Chapter 6 of 24
Chapter 6: Tarian Jari di Tangan
923 words
Aroma samar itu masih membekas. Nyonya Lin mengamati sapu tangan di tangannya, wangi maskulin yang nyaris tak terdeteksi itu menusuk indera penciumannya, memicu denyut tajam di pelipisnya. Itu bukan wangi suaminya. Bukan wangi pelayan mana pun di kediaman mereka. Itu wangi yang lebih muda, lebih segar, namun entah mengapa, terasa begitu akrab di benaknya.
Firasat buruk merayap, dingin dan pekat, meremas jantungnya. Semalam ia tidak bisa tidur nyenyak, bayangan tatapan Lin Yue dan Xiao Chen terus berputar, sentuhan tangan yang tersembunyi di balik gulungan kertas. Apakah ia hanya terlalu paranoid? Terlalu protektif terhadap putrinya?
Tidak. Naluri seorang ibu tidak pernah berbohong. Ada sesuatu yang tumbuh di antara mereka, sesuatu yang terlarang, sesuatu yang berbahaya bagi reputasi klan Lin. Putrinya, Lin Yue, terlalu berharga untuk dihancurkan oleh gairah sesaat bersama seorang shudong.
Pagi itu terasa berat. Nyonya Lin mengenakan pakaiannya, jubah sutra berwarna gelap membalut tubuhnya, namun hatinya terasa kosong. Ia harus mencari tahu. Ia harus memastikan.
Melangkah keluar dari kamar, pikirannya sudah berpacu. Perpustakaan. Pasti di sana. Mereka selalu di sana, tenggelam dalam buku dan gulungan, alasan sempurna untuk menghabiskan waktu bersama tanpa dicurigai. Ia bisa mengamati mereka, melihat langsung dengan mata kepalanya sendiri.
Berjalan perlahan menyusuri koridor panjang, ia mengarahkan langkahnya menuju paviliun perpustakaan. Suara langkahnya nyaris tak terdengar di atas lantai kayu yang licin. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena tergesa-gesa, melainkan karena antisipasi yang pahit.
Memasuki ambang pintu perpustakaan, ia melihatnya. Cahaya pagi menyaring masuk melalui jendela ukiran, menerangi debu halus yang menari di udara. Xiao Chen dan Lin Yue duduk di meja baca besar, berhadapan, di antara tumpukan gulungan naskah dan buku-buku kuno. Mereka tampak begitu serasi, begitu nyaman dalam kebersamaan mereka.
Xiao Chen, seperti biasa, tampak begitu fokus, bibirnya sedikit mengerucut saat ia menunjuk sebuah karakter pada gulungan yang mereka pegang. Lin Yue mencondongkan tubuhnya, rambutnya yang hitam legam tergerai di bahu, matanya terpaku pada naskah, namun pipinya merona tipis.
Nyonya Lin menarik napas dalam, menenangkan diri. Ia pura-pura mencari sebuah buku tentang sastra Dinasti Tang di rak terdekat, membiarkan punggungnya membelakangi mereka sejenak. Namun, telinganya tetap waspada, mencoba menangkap bisikan atau tawa yang mungkin terlepas.
Suasana hening. Hanya suara gemerisik kertas saat mereka membalik halaman, dan sesekali tarikan napas lembut. Ketegangan menggantung di udara, tersembunyi di balik fasad kesibukan belajar. Ia bisa merasakannya, seperti hawa panas yang tak terlihat.
Perlahan, ia berbalik, membawa sebuah gulungan tipis di tangannya. Matanya menyapu ruangan, berpura-pura mencari tempat duduk. Lalu, pandangannya terkunci pada mereka. Mereka sedang membaca gulungan yang sama, jari-jari mereka berdekatan, nyaris bersentuhan.
Memilih meja yang cukup jauh, namun masih memberinya pandangan jelas, Nyonya Lin duduk. Ia membuka gulungan yang diambilnya, namun matanya tak benar-benar membaca. Setiap gerak-gerik mereka direkam, setiap ekspresi wajah mereka dianalisis.
Lin Yue terkadang melirik ke arah Xiao Chen, matanya berbinar dengan cara yang terlalu akrab, terlalu mesra untuk seorang putri bangsawan dan pelayannya. Xiao Chen merespons dengan senyum tipis, sudut bibirnya terangkat penuh rahasia, dan pandangannya menari-nari di wajah Lin Yue.
Kehangatan melingkupi Lin Yue. Debaran jantungnya berpacu, mengiringi setiap detik di samping Xiao Chen. Di bawah pengawasan ketat ibunya, setiap sentuhan, setiap pandangan, terasa seperti api yang membakar namun sekaligus menghidupkan. Mereka tahu bahaya, namun gairah itu terlalu kuat untuk diabaikan.
Membolak-balik gulungan kuno, Lin Yue merasakan jari Xiao Chen menyapu punggung tangannya, begitu ringan, begitu cepat, nyaris tak terasa. Sebuah sentuhan yang singkat, namun mampu mengalirkan gelombang listrik ke seluruh tubuhnya. Napasnya tercekat, matanya melebar sesaat sebelum ia berhasil menguasainya.
Xiao Chen menarik tangannya kembali secepat kilat, ekspresinya tenang, seolah tak terjadi apa-apa. Namun, matanya, saat beradu pandang dengan Lin Yue, memancarkan api yang sama. Sebuah perjanjian rahasia, diucapkan tanpa kata, disaksikan oleh mata Nyonya Lin yang tajam.
Lin Yue merasakan pipinya memanas. Jantungnya berdetak kencang, iramanya tak beraturan. Itu adalah sentuhan yang terlarang, sebuah pengakuan tanpa suara. Ia tahu ibunya pasti melihatnya. Ia tahu Nyonya Lin tidak mungkin melewatkan gestur sekecil itu. Ketakutan merayapi dirinya, namun di saat yang sama, ada letupan kebahagiaan yang bergejolak, liar dan memabukkan. Mereka sedang bermain api, dan Lin Yue tak bisa menahan diri untuk tidak ikut menari dalam nyalanya.
Nyonya Lin mengamati. Matanya menyipit, bibirnya menipis. Sentuhan itu. Ia melihatnya. Sekilas, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk mengkonfirmasi ketakutannya yang paling dalam. Jari-jari mereka berjalin, hanya sepersekian detik, namun cukup untuk mengungkapkan segalanya.
Sebuah gelombang kemarahan naik, panas dan membakar, menguasai benaknya. Anaknya. Putri tunggalnya, yang harusnya dijaga kemurniannya, kehormatannya, sedang bermain-main dengan seorang shudong. Seorang pelayan yang ia anggap tak lebih dari sekadar budak belajar.
Nyonya Lin mengepalkan tangan di bawah meja. Kuku-kukunya menusuk telapak tangannya, rasa sakitnya nyaris tak terasa dibandingkan sakit di hatinya. Mereka berani. Mereka berani melakukan ini di hadapannya, di dalam rumahnya sendiri.
Pandangannya beralih dari satu wajah ke wajah lain. Lin Yue, dengan pipi merona dan mata berbinar penuh rahasia. Xiao Chen, dengan ekspresi yang terlalu tenang, terlalu percaya diri, seolah ia adalah pemenang dalam permainan terlarang ini. Sebuah tatapan menantang yang tak terucap, namun begitu jelas.
Rasanya ingin berteriak. Rasanya ingin mengakhiri semua ini sekarang juga. Namun, ia tidak bisa. Ia harus tetap tenang. Ia harus menyembunyikan amarahnya, seperti mereka menyembunyikan gairah terlarang mereka. Perlu strategi, perlu perhitungan. Pertunjukan ini belum berakhir.
Perasaan jijik dan cemburu bercampur aduk dalam dirinya. Mengapa anak itu? Mengapa Xiao Chen? Lelaki yang bahkan tidak setara dengan debu di bawah kaki putrinya. Gairah muda yang murni, yang seharusnya hanya menjadi miliknya, dicuri, dinikmati oleh orang lain.
Nyonya Lin membalik halaman buku dengan kasar, tatapannya menyala dingin saat ia menangkap pandangan sekilas Lin Yue dan Xiao Chen yang saling mengunci, penuh arti yang tak terucap.