Chapter 3 of 24

Keintiman di Balik Kitab

1.3k words

Debu emas menari di setiap berkas cahaya yang menyelinap masuk dari jendela ukir. Sepuluh tahun telah berlalu, namun aroma tinta kuno, kertas tua, dan sedikit bau rempah dari teh yang selalu disajikan masih sama. Ruang belajar itu menjadi saksi bisu bagi pertumbuhan mereka, dari dua bocah kecil yang berbagi bangku menjadi dua insan dewasa yang kini berjarak begitu dekat. Lin Yue, kini delapan belas tahun, sesekali menghela napas panjang. Matanya menelusuri aksara di gulungan sutra, namun pikirannya melayang jauh. Tangan kanannya memegang kuas, siap menulis, tapi gerakan itu terasa kaku. Dada Lin Yue berdebar, bukan karena kesulitan memahami isi kitab, melainkan karena kehadiran di sampingnya. Xiao Chen duduk di sebelahnya, punggungnya tegak, fokusnya seolah tertancap pada lembaran yang sedang dibacanya. Cahaya lembut menerpa profilnya, menonjolkan garis rahang yang kini tegas, rambut hitamnya yang sedikit lebih panjang dari aturan, dan sorot matanya yang selalu tampak jeli. Pakaian shudong yang sederhana tidak bisa menyembunyikan bagaimana tubuhnya telah berubah. Lebar bahunya, otot-otot lengannya yang terbentuk dari pekerjaan harian, semua memancarkan kekuatan yang halus. Panas menjalar di pipi Lin Yue. Ini tidak pernah terjadi sebelumnya, setidaknya tidak seintens ini. Selama sepuluh tahun, mereka berbagi setiap pelajaran, setiap tawa kecil, setiap bisikan rahasia. Ia mengenalnya lebih baik dari siapa pun. Lebih dari ayahnya, lebih dari ibunya. Xiao Chen adalah bagian tak terpisahkan dari dunianya, seperti napas yang selalu ada. Tapi beberapa bulan terakhir, ada yang berbeda. Sentuhan tidak sengaja, tatapan yang terlalu lama, bisikan yang terasa begitu dekat. Semua itu kini memicu riak asing dalam dirinya. Seolah ada sesuatu yang bersemi, sesuatu yang jauh lebih besar dan menakutkan daripada sekadar persahabatan murni. Suara lembut Xiao Chen memecah lamunannya. "Nona Lin, bagian ini... apakah ada kesalahan dalam penyalinan sebelumnya?" Tangannya terulur, menunjuk baris tertentu pada gulungan di depan Lin Yue. Jari-jarinya panjang dan ramping, namun tetap kuat. Kehangatan yang tidak terlihat terpancar dari kulitnya. Lin Yue menelan ludah. Hidungnya menangkap aroma samar dari kulit Xiao Chen, perpaduan wangi tinta dan sedikit maskulin yang samar. Ia mengangguk, berusaha menjaga suaranya tetap stabil. "Sepertinya begitu. Aku akan memeriksanya." Hatinya melonjak saat Xiao Chen mendekat sedikit, kepalanya condong ke arahnya untuk melihat lebih jelas. Napasnya tercekat. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Xiao Chen begitu dekat. Sebuah sensasi mendebarkan yang tak terkatakan. Rambutnya yang sedikit panjang menyentuh lengannya, mengirimkan sengatan kecil. Lin Yue menahan diri untuk tidak bergerak menjauh. Itu akan sangat aneh, padahal mereka selalu sedekat ini. "Kalau begitu, kita harus mengoreksinya sebelum guru kembali," bisik Xiao Chen, suaranya rendah dan merdu. "Mungkin kita bisa membandingkan dengan salinan di perpustakaan utama setelah ini?" Mengangguk pelan, Lin Yue mencoba fokus pada aksara di gulungan. Namun, matanya terus melirik ke samping. Garis leher Xiao Chen, tulang selangkanya yang sedikit terlihat di balik kerah sederhana. Ada tarikan aneh yang membuatnya ingin menyentuh, merasakan tekstur kulitnya, memastikan apakah itu sehangat yang ia rasakan dari jarak ini. Terkejut dengan pikirannya sendiri, Lin Yue segera mengalihkan pandangan. Ini gila. Ini tidak benar. Dia adalah putri pejabat, dia adalah shudong. Ada jurang pemisah di antara mereka, jurang yang tak boleh diseberangi. Tetapi mengapa setiap detik yang ia habiskan di samping Xiao Chen kini terasa begitu hidup, begitu penuh makna? "Baiklah, Xiao Chen," jawab Lin Yue, suaranya sedikit serak. "Aku akan menyelesaikan bagian ini dulu." Kuasnya gemetar di tangannya, tinta hampir menetes. Xiao Chen mundur sedikit, memberinya ruang. Namun, Lin Yue bisa merasakan tatapannya masih tertuju padanya. Merasakan tatapan itu, sensasi aneh melingkupinya. Ada gairah yang tersembunyi, sebuah keinginan yang belum terdefinisikan, namun terasa begitu nyata. Ia memaksakan diri untuk menulis, fokus pada setiap goresan kuas. Namun, setiap gerakan Xiao Chen di sampingnya, setiap desah napasnya, terasa begitu diperbesar. Mereka duduk di bangku panjang yang sama, meja belajar yang sama. Jarak di antara mereka tipis, seolah bisa terhapus hanya dengan satu gerakan kecil. Pergelangan tangannya terasa sakit. Ia berhenti sebentar, meregangkan jari-jarinya. Tanpa sadar, tangannya bergerak di bawah meja, mencari posisi yang lebih nyaman. Pada saat yang sama, tangan Xiao Chen juga bergerak. Mungkin ia sedang mencari tumpuan, mungkin ia hanya menyesuaikan posisi duduknya. Jari-jari mereka bersentuhan. Hanya ujungnya. Sensasi itu menyambar seperti petir. Kulit bertemu kulit, hangat dan sedikit kasar di bagian jempol Xiao Chen. Energi listrik kecil mengalir dari ujung jari Lin Yue, menjalar ke seluruh lengannya, lalu langsung menghantam dadanya. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Xiao Chen membeku. Lin Yue juga. Nafasnya tertahan di paru-paru. Mereka tidak bergerak, jari-jari mereka masih menempel. Keheningan tiba-tiba menjadi lebih berat, lebih pekat, dipenuhi oleh ketegangan yang nyaris terlihat. Lin Yue merasakan gelombang panas melonjak di wajahnya, lalu turun ke leher, dadanya. Darah mengalir deras di telinganya. Itu hanya sebuah sentuhan. Sebuah sentuhan yang tidak disengaja. Tapi sensasinya, getaran yang ditimbulkannya, jauh melampaui sekadar sentuhan biasa. Ini adalah ledakan. Ledakan emosi yang mengejutkan, membangunkan sesuatu yang tersembunyi jauh di dalam dirinya. Xiao Chen tidak menarik tangannya. Lin Yue juga tidak. Mereka membiarkan jari-jari itu tetap bersentuhan, seolah terbius, terikat oleh benang tak terlihat. Matanya menatap tajam ke arah kitab, tapi pandangannya kabur. Seluruh inderanya terpusat pada titik kontak kecil itu. Hangat. Lembut. Memicu. Ia ingin menarik tangannya, tapi tubuhnya tidak mau patuh. Ada rasa sakit yang menyenangkan di dadanya. Apakah ini... cinta? Perasaan ini melampaui persahabatan, melampaui ikatan kekeluargaan yang telah mereka bangun. Ini adalah tarikan primal, sebuah keinginan untuk lebih dekat, untuk merasakan lebih banyak. Dan bersama dengan itu, datanglah ketakutan yang mencekik. Ketakutan akan tabu. Ketakutan akan status mereka. Ketakutan akan konsekuensi dari perasaan ini. Xiao Chen adalah shudong, seorang pelayan. Lin Yue adalah putri pejabat, seorang bangsawan. Masyarakat mereka didasarkan pada tatanan yang ketat. Perasaan seperti ini tidak diizinkan. Tidak bisa diizinkan. Namun, sensasi sentuhan itu begitu nyata, begitu kuat, sehingga semua aturan dan batasan terasa jauh, seperti bisikan angin yang tak berarti. Ia melirik Xiao Chen. Pria itu masih menatap kitab, tapi garis rahangnya sedikit mengeras, dan napasnya terdengar lebih berat. Perlahan, sangat perlahan, Xiao Chen menggeser jempolnya. Hanya sedikit. Ia mengusap punggung jari Lin Yue dengan lembut, nyaris tidak terasa. Tapi bagi Lin Yue, itu bagai petir kedua. Sebuah konfirmasi. Xiao Chen merasakannya juga. Dia juga merasakan ledakan ini. Lin Yue menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang menggila. Sentuhan itu tidak disengaja, tapi usapan itu... itu disengaja. Itu adalah pesan. Sebuah janji tanpa kata. Tubuhnya merespons dengan cepat, pori-porinya meremang, seluruh kulitnya terasa lebih sensitif. Ia ingin membiarkan sentuhan itu berlanjut, selamanya. Tapi ia tahu ia tidak bisa. Ayahnya. Ibunya. Mereka akan hancur jika mengetahui ini. Reputasi keluarganya akan tercemar. Ia harus menghentikannya. Ia harus menarik tangannya. Kekuatan untuk bergerak seolah menghilang, tergantikan oleh rasa penasaran dan keinginan yang baru tumbuh. Lin Yue akhirnya menarik tangannya. Gerakan itu terasa seperti merobek sesuatu yang penting. Xiao Chen juga menarik tangannya, seolah gerakan mereka sinkron. Kehangatan yang baru saja ada menghilang, meninggalkan dingin yang menusuk. Keheningan kembali menyelimuti mereka, kali ini lebih tebal, lebih canggung. Tidak ada yang berani menatap mata yang lain. Udara di antara mereka bergetar dengan apa yang baru saja terjadi. Ledakan emosi itu masih bergema di benak Lin Yue, dan ketakutan itu kini terasa jauh lebih besar. Bagaimana jika ini bukan hanya sebuah ledakan sesaat? Bagaimana jika perasaan ini telah tumbuh bersamanya selama sepuluh tahun, tersembunyi di balik persahabatan mereka, menunggu momen yang tepat untuk meledak? Ia menatap buku di depannya, aksara-aksara itu menari-nari, tidak bisa dibaca. "Nona Lin," suara Xiao Chen terdengar lagi, lebih dalam dari sebelumnya. "Sudah waktunya untuk istirahat. Guru mungkin akan datang sebentar lagi." Lin Yue hanya mengangguk, terlalu takut untuk berbicara. Ia merasakan tatapan Xiao Chen kepadanya, intens, penuh pertanyaan yang sama dengan yang berputar di kepalanya. Pertanyaan tentang apa yang baru saja terjadi, dan apa artinya bagi mereka berdua. Kemudian, sebuah bisikan. Sangat rendah, nyaris tidak terdengar, tapi jelas menembus ke dalam dirinya. Xiao Chen bergeser sedikit, mendekat, bibirnya nyaris menyentuh telinganya. Nafasnya hangat, berbau seperti teh hijau dan sesuatu yang lain... sesuatu yang memabukkan. Buku yang dipegang Lin Yue bergetar saat Xiao Chen berbisik, "Lin Yue, ada sesuatu yang harus aku katakan padamu malam ini," suaranya serak dan penuh janji terlarang.

End of Chapter 3

Chapter 3: Keintiman di Balik Kitab - Takdir Sang Pendamping Tinta | Novel AI Studio