Chapter 22 of 24
Chapter 22: Luka dan Obsesi
2.4k words
Nyonya Lin berdiri di ambang pintu kamar Xiao Chen, siluetnya memanjang diterpa cahaya remang lentera di koridor. Udara malam yang dingin menyelinap masuk, membawa aroma melati yang selalu melekat pada pakaiannya. Xiao Chen, masih dalam pakaian tidurnya yang sederhana, merasakan jantungnya berdebar, irama yang liar dan tak beraturan. Jeda yang menggantung di antara mereka terasa tebal, dipenuhi oleh antisipasi dan ketakutan.
"Tidak akan ada yang tahu aku di sini," bisiknya, suaranya rendah, hampir tak terdengar, namun menggema di seluruh bilik kecil itu. Matanya yang gelap memantulkan sedikit cahaya, berbinar tajam. Sebuah senyum tipis, penuh makna, terukir di bibirnya yang kemerahan.
Xiao Chen menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. Tubuhnya menegang, setiap ototnya berteriak untuk lari atau menyerah. Gambar Lin Yue melintas di benaknya, wajahnya yang cantik, janjinya yang terukir di kuil. Rasa bersalah menghantamnya seperti gelombang dingin, namun godaan yang berdiri di depannya begitu kuat, begitu nyata.
Nyonya Lin melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan gerakan halus, nyaris tak bersuara. *Klik.* Bunyi itu mengunci mereka di dalam, memutus hubungan mereka dengan dunia luar, dengan norma dan segala aturan. Aroma melati menjadi lebih pekat, memabukkan.
"Kau terlihat... terkejut," katanya, langkahnya mendekat, tanpa tergesa. Sebuah tangannya terangkat, jari-jarinya yang ramping menyentuh pipi Xiao Chen. Sentuhan itu ringan, namun membakar. Kulitnya terasa dingin di udara malam, namun hangat di bawah jemarinya.
Xiao Chen merasakan otot rahangnya mengetat. Matanya mencari-cari, namun tak menemukan jalan keluar dari tatapan Nyonya Lin yang intens. "Nyonya," desisnya, suaranya serak. Ia mencoba mundur, namun kakinya terasa terpaku di lantai kayu.
"Tidak ada 'Nyonya' di sini," potong Nyonya Lin, suaranya berbisik, mendekat ke telinga Xiao Chen. Rambutnya yang hitam legam menggelitik kulit lehernya. Aroma melati kini bercampur dengan wangi kulitnya sendiri, sebuah perpaduan yang memabukkan. "Malam ini, hanya ada aku. Dan kau."
Jemari Nyonya Lin bergerak turun, meluncur di sepanjang leher Xiao Chen, ke bahunya, lalu ke dadanya. Helaan napas Xiao Chen tertahan di paru-paru. Setiap sentuhan terasa seperti bara api yang membakar, membangkitkan sesuatu yang sudah lama ia coba kubur.
"Apakah kau tahu betapa aku menginginkanmu, Xiao Chen?" bisiknya, bibirnya menyentuh daun telinga Xiao Chen, kehangatan napasnya mengirimkan getaran listrik ke seluruh tubuh. "Sejak hari itu... saat aku melihatmu di kuil..."
Kilasan memori itu datang kembali, memori tentang Nyonya Lin yang memata-matai mereka, tentang gairah terlarang yang ia amati. Rasa bersalah semakin kuat, namun sensasi fisik yang membanjiri dirinya terlalu nyata untuk diabaikan.
Xiao Chen memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan Lin Yue. Namun, bayangan itu tetap ada, menari-nari di balik kelopak matanya yang terpejam. "Nyonya..."
"Sstt," Nyonya Lin membungkamnya dengan jari telunjuknya di bibir Xiao Chen. Matanya menuntut, penuh hasrat yang tak tertahankan. "Aku sudah menunggu begitu lama."
Tangannya yang lain kini melingkari pinggang Xiao Chen, menarik tubuhnya lebih dekat. Kain sutra tipis pakaian tidurnya bergesekan dengan pakaian Xiao Chen yang lebih kasar. Sensasi kontras itu memicu ledakan kecil di perutnya.
"Kau tahu, kau membuatku merasa muda lagi," bisiknya, suaranya sedikit bergetar, menunjukkan kerentanan yang jarang terlihat. "Kau membuatku merasakan hal-hal yang sudah lama kulupakan."
Xiao Chen merasakan *sesuatu* di dalam dirinya merespons. Bukan hanya tubuhnya, tapi juga bagian dari jiwanya yang mendambakan perhatian, kehangatan, validasi. Ia seorang pemuda, baru merasakan cinta, dan sekarang dihadapkan pada gairah seorang wanita dewasa yang begitu terbuka. Ini adalah medan yang berbahaya.
Nyonya Lin mencondongkan tubuh, bibirnya yang merah mawar menyentuh bibir Xiao Chen, ringan seperti sentuhan kupu-kupu. Lalu, lebih dalam. Rasa manis lipbalmnya berbaur dengan kepahitan rasa bersalah Xiao Chen.
*Mmuach.*
Ciuman itu lembut pada awalnya, menggoda. Lidah Nyonya Lin menyapu bibir bawah Xiao Chen, meminta akses. Tubuh Xiao Chen menegang seluruhnya. Ia tidak bisa bergerak. Ia tidak bisa menolak.
Lalu ciuman itu menjadi lebih intens, lebih mendesak. Mulut Nyonya Lin terbuka, lidahnya melesak masuk, menjelajahi setiap lekuk bibir Xiao Chen, menghisap, mengulum. Xiao Chen merasakan dirinya tenggelam. Ia merasakan panas yang menyebar dari bibirnya ke seluruh tubuhnya.
*Schhlup... ngghh...*
Nyonya Lin merintih samar di antara ciuman, tangannya mencengkeram erat pinggang Xiao Chen, seolah takut ia akan menghilang. Xiao Chen merasa napasnya tersangkut, pikirannya kosong selain sensasi yang membakar.
"Kau," Nyonya Lin menarik napas, dahinya menyentuh dahi Xiao Chen, matanya setengah terpejam, "kau adalah api yang membakar kebosananku."
Tangannya bergerak turun lagi, lebih jauh, menuju pinggul Xiao Chen. Xiao Chen merasakan jari-jarinya yang ramping menyentuh tonjolan di bawah kain tipisnya. Sebuah desahan tertahan lolos dari bibirnya. Ia tak bisa menahannya.
Rasa bersalah, ya. Tapi gairah itu, oh, gairah itu adalah badai yang melanda dirinya.
"Jangan menahan diri," bisik Nyonya Lin, suaranya serak karena hasrat. "Biarkan saja. Aku ingin kau. Seluruhnya."
Xiao Chen membuka matanya, menatap ke dalam mata gelap Nyonya Lin. Ada kegilaan di sana, obsesi yang nyata, yang membuat bulu kuduknya merinding, sekaligus menariknya lebih dalam. Ia adalah mangsa, namun juga predator. Peran mereka begitu kabur dalam kegelapan kamar itu.
"Bagaimana dengan Pejabat Lin?" Xiao Chen berhasil bertanya, suaranya nyaris tak lebih dari bisikan.
Nyonya Lin tertawa kecil, suara itu serak dan pahit. "Pejabat Lin? Dia sibuk dengan politiknya, dengan nama baiknya. Dia tidak melihatku. Dia tidak *menginginkanku* seperti ini." Tangannya yang satu meremas pinggul Xiao Chen, tangannya yang lain meluncur ke bawah, meraih.
Xiao Chen merasakan sentuhan yang berani, tepat di atas pangkal kemaluannya yang kini menegang. Otot-otot di perutnya berkedut liar. Ini salah. Ini sangat salah. Tapi dia tidak bisa berhenti. Dia tidak bisa mendorong Nyonya Lin menjauh.
"Kau akan memberiku apa yang tidak bisa dia berikan," kata Nyonya Lin, matanya berkilat. Bibirnya kembali mencari bibir Xiao Chen, lebih rakus dari sebelumnya.
*Chup... shh... slurp...*
Ciuman itu menjadi pertarungan lidah yang sengit, saling menghisap dan melilit. Xiao Chen merasakan dirinya terlempar ke dalam pusaran hasrat yang tidak terkendali. Dia tahu ini adalah pengkhianatan terburuk, bukan hanya pada Lin Yue, tapi juga pada dirinya sendiri. Namun, tubuhnya memiliki pikirannya sendiri.
Dia membalas ciuman itu dengan intensitas yang sama, tangannya melingkar ke pinggang Nyonya Lin, menariknya begitu erat hingga mereka nyaris tak bisa bernapas. Aroma melati, keringat yang mulai muncul, dan gairah yang membakar. Semuanya menjadi satu.
Nyonya Lin merintih, puas. Dia tahu dia memiliki Xiao Chen, setidaknya untuk malam ini. "Buka bajumu," bisiknya, suaranya teredam oleh ciuman mereka. "Aku ingin melihatmu."
Xiao Chen, dengan tangan gemetar, mulai membuka ikatan pakaian tidurnya. Setiap gerakannya terasa berat, penuh dengan konflik batin. Namun, tatapan Nyonya Lin yang membara di atasnya, hasratnya yang tak terselubung, mendorongnya maju.
Kain tipis itu meluncur jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang muda dan penuh gairah. Nyonya Lin menarik napas tajam, matanya membesar, memindai setiap inci kulitnya. Sebuah senyum kepuasan merekah di bibirnya.
"Cantik," bisiknya, jari-jarinya menyentuh dada Xiao Chen, merasakan detak jantungnya yang cepat. "Sangat cantik."
Xiao Chen merasa telanjang, bukan hanya secara fisik, tapi juga jiwanya terbuka di hadapan wanita ini. Ini adalah tarian berbahaya, dan dia telah melangkah terlalu jauh untuk kembali.
---
Nyonya Lin mendorong Xiao Chen perlahan hingga punggungnya menyentuh dinding yang dingin. Kontras antara dinginnya plester dan panasnya kulit mereka mengirimkan sensasi aneh ke seluruh tubuh Xiao Chen. Matanya tak lepas dari Nyonya Lin, yang kini mengunci pandangannya dengan tatapan penuh kepemilikan.
"Berlutut," perintah Nyonya Lin, suaranya rendah, nyaris tanpa emosi, namun penuh otoritas.
Xiao Chen merasakan jantungnya berdetak makin cepat. Sebuah gejolak rasa malu bercampur dengan gairah yang tak terbendung. Perintah itu, cara Nyonya Lin mengucapkannya, membuatnya merasa seperti budak yang patuh. Dan sebagian dari dirinya, yang gelap, menyukainya.
Dia menunduk, lututnya menyentuh lantai kayu yang kasar. Posisi itu, begitu merendahkan, namun juga membangkitkan sesuatu yang liar di dalam dirinya. Nyonya Lin mengamati setiap gerakannya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, puas.
"Bagus," gumamnya, jari-jarinya menyentuh rambut Xiao Chen, menariknya perlahan hingga kepalanya mendongak. Matanya bertemu dengan mata Nyonya Lin, yang kini berkilat seperti obsidian di bawah temaram cahaya. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?"
Xiao Chen menelan ludah, tatapannya jatuh ke bawah, ke kain sutra Nyonya Lin yang kini menjuntai bebas. Dia bisa melihat lekuk pahanya, dan di antara itu, bayangan gelap yang mengundang. Aroma melati yang memabukkan kini bercampur dengan aroma feminin yang lebih tajam, lebih menggoda.
Dia mengangguk, tenggorokannya terlalu kering untuk bersuara. Rasa bersalah bergolak di perutnya, mengancam untuk menelannya bulat-bulat. Namun, tatapan Nyonya Lin, yang membakar dan menuntut, tidak memberinya pilihan lain. Dia adalah tawanannya.
Nyonya Lin mengangkat satu kakinya, meletakkannya di antara bahu Xiao Chen. Kain sutranya terangkat, memperlihatkan betisnya yang ramping, lalu paha bagian dalamnya yang lembut. Kemudian, lebih tinggi lagi, hingga pandangan Xiao Chen langsung tertuju pada kemuliaan femininnya.
Xiao Chen merasakan napasnya tertahan. Kehangatan yang memancar dari sana, aroma yang begitu intens, membuat kepalanya pusing. Dia melihat kelembapan yang berkilau, mengundang.
"Cicipi aku," bisik Nyonya Lin, suaranya sekarang terdengar seperti desahan tertahan. Jemarinya yang ramping menekan bagian belakang kepala Xiao Chen, mendorongnya maju perlahan. "Aku sudah menunggu ini sejak lama."
Xiao Chen memejamkan mata sesaat, sebuah bayangan Lin Yue melintas lagi, namun kali ini lebih buram, lebih jauh. Dia membuka mulutnya, lidahnya menjulur ragu.
Sentuhan pertama lidahnya pada kulit basah Nyonya Lin adalah kejutan. Hangat, lembap, dengan rasa yang manis sekaligus sedikit asin. Nyonya Lin tersentak, sebuah desahan panjang lolos dari bibirnya.
*Schhlup... ngghh...*
Xiao Chen mulai menjilat, perlahan pada awalnya, mencoba mengenal kontur yang asing namun memikat itu. Dia merasakan Nyonya Lin menegang di atasnya, jemarinya mencengkeram erat rambutnya.
"Ya... seperti itu," Nyonya Lin mengerang, kepalanya mendongak, matanya terpejam. "Lebih dalam, Xiao Chen. Lebih dalam."
Mendapat izin, dan didorong oleh hasrat yang kini juga menyala di dalam dirinya, Xiao Chen menjadi lebih berani. Lidahnya melesak masuk, menjelajahi setiap lekukan, menghisap, mengulum. Dia bisa mendengar napas Nyonya Lin yang memburu, irama yang makin cepat.
*Chup... slurp....*
Setiap isapan yang ia berikan, setiap jilatan yang ia layangkan, disambut dengan desahan Nyonya Lin yang makin keras. Wanita itu kini bergoyang, pinggulnya bergerak tak terkendali, mendorong dirinya lebih dalam ke mulut Xiao Chen. Keinginan Nyonya Lin begitu jelas, begitu mendesak, menuntut untuk dipenuhi. Xiao Chen merasakan tekanan pada tenggorokannya, namun Nyonya Lin terus mendorong.
"Ambil semuanya," desahnya, suaranya putus-putus. "Aku ingin kau menelanku, Xiao Chen. Rasakan aku di setiap inci tubuhmu."
Xiao Chen memejamkan mata, fokus pada sensasi yang membanjiri indranya. Aroma yang memabukkan, rasa yang intens, suara desahan Nyonya Lin yang kini menjadi musik baginya. Rasa bersalah itu masih ada, namun terkubur di bawah gelombang gairah yang mengamuk. Dia adalah seorang pria, dan Nyonya Lin adalah wanita yang tahu persis bagaimana memancing setiap hasrat tersembunyi dalam dirinya.
Dia mempercepat gerakannya, menghisap dengan rakus, mengulum dengan agresif. Lidahnya bergerak cepat, menyerang klitoris Nyonya Lin dengan presisi yang mengejutkan. Nyonya Lin menjerit, sebuah suara yang tertahan, namun penuh kenikmatan yang murni.
*Slurp... schhlup... mm-ngh...*
Pinggul Nyonya Lin bergetar, otot-otot di bawah kulitnya menegang. "Aku... oh, aku akan... Xiao Chen!" serunya, suaranya pecah. "Terus! Jangan berhenti!"
Xiao Chen mengabaikan rasa perih di rahangnya, dia terus melakukannya, didorong oleh suara-suara kenikmatan Nyonya Lin. Dia ingin melihat sejauh mana dia bisa membawa wanita ini, sejauh mana dia bisa melupakan dirinya sendiri dalam tindakan ini. Dia merasa kuat, memegang kendali atas kenikmatan Nyonya Lin, sebuah kekuatan yang memabukkan.
Nyonya Lin mencengkeram bahunya, kukunya menancap samar ke kulit. Tubuhnya melengkung, punggungnya melengkung ke belakang, kepalanya terangkat ke langit-langit. Sebuah getaran kuat menjalari tubuhnya, kemudian gemetar yang lebih besar, lebih intens.
*Ah...—arghh, ah, aku mau... nggh-! Jangan... ah, tunggu... ah-as-taga...!*
Suaranya berubah menjadi rintihan panjang, merangkai kata-kata yang tak jelas, dipenuhi gairah. Xiao Chen merasakan cairan hangat membanjiri mulutnya, Nyonya Lin mengalami orgasme di atas wajahnya. Sensasi itu, menjijikkan dan memabukkan pada saat yang sama, membanjiri dirinya. Dia menelannya, mengikuti perintah tak terucap Nyonya Lin.
Nyonya Lin terjatuh, lututnya lemas, bersandar pada dinding. Napasnya terengah-engah, matanya masih terpejam, bibirnya sedikit terbuka. Dia terlihat sangat lelah, namun juga sangat puas. Xiao Chen merasa jijik pada dirinya sendiri, pada apa yang baru saja dia lakukan, pada kenyataan bahwa dia telah menikmatinya.
"Xiao Chen," bisik Nyonya Lin, suaranya sekarang jauh lebih lembut, lebih intim. Dia membuka matanya, menatap Xiao Chen yang masih berlutut di depannya. "Kau... luar biasa."
---
Nyonya Lin meraih tangan Xiao Chen, menariknya berdiri. Tubuhnya masih bergetar, namun senyum di wajahnya mengisyaratkan kepuasan yang mendalam. Xiao Chen berdiri kaku di depannya, napasnya masih berat, konflik batinnya menggerogotinya. Bayangan Lin Yue kini kembali, lebih jelas, lebih menyakitkan.
"Jangan terlihat begitu menderita," Nyonya Lin menyentuh pipi Xiao Chen, ibu jarinya membelai pelan. "Kau baru saja memberiku kenikmatan yang belum pernah kudapatkan. Itu pantas untuk dirayakan."
Xiao Chen menunduk, tidak bisa menatap mata Nyonya Lin. Bagaimana dia bisa merayakan ini? Bagaimana dia bisa melupakan pengkhianatan ini? Rasa bersalah terasa seperti beban berat di dadanya, menekan paru-parunya.
"Kau berjanji pada Lin Yue," pikirnya, suaranya hanya bergema di dalam kepalanya. "Kau berjanji akan melindunginya. Dan lihat apa yang kau lakukan."
Nyonya Lin mengangkat dagunya, memaksanya menatap. "Aku melihat keraguan di matamu. Jangan khawatir. Tidak ada yang perlu tahu tentang ini. Ini akan menjadi rahasia kita. Rahasia yang menyenangkan."
Kata-kata 'menyenangkan' terasa seperti tamparan. Ini bukan kesenangan. Ini adalah kegilaan. Ini adalah kehancuran. Namun, Nyonya Lin tampaknya tidak peduli. Matanya berkilat dengan obsesi yang makin terang-terangan.
"Aku tahu kau menginginkanku," kata Nyonya Lin, suaranya kini terdengar yakin, seolah dia bisa melihat langsung ke dalam pikiran Xiao Chen. "Aku merasakannya. Dan aku ingin lebih banyak lagi. Setiap malam, jika mungkin."
Setiap malam? Pikiran itu membuat Xiao Chen merinding. Dia tidak bisa. Dia tidak akan bisa melakukan ini. Tapi bagaimana dia bisa menolak Nyonya Lin? Wanita ini memiliki kekuasaan, dan Xiao Chen adalah pelayan di rumahnya. Dia tahu bahwa menolak bisa berakibat fatal, tidak hanya untuk dirinya, tapi mungkin juga untuk Lin Yue.
"Kita tidak bisa..." Xiao Chen mencoba memprotes, suaranya serak.
"Oh, kita bisa, Xiao Chen," Nyonya Lin memotongnya, senyumnya semakin lebar, semakin berbahaya. "Kita akan. Kau akan datang kepadaku. Setiap kali aku memanggilmu. Kau akan memberiku apa yang aku inginkan."
Tangannya meluncur ke bawah, meraih kemaluan Xiao Chen yang masih sedikit keras karena gairah yang baru saja mereda. Sentuhan itu mengejutkan, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuhnya. Nyonya Lin tertawa kecil, suara itu serak dan penuh kemenangan.
"Kau tidak bisa menolakku," bisiknya, mengulum bibir bawahnya. "Tubuhmu tidak bisa menolakku."
Kata-kata itu menghantam Xiao Chen dengan kekuatan brutal. Dia membenci kenyataan bahwa ada kebenaran dalam ucapan Nyonya Lin. Tubuhnya memang merespons, bahkan ketika hatinya berteriak penolakan. Dia adalah alat, pemuas hasrat seorang wanita yang haus. Dan Lin Yue, gadis yang dicintainya, akan menikah dengan orang lain, sementara dia... dia melakukan ini.
"Aku akan memastikan kau tidak akan pernah melupakanku," Nyonya Lin mendekat, bibirnya menyentuh leher Xiao Chen. Dinginnya embun malam di luar jendela, berbanding terbalik dengan panasnya napas Nyonya Lin di kulitnya. "Kau akan menjadi miliku, setidaknya di sini, di balik pintu tertutup ini."
Sebuah sentuhan baru. Nyonya Lin mencium leher Xiao Chen, giginya menggigit samar, "Kau tahu, kau jauh lebih baik daripada suamiku. Jauh lebih baik dari siapa pun."