Chapter 23 of 24

Chapter 23: Pertemuan di Kediaman Fang

1.2k words

Udara subuh masih dingin menusuk, namun peluh membasahi punggung Xiao Chen. Kamar Nyonya Lin terasa pengap dengan sisa aroma melati dan musk, campuran manis yang kini terasa memuakkan. Ia berdiri di ambang pintu, jubah tidurnya masih sedikit terbuka, melihat punggungnya yang tegang. “Kau tahu apa yang harus kau lakukan,” suara Nyonya Lin serak, lebih seperti perintah daripada pertanyaan. Nada itu membawa bobot otoritas, tetapi juga kepuasan yang baru saja terpuaskan. Xiao Chen tidak berbalik. Tenggorokannya terasa kering, seperti ada pasir yang mengganjal. Rasa bersalah menghimpit dadanya, dingin dan berat. Janjinya pada Lin Yue terngiang, sebuah melodi patah yang terus berputar di benaknya. “Aku mengerti,” katanya datar. Tangannya mengepal di sisi tubuhnya, kukunya menekan telapak tangan. Ia ingin melarikan diri dari sini, dari kamar ini, dari perasaan ini. Nyonya Lin mendekat, langkah kakinya nyaris tak terdengar di lantai kayu. Aroma tubuhnya kini terlalu dekat. Sebuah tangan dingin mendarat di bahunya, jari-jarinya yang ramping mengusap punggungnya pelan. Sentuhan itu membuat kulitnya meremang, bukan karena gairah, melainkan kegelisahan. “Jangan sampai ketahuan,” bisiknya, napasnya membelai telinga Xiao Chen. “Pejabat Lin tidak sebodoh yang kau kira.” Xiao Chen hanya mengangguk kecil. Ia tahu itu. Ia juga tahu bahwa Nyonya Lin mempertaruhkan banyak hal dengan membantunya. Tapi mengapa? Apa imbalannya? Pertanyaan itu berputar di kepalanya, namun ia tak berani mengucapkannya. “Kau akan bertemu dengannya di taman belakang, di bawah pohon wisteria,” lanjut Nyonya Lin, suaranya kini lebih rendah, lebih posesif. “Aku sudah memastikan para pelayan akan sibuk di bagian depan rumah. Lorong samping akan sepi.” Nyonya Lin menarik tangannya dari bahu Xiao Chen. Kehangatan kulitnya yang dingin lenyap. Xiao Chen bisa merasakan tatapan Nyonya Lin membakar punggungnya, menuntut kesetiaan, menuntut sesuatu yang tak bisa ia berikan sepenuhnya. “Pergi sekarang,” kata Nyonya Lin. “Sebelum cahaya fajar menampakkan bayanganmu.” Xiao Chen melangkah keluar, tanpa menoleh. Udara luar terasa seperti pukulan segar, membersihkan sedikit kotoran dari jiwanya. Ia melewati koridor gelap, langkah kakinya ringan dan senyap, seperti bayangan yang melarikan diri dari mimpi buruk. --- Perjalanan menuju kediaman Fang terasa sangat panjang. Jantung Xiao Chen berdebar-debar di balik tulang rusuknya, memompa darah yang terasa panas dingin. Setiap semak yang bergoyang, setiap suara jangkrik, terasa seperti mata yang mengawasi. Nyonya Lin telah memberinya peta kasar dan beberapa instruksi. Sebuah pintu samping yang jarang digunakan, tembok rendah di bagian belakang yang bisa dipanjat, dan rute melalui kebun teh yang akan membawanya ke taman wisteria. Ia bersembunyi di balik bayangan, bergerak lincah melewati jalanan kecil kota. Malam itu, bahkan angin pun terasa seperti berbisik rahasia. Rasa bersalahnya pada Lin Yue bercampur dengan determinasi yang membara. Ia telah gagal melindunginya dari pernikahan itu. Namun, ia tidak akan gagal untuk menemuinya, untuk menunjukkan padanya bahwa ia tidak sendirian. Jubahnya yang berwarna gelap menyatu sempurna dengan kegelapan malam. Ia melompati tembok rendah dengan mudah, mendarat tanpa suara di rumput yang lembut. Aroma tanah basah dan tanaman herbal langsung menyergap indra penciumannya. Mata Xiao Chen menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda kehadiran penjaga. Gerbang kayu tua berderit pelan saat ia membukanya, masuk ke dalam kompleks kediaman Fang. Halamannya luas, dengan paviliun-paviliun yang tersebar, dipisahkan oleh taman-taman kecil dan kolam ikan. Kediaman bangsawan seperti labirin, dirancang untuk membingungkan penyusup. Ia mengikuti petunjuk Nyonya Lin, menyusuri jalan setapak batu kerikil yang berliku. Suara napasnya sendiri terdengar keras di telinganya. Kakinya bergerak dengan hati-hati, menghindari dahan kering yang bisa patah di bawah pijakannya. Sinar bulan menembus celah-celah daun, menciptakan pola bayangan yang menipu di tanah. Pikirannya dipenuhi gambaran Lin Yue. Bagaimana kabarnya? Apakah dia makan? Apakah dia tidur? Apakah suaminya... pikiran itu memicu gelombang kemarahan yang membara di dada Xiao Chen. Ia meremas jimat giok yang diselipkannya di lengan bajunya, jimat yang sama yang pernah ia berikan pada Lin Yue. Kali ini, jimat itu milik Xiao Chen, sebagai pengingat akan janjinya. Ia tiba di kebun teh. Aroma melati dan krisan mendominasi udara, sedikit menenangkan sarafnya yang tegang. Ia melihat bayangan samar pohon wisteria di kejauhan, siluetnya yang rimbun membentang seperti tangan raksasa. Itu dia. Tujuan utamanya. Semakin dekat ia melangkah, semakin keras jantungnya berdetak. Ini bukan hanya tentang bertemu Lin Yue. Ini adalah pernyataan. Sebuah tantangan terhadap takdir, terhadap Pejabat Lin, terhadap seluruh tatanan sosial yang memisahkan mereka. Ia adalah Xiao Chen, pendamping tinta, yang kini melampaui batas-batasnya. Ia melihatnya. Siluet ramping di bawah kanopi ungu wisteria, punggungnya menghadap ke arahnya. Gaun sutra pucatnya berkilauan samar di bawah sinar bulan. Napasnya tercekat di tenggorokan. Sudah lama sekali. Terlalu lama. --- Lin Yue berdiri di bawah pohon wisteria, gemetar tak terkendali. Dinginnya malam menembus gaun tipisnya, namun itu bukan alasan utama tubuhnya menggigil. Setiap detik terasa seperti berjam-jam. Catatan “Tunggu” dari Xiao Chen telah menjadi satu-satunya jangkarnya di tengah badai pernikahan paksa ini. Ia memegang jepit rambut giok di tangannya, ibu jarinya mengusap ukiran naga kecil di sana. Matanya terus menyapu kegelapan, mencari bayangan yang ia harapkan, namun juga takut untuk melihatnya. Apa yang akan terjadi jika mereka ketahuan? Reputasi klannya akan hancur. Ayahnya akan murka. Dan Xiao Chen... ia tidak sanggup membayangkan konsekuensinya bagi pria itu. Suara ranting patah di dekat gerbang kecil membuat jantungnya melompat. Ia menahan napas, kepalanya berputar cepat. Mungkinkah itu penjaga? Atau suaminya yang baru, Putra Fang, yang entah bagaimana menemukan dirinya di taman di tengah malam? Tidak ada suara lagi. Hening. Hanya desiran angin di antara daun-daun wisteria. Lin Yue menghela napas yang tak sadar ia tahan. Ia memaksakan dirinya untuk tetap diam, menunggu, meskipun setiap serat dalam tubuhnya berteriak untuk berlari dan bersembunyi. Kemudian, ia melihatnya. Sosok gelap, menyelinap dari balik semak mawar. Tubuhnya menegang, namun ia tidak bisa bergerak. Matanya membelalak, mencoba memastikan apa yang dilihatnya. Siluet itu melangkah maju, keluar dari bayangan tebal, dan cahaya bulan menerpa wajahnya. Xiao Chen. Benar-benar Xiao Chen. Wajahnya terlihat lebih tirus, garis rahangnya lebih tajam, namun matanya... matanya masih memancarkan kehangatan yang sama, nyala api yang selalu dikenalnya. Ledakan kebahagiaan yang begitu murni menyapu dirinya, hampir membuatnya jatuh berlutut. Air mata menggenang di matanya, panas dan deras. Ia menutup mulut dengan tangan, menahan isakan yang ingin lolos. Rasa lega membanjiri dirinya, melonggarkan ikatan ketakutan yang mencekik selama berhari-hari. Ia tidak sendirian. Dia datang. Dia benar-benar datang. Xiao Chen melangkah mendekat, perlahan, seolah takut akan membuatnya menghilang. Wajahnya menunjukkan campuran kelegaan dan rasa sakit yang mendalam. Matanya menatapnya, menelusuri setiap inci wajahnya, seolah ingin memastikan dia nyata. “Lin Yue,” bisiknya, suaranya serak, penuh emosi. Tangannya terangkat, ragu-ragu di udara sebelum akhirnya meraih tangannya. Jemarinya yang hangat menyentuh kulitnya yang dingin, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya. Itu nyata. Dia nyata. Lin Yue merasakan gelombang emosi yang campur aduk. Kebahagiaan dan kelegaan yang luar biasa bercampur dengan rasa takut yang tak terlukiskan. Setiap pertemuan adalah pertaruhan nyawa. Setiap sentuhan adalah pengkhianatan. Namun, pada saat yang sama, ia tidak peduli. Ia hanya ingin merasakannya, berada di dekatnya. Ia menarik tangannya, melingkarkannya di pinggang Xiao Chen, menariknya mendekat dengan kekuatan yang tak ia duga. Wajahnya menyentuh dada Xiao Chen, napasnya tersengal. Aroma tubuh Xiao Chen, familiar dan memabukkan, memenuhi indranya. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam momen yang berbahaya ini. Di bawah pohon wisteria yang rimbun, Lin Yue menarik Xiao Chen ke dalam pelukan erat, bisikannya tercekat, "Aku merindukanmu... sangat merindukanmu."

End of Chapter 23