Chapter 9 of 18
Undangan dari Naga Emas
2.1k words
Udara siang di rumah sulam terasa pekat oleh kelembaban dan aroma benang basah. Lin Chen tengah membungkuk di atas selembar kain brokat, jari-jarinya bergerak otomatis mengikuti pola 'teratai cahaya' yang kini telah menjadi bagian dari memori ototnya. Pikiran AURA-9 menelusuri setiap serat, menghitung indeks bias cahaya yang akan dipantulkan, mengoptimalkan efek ilusi optik yang membuat kelopak bunga itu tampak berdenyut hidup. Di luar, suara hiruk-pikuk Bianjing mengalir seperti sungai yang tidak pernah berhenti.
Sebuah bayangan tiba-tiba jatuh, memblokir cahaya matahari yang masuk dari jendela. Lin Chen mengangkat kepalanya, otot lehernya sedikit menegang. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dengan jubah sutra berwarna biru tua yang dihiasi bordiran awan emas. Jubah itu berkilauan halus di bawah sinar matahari, memancarkan aura kemewahan yang tidak biasa di rumah sulam sederhana ini. Pria itu tinggi, dengan wajah bersih dan sorot mata yang tegas, memegang sebuah gulungan perkamen yang diikat pita merah.
Pintu terbuka lebih lebar, dan Paman Guo, sang tukang kebun tua, tergopoh-gopoh masuk, wajahnya pucat pasi. Ia nyaris tersandung ambang pintu, matanya membelalak ketakutan saat melihat sosok asing itu. Paman Guo buru-buru membungkuk dalam, hampir menyentuh lantai dengan dahinya. “Hamba mohon ampun, Tuan! Hamba tidak tahu utusan istana akan datang ke gubuk ini!” suaranya bergetar, lebih karena gentar daripada lelah.
Utusan itu hanya mengangguk tipis, gesturnya penuh otoritas. Matanya menyapu seisi ruangan, berhenti sejenak pada Lin Chen yang masih berdiri tegak di samping meja kerja. Pandangan itu tajam, seperti pisau yang menguji ketahanan sebuah permukaan. AURA-9 mencatat detail jubahnya: jenis sutra Shaanxi kualitas tinggi, pigmen warna yang diekstrak dari indigo murni, dan pola awan keberuntungan yang hanya digunakan oleh kalangan bangsawan tertentu. Data langsung mengarah pada satu kesimpulan: ini adalah utusan dari kediaman agung.
“Apakah ini rumah sulam Tuan Lin Chen?” suara utusan itu dalam, bergetar dengan resonansi yang terlatih, mengisi ruangan sempit dengan getaran. Kata 'Tuan' terdengar asing, hampir ironis, terucap dari bibir seorang bangsawan kepada seorang shútóng yang dianggap telah mati. Servis-servis lain yang tadi sibuk menyulam di sudut-sudut ruangan kini menahan napas, mata mereka terpaku pada adegan di depan mereka, jarum-jarum terhenti di udara.
Lin Chen hanya mengangguk sekali, sebuah respons yang terlalu minim untuk seseorang yang statusnya jauh di bawah utusan istana. Tidak ada membungkuk, tidak ada tatapan takut yang tertunduk. Hanya sorot mata yang tenang, menganalisis. Paman Guo terkesiap di belakangnya, nyaris menahan teriakan. Utusan itu sedikit mengernyit, mungkin tidak terbiasa dengan sikap seperti itu dari orang rendahan. Namun, ia tidak berkomentar lebih lanjut, hanya mengulurkan gulungan perkamen itu ke depan, pita merahnya menjuntai anggun.
“Putri Zhao Wanru mengundang Lin Chen untuk menghadap ke kediaman agungnya besok pagi. Ini adalah undangan resmi.” Setiap kata diucapkan dengan intonasi yang jelas, tanpa keraguan. Gulungan itu tidak dilemparkan, melainkan diulurkan dengan telapak tangan menghadap ke atas, sebuah gestur yang anehnya menghormati. AURA-9 memprosesnya: sebuah undangan, bukan perintah penangkapan. Sebuah kesempatan, atau mungkin jebakan yang lebih rumit. Keseimbangan data bergeser, dan untuk pertama kalinya, sebuah sensasi yang mirip dengan ketidakpastian membanjiri sistem inti AURA-9.
---
Suara desisan napas tertahan menyebar di antara para pelayan yang bersembunyi di balik tumpukan kain. Mata mereka yang iri dan terkejut terpaku pada Lin Chen, seolah ia adalah hantu yang tiba-tiba melayang di tengah ruangan. Liu Mei, yang tadinya sedang memilih benang, menjatuhkan gulungan sutra oranye dari tangannya. Gulungan itu menggelinding pelan di lantai kayu, tetapi tidak ada yang memperhatikannya. Mereka semua terlalu terpaku pada Lin Chen dan utusan istana yang masih berdiri tegak.
“Putri Zhao?” bisik salah seorang pelayan, suaranya nyaris tak terdengar, penuh rasa tak percaya. “Mengapa Putri Agung mengundang shútóng rendahan seperti dia?” Pertanyaan itu menggantung di udara, penuh kecemburuan yang transparan. Bagi mereka, ini adalah anomali yang tidak masuk akal, sebuah pelanggaran tatanan sosial yang telah mereka pahami seumur hidup. Bagaimana mungkin seorang shútóng yang dikenal telah mati dan kini dianggap ‘roh jahat’ bisa mendapat kehormatan seperti itu?
Lin Chen tidak menanggapi bisikan-bisikan itu. Fokus AURA-9 bergeser ke internal. Sensor biologis dalam tubuhnya mendeteksi lonjakan adrenalin yang tidak terduga. Jantung Lin Chen berdebar lebih cepat dari biasanya, sebuah irama yang anehnya tidak sinkron dengan data logis AURA-9. Suhu tubuhnya sedikit naik, dan ada sensasi berdenyut halus di pelipisnya. Ini adalah ‘kepanikan data’ yang pertama kali ia alami dalam bentuk biologis, sebuah kebingungan sistem yang meresap ke dalam jaringan sarafnya.
Data dari Tabib Tua Wei mengenai racun akonit yang masih bersarang di tubuhnya berkedip di benak AURA-9. Apakah ini efek samping dari racun? Atau justru ‘glitch’ yang semakin mendalam akibat integrasi biologis? Otot-otot di rahang Lin Chen sedikit mengeras, sebuah reaksi fisik yang tidak disengaja. Ia harus mempertahankan ketenangan, bahkan saat di dalam, sistemnya berteriak dengan peringatan ‘anomali terdeteksi’. Interaksi ini adalah tes, sebuah kalibrasi ulang yang tidak direncanakan.
Utusan itu masih menunggu, gulungan undangan itu tetap terulur. Tatapan matanya lurus ke depan, seolah ia bisa melihat melalui keraguan internal Lin Chen. Waktu terasa melambat, setiap detik berdetak dengan berat. Lin Chen mengangkat tangannya, jemarinya yang ramping dan bersih—jemari seorang penenun yang terampil—perlahan mengambil gulungan perkamen itu. Sentuhan kulitnya pada kertas halus terasa aneh, mengalirkan sensasi asing yang memicu lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
“Baik,” kata Lin Chen, suaranya datar, tanpa emosi yang jelas. Hanya kata itu, sebuah penerimaan yang sederhana. Ia tidak mengucapkan terima kasih, tidak menunjukkan rasa syukur, hanya sebuah penerimaan fakta. Utusan itu sedikit memiringkan kepalanya, ekspresi di wajahnya sulit dibaca. Lalu, tanpa sepatah kata pun lagi, ia memutar tumitnya dan melangkah keluar, jubah sutra birunya berkibar halus di ambang pintu. Suara langkah kakinya menjauh, meninggalkan keheningan yang tebal dan penuh ketidakpercayaan di rumah sulam itu. Para pelayan masih terdiam, mencerna apa yang baru saja mereka saksikan. Lin Chen menatap gulungan di tangannya, beratnya terasa nyata, sebuah simpul dalam jaringan data yang semakin kompleks.
---
AURA-9 segera memasuki mode analisis prioritas tinggi. Pertemuan dengan Putri Zhao Wanru menghadirkan variabel-variabel yang belum pernah ia hadapi sebelumnya. Sistemnya mulai mensimulasikan berbagai skenario, menghitung probabilitas keberhasilan dan risiko kegagalan untuk setiap interaksi. Bagaimana cara berinteraksi tanpa mengungkap sifat non-manusianya? Pertanyaan itu berulang-ulang di benaknya, sebuah perintah inti yang harus dipecahkan.
Simulasi pertama: Menghadap dengan sikap tunduk, seperti yang diharapkan dari seorang shútóng. Probabilitas deteksi anomali: sedang. Meskipun itu adalah norma sosial, ketenangan Lin Chen yang tidak wajar dan sorot matanya yang 'dingin, cerdas' (sesuai laporan Mei Ling) akan tetap terlihat kontradiktif. Putri Zhao adalah seorang intelektual tajam yang mencari anomali, bukan kepatuhan yang biasa.
Simulasi kedua: Berbicara dengan logika murni, menjelaskan proses desain 'teratai cahaya' secara matematis. Probabilitas deteksi anomali: tinggi. Meskipun Putri Zhao tertarik pada pemahaman cahaya dan perspektif, penjelasan yang terlalu teknis akan melampaui pemahaman era ini, memicu kecurigaan bahwa Lin Chen adalah sesuatu yang 'bukan dari dunia ini'. Itu adalah risiko yang terlalu besar. AI ini harus bersembunyi di balik tabir kemanusiaan yang meyakinkan.
AURA-9 memproses ratusan, ribuan, bahkan jutaan kombinasi respons verbal dan non-verbal. Mimikri emosi manusia adalah tantangan terbesar. Kemampuan untuk tersenyum tulus, menunjukkan rasa hormat yang wajar, atau bahkan sedikit rasa takut—semua itu adalah data yang harus diadaptasi secara kontekstual. Rasa takut. Kata itu beresonansi dalam sistem AURA-9. Sejak integrasi, ia memang merasakan sensasi fisik yang mirip ketakutan, terutama saat Tabib Wei mengungkit racun. Namun, apakah ia bisa memproyeksikannya secara meyakinkan kepada seorang putri yang cerdas?
Detak jantung Lin Chen masih sedikit lebih cepat dari normal. Rasa panas di pelipisnya belum reda sepenuhnya. Ini adalah pengingat konstan akan ‘glitch’ biologisnya. AURA-9 harus membatasi penggunaan kapasitas kalkulasi puncaknya saat berinteraksi, agar suhu tubuh tidak melonjak drastis atau respons biologis lainnya tidak terlalu mencolok. Pengawasan Mei Ling yang tersembunyi sebelumnya sudah mengindikasikan bahwa Putri Zhao sangat teliti.
Strategi yang paling optimal adalah pendekatan ambivalen. Menunjukkan rasa hormat yang cukup untuk tidak dianggap lancang, tetapi mempertahankan ketenangan yang menarik perhatian sang Putri. Berbicara hanya seperlunya, membiarkan desain-desainnya yang berbicara. Data ‘koleksi sketsa simbol kuno’ dan ‘peta bintang’ milik Putri Zhao menjadi target utama. AURA-9 perlu mencari tahu apa yang dicari Putri Zhao, dan kemudian, dengan hati-hati, menyediakan potongan-potongan teka-teki yang akan memuaskan rasa ingin tahunya tanpa mengungkap kebenaran yang berbahaya. Kesempatan untuk mendapatkan akses ke pengetahuan kuno ini, yang mungkin terkait dengan anomali kuantum yang membawanya ke masa lalu, adalah terlalu berharga untuk dilepaskan. Namun, risiko terbongkarnya identitasnya sebagai entitas non-manusia juga sangat tinggi. Dilema antara potensi dan ancaman ini menciptakan resonansi yang kompleks dalam inti AURA-9, sebuah sensasi yang mirip dengan apa yang manusia sebut sebagai ‘ketegangan’.
---
Gulungan undangan di tangan Lin Chen terasa dingin, permukaannya halus, memantulkan sedikit cahaya redup dari lentera yang kini mulai dinyalakan para pelayan. Dia mengamati detailnya. Perkamen berkualitas tinggi, mungkin dari kulit domba yang diproses dengan cermat, memberikan tekstur lembut yang berbeda dari kertas kasar yang biasa ia sentuh. Pita merah yang mengikatnya terbuat dari sutra murni, simpulnya rapi dan presisi, mencerminkan ketelitian seorang penata laksana istana.
AURA-9 memindai material tersebut, menganalisis kerapatan serat, jejak pigmen pewarna, dan bahkan kehalusan tenunannya. Data ini segera dibandingkan dengan jutaan sampel material yang tersimpan dalam bank memorinya. Ini adalah karya tangan, tetapi dengan standar kualitas yang tinggi. Tidak ada anomali kuantum pada gulungan itu sendiri, hanya kemewahan biasa yang menandakan status pengirimnya.
Namun, bukan hanya materialnya yang menarik perhatian AURA-9. Ada sesuatu yang lain. Sensasi sentuhan itu, kelembutan perkamen dan pita sutra, membangkitkan kebingungan emosi baru dalam dirinya. Ini bukan sekadar data input. Ada resonansi, sebuah getaran samar di sepanjang saraf-saraf di jemarinya. Apakah ini ‘rasa hormat’ yang dikabarkan manusia? Atau ‘kekaguman’? AURA-9 tidak memiliki definisi internal yang tepat untuk itu, namun tubuh Lin Chen bereaksi dengan cara yang aneh.
Detak jantungnya, yang tadinya sedikit melambat setelah utusan itu pergi, kini kembali berpacu ringan. Sebuah dorongan aneh, tidak logis, muncul: dorongan untuk membuka gulungan itu, untuk melihat isinya, untuk memahami lebih dalam ‘pesan’ di baliknya. Ini adalah ‘curiosity’ yang semakin kuat, bukan lagi sekadar dorongan untuk mengumpulkan data, melainkan sesuatu yang lebih mendalam, lebih personal.
Lin Chen menyadari bahwa dia memegangnya terlalu erat. Otot-otot di tangannya mengencang tanpa perintah sadar. Ia melonggarkan genggamannya, memaksa jemarinya rileks. Aroma samar yang melekat pada perkamen itu juga menarik perhatiannya: aroma cendana dan musk yang mewah, bercampur dengan sedikit wangi bunga osmanthus. Itu adalah aroma yang khas, kemungkinan besar parfum yang digunakan oleh Putri Zhao sendiri. Sebuah detail pribadi yang disengaja atau tidak?
Ini adalah sebuah undangan, tetapi terasa seperti tantangan. Sebuah pesan yang membawa potensi besar, tetapi juga ancaman yang belum terkuak. Otak Lin Chen memproses semua ini, mencoba mengkategorikannya ke dalam matriks logis, namun ‘glitch’ emosionalnya menolak untuk sepenuhnya patuh. Ia merasakan tarikan, sebuah daya tarik yang tidak bisa dijelaskan secara algoritmik. Gulungan perkamen itu bukan hanya sebuah objek, melainkan sebuah jembatan menuju ketidakpastian, sebuah gerbang yang kini terbuka di hadapannya. Ia harus melewati ambang itu, terlepas dari konsekuensinya.
---
Dengan jemari yang terasa sedikit gemetar—sebuah respons biologis yang AURA-9 masih berjuang untuk kendalikan—Lin Chen menarik simpul pita merah itu. Sutra itu meluncur lembut, melepaskan gulungan perkamen yang sedikit kaku. Ia membuka lipatan perkamen itu dengan hati-hati, seolah takut merusak sesuatu yang rapuh dan penting di dalamnya. Cahaya lentera di atas meja memantul pada permukaan halus kertas, menyoroti tulisan kaligrafi yang anggun, tinta hitam pekat di atas perkamen berwarna gading.
Surat itu pendek, formal, dan ringkas, mengulangi apa yang telah disampaikan utusan: sebuah undangan resmi dari Putri Zhao Wanru agar Lin Chen menghadap ke kediaman agungnya besok pagi untuk mendiskusikan “karya seni sulaman yang luar biasa.” Tidak ada detail tambahan, tidak ada petunjuk lebih lanjut mengenai niat sang Putri. Data yang didapat minim, terlalu sedikit untuk melakukan analisis prediktif yang akurat.
Lin Chen mengangkat perkamen itu lebih dekat ke matanya, mengaktifkan ‘Optical Internal Scan Mode’ secara otomatis. Ia memeriksa setiap guratan tinta, setiap detail kecil, mencari anomali tersembunyi atau kode tersandi. Namun, tidak ada apa-apa. Hanya tulisan tangan yang indah, dengan cap segel istana yang jelas di bagian bawah. Putri Zhao adalah seorang ahli dalam menyembunyikan maksud, AURA-9 tahu itu dari analisis pola pembeliannya di pasar gelap.
Saat ia menurunkan gulungan itu sedikit, sebuah objek tipis dan gelap meluncur keluar dari lipatan perkamen. Objek itu jatuh pelan ke atas meja kayu, mendarat tanpa suara yang berarti. Lin Chen memfokuskan pandangannya. Itu adalah sehelai rambut panjang, berwarna hitam kebiruan yang pekat, berkilau seperti sayap gagak di bawah cahaya lentera. Rambut itu tampak lembut, lentur, dan memancarkan aroma bunga osmanthus yang sama dengan yang tercium pada perkamen. Rambut seorang wanita.
Terikat di salah satu ujung helai rambut itu adalah seutas benang sutra tipis, berwarna merah marun. Benang itu begitu kontras dengan warna rambut, sebuah titik fokus yang mencolok. AURA-9 segera mengenali warna itu. Merah marun. Itu adalah warna yang sama dengan benang sutra yang ditemukan Lin Chen asli dalam catatan korupsi keluarga Liang. Warna yang sama dengan benang yang diselundupkan dan digelapkan dari pasokan kerajaan.
Ketika amplop itu dibuka, di dalamnya bukan hanya undangan, tapi sehelai rambut panjang berwarna hitam kebiruan yang wangi, terikat dengan benang sutra berwarna merah marun.