Chapter 24 of 24

Api yang Tak Padam

2.2k words

Udara malam terasa dingin di kulit Lin Yue, tetapi sentuhan tangan Xiao Chen di pipinya membakar lebih dari bara api. Jantungnya berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri dari sangkar. Ia tidak percaya. Setelah semua yang terjadi, setelah upacara pernikahan yang terasa seperti hukuman mati, Xiao Chen ada di sini, nyata, di hadapannya. "Xiao Chen," bisiknya, suaranya serak, nyaris tak terdengar. Matanya membelalak, mencoba memastikan ini bukan mimpi lain yang diciptakan oleh kerinduan. Cahaya rembulan menembus celah dedaunan wisteria, melukis siluet familiar yang membuatnya sesak. Jari-jari Xiao Chen bergerak lembut, mengusap bekas air mata di pipinya. Kehangatan itu merambat, menenangkan gemuruh di dadanya, walau ketakutan tak sepenuhnya sirna. Ia tahu ini gila. Jika ada yang melihat, mereka berdua akan tamat. Tapi di balik ketakutan itu, ada gelombang kelegaan yang membanjiri seluruh indranya. "Aku di sini," bisik Xiao Chen, suaranya dalam dan meyakinkan. Sebuah janji yang tak terucap, sebuah pengingat akan pesan singkatnya: 'Tunggu'. Kini, ia mengerti. Xiao Chen tidak pernah meninggalkannya. Ia hanya mencari jalan. Napasnya tercekat. Lin Yue mencondongkan tubuh, secara naluriah mencari perlindungan, kehangatan yang sudah lama ia rindukan. Wajah Xiao Chen mendekat, matanya mencari izin dalam tatapan Lin Yue yang basah. Ada keraguan singkat, sekelebat pikiran tentang kehormatan keluarga, tentang status barunya. Namun, semua itu lenyap begitu tatapan mereka terkunci. Bibir Xiao Chen menyentuh miliknya, lembut pada awalnya, seperti tetesan embun yang jatuh perlahan. Kemudian, desakan itu menguat, bibir mereka menyatu dalam ciuman yang haus, putus asa, dan memabukkan. Lin Yue membalasnya dengan segenap jiwa, melampiaskan semua rasa sakit, ketakutan, dan cinta yang membakar di dalam hatinya. *Nnggh...* erangnya pelan saat lidah Xiao Chen menyusup, mengobrak-abrik isi mulutnya, mencicipi kepahitan air mata dan manisnya kerinduan yang telah lama terpendam. Rasanya seperti udara yang ia butuhkan setelah tenggelam terlalu lama. Jemari Lin Yue mencengkeram jubah Xiao Chen, menariknya lebih dekat, seolah ingin menyatukan setiap inci tubuh mereka. Kedua tangan Xiao Chen bergerak. Satu memeluk pinggang Lin Yue erat, menariknya menempel pada tubuhnya yang keras. Yang lain, menyusup ke rambutnya, memegang tengkuknya, memperdalam ciuman itu hingga Lin Yue merasa kepalanya pening. Aroma tubuh Xiao Chen, perpaduan kayu dan musk yang khas, memenuhi indra penciumannya, membanjiri otaknya dengan memori-memori terindah. "Aku merindukanmu," bisik Xiao Chen di sela ciuman, napasnya hangat menerpa bibir Lin Yue. Setiap kata terasa seperti sumpah, mengikat mereka lebih kuat dari ikatan pernikahan mana pun. Lin Yue hanya bisa mengerang sebagai jawaban, terlalu penuh untuk berbicara. Ciuman itu turun ke rahangnya, lalu ke leher jenjangnya. Setiap sentuhan memicu gelombang panas yang menjalar ke seluruh tubuh Lin Yue. Ia mendongak, tanpa sadar memberikan akses, bibirnya sedikit terbuka saat desahan kecil lolos. Xiao Chen mengisap kulit lehernya, meninggalkan jejak basah yang membakar. *Chup... shh... slurp...* Suara ciuman basah itu terdengar samar di keheningan malam, namun bagi Lin Yue, itu adalah simfoni terlarang yang paling indah. Ia bisa merasakan denyutan di antara kedua kakinya, sebuah respon jujur yang tak bisa ia kendalikan. Hasrat yang terkubur dalam-dalam kini meledak, menuntut untuk dipuaskan. "Kita tidak bisa di sini," bisik Lin Yue, suaranya bergetar, meskipun ia tidak ingin menghentikan ini. Bahaya mengintai di setiap sudut. Ini adalah kediaman suami barunya. Suami sahnya. Kata-kata itu terasa asing, menusuk ulu hatinya, tetapi hasrat terhadap Xiao Chen jauh lebih kuat. Xiao Chen menarik diri sedikit, matanya yang gelap menatap dalam ke mata Lin Yue. Ada kilatan tekad yang keras di sana, sebuah janji bahwa ia akan menjaganya, apa pun risikonya. "Aku tahu," jawabnya, suaranya rendah dan serak. "Ada tempat lain." --- Mereka bergerak dalam bayang-bayang, siluet yang menyelinap di antara pepohonan dan bangunan-bangsung kuno yang megah. Jantung Lin Yue berdegup tak karuan, bukan hanya karena gairah, tetapi juga karena adrenalin murni. Setiap langkah terasa seperti lemparan dadu, setiap suara ranting patah bisa berarti kehancuran. Xiao Chen berjalan di depannya, tangannya melingkar erat di pergelangan Lin Yue, memimpin dengan keyakinan yang menenangkan. Ia tahu seluk-beluk rumah ini? Bagaimana? Pikiran itu melintas, namun segera tergantikan oleh urgensi yang lebih mendesak. Mereka mencapai sebuah paviliun kecil di ujung taman, tersembunyi di balik rumpun bambu yang lebat. Bangunan itu tampak tak terpakai, jendelanya tertutup rapat, diselimuti kegelapan. "Ini tempat pelayan menyimpan perkakas taman," bisik Xiao Chen, suaranya nyaris tanpa volume. "Jarang ada yang kemari di malam hari." Lin Yue menelan ludah. Rasa takut dan gairah saling membelit, menciptakan pusaran emosi yang memusingkan. Ia tahu ini salah, dosa. Ia sudah menjadi istri orang. Tapi tatapan Xiao Chen yang membakar, sentuhan tangannya yang tak pernah lekang, menghilangkan semua keraguan. Ia rela terbakar dalam api ini jika itu berarti bersama Xiao Chen, walau hanya untuk sesaat. Xiao Chen mendorong pintu kayu yang sedikit melengkung, mengeluarkan bunyi *krieeet* pelan. Mereka menyelinap masuk, bau debu dan tanah segera menyambut indra penciuman Lin Yue. Ruangan itu gelap gulita, hanya disinari sedikit cahaya rembulan yang menyelinap dari celah-celah papan. Xiao Chen menutup pintu perlahan, bunyi *klik* kecil terdengar seperti palu godam di telinga Lin Yue. Di dalam kegelapan, Xiao Chen menoleh, tangannya terulur ke Lin Yue. Tanpa ragu, Lin Yue menyambutnya, jemari mereka bertaut erat. Ia tidak bisa melihat ekspresi Xiao Chen dengan jelas, tetapi ia bisa merasakan panas tubuhnya, kekuatannya yang menular. Ia merasa aman, sekaligus sangat, sangat berbahaya. "Kau tahu aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja, kan?" bisik Xiao Chen, suaranya serak. Pertanyaan itu lebih merupakan pernyataan, sebuah penegasan atas janji yang pernah mereka ukir. Lin Yue mengangguk, kepalanya terkulai di bahunya. Air mata kembali menggenang, namun kali ini bukan air mata kesedihan, melainkan percampuran antara kelegaan dan rasa bersalah yang menusuk. "Aku... aku takut," bisik Lin Yue, mengakui kelemahannya. Ini bukan hanya tentang mereka, tapi juga tentang kehormatan keluarganya, masa depannya. Tapi ia tidak bisa menolaknya. Ia tidak pernah bisa menolak Xiao Chen. "Jangan takut," Xiao Chen menenangkan, suaranya bergetar. "Aku bersamamu. Selalu." Ia menarik Lin Yue lebih dekat, bibirnya kembali mencari bibir gadis itu. Kali ini, ciuman mereka lebih mendalam, lebih putus asa, seolah mencoba mengukir setiap detik ke dalam jiwa mereka. *Chup... shh... slurp...* Xiao Chen menciumnya dengan intensitas yang mengerikan, seolah ingin menyerap setiap nafas, setiap esensi Lin Yue. Lidahnya menari, memprovokasi, dan Lin Yue membalas dengan kegilaan yang sama. Jantungnya bergemuruh, darahnya mengalir panas di setiap pembuluh. Ini adalah pemberontakan, sebuah pernyataan cinta yang paling berani. --- Tangan Xiao Chen dengan cekatan membuka ikatan jubah Lin Yue. Kain sutra itu meluncur jatuh ke lantai dengan desiran lembut, *sreet*, meninggalkan Lin Yue dalam balutan pakaian dalam tipis yang nyaris transparan. Udara dingin menyentuh kulitnya, namun panas di dalam dirinya jauh lebih membara. Xiao Chen memandangnya, matanya yang gelap berkilau dengan hasrat yang tak terbendung. "Cantik," bisiknya, suaranya rendah dan memabukkan. Ia tidak menunggu jawaban. Tangan besarnya menyentuh pinggang Lin Yue, menariknya maju hingga tubuh mereka bersentuhan dari dada hingga paha. Lin Yue bisa merasakan kekerasan penis Xiao Chen yang sudah menegang, memanas melalui kain pakaian mereka. *Nnggh...* Lin Yue mendesah, kepalanya mendongak. Ia mencengkeram bahu Xiao Chen, kukunya sedikit menusuk kain bajunya. Bibir Xiao Chen kembali menghujam bibirnya, menciumnya dengan lapar, seolah ingin melahapnya. Lidahnya bergerak lincah, memilin, mengisap, dan Lin Yue merespon dengan erangan-erangan kecil yang tertahan di tenggorokannya. Xiao Chen menarik bibirnya, lalu menunduk. Ia berlutut di hadapan Lin Yue, tangannya meremas pahanya dengan lembut. Lin Yue terkesiap. Ia tahu apa yang akan terjadi. Matanya terpejam, rasa malu dan antisipasi bercampur aduk. Tapi ia tidak menghentikannya. Ia menginginkan ini, menginginkan sentuhan Xiao Chen yang mendalam, yang selalu membuatnya gila. Dengan gerakan cepat, Xiao Chen menarik celana dalamnya ke bawah, membebaskan mahkota kewanitaannya. Aroma samar dari tubuh Lin Yue, bercampur dengan kelembapan hasrat, menyeruak. Xiao Chen menundukkan kepala, bibirnya menyentuh kelopak dagingnya yang bengkak. Lin Yue tersentak, punggungnya melengkung secara refleks. *Schhlup... ngghh...* Xiao Chen mulai mengulum, lidahnya memutar-mutar di sekitar klitoris Lin Yue dengan ahli. Sentuhan basah dan panas itu mengirimkan gelombang kenikmatan yang begitu kuat, ia nyaris menjerit. Jari-jemari Lin Yue mencengkeram rambut Xiao Chen, menariknya lebih dekat, memohon lebih. *Slurp… schhlup… mm-ngh…* Suara isapan basah yang rakus itu memenuhi ruangan, beresonansi dengan detak jantung Lin Yue yang semakin menggila. Tubuhnya bergetar tak terkendali. Kaki-kakinya terasa lemas, ia nyaris jatuh jika bukan karena tangan Xiao Chen yang menopang pinggulnya. Setiap gerakan lidah Xiao Chen seolah tahu persis apa yang ia butuhkan, setiap titik kenikmatan yang tersembunyi. "Xiao Chen... ah... ya..." bisiknya, suaranya terputus-putus. Keringat dingin mulai membasahi dahinya, bercampur dengan panas gairah. Pikirannya kosong, hanya tersisa sensasi murni yang membanjiri seluruh keberadaannya. Ia akan meledak. Ia tahu itu. Semakin cepat Xiao Chen bergerak, semakin dekat ia ke jurang kenikmatan. Tiba-tiba, Xiao Chen berhenti, mengangkat wajahnya sedikit. Matanya yang gelap menatap Lin Yue, sebuah senyum nakal terukir di bibirnya. "Belum," bisiknya, suaranya seperti bisikan iblis penggoda. "Aku ingin kau lebih menginginkannya." Lalu ia kembali menyerang, kali ini lebih cepat, lebih dalam, lidahnya mencengkeram klitoris Lin Yue dengan kekuatan yang tak terduga. *Ah...—arghh, ah, aku mau... nggh-! Jangan... ah, tunggu... ah-as-taga...!* Lin Yue menjerit, suaranya tercekat di tenggorokan, berubah menjadi rintihan panjang yang hancur. Kakinya mengejang, pinggulnya terangkat, mencari tekanan yang lebih dalam. Sensasi itu terlalu kuat, terlalu memabukkan. Cairan kenikmatan membanjiri pangkal pahanya. Ia melihat kilatan cahaya di kegelapan, dunia berputar, lalu ia jatuh ke dalam jurang kenikmatan, tubuhnya bergetar hebat di puncak orgasme yang memekakkan. Xiao Chen bangkit berdiri, tubuhnya yang telanjang kini menempel erat pada Lin Yue. Kelembapan dari ciuman basahnya masih terasa di mahkota Lin Yue. Ia mengangkat tubuh Lin Yue, membiarkan kaki gadis itu melingkari pinggangnya. Tangan Xiao Chen meraih penisnya yang sudah mengeras, membasahinya dengan cairan Lin Yue, lalu menurunkannya perlahan, menekan ujungnya ke pintu masuk yang berdenyut. "Lihat aku, Sayang," bisik Xiao Chen, suaranya berat karena hasrat. Lin Yue membuka mata, napasnya terengah-engah, pandangannya kabur. Matanya bertemu dengan mata Xiao Chen, yang kini memancarkan api. "Rasakan aku di dalammu, sekali lagi. Milikku, hanya milikku." *Jleb... Blebeeessh...* Xiao Chen mendorong masuk, perlahan pada awalnya, membiarkan tubuh Lin Yue menyesuaikan diri. Lin Yue mendesah panjang, rasa sakit yang familier bercampur dengan kenikmatan yang luar biasa. Ia mengejan, otot-ototnya mencengkeram erat. Ini adalah bukti, bahwa di tengah kehancuran, mereka masih memiliki ini. Ikatan yang tak bisa diputus oleh dunia. "Terlalu lama," bisik Xiao Chen, lalu ia mulai bergerak. Lambat pada awalnya, lalu semakin cepat, semakin dalam. *Plak... plak... cproot... cproot...* Suara benturan kulit yang basah itu memenuhi ruangan, berpacu dengan napas putus-putus mereka. Setiap dorongan adalah sebuah penegasan, sebuah pemberontakan. Lin Yue memeluk leher Xiao Chen, kepalanya terkulai di bahunya, air mata mengalir lagi, bercampur dengan keringat. "Lebih... cepat... ah..." Lin Yue memohon, hasratnya tak terbendung. Ia ingin ini tidak berakhir, ingin setiap detik menjadi abadi. Tubuhnya bergerak selaras dengan Xiao Chen, pinggulnya naik turun, menyambut setiap dorongan dengan antusiasme yang membakar. Xiao Chen menggeram, *grrr... arrghh...*, napasnya memburu, tenggorokannya bergetar. Ia merasakan Xiao Chen semakin dalam, semakin cepat. Setiap sentuhan, setiap gesekan, adalah pernyataan cinta yang paling jujur. Itu menyakitkan, karena mengingatkan mereka pada kenyataan pahit, tapi juga begitu memuaskan, karena itu adalah momen curian, milik mereka berdua, melawan takdir yang kejam. Ia merasakan dinding-dindingnya berdenyut, mencengkeram lebih erat, dan kemudian, gelombang orgasme kedua menghantamnya, lebih kuat dari sebelumnya. *Sayang... ah, ya—ya ampun, aku... ah-nggh, akh-!* Lin Yue menjerit, suaranya pecah, tubuhnya menegang hebat. Kepalanya mendongak, merasakan sensasi familiar yang menguasai seluruh indranya. Detik berikutnya, ia merasakan denyutan dalam, semburan cairan panas membanjiri rahimnya. *Croot... croot...* Xiao Chen menggeram rendah, *Gh-h... Erghh... —ah!*, dan ambruk di atasnya, tubuhnya bergetar kelelahan. --- Napas mereka berdua masih memburu, memecah kesunyian yang mencekam. Aroma cinta dan keringat menguar di udara pengap paviliun. Tubuh Lin Yue terasa lemas, namun jiwanya dipenuhi kelegaan yang mendalam, sekaligus kepedihan yang tak terlukiskan. Ia memeluk Xiao Chen erat, tidak ingin melepaskan, tidak ingin momen ini berakhir. Xiao Chen mengusap punggungnya, ciuman ringan mendarat di puncak kepalanya. "Kau baik-baik saja?" bisiknya, suaranya serak namun penuh perhatian. Lin Yue hanya mengangguk, menyandarkan kepalanya di dada bidang Xiao Chen, mendengarkan detak jantungnya yang berangsur normal. Mereka berdua terdiam, menikmati kebersamaan yang dicuri ini. Di luar, suara jangkrik bersahutan, seolah merayakan keberanian mereka. Lin Yue memejamkan mata, mencoba mengukir setiap detail momen ini ke dalam ingatannya. Ini mungkin satu-satunya yang ia miliki. Jari-jemari Lin Yue bergerak tanpa sadar, mengusap bahu Xiao Chen, lalu naik ke lehernya. Ia merasakan kehangatan kulit Xiao Chen di bawah sentuhannya, merasakan otot-ototnya yang masih tegang. Saat tangannya mencapai sisi leher Xiao Chen, ia merasakan sesuatu yang kasar dan sedikit bengkak. Sebuah bekas gigitan. Jantung Lin Yue berhenti berdetak. Ia menarik tangannya sedikit, mencoba melihatnya dalam kegelapan yang remang-remang. Bentuknya jelas, dua lengkungan kecil tanda gigi, sudah membiru. Itu bukan miliknya. Ia tidak pernah menggigit Xiao Chen sekeras itu. Bahkan dalam gairah terliar mereka, ia tak pernah meninggalkan tanda seperti itu. Sebuah firasat buruk merayap, mencengkeram perutnya. Siapa yang meninggalkan tanda ini di leher Xiao Chen? Mungkinkah... Mungkinkah ada wanita lain? Lin Yue merasakan gelombang dingin menusuk tulang, mengalahkan panas yang tadi membakar. Ia menatap Xiao Chen yang masih terengah-engah dalam pelukan, sebuah pertanyaan beku tersangkut di tenggorokannya. Siapa yang berani menyentuh miliknya? Bekas gigitan itu terasa seperti cap kepemilikan. Cap kepemilikan dari orang lain. Saat mereka terengah-engah dalam pelukan, Lin Yue menyentuh bekas gigitan di leher Xiao Chen, sebuah tanda yang baru disadarinya, yang bukan berasal darinya.

End of Chapter 24