Udara malam menggigit kulit Xiao Chen, namun bukan dinginnya yang membuat sekujur tubuhnya merinding. Langkah kakinya terasa berat, setiap jejak di koridor sunyi rumah Klan Lin adalah pengkhianatan yang nyata, sebuah jejak dosa yang mengarah lurus ke pintu ukiran kayu mahoni di ujung lorong itu. Pintu kamar Nyonya Lin.
Pikirannya berputar tak keruan. Bayangan Lin Yue, wajahnya yang penuh harap, bisikan 'Tunggu' yang ia selipkan di kertas kecil, semua itu seolah memukul-mukul dinding kepalanya. Janjinya. Janji untuk melindunginya, untuk tidak membiarkan perjodohan itu terjadi. Dan kini, ia justru berjalan menuju ranjang wanita lain, ibu dari wanita yang dicintainya.
Sebuah rasa jijik mencubit hatinya, melilit perutnya. Ia merasa kotor, hina. Namun di balik rasa mual itu, ada nyala api yang membakar, dorongan yang lebih kuat dari rasa bersalah. Dorongan itu adalah janji. Janji yang akan ia penuhi, bahkan jika harga yang harus dibayar adalah kehormatan dirinya sendiri.
Tangannya terangkat, gemetar, berhenti di ambang pintu. Jemarinya ragu, tak sanggup mengetuk. Apa yang akan ia temukan di balik pintu itu? Apa yang akan ia lakukan? Ketukan ringan, hampir tak terdengar, lantas terdengar di tengah keheningan. Bunyi itu seperti membelah jiwanya.
Tidak ada jawaban segera. Detak jantung Xiao Chen berpacu, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Napasnya tercekat. Mungkin Nyonya Lin sudah tidur. Mungkin ia bisa kembali ke kamarnya, berpura-pura semua ini tak pernah terjadi.
Tiba-tiba, suara engsel berderit lirih. Pintu itu terbuka, perlahan, menampakkan celah sempit. Aroma melati dan cendana langsung menyergap indranya, memabukkan dan sensual. Aroma khas Nyonya Lin. Wangi itu menempel di otaknya seperti kenangan lama yang tak terhapus.
Celah itu melebar. Sosok Nyonya Lin berdiri di sana, hanya diselimuti sehelai jubah tidur satin berwarna gelap yang membalut lekuk tubuhnya dengan menggoda. Rambut hitamnya terurai bebas, membingkai wajahnya yang pias namun memancarkan aura misterius. Matanya yang tajam menatap lurus ke arah Xiao Chen, tanpa sedikit pun keraguan.