Chapter 4 of 24

Janji di Bawah Rembulan

1.7k words

Jari-jari mereka masih bersentuhan, panas dan elektrik di bawah meja mahoni. Kehangatan kulit Xiao Chen merambat naik ke lengan Lin Yue, membuat napasnya tertahan. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri dari sangkarnya. Sebuah sensasi asing, sekaligus familiar, membanjiri dirinya. Ini bukan lagi sentuhan persahabatan, bukan lagi keakraban masa kecil. Mematikan. Itu yang Lin Yue rasakan. Bahaya yang manis, mematikan. Ia menarik tangannya secepat kilat, seolah sentuhan itu adalah bara api yang membakar. Matanya beralih ke buku yang terbuka di hadapannya, namun huruf-huruf itu menari, tidak masuk akal. Wajahnya pasti memerah, darah mengalir deras ke pipinya, terasa panas seperti baru saja dicap besi panas. Xiao Chen menarik tangannya sendiri, pergerakannya perlahan, seolah enggan melepas sepenuhnya. Lin Yue tidak berani menatapnya. Ia bisa merasakan tatapan Xiao Chen tertuju padanya, sebuah tatapan yang terasa begitu intens hingga bisa membakar kulitnya dari jarak jauh. Udara di ruang belajar menipis, menyesakkan. Suara detak jantungnya sendiri terdari begitu keras, menenggelamkan semua suara lain. Batuk kecil memecah keheningan. Xiao Chen berdeham, suara seraknya terdengar seperti gema di ruangan yang terlalu sunyi itu. “Maaf, Nona Muda,” bisiknya, suaranya rendah, nyaris tidak terdengar, namun entah mengapa, terasa seperti sentuhan lain di kulitnya. “Aku tidak sengaja.” Bohong. Lin Yue tahu itu bohong. Tidak ada yang tidak sengaja dari sentuhan itu. Sebuah sengatan panas menjalar dari ujung jarinya ke seluruh tubuh, meninggalkan jejak gatal yang mendalam. Ia mengepalkan tangannya di bawah meja, kukunya menancap ke telapak tangan, mencoba menekan gejolak aneh yang memenuhi dirinya. Kehangatan Xiao Chen masih melekat di kulitnya, menolak untuk pergi. Menjelang petang, Lin Yue masih merasa gelisah. Pikiran tentang Xiao Chen tak mau pergi. Ia melihat bayangan Xiao Chen di setiap sudut, mendengar bisikannya di setiap embusan angin. Perasaan ini terlalu besar, terlalu kuat untuk diabaikan. Ini bukan hanya tentang afeksi yang tumbuh dari kebersamaan. Ini adalah sesuatu yang lebih dalam, lebih berbahaya, dan Lin Yue tahu itu. Setelah makan malam, ia berdiam diri di kamarnya, mencoba membaca, namun matanya terus tertuju pada jendela. Rembulan sabit mulai menggantung rendah di langit, memancarkan cahaya perak yang lembut. Sebuah isyarat. Sebuah kode yang hanya mereka berdua pahami. Mereka sering bertemu di paviliun terpencil dekat kolam teratai saat rembulan menunjukkan dirinya. Desir angin di dedaunan terdengar seperti bisikan rahasia. Lin Yue menyelinap keluar, hatinya berdebar dengan ritme drum perang. Setiap langkah terasa seperti melangkah di atas kaca tipis, takut pecah. Kediaman Lin sunyi, para pelayan sudah terlelap, atau setidaknya, mereka sibak terlelap. Lin Yue melangkah hati-hati melewati koridor gelap, menghindari balok-balok yang berderit. Udara malam terasa dingin di kulitnya, namun ada panas membara di dalam dirinya. Ia berjalan menyusuri jalan setapak berkerikil, aroma melati yang kuat menusuk hidungnya. Paviliun teratai itu terlihat samar di kejauhan, diselimuti kabut tipis dan cahaya rembulan. Sesosok bayangan berdiri di sana, tinggi dan ramping, menunggunya. Xiao Chen. Ia sudah di sana. Lin Yue mempercepat langkahnya, setengah berlari. Semakin dekat, semakin jelas siluetnya. Ia mengenakan jubah gelap, menyatu dengan kegelapan malam, namun aura keberadaannya terasa begitu kuat. Xiao Chen berbalik saat Lin Yue mendekat, wajahnya terlihat jelas di bawah cahaya rembulan. Rambut hitamnya sedikit berantakan, jatuh di dahinya. Matanya, gelap seperti malam tanpa bintang, bertemu dengan mata Lin Yue. Tidak ada senyum ceria yang biasa, hanya keseriusan yang menusuk. Lin Yue merasakan gelombang emosi yang kuat mengalir di antara mereka, kata-kata tak terucapkan yang melayang di udara. “Nona Yue,” bisik Xiao Chen, suaranya lembut, namun berat. Ia terdengar seperti orang dewasa, bukan lagi anak laki-laki yang tumbuh bersamanya. Lin Yue berdiri di hadapannya, keheningan terasa begitu pekat hingga bisa dipotong dengan pisau. Angin malam berdesir, memainkan ujung jubahnya. “Xiao Chen,” balas Lin Yue, suaranya nyaris tercekat. Ia meraih pilar kayu ukiran di sampingnya, mencari pegangan. Kekuatan kakinya terasa menipis. Ia belum pernah melihat Xiao Chen sebegini tegang, sebegini serius. Atau mungkin, ia belum pernah melihat dirinya sendiri sebegini rapuh di hadapan Xiao Chen. Xiao Chen melangkah mendekat, perlahan, seolah takut akan membuatnya terkejut. Setiap langkahnya terasa seperti menarik ikatan yang tak terlihat di antara mereka, mengencangkannya. Ia berhenti beberapa jengkal di hadapan Lin Yue, tangannya terkepal di samping tubuhnya. Aroma rempah dan tinta yang selalu melekat padanya kini terasa lebih kuat, memabukkan. “Aku harus bicara,” kata Xiao Chen, suaranya lebih tegas sekarang. “Tentang kita.” Lin Yue menelan ludah. Lidahnya terasa kering. “Tentang apa?” ia bertanya, meskipun ia tahu persis apa yang akan dibicarakan. Ketakutan merayapi hatinya, bercampur dengan harapan yang meluap-luap. Ini adalah percakapan yang mereka hindari selama bertahun-tahun, percakapan yang bisa mengubah segalanya. “Kita tidak bisa terus seperti ini, Nona Yue,” Xiao Chen melanjutkan, matanya menatap lekat, mencari jawaban di dalam dirinya. “Paman Lin akan segera menjodohkanmu. Dan aku… aku hanyalah seorang shudong. Tidak ada masa depan untuk kita jika kita tetap diam.” Kata-katanya menusuk, tajam seperti belati. Lin Yue merasakan sebuah nyeri di dadanya. Ia tahu ini, ia tahu status mereka, jurang pemisah yang tak terlampaui. Namun, mendengar itu keluar dari mulut Xiao Chen sendiri, terasa jauh lebih menyakitkan. Air matanya terasa menggenang di pelupuk mata, namun ia menahannya dengan sekuat tenaga. “Lalu… apa yang harus kita lakukan?” Lin Yue berbisik, suaranya pecah. “Apa yang bisa kita lakukan, Xiao Chen? Kita…” Ia terdiam, kata-kata ‘tidak mungkin’ menggantung di ujung lidahnya. Xiao Chen maju selangkah lagi, meniadakan jarak di antara mereka. Ia mengangkat tangannya, ragu sesaat, lalu menyentuh pipi Lin Yue. Sentuhannya dingin, namun membakar. Jempolnya mengelus lembut kulit Lin Yue, mengirimkan gelombang kejut ke seluruh tubuhnya. Sebuah desahan kecil lolos dari bibir Lin Yue, tanpa sadar. “Aku tidak akan membiarkanmu menikah dengan pria lain,” kata Xiao Chen, suaranya berubah menjadi geraman rendah, penuh tekad yang menakutkan. “Aku tidak akan pernah rela melihatmu menjadi milik orang lain, Lin Yue. Tidak akan pernah.” Lin Yue menatapnya, terkejut oleh intensitas di matanya, oleh kekuatan yang tiba-tiba terpancar dari dirinya. Xiao Chen yang selalu rendah hati, yang selalu menjaga jarak, kini berdiri di hadapannya, menantang dunia dengan tatapannya. Hatinya berdebar gila, perpaduan antara ketakutan dan gairah yang membakar. “Tapi… bagaimana?” Lin Yue bertanya lagi, suaranya lebih lemah dari yang ia duga. “Keluargaku… ayahku… kau tahu dia tidak akan pernah setuju.” “Aku tahu,” Xiao Chen mengangguk, sorot matanya tidak goyah. “Aku akan lulus ujian kekaisaran. Aku akan menjadi pejabat. Aku akan naik pangkat, aku akan membuktikan diriku. Aku akan membuat diriku layak bersanding denganmu, Lin Yue. Aku bersumpah.” Napas Lin Yue tertahan. Sumpah. Sebuah janji yang begitu besar, begitu berat. Ujian kekaisaran adalah jalan yang sulit, penuh rintangan, dan sering kali, berakhir dengan kegagalan. Xiao Chen tahu itu, ia juga tahu. Namun, ada kilatan tekad baja di matanya yang membuat Lin Yue percaya, sejenak, bahwa itu mungkin saja terjadi. Bahwa ia benar-benar bisa melakukannya. “Tapi itu akan butuh waktu bertahun-tahun,” Lin Yue berkata, suaranya nyaris tak terdengar. “Ayahku tidak akan menunggu. Dia sudah mulai menerima lamaran.” Ekspresi Xiao Chen mengeras. Ia menarik Lin Yue lebih dekat, tangannya yang satunya melingkar di pinggangnya, menarik tubuhnya hingga menempel erat pada tubuhnya. Lin Yue merasakan panas tubuh Xiao Chen menembus kain tipis jubahnya, menghangatkan dirinya dari dinginnya malam. Keharuman tubuh Xiao Chen, campuran tinta, rempah, dan keringat, memenuhi indranya. “Kalau begitu, kita harus mengikat janji,” kata Xiao Chen, suaranya serak, bibirnya nyaris menyentuh telinga Lin Yue. Bisikannya membuat bulu kuduknya berdiri. “Janji yang tak bisa ditarik kembali. Janji di hadapan langit dan bumi, di hadapan kita berdua.” Lin Yue merasakan seluruh tubuhnya bergetar. Sebuah janji. Apa maksudnya? Sebuah ikatan yang lebih dalam dari sekadar kata-kata. Sebuah ikatan yang akan mengikat jiwa mereka, menantang semua norma dan tradisi. Sebuah ikatan yang bisa menghancurkan mereka jika ketahuan. “Xiao Chen…” Lin Yue mencoba memprotes, namun suaranya terlalu lemah. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul sangkar dadanya dengan brutal. Ia merasakan hasrat yang mendalam, hasrat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, bercampur dengan ketakutan yang mencekam. Xiao Chen menundukkan kepalanya, bibirnya menyentuh kening Lin Yue, lembut. Lalu turun ke pelipisnya, ke pipinya, ke sudut bibirnya. Setiap sentuhan terasa seperti percikan api yang membakar. Lin Yue memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sensasi itu. Ini salah, ini tabu, namun terasa begitu benar, begitu mendalam. “Aku bersumpah di bawah rembulan ini, Lin Yue,” bisik Xiao Chen, suaranya tegas, berat dengan janji. “Aku akan mencintaimu, melindungimu, dan hanya menjadi milikmu sampai akhir hayatku. Aku akan berjuang untukmu, melampaui semua batasan, menantang semua rintangan. Aku akan menjadikanmu permaisuriku, dan takkan ada wanita lain yang bisa menggantikan posisimu di hatiku.” Lin Yue terkesiap. Permaisuriku. Kata itu begitu besar, begitu berani, begitu… indah. Air mata akhirnya menetes dari matanya, mengalir di pipinya yang panas. Ini adalah kebahagiaan yang pahit, kebahagiaan yang berlumur rasa takut. Janji ini adalah pedang bermata dua. Ia bisa menyelamatkan mereka, atau justru menghancurkan mereka berkeping-keping. “Aku… aku juga bersumpah, Xiao Chen,” balas Lin Yue, suaranya serak karena emosi. Ia mengangkat tangannya, merangkul leher Xiao Chen, menariknya lebih dekat. “Aku akan setia padamu, mencintaimu, dan hanya menginginkanmu. Aku akan menunggumu, berapa pun waktu yang dibutuhkan. Aku akan menjadi milikmu, dan hanya milikmu. Di bawah rembulan ini, kita adalah satu.” Tubuh mereka kini menempel sempurna, tidak ada celah di antara mereka. Lin Yue bisa merasakan setiap lekuk tubuh Xiao Chen, setiap ototnya yang keras. Detak jantung mereka berdua berpacu dalam irama yang sama, seolah saling membalas janji. Xiao Chen mengeratkan pelukannya, menyandarkan dagunya di puncak kepala Lin Yue. Napasnya terasa hangat di rambutnya. Keheningan kembali menyelimuti mereka, namun kali ini, keheningan itu penuh dengan makna, dengan ikatan yang tak terucapkan. Mereka adalah dua jiwa yang terlarang, terikat oleh cinta yang menantang takdir. Lin Yue merasakan kekuatan yang aneh, sebuah keberanian baru yang muncul dari dalam dirinya. Ia tidak sendirian. Ia memiliki Xiao Chen. Perasaan itu membanjiri dirinya, memabukkan. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi esok, atau minggu depan, atau tahun depan. Namun, di bawah rembulan ini, dalam pelukan Xiao Chen, ia merasa aman. Ia merasa utuh. Ia merasa dicintai dengan cara yang paling murni dan paling berbahaya. Xiao Chen perlahan melonggarkan pelukannya, namun tangannya masih menggenggam erat tangan Lin Yue. Tatapannya kembali bertemu dengan mata Lin Yue, kali ini ada senyum tipis di bibirnya, senyum yang meyakinkan, penuh janji. Rembulan bersinar terang di atas mereka, menjadi saksi bisu janji tersembunyi yang baru saja terukir. Saat jemari Xiao Chen menggenggam erat tangannya, Lin Yue merasakan cincin batu giok dingin yang tiba-tiba melingkar di jari manisnya, sebuah janji tersembunyi yang tak bisa ditarik kembali.

End of Chapter 4