Chapter 7 of 24

Pejabat Lin dan Ambisi

1.7k words

Udara di perpustakaan masih terasa berat. Nyonya Lin telah berlalu, tetapi bayangan kecurigaannya melekat seperti debu di sudut ruangan. Lin Yue menahan napas, dadanya sesak. Ia merasakan tatapan Xiao Chen, hangat dan penuh kekhawatiran. Mata mereka bertemu, seolah berbagi beban yang tak terucapkan. Mereka seperti dua jiwa telanjang yang saling membaca dalam keheningan yang mencekam. Xiao Chen perlahan mendekat. Jemarinya menyentuh punggung tangan Lin Yue, sekilas saja, namun cukup untuk mengirimkan getaran listrik yang tajam. Lin Yue menarik napas tajam, merasakan panas menjalar dari titik sentuhan itu, menyulut setiap saraf. Rasa takut bercampur gairah yang memabukkan. Mereka seperti berdiri di tepi jurang, setiap sentuhan adalah risiko yang menyenangkan sekaligus mematikan. "Yue," bisiknya, suaranya serak, memecah keheningan tipis. Hanya satu kata, namun membawa seluruh kekhawatiran dan hasratnya, sebuah janji dan pertanyaan yang tak terucap. Lin Yue tidak berani menoleh sepenuhnya. Lehernya kaku, otot-ototnya menegang. Ia hanya bisa merasakan napas hangat Xiao Chen di tengkuknya, sentuhan ringan yang membuat bulu kuduknya berdiri. Aroma cendana dari bajunya bercampur dengan aroma tinta dan kertas tua, aroma yang selalu menenangkannya, kini terasa begitu intens, mengancam untuk menelannya dalam pusaran emosi. Tangannya, begitu cepat dan lembut, menyelinap ke bawah meja. Jemarinya membelai pergelangan tangan Lin Yue, naik perlahan, merasakan denyutan nadi yang cepat dan tak terkendali. Jantung Lin Yue berdegup gila, memukul-mukul rusuknya seolah ingin keluar. Ia menekan bibir, giginya mengunci, takut desahan kecil lolos dari kerongkongannya, mengungkap rahasia mereka. Kecupan basah mendarat di belakang telinganya. Lin Yue terkesiap, tubuhnya menegang kaget. Seluruh tubuhnya menegang, merasakan gelombang panas yang membakar kulitnya. Ia memejamkan mata erat-erat, membiarkan gelombang panas menjalari seluruh sarafnya, mematikan akal sehatnya. "Jangan takut," bisik Xiao Chen, suaranya memberat, penuh bujukan. Lidahnya menjilat cuping telinga Lin Yue, gerakan kecil yang membuat lutut Lin Yue terasa lemas, hampir roboh. Sensasi itu menguasai dirinya, membuat ia tak mampu berpikir jernih. Lemas, tapi juga terbakar oleh hasrat. Lin Yue memutar tubuhnya sedikit, membiarkan pinggulnya bersentuhan dengan paha Xiao Chen yang kekar. Kain sutra tipis roknya tidak menawarkan perlindungan apapun dari panas yang memancar dari tubuh Xiao Chen. Ia merasakan kekerasan yang tak salah lagi bergesekan di balik kain. Desahan kecil akhirnya lolos, tipis seperti asap. Xiao Chen bergeser lebih dekat, tangannya yang semula di pergelangan tangan kini membelai pahanya, naik perlahan, melewati lipatan roknya yang lembut dan licin. Setiap gerakan adalah siksaan yang manis, janji kenikmatan yang menanti. Lin Yue tahu ini salah, terlalu berbahaya. Namun, ia tidak bisa menghentikan dirinya, tidak ingin menghentikan sentuhan itu, bahkan jika itu berarti kehancuran. Pikirannya kosong, hanya ada sensasi yang menguasai. Jari-jari Xiao Chen menyentuh kulit pahanya, halus dan hangat, mengirimkan ribuan jarum-jarum kenikmatan. Mereka terus naik, mengusap pelan, hingga mencapai area terlarang, tepat di celah pahanya. Lin Yue terlonjak sedikit, jantungnya berpacu lebih cepat. Napasnya tercekat di tenggorokan, terhenti di tengah desahan. "Xiao Chen..." Suaranya hampir tidak terdengar, seperti hembusan angin yang nyaris tak ada. "Diam," perintahnya, suaranya rendah dan penuh hasrat yang tak terbendung. Lidahnya kembali menjilat, kali ini lebih lama, lebih dalam, mengirimkan gelombang kenikmatan yang nyaris menyakitkan, membuat tubuhnya melengkung tak terkendali. Jemari itu kini bermain di antara lipatan kain, mengusap dengan tekanan lembut yang mematikan, membangun ketegangan yang menyesakkan. Lin Yue merasakan kebasahan yang semakin intens di sana, sebuah respons tak terbantahkan dari tubuhnya sendiri. Ia membenci dirinya sendiri karena respons tubuhnya yang begitu cepat dan binal, begitu mudah menyerah pada sentuhan Xiao Chen. Pipi dan telinganya memerah padam. Ia merasakan seluruh tubuhnya berdenyut, menuntut lebih. "Aku menginginkanmu," bisik Xiao Chen, kalimatnya memburu, napasnya memanas di kulit Lin Yue. "Di sini, sekarang, aku ingin mencicipimu sampai kau menjerit puas." Kata-kata vulgar itu menyengat, membuat tubuhnya menggigil. Kalimat itu menampar Lin Yue dengan realitas bahaya yang mengerikan. Ia mendorong Xiao Chen dengan bahunya, tidak kuat, namun cukup untuk menciptakan jarak yang tipis. Xiao Chen mengerti. Wajahnya menunjukkan kekecewaan, tapi juga pengertian. Ia mundur sedikit, tangannya menghilang dari bawah meja, kembali ke tempatnya seolah tidak pernah bergerak, seolah semua itu hanyalah ilusi. Lin Yue menyandarkan kepalanya ke dinding perpustakaan yang dingin, mencoba mengatur napasnya yang kacau. Jantungnya masih berdegup kencang, memukul-mukul dadanya. Ia mengutuk dirinya sendiri, mengutuk Xiao Chen, mengutuk takdir yang menempatkan mereka dalam situasi seperti ini. Mereka terlalu dekat. Terlalu berani. Terlalu mendambakan. --- Pagi berikutnya, ketegangan masih terasa di seluruh rumah Klan Lin. Nyonya Lin tidak mengatakan apapun, namun tatapannya pada Lin Yue dan Xiao Chen terasa lebih tajam, lebih mengamati, seperti mata elang yang mengintai mangsa. Xiao Chen tetap bersikap seperti biasa, tekun membaca, sesekali menjelaskan puisi yang rumit kepada Lin Yue dengan suara tenang. Namun, Lin Yue bisa merasakan sentuhan-sentuhan ringan yang disengaja setiap kali tangan mereka bersentuhan saat mengambil gulungan buku, sebuah pesan rahasia yang hanya mereka pahami. Pejabat Lin, biasanya disibukkan dengan urusan kenegaraan yang tak ada habisnya, pagi ini terlihat lebih sering berada di kediaman. Raut wajahnya kaku, menunjukkan keseriusan yang tidak biasa, sebuah pertanda buruk yang membuat Lin Yue gelisah. Lin Yue merasakan firasat buruk, seperti awan gelap yang berkumpul di cakrawala, siap menurunkan badai. Setelah sarapan, Pejabat Lin memanggil Lin Yue ke ruang kerjanya. Jantungnya mencelos, berdetak tak karuan. Ia melirik Xiao Chen, yang balas menatapnya dengan pandangan penuh pertanyaan, kekhawatiran terpancar jelas di matanya. Nyonya Lin mengikuti di belakangnya, wajahnya tanpa ekspresi, seperti topeng porselen. Ruang kerja Pejabat Lin selalu terasa formal, dipenuhi aroma tinta, kertas, dan kayu tua yang berat, sebuah atmosfer yang menekan jiwa. Udara di sana seakan menekan, membuatnya sulit bernapas. Lin Yue berdiri di hadapan ayahnya, punggungnya lurus sempurna, tangannya tergenggam di depan perut, berusaha menunjukkan ketenangan yang tak ia rasakan. Pejabat Lin menatapnya tajam. Matanya, meski berkerut karena usia, masih memancarkan otoritas yang tak terbantahkan, mampu membuat siapa pun gentar. "Yue'er," panggilnya, suaranya dalam dan berat, memenuhi ruangan. "Ayah," jawab Lin Yue, suaranya sedikit bergetar, berusaha agar tidak terlalu jelas. Nyonya Lin duduk di salah satu kursi samping, tatapannya menyiratkan sesuatu yang tak bisa Lin Yue baca, sebuah misteri yang membuatnya semakin cemas. Ketegangan semakin terasa, membalut mereka seperti kabut tebal. Lin Yue mengamati ekspresi kedua orang tuanya, mencari petunjuk, mencari celah. "Duduklah, Yue'er," perintah Pejabat Lin, menunjuk kursi di hadapannya. Lin Yue patuh, duduk di tepi kursi, punggungnya tetap tegak, kedua tangannya saling meremas di pangkuan. Pejabat Lin mengambil napas dalam-dalam. "Usiamu sudah delapan belas tahun, Yue'er. Waktu berlalu begitu cepat. Kau bukan lagi gadis kecil." Suaranya terdengar lembut, namun ada nada serius yang membuat Lin Yue semakin tegang. Lin Yue mendengarkan, mencoba menebak arah pembicaraan ini. Ia tahu usia delapan belas adalah usia yang krusial bagi seorang gadis bangsawan. Banyak teman-temannya sudah dijodohkan atau bahkan menikah. "Kau adalah putri satu-satunya Klan Lin," lanjut ayahnya, suaranya kini sedikit menajam. "Kehormatan klan, masa depan garis keturunan kita, ada di pundakmu. Tidak hanya itu, aliansi yang kuat juga sangat penting untuk posisiku di istana." Setiap kata terasa seperti beban yang diletakkan di pundaknya, berat dan tak terhindarkan. Jantung Lin Yue berdegup lebih kencang. Ia sudah menduga ini. Perjodohan. Itu adalah kata yang menari-nari di benaknya, sebuah momok yang selalu ia takuti. Namun, mendengar itu langsung dari ayahnya, terasa seperti palu yang menghantam kepalanya. "Aku telah memikirkan ini matang-matang," kata Pejabat Lin, tatapannya dingin, tidak menunjukkan celah untuk diskusi. "Dan aku telah membuat keputusan yang terbaik untukmu, untuk Klan Lin, dan untuk posisiku di kekaisaran." Ia berhenti sejenak, menatap Lin Yue seolah mengukur reaksinya. Lin Yue menahan napas. Ia ingin berteriak, ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tidak menginginkan pernikahan yang diatur. Namun, bibirnya terasa terkunci rapat. Wajah ayahnya menunjukkan tidak ada ruang untuk negosiasi. "Aku telah berbicara dengan Pejabat Besar Wang," Pejabat Lin melanjutkan, nada suaranya tegas dan final. Nama itu, Pejabat Besar Wang, adalah salah satu pejabat paling berkuasa di istana, klan mereka kaya dan memiliki pengaruh besar. Sebuah gelombang dingin menyapu Lin Yue. "Putranya, Wang Li, adalah pemuda yang cakap, berpendidikan, dan memiliki masa depan cerah. Dia akan menjadi pasangan yang sempurna untukmu. Sebuah aliansi yang akan menguntungkan kedua belah pihak secara politis dan sosial." Kata-kata ayahnya menghantam Lin Yue seperti pukulan telak. Masa depannya, cinta rahasianya dengan Xiao Chen, semua yang ia impikan, terasa hancur berkeping-keping dalam sekejap. Ia merasa tercekik, terperangkap antara kesetiaan keluarga dan cinta terlarangnya. Ketakutan akan masa depan yang diatur sepenuhnya oleh orang lain, tanpa ada pilihan baginya, mencekiknya hingga sulit bernapas. Matanya tanpa sadar beralih ke Nyonya Lin, mencari dukungan, sebuah tanda belas kasihan. Namun, ibunya hanya menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan, campuran kesedihan dan kepasrahan, seolah ini adalah takdir yang tak bisa dihindari. Tidak ada bantuan yang bisa ia harapkan. "Ayah..." Lin Yue memulai, suaranya pecah, nyaris tak terdengar. Ia ingin memohon, ingin berlutut, ingin berteriak tentang hatinya yang sudah terpilih. Tapi ia tidak bisa. Kata-kata itu terasa begitu kosong, begitu tak berarti di hadapan keputusan ayahnya yang dingin dan tak terbantahkan. "Tidak ada yang perlu dibahas lagi, Yue'er," potong Pejabat Lin, suaranya tajam, mengakhiri semua perlawanan yang mungkin muncul. "Keputusan ini sudah final. Wang Li akan datang melamar secara resmi dalam beberapa hari ke depan. Kau akan menjadi Nyonya Wang." Setiap kata memaku dirinya pada takdir yang pahit, mengunci semua jalan keluar. Pikirannya kosong, namun hatinya terasa sakit tak tertahankan. Ini bukan mimpi buruk, ini adalah kenyataan. Xiao Chen... Bagaimana dengan Xiao Chen? Perjanjian rahasia mereka, ciuman terlarang mereka, semua janji yang terucap dalam bisikan gelap. Akankah semua itu berakhir menjadi debu? Akankah ia dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang benar-benar memahami jiwanya? "Aku tidak..." Ia mencoba lagi, namun suaranya tercekat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya, panas dan menyesakkan. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan tangisan yang mendesak keluar. Menangis di hadapan ayahnya akan dianggap sebagai kelemahan, sebuah pembangkangan yang tidak akan ditoleransi. Ia harus kuat. Ia harus memikirkan jalan keluar. Pejabat Lin berdiri, mengakhiri pertemuan. "Kau boleh pergi, Yue'er." Suaranya tidak menunjukkan emosi apa pun. "Persiapkan dirimu. Ini adalah kehormatan besar bagi Klan Lin." Ia berbalik, mengambil sesuatu dari meja di sudut ruangan. Sebuah gulungan sutra berukir mewah diletakkan di meja, surat lamaran resmi yang mengubah semua impian Lin Yue menjadi abu dalam sekejap. Dia akan menikah. Bukan dengan pria yang dicintainya.

End of Chapter 7