Chapter 18 of 24

Perpisahan yang Menyakitkan

1.1k words

Jari-jemari para pelayan bergerak cepat, seperti kawanan kupu-kupu yang gelisah di pagi hari. Kain sutra terhampar, brokat emas memantulkan cahaya lentera yang berkedip. Lin Yue duduk kaku di depan cermin tembaga, menatap pantulan dirinya yang samar, asing. Pagi ini, ia bukan lagi dirinya. Ia adalah wadah, patung porselen yang akan diserahkan. Sebuah boneka takdir. Bau cendana dan melati, yang seharusnya menenangkan, kini terasa memabukkan, mencekik. Mei, pelayan pribadinya, bersenandung riang di sudut. Senyumnya lebar, matanya berbinar melihat tumpukan pakaian pengantin yang berkilauan. "Nona Lin akan menjadi pengantin tercantik di seluruh Lin'an! Tuan Fang sangat beruntung," bisiknya, suaranya dipenuhi kegembiraan yang tulus. Lin Yue merasakan gelombang mual. Bagaimana Mei bisa begitu bahagia? Bagaimana mungkin ia tidak melihat jurang di balik tirai sutra ini? Sebuah sisir giok dingin menyentuh kulit kepalanya, menarik rambut hitamnya menjadi sanggul rumit. Setiap tarikan terasa seperti tusukan kecil di hatinya. Keindahan yang dipaksakan ini terasa seperti belenggu, mengikatnya erat pada nasib yang tidak ia pilih. Ia memejamkan mata, mencari bayangan wajah Xiao Chen dalam gelap. Hanya di sana, dalam kegelapan kelopak matanya, ia bisa merasakan kehangatan jemari Xiao Chen yang menyentuh pipinya, bisikannya di kuil yang sunyi. "Nona Lin, mahkota phoenixnya." Suara Mei yang penuh kekaguman menariknya kembali. Mahkota emas berhiaskan batu giok dan mutiara diletakkan di atas kepalanya. Beratnya menekan ubun-ubunnya, terasa seperti beban seluruh klan Lin, seluruh harapan politik ayahnya, menimpanya. Ia mengangkat tangan, menyentuh tiara yang dingin. Ini adalah harga yang harus ia bayar. Perasaan sesak itu tak tertahankan. Napasnya tercekat, dadanya terasa nyeri. Ia bisa merasakan air mata menggenang di balik kelopak matanya, panas dan pedih, namun tak bisa ia biarkan jatuh. Sebuah noda kecil di riasan pengantinnya akan menjadi aib yang tak termaafkan. Ia harus kuat. Ia harus menjadi putri yang sempurna, bahkan jika hatinya hancur berkeping-keping di balik cadar. --- Langkah kakinya terasa hampa, meski gaun pengantinnya yang mewah bergoyang anggun. Ia dipimpin keluar dari kamarnya, melewati koridor panjang yang kini dihiasi lampion merah dan pita keberuntungan. Suara musik guqin dan seruling yang merdu mengalun, mengiringi setiap langkahnya yang gontai. Udara dipenuhi aroma hio dan anggur beras yang kuat, menandakan perayaan besar yang telah dimulai. Di luar, halaman utama dipenuhi tamu-tamu terhormat. Wajah-wajah asing tersenyum dan mengangguk, mata mereka memancarkan rasa ingin tahu dan kekaguman. Lin Yue merasakan tatapan mereka menembusnya, menilai setiap detail gaunnya, setiap gerak-geriknya. Ia adalah pusat perhatian, namun rasanya seperti ia adalah seorang tahanan di kandang emas. Sebuah pertunjukan yang megah, tanpa ia sebagai pemeran utamanya. Sebuah cadar merah tipis kini menutupi wajahnya, membiarkan pandangannya hanya sebatas bayangan dan warna-warna buram. Syukurlah, pikirnya. Cadar ini menyembunyikan mata merahnya, menyembunyikan kepedihan yang bergejolak di dalam dadanya. Ia tidak ingin ada yang melihat kerapuhannya. Tidak ada yang boleh tahu bahwa hatinya telah menjadi milik orang lain, orang yang tidak akan pernah bisa bersamanya. Ia melangkah maju, diapit oleh dua pelayan wanita yang tersenyum. Suara bisikan dan pujian berdengung di telinganya, namun tak satupun yang benar-benar sampai ke hatinya. Ia hanya mendengar detak jantungnya sendiri, berdebar kencang, teratur, namun seolah berteriak. Inilah akhir dari segalanya. Akhir dari mimpi yang ia rajut bersama Xiao Chen, di bawah temaram lentera ruang belajar, di sela-sela bait puisi yang mereka tukar. Kemudian, matanya menangkap sesuatu di antara kerumunan. Siluet tinggi, familiar, berdiri sedikit tersembunyi di balik pilar ukiran naga. Napas Lin Yue tercekat. Jantungnya berdenyut nyeri, seolah ditarik paksa. Xiao Chen. Ia ada di sana, di antara para pelayan dan tamu kelas bawah, matanya terpaku padanya. Meski wajahnya tertutup cadar, ia tahu Xiao Chen bisa merasakan tatapannya, merasakan kesedihannya. --- Upacara dimulai. Ia berdiri di samping sosok tinggi yang diyakininya adalah putra Pejabat Fang. Ia tidak berani menoleh, tidak ingin melihat wajah asing yang kini akan menjadi suaminya. Tangannya gemetar di dalam lengan baju brokatnya. Setiap kalimat yang diucapkan oleh master upacara, setiap ritual yang dilakukan, terasa seperti paku yang dipalu ke peti mati kebahagiaannya. Mereka mengikatnya, satu per satu, tanpa ia bisa melawan. Ia merasakan ayahnya, Pejabat Lin, berdiri tegar di sampingnya, suaranya penuh otoritas saat ia menyerahkan Lin Yue secara resmi. "Dengan ini, kuserahkan putri tunggalku, Lin Yue, kepada Tuan Fang sebagai istri yang sah, untuk mengikat tali persaudaraan antara dua klan." Kata-kata itu, yang seharusnya membanggakan, kini terasa seperti hukuman mati. Lin Yue ingin berteriak, ingin merobek cadar ini dan berlari, namun kakinya terpaku di tempat. Air mata, yang tadi ia tahan mati-matian, kini mengalir tak terbendung di balik cadar merahnya. Panas, asin, membasahi kain halus yang menutupi wajahnya. Ia merasakan pandangan Xiao Chen. Bahkan tanpa melihatnya secara langsung, ia tahu. Tatapan hancur itu, tatapan kepedihan yang sama yang kini meremukkan hatinya. Jurang antara mereka terasa begitu nyata, begitu dalam, tak terjangkau. Ia di atas panggung kemegahan, Xiao Chen di antara keramaian, terpisah oleh takdir yang kejam. Ia mendengar suara sang master upacara mengumumkan akhir dari ritual. Ini sudah selesai. Ia kini adalah milik klan Fang. Sebuah tangan besar meraih tangannya, membimbingnya melangkah. Tangan itu terasa asing, dingin, tidak seperti sentuhan lembut Xiao Chen yang selalu menghangatkan hatinya. Ia menelan isak tangisnya, bibirnya bergetar. Ia ingin berbalik, menatap Xiao Chen sekali lagi, menanamkan bayangan wajahnya dalam ingatannya. Tetapi ia tidak bisa. Tradisi melarangnya. Ia harus mengikuti suaminya yang baru, meninggalkan segalanya di belakang. Mengesampingkan cinta yang tumbuh bersamanya sejak kecil, mengubur janji-janji yang mereka ucapkan di kuil yang sunyi. Ia adalah Lin Yue, putri Pejabat Lin, yang kini telah menjadi bagian dari klan Fang. Itulah takdirnya, takdir yang ia benci sepenuh hati. --- Langkah-langkahnya terasa berat, setiap hembusan napas adalah perjuangan. Ia dibawa keluar dari aula utama, menuju kereta kuda yang telah menunggu untuk membawanya ke kediaman klan Fang. Kereta itu dihiasi mewah, sutra merah dan emas berkibar ditiup angin. Di dalamnya, kehidupannya yang baru akan dimulai, tanpa Xiao Chen. Sebuah kehidupan yang terasa kosong, hampa. Kepalanya terasa pusing, hatinya sakit tak terkira. Ia merasakan kehadiran orang-orang di sekitarnya, suara gembira, tawa yang tak sampai ke telinganya. Semuanya terasa jauh, seperti mimpi buruk yang enggan berakhir. Tubuhnya bergerak mekanis, mematuhi setiap perintah, setiap dorongan lembut dari para pelayan yang mengiringinya. Ia adalah benda, sebuah persembahan. Saat ia hampir mencapai kereta, pandangannya masih mencari Xiao Chen, sebuah harapan kecil berkedip di dadanya. Namun kerumunan itu terlalu padat, wajah-wajahnya terlalu banyak. Rasanya seperti ia benar-benar sendirian, terputus dari dunia yang ia kenal. Kaki kanannya sudah menapak ke pijakan kereta, siap masuk ke dalam kegelapan yang menunggunya. Sebelum ia dibawa pergi, Lin Yue merasakan sebuah tangan menyelipkan secarik kertas kecil ke telapak tangannya. Sentuhan itu cepat, nyaris tak terasa, namun begitu familiar. Jantungnya melonjak, berdebar kencang, memukul-mukul dadanya seperti burung terperangkap. Ia tahu tangan siapa itu. Diam-diam, dengan gerakan nyaris tak terlihat, ia menggenggam erat kertas itu. Di balik cadar, pandangannya terpaku pada secarik kertas kecil yang ia rasakan di telapak tangannya, tulisan tangan Xiao Chen yang familiar di atasnya hanya satu kata: 'Tunggu.'

End of Chapter 18

Chapter 18: Perpisahan yang Menyakitkan - Takdir Sang Pendamping Tinta | Novel AI Studio