Udara siang terasa berat, lembap menusuk kulit. Setelah berjam-jam menekuni gulungan aksara di ruang belajar, punggung Xiao Chen pegal. Ia menggeser sandaran kursinya, meregangkan bahu yang kaku. Guru telah mengizinkan istirahat sejenak. Kesempatan emas untuk menghirup udara segar. Perutnya juga terasa penuh, menuntut untuk dikosongkan. Menahan buang air kecil adalah siksaan. Anak laki-laki berusia delapan tahun itu melesat keluar, kakinya ringan melangkah melewati koridor. Mengabaikan jalur utama, ia memilih memotong jalan melalui taman samping yang lebih sepi. Semak rimbun dan pohon-pohon willow menjuntai menawarkan privasi. Tempat yang sempurna.
Memandang sekeliling, Xiao Chen memastikan tidak ada orang. Kebebasan memanggil. Ia segera menemukan sebuah sudut di balik rimbunnya bambu, agak tersembunyi dari pandangan umum. Angin sepoi-sepoi membelai dedaunan. Ia memutar tubuhnya, membelakangi jalur setapak kecil. Tangan kecilnya dengan sigap membuka tali pinggang celananya, menurunkan kain katun tebal itu hingga ke lutut. Lega. Desakan di perut bawahnya begitu kuat.
Siraman hangat mengucur bebas, mengenai tanah lembap di bawahnya. Suara gemericik samar memecah kesunyian taman. Matahari menembus celah dedaunan, menciptakan pola cahaya dan bayangan yang bergerak. Punggungnya menghadap ke arah jalan setapak. Ia tidak menyadari ada seseorang yang sedang mendekat.
Sementara itu, Nyonya Lin baru saja selesai menginspeksi dapur. Wangi rempah dan masakan masih menempel samar di ujung hidungnya. Ia merasa sedikit penat. Urusan rumah tangga selalu tak ada habisnya. Langkahnya melambat saat ia memasuki taman, berharap menemukan sedikit ketenangan. Udara taman yang lebih sejuk sedikit melegakan. Ia mengarahkan pandangannya ke arah kolam ikan koi, mencari ketenangan pada gerakan anggun ikan-ikan itu. Pikirannya melayang pada daftar belanja kebutuhan bulan depan.
Gerakannya otomatis, langkahnya membawa ia menyusuri jalan setapak kecil yang jarang dilewati. Bukan jalur yang biasa ia pilih. Sebuah kebetulan belaka. Dedaunan rimbun menyaring cahaya, menciptakan suasana teduh yang menenangkan. Tiba-tiba, telinganya menangkap suara gemericik air yang asing. Terlalu keras untuk tetesan embun, terlalu ritmis untuk aliran sungai kecil. Penasaran, ia menggeser pandangannya ke arah sumber suara. Matanya menyipit, mencari-cari.
Kemudian, ia melihatnya. Sosok kecil yang familiar. Xiao Chen. Anak shudong itu berdiri membelakangi. Punggung kecilnya, rambut hitamnya yang sedikit acak-acakan. Nyonya Lin hendak menegur, mengingatkan anak itu agar lebih berhati-hati, mungkin ia bermain-main air di tempat terlarang. Namun, sebelum kata-kata itu keluar dari bibirnya, Xiao Chen bergerak sedikit. Tubuhnya berputar sepersekian detik, hanya sekejap mata. Cukup lama untuk mengungkapkan apa yang sedang ia lakukan.
Pemandangan itu menghantam Nyonya Lin seperti gelombang panas. Matanya membelalak. Bukan air yang dimainkan anak itu. Bukan pula tetesan embun. Yang ia lihat adalah sebatang penis kecil yang menyembul dari balik kain celana yang melorot. Namun, bukan sekadar penis kecil. Ukurannya, bentuknya, membuat napas Nyonya Lin tercekat. Terlalu besar. Terlalu tebal untuk anak berusia delapan tahun. Begitu... mencolok.
Merah merona membanjiri wajah Nyonya Lin. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya dengan irama tak beraturan. Ia cepat-cepat memalingkan muka, seolah tak pernah melihat apa pun. Rasa malu menyerbu. Ia seharusnya tidak melihat itu. Ia seharusnya tidak berada di sana. Keringat dingin menetes di pelipisnya, padahal udara taman sejuk. Pikirannya kosong, namun pada saat yang sama, dipenuhi oleh satu gambar tak terduga.
Langkahnya terhenti, terpaku di tempat. Otaknya berusaha memproses apa yang baru saja ia saksikan. Sebuah sensasi aneh menjalar di perutnya, asing dan tidak nyaman. Bukan rasa jijik, bukan pula kemarahan. Lebih seperti... kejutan yang tak bisa ia jelaskan. Tubuhnya terasa ganjil. Panas merambat naik dari pangkal pahanya, menyebar ke seluruh tubuhnya. Ia menggigit bibir bawahnya, mencoba mengusir bayangan itu.
Xiao Chen, yang merasa lega, akhirnya mengikat kembali celananya. Ia berbalik, melangkah keluar dari balik bambu, wajahnya ceria.