Hujan turun sejak pagi.
Bukan hujan deras yang membuat sungai meluap atau atap rumah bocor, melainkan hujan tipis yang jatuh tanpa suara, membasahi jalan-jalan batu Kota Asterwyn dan membuat seluruh kota terlihat seperti lukisan yang belum selesai.
Cael Ardent duduk di atas atap sebuah bangunan tua.
Satu lututnya terangkat. Sebuah papan gambar bertumpu di atasnya, sementara tangan kanannya bergerak perlahan dengan pensil arang.
Di hadapannya terbentang seluruh kota.
Menara jam.
Pasar utama.
Jembatan batu yang melintasi Sungai Lorne.
Kubah putih Kuil Astral.
Dan jauh di balik semuanya, pegunungan biru yang tertutup kabut.
Cael berhenti menggambar.
Ia memiringkan kepalanya.
Ada sesuatu yang aneh.
Bukan pada kota.
Pada pegunungan.
Ia mengambil kompas kuningan dari saku mantelnya.
Jarumnya tidak menunjuk utara.
Jarum itu berputar.
Sekali.
Dua kali.
Kemudian berhenti mengarah ke barat.
Cael menghela napas.
“Lagi?”
Ia sudah mengalami hal ini selama tiga bulan terakhir.
Kompas milik ibunya selalu melakukan hal yang sama.
Setiap kali jarum berhenti berputar, Cael akan melihat sesuatu yang tidak seharusnya ada.
Hari ini, sesuatu itu berada di balik pegunungan.
Sebuah garis samar.
Seperti bayangan kota yang tertimpa hujan.
Cael menyipitkan mata.
Ia mengambil teleskop kecil dari tasnya dan mengarahkannya ke pegunungan.
Kosong.
Tidak ada kota.
Tidak ada bangunan.
Tidak ada apa pun.
“Sudah kuduga.”
Cael menurunkan teleskop.
Ia hendak kembali menggambar ketika tiba-tiba—
KRAK.
Pensil di tangannya patah.
Cael menatap ujung pensil tersebut.
Lalu terdengar suara lonceng dari pusat kota.
Dong.
Satu kali.
Cael langsung menoleh.
Menara jam Asterwyn menunjukkan pukul sepuluh.
Namun lonceng berbunyi sebelas kali.
Dong.
Dong.
Dong.
Cael berdiri.
“...Sebelas?”
Orang-orang di jalan mulai berhenti.
Pedagang keluar dari toko.
Anak-anak yang bermain di dekat sungai menatap menara.
Tidak ada yang berbicara.
Lonceng terus berbunyi.
Sampai hitungan kesebelas.
Lalu—
Dong.
Keduabelas.
Cael menatap jam itu.
Jarum jam menunjukkan pukul sepuluh.
Tapi lonceng baru saja berbunyi dua belas kali.
Kemudian semuanya kembali normal.
Orang-orang mulai berjalan lagi.
Pedagang kembali ke tokonya.
Anak-anak kembali bermain.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Cael tetap berdiri.
Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.
Ia pernah melihat kejadian seperti itu.
Dulu.
Saat ibunya masih hidup.
“Kalau lonceng berbunyi lebih banyak dari seharusnya,” ibunya pernah berkata,
“jangan cari tahu kenapa.”
Cael mengingat perkataan itu.
Lalu tersenyum kecil.
“Ya. Nasihat yang bagus.”
Ia memasukkan kompas ke saku.
“Sayangnya aku memang orang yang suka cari tahu.”
Sore harinya, Cael kembali ke rumah.
Rumah itu kecil dan terletak di ujung kota.
Tidak ada halaman luas. Tidak ada perabot mahal.
Hanya meja kayu, rak buku, tempat tidur, dapur kecil, dan sebuah ruangan yang selama bertahun-tahun tidak pernah ia masuki.
Ruangan milik ibunya.
Cael berdiri di depan pintunya.
Ia menatap gagang pintu.
Sudah enam tahun.
Enam tahun sejak ibunya meninggal.
Selama enam tahun itu, Cael tidak pernah membuka ruangan tersebut.
Bukan karena sedih.
Setidaknya itu yang selalu ia katakan kepada dirinya sendiri.
Ia hanya tidak punya alasan.
Hari ini berbeda.
Kompas di sakunya kembali bergetar.
Cael mengeluarkannya.
Jarumnya bergerak.
Mengarah ke pintu.
“Serius?”
Ia memasukkan kembali kompas itu.
Kemudian membuka pintu.
Debu memenuhi udara.
Ruangan itu masih sama seperti yang ia ingat.
Rak buku.
Meja kerja.
Peta-peta tua.
Botol tinta yang sudah mengering.
Dan sebuah kursi di dekat jendela.
Cael berjalan perlahan.
Ia tidak tahu apa yang sedang dicarinya.
Sampai pandangannya berhenti pada sebuah laci.
Laci paling bawah.
Terkunci.
Cael mengeluarkan kompas.
Ia memutar bagian belakangnya.
Ada celah kecil.
Sebuah kunci tipis tersembunyi di dalamnya.
Cael menatap kunci itu.
“Jadi selama ini...”
Ia memasukkannya ke lubang kunci.
Klik.
Laci terbuka.
Di dalamnya hanya ada satu benda.
Sebuah gulungan peta.
Cael mengangkatnya.
Peta itu terasa sangat tua.
Ia membawanya ke meja dan perlahan membuka gulungannya.
Awalnya ia tidak memahami apa yang dilihatnya.
Laut.
Pegunungan.
Hutan.
Kerajaan.
Sungai.
Semuanya digambar dengan sangat detail.
Tetapi ada sesuatu yang membuat Cael membeku.
Peta itu menggambarkan Elyndra.
Seluruh dunia.
Bukan peta lokal.
Bukan peta kerajaan.
Seluruh dunia.
Cael menatap garis pantainya.
Ia mengenali Asterra.
Ia mengenali Verdant Expanse.
Ia bahkan mengenali wilayah utara yang hanya diketahui dari legenda.
Namun di tengah peta terdapat sebuah wilayah kosong.
Sebuah lingkaran besar tanpa nama.
Cael mengerutkan kening.
Di bawahnya terdapat tulisan tangan.
Tulisan ibunya.
DO NOT MAP THIS PLACE.
Cael terdiam.
Kemudian matanya bergerak ke bagian paling bawah peta.
Ada kalimat lain.
Lebih kecil.
Lebih samar.
Seolah ditulis tergesa-gesa.
This world has already been erased once.
Cael membaca kalimat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
“...Apa maksudnya?”
Tiba-tiba kompas di tangannya terbuka sendiri.
Jarumnya berputar sangat cepat.
Krek.
Suara kecil terdengar dari peta.
Cael menatap permukaannya.
Garis-garis tinta mulai bergerak.
Bukan metafora.
Benar-benar bergerak.
Sebuah garis pantai berubah.
Gunung yang sebelumnya tergambar di sebelah timur perlahan memudar.
Nama sebuah kota menghilang.
Cael berdiri.
“Apa...?”
Ia menyentuh peta.
Begitu jarinya menyentuh wilayah kosong tersebut—
DUAR!
Cahaya putih memenuhi ruangan.
Cael terlempar ke belakang.
Kepalanya membentur lantai.
Untuk beberapa detik, semuanya gelap.
Kemudian ia mendengar suara.
Bukan suara manusia.
Suara seperti ribuan halaman buku yang dibalik bersamaan.
[World Script detected.]
Cael membuka mata.
Tulisan bercahaya muncul di udara.
[Unknown Territory.]
[Existence: 13%]
Ia tidak mengerti apa yang sedang dilihatnya.
Kemudian angka itu berubah.
12%.
Cael menahan napas.
11%.
“Tidak...”
10%.
Peta di meja mulai terbakar tanpa api.
Cael bangkit dan berlari ke arahnya.
Ia mencoba menggulungnya.
Namun sebelum tangannya menyentuh peta—
9%.
Sebuah nama muncul di udara.
Bukan nama tempat.
Melainkan nama seseorang.
MARA ARDENT.
Nama ibunya.
Cael membeku.
“...Ibu?”
Tulisan itu bergetar.
Lalu berubah.
Existence: 8%.
Sesuatu terasa sakit di kepalanya.
Cael memegang pelipis.
Sebuah ingatan tiba-tiba muncul.
Ibunya berdiri di depan jendela.
Tersenyum.
Tangannya memegang kompas yang sama.
“Cael.”
Suara itu begitu jelas.
“Kalau suatu hari kau menemukan peta ini...”
Ingatan itu pecah.
Cael terhuyung.
“Jangan.”
Ia mencoba mengingat wajah ibunya.
Mata.
Rambut.
Senyumnya.
Semuanya masih ada.
Namun sesuatu mulai terasa kosong.
Seperti sebuah halaman yang perlahan dicabut dari sebuah buku.
Kemudian tulisan terakhir muncul.
[Rewrite available.]
[Cost: Memory.]
Cael menatap peta.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia memahami sesuatu.
Peta itu bukan menunjukkan tempat yang hilang.
Peta itu menunjukkan sesuatu yang sedang dihapus.
Dan sekarang...
yang sedang dihapus bukan hanya sebuah tempat.
Melainkan ibunya.
Cael mengepalkan tangan.
“Kalau begitu...”
Ia menyentuh peta.
“Gua bakal nulis ulang.”
Cahaya memenuhi ruangan.
Dan di luar rumah, tanpa seorang pun menyadarinya—
sebuah bagian kecil dari dunia Elyndra...
menghilang.