Udara pagi masih sejuk, namun matahari sudah mulai menanjak, memancarkan kehangatan lembut ke halaman keluarga Lin. Nyonya Lin duduk di paviliun teh, mengawasi para pelayan membersihkan halaman, matanya sesekali melirik ke arah gerbang. Lin Yue, putrinya, seharusnya sudah kembali dari pelajaran kaligrafi di taman terpencil bersama Xiao Chen.
Menit demi menit berlalu. Biasanya, Lin Yue kembali dengan langkah ringan, riang, dan segera menghampiri ibunya untuk menceritakan apa yang baru saja ia pelajari atau puisi apa yang mereka baca.
Hari ini terasa berbeda.
Akhirnya, siluet dua orang muncul dari balik rumpun bambu. Lin Yue berjalan di depan, Xiao Chen beberapa langkah di belakangnya, memegang gulungan kertas dan kuas. Lin Yue tampak sedikit lesu, pundaknya melengkung, namun ada semburat merah muda samar di pipinya. Xiao Chen, di sisi lain, terlihat lebih tegang dari biasanya. Matanya menunduk, gerakannya kaku.
"Yue'er, Xiao Chen, kemarilah," panggil Nyonya Lin, suaranya tenang, namun pandangannya tajam.
Lin Yue mendongak, matanya sedikit terkejut, lalu ia tersenyum, senyum yang terasa sedikit dipaksakan. "Ibu," sapanya, mendekat dan duduk di samping Nyonya Lin.
Xiao Chen membungkuk hormat, menempatkan gulungan di meja kecil, dan berdiri di belakang Lin Yue, tangannya terkepal samar di balik punggung.
Nyonya Lin mengamati putrinya. "Bagaimana pelajaran hari ini? Ada puisi baru yang indah?"
"Tidak, Ibu. Hanya latihan kuas biasa," jawab Lin Yue, suaranya sedikit serak, seperti baru bangun tidur.
Pancaran matahari menyinari sisi wajah Lin Yue, menampakkan kilau aneh di rambutnya yang sedikit kusut. Nyonya Lin menarik napas, hendak mencium puncak kepala putrinya, kebiasaan lama mereka.
Hidung Nyonya Lin menangkap sesuatu.
Bukan aroma melati atau cendana yang biasa menempel di Lin Yue. Ini adalah wangi tanah, sedikit lembap, bercampur dengan aroma keringat yang samar, namun menenangkan. Ada sesuatu yang lain, yang lebih dalam, maskulin. Wangi seperti embun pagi yang menempel di rerumputan, tapi juga samar-samar wangi *lelaki*. Bukan wangi Pejabat Lin yang kaku dan berbau tinta, tapi wangi yang lebih muda, lebih hidup.
Nyonya Lin menahan diri. Ia hanya mengusap lembut pipi putrinya. "Kau terlihat sedikit lelah, Sayang."
"Mungkin karena udara di taman sangat segar, Ibu. Membuatku ingin tidur," Lin Yue tertawa kecil, namun matanya menghindari tatapan ibunya.
Nyonya Lin melirik ke arah Xiao Chen. Pemuda itu masih berdiri kaku, menunduk, seolah bayangan di dinding. Apakah wangi ini berasal darinya? Tidak mungkin, Xiao Chen selalu menjaga kebersihan dan kesantunannya. Ia hanya seorang pelayan.
Tapi wangi itu... mengganggu.
Sepanjang sarapan, Nyonya Lin terus mengamati. Lin Yue makan dengan lambat, pandangannya seringkali melayang ke arah Xiao Chen yang melayani teh. Setiap kali mata mereka bertemu, Lin Yue akan segera menunduk, rona merah muda muncul lagi di pipinya. Xiao Chen, di sisi lain, tidak berani mengangkat kepala sama sekali, telinganya memerah.
Ini bukan tingkah laku biasa.
Dulu, mereka berdua selalu riang, bebas, berbagi tawa dan canda. Sekarang, ada dinding tak terlihat di antara mereka, dinding yang memancarkan ketegangan aneh, seperti dawai yang diregangkan terlalu kencang.
Nyonya Lin ingat saat ia pertama kali melihat Xiao Chen. Anak kecil kurus dengan mata cerdas, diangkat oleh suaminya dari jalanan. Ia menentang awalnya, merasa tidak pantas ada anak laki-laki lain di rumah selain suaminya dan calon cucu mereka. Tapi Pejabat Lin bersikeras, mengatakan bakat anak itu terlalu berharga untuk disia-siakan.
Xiao Chen memang cerdas. Ia belajar lebih cepat dari Lin Yue, bahkan. Mereka tumbuh bersama, seperti sepasang tunas yang saling melilit. Nyonya Lin selalu melihatnya sebagai bagian dari rumah, seperti adik laki-laki bagi Lin Yue, atau bahkan anak angkatnya sendiri.
Namun, ia juga ingat kejadian beberapa tahun lalu, saat ia melihat Xiao Chen kecil buang air di balik semak. Ukuran penis anak itu... tak biasa untuk anak seusianya. Ingatan itu muncul kembali, mengusik, meninggalkan sensasi geli yang tak pantas di perutnya.
Ia menepis pikiran itu. Bodoh. Itu hanya anak-anak.
---
Siang berganti sore. Nyonya Lin menghabiskan waktunya memeriksa gudang persediaan. Saat kembali ke paviliun utama, ia melihat Lin Yue dan Xiao Chen berjalan bersama lagi, kali ini dari perpustakaan.
Mereka tidak lagi menjaga jarak.
Lin Yue berjalan agak dekat dengan Xiao Chen, bahu mereka nyaris bersentuhan. Xiao Chen tampak berbisik sesuatu, dan Lin Yue terkekeh pelan, menepuk lengan Xiao Chen dengan lembut. Sebuah sentuhan yang terlalu akrab, terlalu intim untuk seorang putri bangsawan dan pelayannya.
Nyonya Lin berhenti di balik pilar, tak terlihat. Ia mengamati ekspresi Xiao Chen. Ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang tidak pernah Nyonya Lin lihat saat pemuda itu berinteraksi dengan orang lain, bahkan dengan Pejabat Lin sekalipun. Senyum itu... penuh kelembutan, dan rahasia.
Kemudian, mata Xiao Chen bertemu pandang dengan mata Lin Yue. Sesaat, seolah waktu berhenti. Ada kilatan gairah yang terlalu jelas di mata mereka, sebuah pengakuan yang tak terucapkan, terlalu dalam untuk diartikan sebagai persahabatan biasa. Lin Yue segera mengalihkan pandangan, pipinya memerah lagi, dan Xiao Chen buru-buru menunduk, mempercepat langkahnya.
Jantung Nyonya Lin berdebar kencang. Firasat buruk. Ini bukan lagi sekadar kecurigaan. Ada sesuatu yang terjadi di antara mereka, sesuatu yang ia, sebagai seorang ibu, seharusnya sudah tangkap lebih awal.
---
Malam harinya, setelah makan malam, Nyonya Lin sengaja tidak langsung tidur. Ia meminta Lin Yue untuk menemaninya merapikan gulungan sutra. Ini adalah taktiknya untuk menjaga putrinya lebih dekat, untuk mengamati, untuk mencari jawaban.
Lin Yue tampak gelisah. Gerakannya kaku saat melipat sutra, sesekali menjatuhkan gulungan atau salah meletakkan.
"Yue'er, ada apa? Kau terlihat resah," tanya Nyonya Lin, suaranya lembut, mencoba memancing.
Lin Yue menggigit bibir bawahnya. "Tidak ada apa-apa, Ibu. Aku hanya... memikirkan ujian kekaisaran."
Nyonya Lin mengangkat alis. "Ujian kekaisaran? Itu urusan para pria. Kau, sebagai seorang wanita, tidak perlu mengkhawatirkannya."
"Tapi... Xiao Chen akan mengikutinya. Aku hanya... berharap ia berhasil," Lin Yue menjawab pelan, matanya melirik ke arah pintu.
Oh, Xiao Chen. Selalu Xiao Chen.
Nyonya Lin merasakan sengatan aneh di dadanya. Sebuah rasa posesif, mungkin. Putrinya terlalu terikat pada pelayan itu. Atau mungkin... sesuatu yang lain. Sebuah bayangan masa muda Nyonya Lin sendiri melintas di benaknya, kenangan akan tatapan rahasia, sentuhan terlarang yang pernah ia alami sebelum dijodohkan dengan Pejabat Lin.
"Tentu saja. Kita semua berharap yang terbaik untuknya," Nyonya Lin memaksa diri untuk tersenyum. "Sebagai pelayan setia dan teman belajarmu, wajar jika ia berhasil. Itu akan mengangkat nama keluarga Lin juga."
Lin Yue hanya mengangguk, tidak menambahkan apa-apa. Hening kembali menyelimuti mereka, namun kali ini, keheningan itu terasa lebih berat, dipenuhi oleh rahasia yang menggantung di udara.
Nyonya Lin memperhatikan Lin Yue yang sibuk melipat. Gerakannya menjadi lebih lambat, lebih merenung. Ia melihat kelembutan di mata putrinya ketika memegang salah satu gulungan sutra, seolah gulungan itu adalah Xiao Chen sendiri.
Ini bukan lagi cinta platonis. Ini adalah api.
---
Keesokan paginya, Nyonya Lin sengaja bangun lebih awal. Ia ingin melihat apakah Lin Yue dan Xiao Chen masih menjaga jarak, atau apakah ketegangan yang ia rasakan kemarin hanya perasaannya saja.
Ia melihat mereka di paviliun teh, sama seperti kemarin. Lin Yue sedang membaca, sementara Xiao Chen menyiapkan teh. Namun, ada perubahan kecil yang signifikan.
Xiao Chen tidak lagi kaku. Ia bergerak dengan kelembutan yang baru, seolah setiap gerakannya diperhatikan oleh Lin Yue, dan ia ingin membuat terkesan. Ia menunduk saat menuangkan teh, namun pandangannya sesekali mencuri tatapan ke arah Lin Yue, dengan senyum tipis yang sama, senyum rahasia yang Nyonya Lin tangkap kemarin.
Lin Yue, di sisi lain, tidak lagi menunduk. Ia sesekali membalas tatapan Xiao Chen, senyum malu-malu, namun matanya berbinar. Ada percakapan tanpa kata yang terjalin di antara mereka, sebuah aliran emosi yang kasat mata, namun terasa kuat.
Nyonya Lin mundur perlahan, hatinya terasa sesak. Putrinya sudah dewasa, dan ia mulai menjauh. Bukan hanya menjauh dari dirinya, tapi menjauh ke dalam dunia yang tidak bisa ia masuki, dunia yang dibagi bersama seorang pelayan.
Cemburu itu bukan hanya karena Lin Yue menjauh. Ada rasa cemburu lain, yang lebih gelap, lebih primal, tersembunyi di sudut hatinya. Cemburu pada kebebasan, pada gairah muda yang meluap, pada kemungkinan cinta yang tak terikat aturan, yang ia sendiri tak pernah rasakan sepenuhnya. Nyonya Lin adalah wanita terhormat, istri seorang pejabat, namun jiwanya pernah muda, pernah bergejolak. Melihat Lin Yue dan Xiao Chen, ia seolah melihat versi dirinya yang tak pernah terwujud.
Itu sangat mengganggu.
Beberapa hari berikutnya, Nyonya Lin terus mengamati. Setiap kali Lin Yue kembali dari taman atau perpustakaan setelah bersama Xiao Chen, Nyonya Lin akan mencoba mendekat. Aroma itu selalu ada. Samar, tapi persisten. Aroma tanah, keringat, dan wangi maskulin muda yang tak terdefinisikan, namun begitu menggoda.
Ia mulai bertanya-tanya. Apa yang mereka lakukan di taman? Apakah hanya belajar? Apakah Lin Yue benar-benar hanya lelah karena udara segar? Ataukah ada kegiatan lain yang membuat pipinya memerah dan rambutnya sedikit kusut?
Kecurigaan itu tumbuh seperti parasit, menggerogoti ketenangan Nyonya Lin. Ia tidur tidak nyenyak. Bayangan Xiao Chen, tinggi dan tegap di usianya yang delapan belas, berkelebat di benaknya. Ukuran penisnya yang tak biasa, yang pernah ia lihat bertahun-tahun lalu, kini terasa seperti sebuah ancaman yang nyata. Ancaman bagi kehormatan putrinya, dan nama baik keluarga Lin.
---
Suatu sore, Nyonya Lin sedang membereskan meja teh di paviliun, tempat Lin Yue dan Xiao Chen baru saja selesai belajar. Lin Yue sudah pergi ke kamarnya, sementara Xiao Chen kembali ke kamarnya di area pelayan.
Nyonya Lin melihat selembar kain putih, terlipat rapi, tergeletak di samping cangkir teh Lin Yue.
Itu adalah sapu tangan Lin Yue. Bordir bunga teratai kecil di sudutnya, tanda khas milik putrinya.
Nyonya Lin mengambilnya. Teksturnya lembut di jarinya. Ada aroma samar yang langsung menyeruak. Aroma melati, tentu saja, parfum favorit Lin Yue. Tapi di baliknya, ada aroma lain yang lebih dalam. Aroma yang sama, yang ia cium di rambut dan pakaian Lin Yue setiap kali putrinya kembali dari kebersamaan dengan Xiao Chen.
Nyonya Lin memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam.
Wangi maskulin itu. Itu bukan wangi pakaian baru. Bukan wangi keringat biasa. Ini wangi yang bercampur dengan kehangatan kulit, wangi yang melekat, wangi yang hanya bisa didapat dari kedekatan fisik yang intens. Aroma yang sama sekali tidak salah, meskipun samar.
Ini adalah aroma tubuh Xiao Chen.
Nyonya Lin merasa perutnya bergejolak. Rasa mual bercampur dengan sengatan aneh di selangkangannya. Itu adalah wangi yang mengingatkannya pada malam-malam pengantinnya sendiri, wangi kulit suaminya saat mereka pertama kali... Itu adalah wangi gairah.
Tidak mungkin. Tidak mungkin putrinya dan pelayan itu...
Ia harus memastikan. Ia harus tahu.
Nyonya Lin menggenggam sapu tangan itu erat-erat. Ia berjalan cepat menuju kamarnya, jantungnya berdebar kencang, setiap langkah terasa berat, dipenuhi oleh firasat buruk yang semakin menjadi-jadi.
Di kamarnya, Nyonya Lin mengunci pintu. Ia menyalakan lentera minyak, cahayanya berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang di dinding. Ia mengangkat sapu tangan itu ke hidungnya lagi, menarik napas panjang, lebih dalam. Di kamarnya, Nyonya Lin mengendus sapu tangan milik Lin Yue, napasnya tercekat saat ia mengenali samar-samar wangi maskulin yang asing, namun begitu akrab dengan bayangan masa lalunya.