Pagi datang tanpa suara.
Tidak ada kicauan burung.
Tidak ada suara pedagang membuka kios.
Bahkan Sungai Lorne yang biasanya terdengar dari ujung jalan seolah mengalir lebih pelan dari biasanya.
Cael Ardent berdiri di depan rumahnya sambil memegang secangkir teh yang sudah dingin.
Ia tidak tidur semalaman.
Peta milik ibunya tergeletak di atas meja ruang kerja, tertutup kain tebal. Sejak kejadian semalam, Cael belum berani menyentuhnya lagi.
Bukan karena takut.
Setidaknya, itu yang ia katakan kepada dirinya sendiri.
Masalah sebenarnya adalah satu hal yang jauh lebih mengganggu.
Ia tidak bisa mengingat suara ibunya.
Cael masih mengingat wajahnya.
Masih mengingat rambut hitam panjangnya.
Masih mengingat cara ibunya tersenyum ketika Cael kecil pulang membawa lutut penuh luka.
Tetapi suaranya...
Kosong.
Seperti sebuah lubang kecil yang baru saja terbentuk di dalam kepalanya.
Cael menatap cangkir di tangannya.
“Ini cepat banget.”
Ia tidak tahu apakah ia sedang berbicara tentang hilangnya ingatan atau tentang bagaimana semuanya berubah hanya dalam satu malam.
DONG!
Suara lonceng membuatnya menoleh.
Cael melihat menara jam Asterwyn dari kejauhan.
Satu bunyi.
Kemudian bunyi kedua.
Ketiga.
Ia menghitungnya.
Empat.
Lima.
Enam.
Ketujuh.
Kedelapan.
Kesembilan.
Kesepuluh.
Kemudian—
Tidak ada bunyi kesebelas.
Tidak ada keduabelas.
Cael mengerutkan dahi.
“Normal.”
Ia hampir merasa lega.
Kemudian suara teriakan terdengar dari pusat kota.
“LONCENGNYA HILANG!”
Cael meletakkan cangkir.
“...Tentu saja.”
Alun-alun Asterwyn dipenuhi orang.
Pedagang meninggalkan kios mereka. Warga keluar dari rumah. Beberapa penjaga kerajaan bahkan berusaha menahan kerumunan agar tidak mendekati menara.
Cael menerobos kerumunan sampai akhirnya bisa melihat bagian atas menara.
Tiga lonceng seharusnya tergantung di sana.
Sekarang hanya dua.
Lonceng terbesar telah menghilang.
Bukan jatuh.
Bukan pecah.
Hilang.
Tali penggantungnya masih ada.
Pengait besi masih terpasang.
Bahkan debu yang menempel di dinding tidak berubah.
Seolah-olah sejak awal hanya ada dua lonceng.
“Tidak masuk akal.”
Cael mendengar suara di belakangnya.
“Memang.”
Ia menoleh.
Seorang gadis berdiri beberapa langkah darinya.
Rambut cokelat sebahu, mantel hijau tua, sepatu perjalanan yang sudah penuh lumpur, dan sebuah tas besar menggantung di bahunya.
Mira Veyne.
Pedagang keliling.
Setidaknya, itu pekerjaan yang Cael tahu.
Mira sering datang ke Asterwyn membawa barang-barang dari kota lain. Ia juga punya kebiasaan aneh: selalu mengetahui gosip sebelum orang yang menjadi bahan gosip mengetahuinya sendiri.
“Kau lihat?” tanya Mira.
Cael mengangguk.
“Semua orang lihat.”
“Bukan loncengnya.”
Mira menunjuk menara.
“Orang yang menjaga lonceng itu.”
Cael menatapnya.
“Siapa?”
“Elias.”
Cael mengernyit.
“Elias?”
“Penjaga menara.”
“Tidak pernah dengar.”
Mira tampak heran.
“Dia tinggal di sana.”
“Sejak kapan?”
“Bertahun-tahun.”
Cael menatap salah satu penjaga.
“Pak!”
Penjaga itu menoleh.
“Siapa yang menjaga menara ini?”
Pria itu mengangkat alis.
“Tidak ada.”
Cael menunjuk menara.
“Penjaganya.”
“Kami yang menjaga.”
“Maksud saya orang yang tinggal di sana.”
Penjaga itu tertawa kecil.
“Anak muda, tidak ada orang yang tinggal di menara jam.”
Cael terdiam.
Mira juga diam.
Keduanya saling pandang.
“Nama Elias?” tanya Cael.
Penjaga itu menggeleng.
“Tidak ada.”
Cael kembali menatap Mira.
Wajah gadis itu kini serius.
“Kau masih mengingatnya?” tanya Cael.
“Jelas.”
“Ceritakan.”
Mira menarik napas.
“Elias berumur sekitar enam puluh tahun. Rambut putih. Selalu memakai mantel biru tua. Dia menjaga menara sejak aku masih kecil.”
“Dan sekarang?”
“Sekarang semua orang lupa.”
Cael menatap menara.
Sebuah perasaan dingin menjalar di punggungnya.
Ia teringat tulisan pada peta ibunya.
This world has already been erased once.
“Kalau begitu,” katanya pelan, “bukan loncengnya yang pertama hilang.”
Mira menatapnya.
“Melainkan orangnya.”
Cael meninggalkan alun-alun tanpa menjelaskan apa pun.
Mira mengikutinya.
“Ke mana?”
“Menara.”
“Kita baru saja dari sana.”
“Bukan bagian depan.”
Mereka memutar ke sisi belakang menara.
Ada gang sempit di antara dua bangunan tua.
Cael mengeluarkan kompas kuningan milik ibunya.
Jarumnya bergerak liar.
Mira memperhatikannya.
“Itu kompas?”
“Peninggalan ibu.”
“Kompas macam apa yang tidak menunjuk utara?”
“Kompas yang rusak.”
“Lalu kenapa kau membawanya?”
Cael memasukkan kembali kompas itu.
“Karena rusaknya selalu menunjukkan tempat yang menarik.”
Mira tertawa kecil.
“Jawaban yang aneh.”
“Gua tahu.”
Mereka terus berjalan.
Gang itu berakhir di sebuah dinding batu.
Buntu.
Cael melihat kompasnya sekali lagi.
Jarumnya berhenti tepat mengarah ke dinding.
Ia menyentuh permukaannya.
Tidak ada apa-apa.
Hanya batu tua.
Namun ketika Cael mengusap permukaannya, ia menemukan sebuah ukiran kecil.
Lingkaran.
Satu garis di tengah.
Simbol yang sama seperti yang ia lihat pada peta ibunya.
Cael menarik napas.
“Ini bukan kebetulan.”
Mira berdiri di sampingnya.
“Kau bisa membuka ini?”
“Tidak tahu.”
Cael menyentuh simbol tersebut.
Seketika—
World Script detected.
Tulisan bercahaya muncul di depan matanya.
Cael terdiam.
Mira menatapnya.
“Ada apa?”
“Kau nggak lihat?”
“Lihat apa?”
Tulisan itu menghilang.
Cael menggeleng.
“Bukan apa-apa.”
Mira menyipitkan mata.
“Bohong.”
Sebelum Cael menjawab—
DONG.
Mereka berdua membeku.
Suara lonceng terdengar dari balik dinding.
Cael perlahan menoleh.
“Lonceng?”
DONG.
Kali ini lebih keras.
Debu jatuh dari atas dinding.
Mira mundur satu langkah.
“Tidak mungkin.”
DONG.
Retakan muncul.
Batu-batu dinding mulai bergeser.
Cael menarik Mira menjauh.
Dinding tersebut terbuka perlahan, memperlihatkan sesuatu di baliknya.
Bukan ruangan.
Bukan jalan bawah tanah.
Melainkan sebuah jalan batu yang membentang jauh ke depan.
Langit di atasnya berwarna kelabu.
Kabut memenuhi sisi jalan.
Dan jauh di kejauhan berdiri sebuah kota.
Cael tidak bergerak.
“Ini...”
Mira menyelesaikan kalimatnya.
“Tidak ada di Asterwyn.”
Cael melihat ke belakang.
Gang yang baru saja mereka lewati masih ada.
Namun di sisi lain celah, kota Asterwyn sudah tidak terlihat.
Seolah pintu itu tidak menghubungkan dua tempat.
Melainkan dua dunia.
“Jangan masuk,” kata Mira.
Cael menatapnya.
“Kau takut?”
“Ya.”
Jawaban itu begitu jujur sampai Cael terdiam.
Mira menggenggam tali tasnya.
“Aku bukan orang bodoh.”
“Gua nggak bilang begitu.”
“Tempat seperti ini tidak muncul tanpa alasan.”
Cael menatap jalan di depan.
Kemudian melihat kompas.
Jarumnya menunjuk lurus ke kota.
Ia memikirkan peta ibunya.
Tulisan tentang dunia yang pernah dihapus.
Ingatan ibunya yang mulai hilang.
Dan nama Elias yang sekarang hanya diingat oleh satu orang.
Mira.
“Kalau kita pergi sekarang,” kata Cael, “besok mungkin kota itu juga hilang.”
Mira tidak menjawab.
Cael melangkah masuk.
“Cael.”
Ia berhenti.
“Kalau kau masuk,” kata Mira, “aku ikut.”
Cael menoleh.
“Kenapa?”
Mira mengangkat bahu.
“Karena aku punya pertanyaan yang sama.”
Mereka berjalan bersama.
Begitu langkah terakhir mereka melewati celah—
KRAK.
Pintu batu di belakang mereka tertutup.
Asterwyn lenyap dari pandangan.
Di hadapan mereka berdiri sebuah kota yang seolah sudah menunggu kedatangan mereka selama ratusan tahun.
Tembok putih mengelilinginya.
Menara-menara tinggi menjulang ke langit.
Tidak ada satu pun orang di jalan.
Tidak ada pedagang.
Tidak ada kendaraan.
Tidak ada suara.
Hanya satu bangunan yang menarik perhatian Cael.
Sebuah menara besar di pusat kota.
Dan di atasnya tergantung sebuah lonceng raksasa.
Mira berhenti.
Wajahnya berubah pucat.
“Aku pernah melihat tempat ini.”
“Di mana?”
“Dalam mimpi.”
Cael menatapnya.
“Kapan?”
“Setiap malam.”
Cael tidak berkata apa-apa.
Mereka mulai berjalan menuju kota.
Semakin dekat mereka, semakin jelas sesuatu terlihat di atas tembok.
Seorang anak kecil.
Rambutnya putih.
Pakaiannya sederhana.
Ia berdiri sendirian.
Ketika melihat Cael, anak itu tersenyum.
Kemudian mengangkat tangan.
Melambai.
Cael berhenti.
“Dia kenal kita?”
Mira menggeleng.
“Entahlah.”
Anak itu membuka mulut.
Namun suaranya tidak terdengar.
Cael hanya bisa membaca gerakan bibirnya.
Akhirnya kau datang.
Cael merasakan bulu kuduknya berdiri.
Kemudian—
DOOOONG.
Lonceng raksasa berbunyi.
Suara itu mengguncang seluruh kota.
Cael memegang kepalanya.
Sakit.
Sangat sakit.
Sebuah ingatan muncul.
Ibunya.
Ia berdiri di ruangan yang sama seperti semalam.
Tangannya memegang kompas.
Wajahnya terlihat cemas.
“Cael, dengarkan Ibu.”
Suara itu terdengar.
Jelas.
Untuk sesaat Cael merasa lega.
Akhirnya ia bisa mendengar suara itu lagi.
Namun ingatan tersebut retak.
Suara ibunya semakin jauh.
“Jangan pernah—”
DONG.
Ingatan itu hilang.
Cael terdiam.
Ia mencoba mengingat suaranya.
Tidak bisa.
Ia tahu ibunya pernah berbicara.
Ia tahu ibunya pernah memanggil namanya.
Tetapi seperti apa suara itu?
Kosong.
Mira memandangnya.
“Kau baik-baik saja?”
Cael menurunkan tangannya.
“Gua lupa sesuatu.”
“Apa?”
Cael menatap kota di depan mereka.
“Suara ibu gue.”
Mira tidak mengatakan apa-apa.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya kehilangan ketenangan.
“Cael...”
“Gua nggak punya banyak waktu.”
Ia menggenggam kompas.
Jarumnya bergerak.
Kemudian menunjuk lurus ke menara lonceng.
Dan untuk sepersekian detik, Cael melihat tulisan yang hanya bisa dilihat olehnya.
[Unknown Territory]
[Existence: 7%]
Angka itu berkedip.
6%.
Cael membelalakkan mata.
Kota itu sedang menghilang.
Dan mereka berada tepat di dalamnya.
Dari atas tembok, anak kecil tadi kembali tersenyum.
Kali ini suaranya terdengar.
Sangat pelan.
Namun jelas.
“Jangan khawatir.”
Ia menunjuk Cael.
“Kau akan mengingat semuanya.”
Anak itu tersenyum lebih lebar.
“Setelah kau melupakan dirimu sendiri.”
Cael membeku.
Lonceng kembali berbunyi.
DOOOONG.
Dan seluruh kota mulai retak.