Arak beras masih memenuhi udara di aula utama, bercampur aroma melati yang kental dari hiasan-hiasan pernikahan. Sebuah topeng perayaan yang mengiris hati. Xiao Chen berdiri di ambang pintu, serasa membeku di tengah pusaran kebahagiaan palsu. Matanya mengikuti punggung Lin Yue, yang kini melangkah menjauh, diselimuti sutra merah dan tudung berat, ditarik oleh takdir yang bukan miliknya.
Setiap langkah Lin Yue terasa seperti cambukan di dada Xiao Chen. Suara musik kecapi dan seruling yang riang berubah menjadi rintihan pilu di telinganya. Dia melihat tangannya yang mengepal, merasakan lipatan kertas kecil yang diselipkannya tadi. Kata ‘Tunggu’ terukir di sana, sebuah janji dan sekaligus kutukan yang menghantuinya.
Janji itu terasa begitu berat sekarang, seolah mengikatnya dengan rantai yang tak terlihat. Bagaimana dia bisa menepati sumpah itu? Bagaimana dia bisa mempertahankan Lin Yue dari cengkeraman Pejabat Fang yang kini sah menjadi suaminya? Pertanyaan-pertanyaan itu berputar dalam benaknya, memunculkan rasa mual yang pahit.
Pesta berlanjut di sekelilingnya, namun Xiao Chen merasa seperti patung, terpisah dari semua hiruk-pikuk. Tawa para tamu, obrolan riang, semuanya terasa begitu jauh, samar seperti suara di dalam mimpi buruk. Dia menatap ke arah pintu gerbang besar yang baru saja menelan bayangan Lin Yue, sebuah jurang memisahkan mereka.
Sebuah sentuhan ringan di lengannya membuat Xiao Chen terlonjak. Jantungnya berdebar kencang, sebuah alarm yang membingungkan. Dia menoleh, dan matanya bertemu dengan Nyonya Lin. Wanita itu berdiri terlalu dekat, aroma mawar dan cendana miliknya menyelimuti Xiao Chen seperti selubung lembut, mengusir sisa bau arak dari indranya.
Senyum Nyonya Lin tipis, namun matanya yang gelap memancarkan sesuatu yang lebih dalam, lebih tajam. Ada kilatan simpati di sana, bercampur dengan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat bulu kuduk Xiao Chen merinding halus. Jari-jari Nyonya Lin mengusap kain lengan bajunya, gerakan yang terlalu akrab untuk seorang nyonya kepada pelayannya.
“Xiao Chen,” bisiknya, suaranya rendah, nyaris tak terdengar di tengah keramaian, “Kau terlihat... kehilangan.”
Xiao Chen menunduk, mencoba menyembunyikan badai yang bergolak di dalam dirinya. “Nyonya,” suaranya serak, “Hamba hanya… sedikit lelah.”
Nyonya Lin tertawa kecil, seperti derik daun kering di musim gugur. “Lelah? Atau hatimu yang terluka, Nak?” Jemarinya bergerak naik, menyentuh tepi kerahnya, merapikan lipatan yang sebenarnya sudah rapi. Kontak itu terlalu lama, terlalu intens. Kehangatan kulitnya menembus kain, membakar kulit Xiao Chen.
Aliran darahnya berdesir, bukan karena amarah, melainkan karena kebingungan yang mengganggu. Rasa sakit karena kehilangan Lin Yue tiba-tiba bercampur dengan sensasi aneh yang ditimbulkan oleh sentuhan Nyonya Lin. Ini salah, pikirnya. Semua ini salah.
“Nyonya terlalu baik,” Xiao Chen menarik diri sedikit, punggungnya menabrak pilar kayu ukiran. Dia berusaha menjaga jarak, namun Nyonya Lin hanya tersenyum tipis, langkahnya maju, menutup celah yang baru saja ia ciptakan. Matanya tidak beralih dari wajah Xiao Chen, menelanjangi setiap emosi yang coba ia sembunyikan.
“Tidak perlu berpura-pura, Xiao Chen,” Nyonya Lin berbisik lagi, suaranya kini lebih dekat, hampir menyentuh telinganya. “Aku tahu apa yang kau rasakan. Aku melihatnya. Aku merasakan kepedihanmu.” Tangannya kini menyentuh dadanya, tepat di atas jantung yang berdebar tak karuan. Sentuhan itu ringan, namun menghunjam ke dalam.
Napas Xiao Chen tertahan. Nyonya Lin tahu. Dia tahu. Rasa takut menjalar di tulang punggungnya, dingin dan mencekam. Namun, di bawah rasa takut itu, ada riak lain, aneh dan memabukkan. Sentuhan Nyonya Lin, meski menakutkan, juga mengandung kehangatan yang tak terduga, seolah ingin meredakan lukanya.
“Keluarga Lin telah membuat banyak pengorbanan untuk nama baik,” Nyonya Lin melanjutkan, suaranya berubah menjadi lebih gelap, lebih pahit. “Tidak semua takdir seindah yang kita bayangkan saat masih muda, bukan?” Sebuah jari ramping mengusap rahangnya, naik perlahan ke pelipisnya. “Dunia ini kejam, Xiao Chen. Kau dan Lin Yue… kalian hanya anak-anak yang tersesat dalam badai.”
Kepala Xiao Chen mulai berdenyut. Aroma mawar dan cendana kini terasa begitu kuat, hampir memusingkan. Dia bisa merasakan napas Nyonya Lin di kulitnya, hangat dan lembab. Pikiran tentang Lin Yue, tentang janji mereka, terpecah belah oleh sensasi yang asing dan terlarang ini. Nyonya Lin tahu segalanya, dan alih-alih menghukumnya, wanita itu malah... menggoda.
“Nyonya,” Xiao Chen mencoba berbicara, namun suaranya tercekat. Tenggorokannya kering, dan kata-kata tidak mau keluar. Dia ingin melarikan diri, namun kakinya terasa terpaku. Gairah yang ditawarkan Nyonya Lin, di tengah kerapuhannya, adalah racun yang manis, mengancam untuk menenggelamkannya.
“Kau begitu polos, Xiao Chen,” Nyonya Lin tersenyum, senyum yang tidak sampai ke matanya. Dia mencondongkan tubuh sedikit lagi, sampai dada mereka hampir bersentuhan. Suhu tubuh Nyonya Lin terasa menembus pakaiannya, memicu respons yang tidak ia inginkan. “Kau berpikir dunia ini adil. Kau percaya cinta bisa mengalahkan segalanya.”
Jari Nyonya Lin menyusuri garis leher Xiao Chen, melambat di jakunnya. Xiao Chen menelan ludah, gerakan yang terasa begitu jelas di bawah sentuhan wanita itu. Tubuhnya menegang, setiap ototnya kaku. Hawa dingin dari pilar di punggungnya tidak mampu mengalahkan panas yang menyebar dari sentuhan Nyonya Lin. Dia adalah api, dan Xiao Chen adalah kayu kering yang siap terbakar.
“Namun, hidup lebih rumit dari itu,” bisik Nyonya Lin, matanya menatap dalam-dalam ke mata Xiao Chen, mencari sesuatu di sana. Ada kesedihan yang sama di tatapannya, kesedihan yang dalam, namun juga sebuah kebulatan tekad yang menakutkan. “Kadang, kita harus menemukan cara untuk melupakan. Cara untuk bertahan.”
Wanita itu membelai pipi Xiao Chen, matanya berkilat penuh keinginan, “Kau tahu, Xiao Chen, aku bisa membantumu melupakan rasa sakit ini… asal kau mau.”