Pagi itu, udara di kediaman Lin terasa sesak, lebih berat dari biasanya. Lin Yue duduk di tepi ranjangnya, jemarinya meremas kain sutra seprai hingga buku-buku jarinya memutih. Matahari telah naik tinggi, membanjiri kamarnya dengan cahaya keemasan yang terasa dingin di kulitnya. Setiap detak jantungnya menggema di telinga, membawa serta ingatan janji yang terukir di kuil tua, janji yang kini terasa rapuh di ambang badai.
Sebulan. Hanya sebulan yang lalu, bibir Xiao Chen menyentuh bibirnya dengan gairah yang membakar, tangan kokohnya menopang pinggangnya saat mereka menyatukan diri di lantai kuil yang dingin. Aroma tanah dan dupa usang bercampur dengan wangi tubuhnya, menciptakan sebuah memori yang kini menjadi satu-satunya benteng dalam jiwanya yang terancam. Dia telah menyerahkan segalanya, bukan hanya tubuhnya, tetapi juga hatinya, takdirnya, pada lelaki shudong yang seharusnya tak pernah ia sentuh.
Sebuah janji terucap dalam bisikan, dikuatkan oleh desahan. Xiao Chen telah bersumpah untuk menghalanginya. Namun, bagaimana? Bagaimana seorang pelayan miskin bisa melawan keputusan seorang Pejabat Lin yang terpandang, keputusan yang telah diumumkan di hadapan seluruh klan dan bahkan kekaisaran? Pertanyaan itu berputar-putar di benaknya, setiap putaran membelit napasnya, menguras harapannya.
Ia memejamkan mata, mencoba mengusir bayangan wajah asing yang akan datang. Putra Pejabat Fang. Nama itu terasa seperti belati tumpul yang menggores dinding hatinya. Ayahnya tidak pernah bercerita banyak, hanya menyebutkan bahwa pemuda itu cerdas, berpendidikan, dan tentu saja, berasal dari keluarga terpandang yang setara. Semua kriteria yang sempurna di mata dunia, namun neraka di mata Lin Yue.
Gerimis halus mulai mengetuk jendela kayu, suara lembut yang seharusnya menenangkan justru memperparah kegelisahan. Lin Yue bangkit, langkahnya tanpa suara di atas lantai kayu yang dipoles. Ia meraih sebuah jepit rambut giok dari meja rias, hadiah dari Xiao Chen di festival lampion tahun lalu. Giok hijau itu terasa dingin di telapak tangannya, permukaannya halus, memantulkan sedikit cahaya samar.
Memori senyum Xiao Chen terlintas, senyum yang selalu berhasil mencairkan keraguan di hatinya, senyum yang menjanjikan sebuah dunia di mana kasta tidak lagi menjadi dinding. Kini, senyum itu terasa begitu jauh, bagai pantulan di permukaan air yang terusik. Ia ingin lari, ingin mencari Xiao Chen, membenamkan wajahnya di dada lelaki itu dan memohon agar semua ini hanyalah mimpi buruk.
Namun, ia adalah putri Pejabat Lin. Ia tidak bisa lari. Harga diri keluarga, kehormatan klan, semua itu adalah rantai tak terlihat yang mengikatnya erat. Ia hanya bisa menunggu, merasakan setiap detik berdetak menuju kehancuran yang tak terelakkan, atau, jika ada keajaiban, menuju sebuah perlawanan yang belum ia tahu bagaimana caranya. Ketakutan itu tumbuh, dingin dan tajam, menusuk ulu hatinya.
---
Suara langkah kaki yang ramai di koridor depan, disusul oleh derap kuda yang berhenti, mengoyak ketenangan palsu di kamar Lin Yue. Jantungnya melonjak, seolah ingin melarikan diri dari rongga dadanya. Ini dia. Waktu telah tiba. Pelayan pribadinya, Mei, masuk tergesa, wajahnya berbinar oleh kegembiraan yang naif.