Chapter 20 of 24
Perjanjian Terlarang
347 words
Udara di dalam kamar terasa tebal, menyesakkan. Xiao Chen duduk bersila di atas tikar anyaman, punggungnya bersandar pada dinding kayu yang dingin. Malam telah larut, namun bayangan Lin Yue menari-nari di sudut matanya, setiap sentuhan, setiap bisikan mereka di kuil yang sunyi, terasa seperti bara api yang membakar ingatannya. Ia memejamkan mata, mengamati siluet jepit rambut giok yang tergenggam erat di telapak tangan. Benda itu terasa dingin, padat, sebuah janji yang kini tampak hancur berkeping-keping.
Sebuah surat dari Lin Yue, dengan hanya dua kata, 'Tunggu', terselip di balik ikat pinggangnya. Harapan tipis itu menempel pada seutas benang, hampir tak terlihat di tengah lautan kesedihan yang menggerogoti. Bagaimana ia bisa menunggu? Bagaimana ia bisa berdiam diri saat wanita yang dicintainya kini menjadi milik orang lain? Sebuah desiran pahit membanjiri kerongkongannya, rasa perih yang begitu nyata hingga ia bisa merasakannya di lidah.
Ia memutar tubuh, memandang ke luar jendela yang terbuka sebagian. Langit tanpa bulan, hanya bintik-bintik bintang yang menyemai kegelapan, seolah-olah alam semesta pun ikut berduka. Angin malam menyusup masuk, membawa aroma melati dari taman dan, entah mengapa, sentuhan samar parfum Nyonya Lin yang khas. Aroma itu, yang pernah begitu lembut, kini terasa seperti cengkeraman, mengingatkannya pada jari-jari lentik yang menelusuri lengannya, bisikan yang menusuk tepat ke inti ketakutannya.
Tubuhnya menegang. Nyonya Lin. Wanita itu telah melihat. Ia telah mengetahui. Pikiran itu berputar-putar di benaknya, sebuah rahasia yang terkuak, kini menjadi senjata yang diarahkan padanya. Ketakutan bercampur dengan rasa marah, bukan pada Nyonya Lin, melainkan pada dirinya sendiri. Ia gagal. Ia tidak bisa melindungi Lin Yue. Ia tidak bisa menepati janjinya. Dadanya terasa berat, sesak, seolah-olah ada beban tak kasat mata yang menindihnya.
Sebuah ketukan pelan terdengar di pintu. Xiao Chen tersentak, jepit rambut giok itu hampir terlepas dari genggamannya. Siapa? Malam sudah sangat larut. Ia bangkit, melangkah hati-hati menuju pintu. Jantungnya berdentum keras, memukul-mukul rusuknya seperti genderang perang. Ia membuka pintu, hanya selebar celah, dan melihat Nyonya Lin berdiri di ambang, bayangan lampu lentera yang dipegangnya menari-nari di wajahnya. Senyumnya samar, namun matanya memancarkan sesuatu yang tak terbaca, sebuah kilatan misterius yang membuat bulu kuduknya meremang.
---