kristal besar.
Kaiser mengenal benda itu.
Eligibility Crystal.
Namun ukurannya jauh lebih besar daripada kristal milik orang tuanya.
Petugas menunjuk kursi.
“Silakan duduk.”
Kaiser duduk.
Nox tetap berdiri di sampingnya.
Tidak lama kemudian pintu terbuka.
Raven masuk.
“Pagi.”
Kaiser menatapnya.
“Pagi.”
Raven duduk di seberang meja.
Beberapa dokumen diletakkan di depannya.
“Pendataan dasar saja.”
Kaiser mengangguk.
Raven mulai bertanya.
“Nama?”
“Kaiser.”
“Usia?”
“Enam belas.”
“Tempat tinggal?”
Kaiser menyebutkan kawasan kumuh tempat tinggalnya.
Raven berhenti menulis sebentar.
“Orang tua?”
“Sudah meninggal.”
Raven mengangguk.
Ia tidak bertanya lebih jauh.
“Awakening kapan?”
“Beberapa hari lalu.”
“Monster pertama?”
Kaiser melirik Nox.
“Dia.”
Raven melihat Nox.
“Bagaimana kau mendapatkannya?”
“Ketemu.”
“Di mana?”
“Tempat pembuangan.”
Raven mengangkat alis.
“Dalam keadaan?”
“Terluka.”
“Lalu kau mengontraknya?”
“Iya.”
“Kenapa?”
Kaiser mengangkat bahu.
“Karena dia belum mati.”
Raven berhenti menulis.
Ia menatap Kaiser beberapa detik.
Kemudian kembali kepada dokumen.
“Bagaimana dia bisa berevolusi?”
Kaiser sudah memperkirakan pertanyaan itu.
“Bond.”
“Hubungan antara Tamer dan monster?”
“Iya.”
“Tidak menggunakan Evolution Crystal?”
“Tidak.”
Raven sedikit mengernyit.
“Berarti kau menggunakan jalur evolusi alternatif.”
Kaiser mengangguk.
“Kayaknya.”
Raven menatap Nox.
Kemudian kembali kepada Kaiser.
“Dan semua ini terjadi hanya dalam beberapa hari?”
Kaiser mengangkat bahu.
“Kurang lebih.”
Raven menghela napas.
“Kau sadar bahwa perkembangan seperti ini akan menarik perhatian?”
“Sekarang sadar.”
“Menyesal?”
Kaiser berpikir sebentar.
“Nggak.”
Raven tersenyum kecil.
“Bagus.”
Ia mengambil sebuah kartu dari meja.
“Kami punya program pembinaan Tamer muda.”
Kaiser melihat kartu tersebut.
“Pemerintah?”
“Iya.”
“Wajib?”
“Tidak.”
“Kalau gua nolak?”
“Tidak ada hukuman.”
Kaiser memasukkan kartu tersebut ke dalam saku.
“Gua pikirin.”
“Silakan.”
Raven tidak memaksanya.
Justru itu yang membuat Kaiser sedikit lebih tenang.
Raven menutup dokumen.
“Secara administratif, data dasarmu sudah selesai.”
Kaiser berdiri.
“Nah, kalau begitu gua pulang.”
Namun sebelum ia sempat berjalan menuju pintu—
Tok. Tok.
Seseorang mengetuk pintu.
Raven menoleh.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Seorang petugas berdiri di sana.
“Pak Raven.”
“Ada apa?”
Petugas tersebut melirik Kaiser.
Kemudian kembali kepada Raven.
“Beliau sudah tiba.”
Raven terdiam sebentar.
Ekspresinya berubah sedikit.
“Baik.”
Petugas itu kemudian mundur.
Beberapa detik kemudian, terdengar langkah kaki dari luar.
Tidak terburu-buru.
Tenang.
Seorang pria paruh baya masuk ke ruangan.
Usianya sekitar lima puluh tahun.
Rambutnya mulai dipenuhi uban, tetapi tubuhnya masih terlihat tegap.
Ia mengenakan pakaian formal berwarna gelap.
Namun ada satu hal yang langsung menarik perhatian Kaiser.
Sebuah lencana berbentuk naga terpasang di dadanya.
Kaiser memperhatikannya.
Ia pernah melihat simbol itu sebelumnya.
Pangkalan Naga.
Salah satu pangkalan paling terkenal di dunia.
Salah satu pangkalan yang kekuatannya bahkan sering dibicarakan oleh para Tamer.
Raven langsung berdiri.
“Tuan.”
Pria itu hanya mengangguk.
Matanya kemudian berpindah kepada Kaiser.
Beberapa detik.
Tidak lebih.
Kaiser membalas tatapannya.
Pria tersebut kemudian melihat Nox.
Tatapannya berhenti sedikit lebih lama.
Duskfang Wolf.
Rare.
Kemudian kembali kepada Kaiser.
“Kau Kaiser?”
“Iya.”
Pria itu mengangguk.
“Baru Awakening?”
“Iya.”
“Dan sudah Level 5?”
Kaiser tidak menjawab dengan kata-kata.
Ia hanya mengangguk.
Pria tersebut tidak menunjukkan ekspresi terkejut.
Ia hanya mengamati.
Raven akhirnya berkata,
“Tuan, ini anak yang saya laporkan.”
Pria itu mengangguk.
“Aku sudah membaca laporannya.”
Kaiser sedikit mengernyit.
Laporan?
Berarti pemerintah sudah mencatat perkembangannya.
Pria tersebut bertanya,
“Siapa yang melatihmu?”
Kaiser menjawab jujur.
“Nggak ada.”
“Mentor?”
“Nggak ada.”
“Organisasi?”
“Belum.”
Pria itu terdiam.
Kemudian melihat Nox.
“Monster itu?”
Kaiser mengangguk.
“Partner gua.”
Pria tersebut menatap Kaiser beberapa saat.
Lalu berkata,
“Begitu.”
Tidak ada pujian.
Tidak ada tawaran.
Tidak ada pertanyaan aneh.
Hanya satu kata.
Namun entah kenapa, Kaiser merasa pria itu sedang memperhatikannya lebih dalam daripada yang ia tunjukkan.
Pria itu berbalik kepada Raven.
“Pastikan datanya lengkap.”
“Baik, Tuan.”
Kemudian ia kembali berjalan keluar.
Sebelum melewati pintu, ia berhenti sebentar.
Tanpa menoleh, ia berkata,
“Anak itu jangan dipaksa bergabung dengan organisasi mana pun.”
Raven sedikit terkejut.
“Baik.”
Pria tersebut kemudian pergi.
Pintu tertutup.
Kaiser masih berdiri di tempat.
Ia menatap pintu.
“Siapa dia?”
Raven tidak langsung menjawab.
“Orang dari Pangkalan Naga.”
“Gua tahu dari lambangnya.”
Raven tertawa kecil.
“Kalau begitu kau sudah tahu cukup banyak.”
Kaiser menyipitkan mata.
“Dia penting?”
Raven hanya menjawab,
“Cukup penting.”
Kaiser menghela napas.
“Jawaban lu makin bikin penasaran.”
“Memang.”
Kaiser tidak melanjutkan.
Ia mengambil kartu program pembinaan dari sakunya.
Kemudian memasukkannya kembali.
Hari ini seharusnya hanya tentang pendataan.
Namun ternyata ia bertemu seseorang yang bahkan membuat Raven berdiri lebih tegak.
Kaiser tidak tahu siapa pria itu.
Tidak tahu kenapa ia datang.
Tidak tahu kenapa ia memperhatikannya.
Dan untuk sekarang...
Kaiser tidak terlalu peduli.
Ia hanya punya satu tujuan.
Menjadi lebih kuat.
Kaiser berjalan keluar dari kantor bersama Nox.
Di belakangnya, simbol naga masih terpasang di pintu kendaraan yang terparkir di depan gedung.
Kaiser meliriknya sebentar.
“Pangkalan Naga, ya...”
Nox berjalan di sampingnya.
Kaiser kemudian mengalihkan pandangan.
“Entahlah.”
Ia melanjutkan langkah.
Untuk saat ini, nama itu hanya sebuah nama.
Dan pria tadi...
hanya seseorang yang kebetulan ia temui hari ini.