Chapter 17 of 24
Ciuman Terakhir
1.5k words
Udara malam menyelinap melalui jendela paviliun, membawa serta aroma melati dan rasa dingin yang menusuk. Lin Yue menggigil, bukan karena suhu, melainkan karena getaran yang melanda seluruh tubuhnya. Sepanjang sore, senyum cerah Mei saat berbicara tentang putra Pejabat Fang, tamu baru di kediaman mereka, bagai palu godam yang menghantam jantungnya berulang kali. Setiap tawa Mei terasa seperti pasir yang menggerus harapan tipis Lin Yue.
Ia menyentuh jepit rambut giok di mejanya, hadiah dari Xiao Chen setahun yang lalu. Permukaan giok itu terasa dingin, namun di benaknya, ia bisa merasakan kehangatan tangan Xiao Chen saat pertama kali menyematkannya di rambutnya. Kala itu, janji mereka terasa begitu nyata, begitu kuat. Kini, janji itu terancam hancur, terkubur di bawah tumpukan tradisi dan ambisi klan yang tak terbantahkan.
Napasnya terasa sesak. Malam ini. Hanya malam ini. Sebuah pertemuan singkat, perpisahan yang mungkin akan abadi. Air mata menggenang di pelupuk matanya, namun ia menahannya. Tidak sekarang. Ia butuh kekuatan, butuh setiap serpihan keberanian untuk melakukan apa yang harus dilakukan.
Gaun sutra malamnya terasa berat, membelenggu geraknya. Ia melonggarkan ikatan di pinggang, membiarkan kain itu sedikit lebih longgar, seolah memberi ruang bagi jantungnya yang berdebar gila-gilaan. Pikirannya melayang pada Xiao Chen. Pria itu, shudong-nya, belahan jiwanya, yang kini entah bagaimana harus dihadapinya untuk mengucapkan selamat tinggal yang tak pernah mereka bayangkan.
Gerbang utama telah dikunci, para penjaga berpatroli, namun Lin Yue tahu celah rahasia di dinding belakang taman, di balik rimbunnya pohon willow tua. Sebuah jalan tikus yang dulu sering mereka gunakan saat masih kanak-kanak, bermain petak umpet, berbagi rahasia kecil. Kini, jalan itu akan menjadi saksi bisu perpisahan mereka.
Kakinya melangkah hati-hati melewati lorong gelap. Aroma dupa dan lilin sisa persembahan sore hari masih tercium samar. Bayangannya sendiri menari-nari di dinding, memanjang, memendek, seperti hantu yang mengikutinya. Setiap langkah adalah perjuangan, setiap desah napas adalah doa yang tertahan. Ia merasa terikat oleh harga diri keluarga, oleh kehormatan klan yang tak boleh ternoda.
Namun, di balik semua ikatan itu, ada Xiao Chen. Janji mereka di kuil, sentuhannya, bisikannya yang menghangatkan. Itu semua adalah jangkar yang menahannya agar tidak tenggelam sepenuhnya dalam keputusasaan. Tapi malam ini, jangkar itu mungkin harus dilepaskan.
Ia mencapai pintu belakang taman. Udara dingin langsung memeluknya. Suara jangkrik malam terdengar begitu nyaring, seolah meratapi nasibnya. Dinding batu yang kasar terasa dingin di ujung jarinya. Ia tahu Xiao Chen sudah menunggu. Jantungnya berdebar kencang, menggulirkan campuran rasa takut, rindu, dan putus asa. Ia tahu ini adalah taruhan terakhir mereka, sebuah perpisahan yang akan menghancurkan, atau mungkin, memberi mereka kekuatan untuk bertahan. Malam ini, kebohongan harus disemai, dan kebenaran harus dikubur.
---
Xiao Chen membenamkan dirinya lebih dalam ke bayangan rimbun rumpun bambu. Udara berbau tanah basah dan kembang melati yang mekar di malam hari. Setiap derit ranting, setiap desau angin, terasa seperti langkah kaki Lin Yue. Janji yang ia ukir di kuil itu masih bergaung di telinganya, *Aku tidak akan membiarkan perjodohan ini terjadi.* Tapi bagaimana? Bagaimana ia bisa menepati janji itu, sementara putusan Pejabat Lin sudah bulat, dan putra Pejabat Fang sudah tiba?
Tangannya mengepal erat, buku-buku jarinya memutih. Amarah dan keputusasaan merayap, membakar dadanya. Ia tidak bisa membayangkan Lin Yue berada di samping pria lain, berbagi ranjang, berbagi hidup. Pikiran itu terasa seperti belati yang mengiris hatinya. Ia ingat bagaimana Nyonya Lin tersenyum padanya, tatapan penuh arti, bisikan yang menyinggung hubungannya dengan Lin Yue. Itu ancaman. Sebuah permainan yang memuakkan, dan ia terjebak di tengahnya.
Lalu, ia melihatnya. Siluet ramping yang menyelinap dari balik paviliun, bergerak seperti bayangan di antara pepohonan. Lin Yue. Jantung Xiao Chen mencelos, lalu berdegup kencang, lebih cepat dari pacuan kuda. Gadis itu mengenakan gaun malam berwarna pucat, rambutnya tergerai sebagian, memancarkan aura rapuh namun memikat di bawah temaram rembulan.
Lin Yue mendekat, matanya mencari-cari dalam kegelapan. Ketika pandangan mereka bertemu, sebuah gelombang kelegaan dan duka yang mendalam menyapu dirinya. Ia melangkah keluar dari persembunyian, tanpa suara. Lin Yue tersentak, lalu pandangannya melunak, air mata mulai menggenang di sana. Tanpa kata, ia merentangkan tangan. Lin Yue menerjang ke pelukannya, tubuhnya bergetar hebat.
Pelukan mereka terasa putus asa, cengkeraman Xiao Chen mengerat di punggung Lin Yue, seolah ingin menarik gadis itu masuk ke dalam dirinya, menyembunyikannya dari dunia. Aroma tubuh Lin Yue, perpaduan bunga mawar dan sesuatu yang murni, memenuhi indra penciumannya. Ia menghirupnya dalam-dalam, mencoba mengukir aroma itu di ingatannya.
*Jangan pergi,* bisik Lin Yue, suaranya pecah, teredam di bahunya. Bisikan itu menembus pertahanan Xiao Chen, merobek hatinya. Ia tidak bisa menjawab. Hanya bisa mengeratkan pelukannya. Kemudian, bibirnya mencari bibir Lin Yue, sebuah sentuhan awal yang lembut, penuh keraguan, seperti ucapan selamat tinggal yang pahit.
Tapi kelembutan itu tak bertahan lama. Rasa asin air mata Lin Yue di bibirnya, keputusasaan yang mencengkeram, menyulut api di dalam dirinya. Ciuman itu berubah, menjadi lebih dalam, lebih menuntut. Ia mendorong lidahnya masuk, merasakan manisnya mulut Lin Yue, rasa yang sudah sangat ia kenal, rasa yang akan ia rindukan seumur hidupnya. Tangan Lin Yue mencengkeram kerah bajunya, menariknya lebih dekat, mengisyaratkan hal yang sama: *lebih, lagi, lebih banyak lagi*.
Ciuman itu menjadi binal, haus, sebuah tarian keputusasaan yang liar. Xiao Chen bisa merasakan setiap lengkung tubuh Lin Yue menempel padanya, lekuk pinggang yang ramping, desahan lembut yang keluar dari bibirnya. Ini bukan ciuman perpisahan yang tenang. Ini adalah ciuman terakhir yang merenggut napas, merobek hati, dan memantik gairah yang tak tertahankan.
Ia membalik tubuh Lin Yue, mendorongnya perlahan ke dinding paviliun yang dingin, tanpa melepaskan tautan bibir mereka. Lin Yue membalasnya dengan intensitas yang sama, kakinya melingkari pinggangnya, mendekatkan tubuh mereka sampai tak ada lagi jarak yang tersisa. Suara kecupan basah dan desahan tertahan memenuhi keheningan malam, menjadi satu-satunya melodi di antara dua jiwa yang tercabik-cabik oleh takdir.
---
Kemeja sutra Xiao Chen kini terasa basah oleh air mata dan keringat. Lin Yue mencengkeramnya erat, kuku-kukunya menggores punggung pria itu tanpa ia sadari. Ciuman mereka semakin dalam, semakin rakus, seolah ingin menelan satu sama lain, menyatukan diri hingga tak bisa dipisahkan lagi. Bibir Xiao Chen menjelajahi lehernya, mencicipi setiap inci kulit, meninggalkan jejak basah yang membakar.
*Sial,* bisik Xiao Chen, suaranya serak, penuh frustrasi. *Kau milikku, Yue. Hanya milikku.* Kata-kata itu, di tengah keputusasaan mereka, bagai janji yang mengikat, namun sekaligus menghancurkan. Lin Yue hanya bisa terisak, membenamkan wajahnya di ceruk leher Xiao Chen. Ia tak bisa bicara. Setiap kata terasa seperti luka baru.
Tangan Xiao Chen bergerak cepat, tangkas, mencari ikatan gaun di punggung Lin Yue. Jari-jarinya yang cekatan membuka kancing demi kancing, membuat kain sutra itu melorot, menyingkap bahu telanjangnya. Udara malam yang dingin menyentuh kulitnya, namun panas tubuh Xiao Chen yang menempel di belakangnya, yang menggosok lembut di bagian bawahnya, segera menghapus sensasi itu. Ia memejamkan mata, merasakan sentuhan yang akrab, sentuhan yang selalu bisa membuatnya terbang.
Kemudian, sentuhan itu berpindah ke payudaranya, meremas lembut, ibu jarinya bermain di puting yang mengeras. Desahan lolos dari bibir Lin Yue, tak tertahankan. Ini mungkin yang terakhir. Mungkin ini adalah kali terakhir ia merasakan sentuhan Xiao Chen, kali terakhir ia merasakan gairah ini. Rasa pahit itu bercampur dengan kenikmatan yang memabukkan, membuatnya ingin lebih, ingin mati dalam pelukannya.
Xiao Chen membalik tubuh Lin Yue, menatap wajahnya yang basah oleh air mata. Matanya gelap, penuh hasrat dan kesedihan yang sama. Ia mengangkat Lin Yue, membiarkan kaki gadis itu melingkari pinggangnya. Gaun sutra itu melorot sepenuhnya ke pinggangnya, meninggalkan tubuh bagian atasnya telanjang, terpapar pada rembulan dan tatapan memuja Xiao Chen.
*Lihat aku, Yue,* bisiknya, suaranya berat. *Jangan lupakan ini. Jangan lupakan bagaimana rasanya.* Kata-katanya menembus Lin Yue, memaksanya menatap mata pria itu, mengukir momen ini dalam ingatannya. Ia mengangguk, air mata masih mengalir deras. Ia tidak akan pernah melupakan. Tidak akan pernah.
Xiao Chen merendahkan tubuhnya, dan Lin Yue merasakan sensasi familiar, panas, keras, dan penuh hasrat yang masuk ke dalam dirinya. Ia mendongak, menjerit kecil. Itu bukan jeritan sakit, melainkan jeritan pelepasan, jeritan keputusasaan yang bercampur dengan kenikmatan. Ia mencengkeram bahu Xiao Chen, membiarkan tubuhnya bergerak mengikuti irama pria itu, sebuah tarian putus asa di bawah sinar rembulan.
Setiap dorongan terasa seperti janji yang diucapkan dan dirobek pada saat yang sama. Xiao Chen membenamkan wajahnya di leher Lin Yue, mengisap kulitnya, meninggalkan tanda kepemilikan. *Aku mencintaimu, Yue. Selamanya.* Bisikan itu, panas di telinganya, adalah satu-satunya kebenaran yang ia pegang. Mereka terus bergerak, semakin cepat, semakin binal, mencari pelarian dari kenyataan yang menyakitkan.
Klimaks datang dengan gelombang yang dahsyat, sebuah ledakan gairah yang bercampur dengan kesedihan yang tak tertahankan. Lin Yue menjerit, suaranya serak, tertahan, namun cukup untuk menggetarkan keheningan malam. Tubuhnya bergetar, otot-ototnya menegang, lalu luruh dalam kelelahan yang manis, bercampur pahit. Xiao Chen mengikuti, desahan berat keluar dari bibirnya, saat ia menumpahkan segala gairah, cinta, dan keputusasaan di dalam Lin Yue.
Napas mereka terengah, tubuh mereka bergetar. Hening kembali menyelimuti, hanya menyisakan suara jangkrik dan detak jantung mereka yang masih berpacu. Saat Xiao Chen menarik diri dari Lin Yue, ia melihat air mata mengalir dari mata Lin Yue, bercampur dengan ludah dan keringat mereka, sebuah janji terlarang yang tak akan pernah bisa mereka lupakan.