Chapter 15 of 24

Chapter 15: Godaan Sang Nyonya

2.0k words

Xiao Chen sedang menyapu dedaunan kering di halaman belakang, sisa-sisa embun pagi masih menempel di ujung rambutnya. Sapu bambu di tangannya bergerak ritmis, menciptakan desir lembut di antara kesunyian. Pikirannya melayang pada Lin Yue, pada kehangatan tubuhnya yang baru saja ia rasakan di kuil yang sunyi itu, pada janji yang mereka ukir bersama di hadapan para dewa. Hatinya berdesir nyeri memikirkan perjodohan yang mengancam. Sebuah bayangan tipis jatuh di tanah berpasir di depannya. Xiao Chen mendongak, sapunya berhenti. Nyonya Lin berdiri di ambang pintu paviliun, mengenakan jubah sutra berwarna biru laut yang jatuh anggun hingga ke lantai. Rambutnya disanggul tinggi, dihiasi jepit giok sederhana, namun pesonanya memancar dengan cara yang lebih matang, lebih menuntut perhatian daripada Lin Yue. "Xiao Chen," suaranya lembut, nyaris seperti bisikan angin pagi, namun memiliki resonansi yang membuat bulu kuduknya merinding. "Rajin sekali kau." Xiao Chen membungkuk dalam, kepalanya nyaris menyentuh tanah. "Salam, Nyonya Besar. Hamba hanya menjalankan tugas." Ia berusaha agar suaranya terdengar datar, tak menunjukkan jejak apa pun dari gejolak batinnya. Nyonya Lin mendekat, langkahnya pelan, seperti kucing yang mengintai. Aroma bunga melati yang manis dan pekat mulai menusuk hidung Xiao Chen, bercampur dengan kehangatan kulitnya yang samar. Jarak di antara mereka menipis, membuat Xiao Chen merasakan tegangan yang tak terlihat. "Tugas?" Nyonya Lin terkekeh pelan, suaranya mengandung nada menggoda. "Apakah tugasmu hanya membersihkan kotoran daun ini, atau ada tugas lain yang lebih... menyenangkan?" Matanya memindai Xiao Chen dari ujung kaki hingga kepala, tatapannya berhenti sejenak pada bahunya yang lebar, lalu turun ke pinggangnya yang ramping. Pipi Xiao Chen terasa panas. Ia tahu Nyonya Lin tidak sedang membicarakan tugas-tugas rumah tangga biasa. Ini adalah permainan, dan dia merasa seperti pion yang baru saja didorong ke medan pertempuran. "Hamba tidak mengerti maksud Nyonya Besar," jawabnya, berusaha menjaga suaranya tetap tenang. Nyonya Lin mengulum senyum, bibirnya yang merah merekah membentuk kurva sensual. Jemarinya yang ramping, dihiasi cincin giok, terulur perlahan ke arah sapu bambu di tangan Xiao Chen. "Ah, anak muda. Selalu saja berpura-pura polos." Ujung jarinya menyentuh punggung tangan Xiao Chen yang memegang gagang sapu, sentuhan itu begitu ringan, nyaris tak terasa, namun mampu menyengat kulitnya. Xiao Chen menarik tangannya sedikit, refleksnya cepat, namun Nyonya Lin sudah menarik jemarinya kembali, seolah sentuhan itu memang tidak disengaja. Mata mereka bertemu. Di mata Nyonya Lin, ada kilatan yang sulit diartikan—kekuasaan, hasrat, dan sedikit kekejaman yang tersembunyi. "Apakah kau tahu," Nyonya Lin melanjutkan, suaranya merendah, "putriku, Lin Yue, dia begitu naif. Tidak tahu apa-apa tentang dunia ini." Ia mencondongkan tubuhnya sedikit, bibirnya mendekat ke telinga Xiao Chen, membuat napasnya yang hangat menerpa kulit leher Xiao Chen. "Terlalu banyak yang harus ia pelajari." Jantung Xiao Chen berdebar kencang, memukul-mukul rusuknya seolah ingin melarikan diri. Bau melati semakin kuat, memabukkan. Ia bisa merasakan kehangatan tubuh Nyonya Lin begitu dekat, dan bayangan Lin Yue melintas di benaknya, disusul oleh gambaran Nyonya Lin di kuil, mengintip. Apakah dia tahu? Seberapa banyak yang dia lihat? "Lin Yue adalah wanita yang cerdas, Nyonya Besar," kata Xiao Chen, suaranya sedikit serak. Ia mencoba menjaga jarak, menundukkan kepalanya lagi, menghindari tatapan langsung yang terasa seperti menjebak. Nyonya Lin mendengus, tawa kecilnya seperti lonceng perak yang dingin. "Cerdas dalam buku, mungkin. Tapi dalam hal lain... ah, dia masih bayi." Ia melangkah mundur, lalu berbalik, punggungnya menghadap Xiao Chen. "Ikutlah denganku, Xiao Chen. Ada beberapa gulungan sutra yang perlu dipindahkan dari ruang penyimpanan. Tanganmu yang kuat pasti berguna." Perintahnya terdengar mutlak, tak bisa ditolak. Xiao Chen merasakan tubuhnya kaku, namun ia tak punya pilihan. Ia meletakkan sapunya di dinding dan mengikuti langkah anggun Nyonya Lin menuju bagian belakang rumah, menuju ruang penyimpanan yang jarang disentuh, tempat yang lebih tersembunyi dari pandangan pelayan lain. Setiap langkah Nyonya Lin terasa seperti menariknya semakin dalam ke dalam rawa yang berbahaya. --- Ruang penyimpanan dipenuhi aroma kertas tua dan kayu cendana, udaranya pengap dan dingin. Cahaya matahari hanya masuk lewat celah kecil di atap, menciptakan garis-garis tipis di antara tumpukan kotak dan gulungan. Nyonya Lin menunjuk ke sebuah tumpukan gulungan sutra yang tinggi, terikat rapi dengan tali rami. "Gulungan ini," katanya, suaranya kini lebih formal, namun matanya terus mengawasinya. "Bawa ke perpustakaan Pejabat Lin. Hati-hati, itu tulisan tangan kaisar pertama." Xiao Chen mengangguk, mendekati tumpukan itu. Ia mengangkat salah satu gulungan, merasakan bobotnya yang lumayan. Saat ia membungkuk untuk mengangkat gulungan berikutnya, Nyonya Lin melangkah mendekat. Punggungnya tanpa sengaja menyentuh pinggul Xiao Chen, sebuah sentuhan singkat namun terasa disengaja. Xiao Chen menegang. Ia mencoba mengabaikannya, fokus pada gulungan di tangannya. Namun, kehangatan tubuh Nyonya Lin terasa menekan di belakangnya, mengganggu konsentrasinya. Ia bisa mendengar napasnya sendiri yang sedikit memburu. "Kau tahu," Nyonya Lin berbisik, suaranya merayap di telinganya. "Ayah Lin Yue, suamiku, dia terlalu sibuk dengan urusan negara. Sampai lupa bagaimana menghargai hal-hal kecil di rumah." Jari-jemarinya yang panjang dan ramping, yang baru saja menyentuh punggungnya, kini melayang di udara, nyaris menyentuh leher belakang Xiao Chen, seolah ingin merapikan anak rambutnya. Xiao Chen menggenggam erat gulungan sutra. "Pejabat Lin adalah pria yang terhormat dan sibuk, Nyonya Besar. Wajar jika perhatiannya terbagi." Ia berusaha menjaga suaranya tetap hormat, meski napasnya terasa tertahan di dada. "Terhormat, tentu saja," Nyonya Lin tertawa kecil, suara itu menggelitik telinganya. "Tapi kau, Xiao Chen, kau memiliki kekuatan yang berbeda. Kau punya gairah, energi yang membara di dalam dirimu." Sebuah jarinya kini benar-benar menyentuh kulit di belakang telinganya, mengusap pelan, mengirimkan sengatan listrik yang halus ke seluruh tubuh Xiao Chen. Tubuh Xiao Chen berkedut. Hasratnya, yang baru saja terbangun sepenuhnya oleh Lin Yue, kini terasa ditarik-tarik oleh kekuatan lain, kekuatan yang lebih tua, lebih berbahaya. Ia membayangkan jari-jari itu, bibir itu, dan sensasi yang ia rasakan di kuil kembali menyeruak. Rasa bersalah menggerogoti hatinya, namun tubuhnya tak mau patuh sepenuhnya. "Hamba hanya pelayan, Nyonya Besar," katanya, memalingkan wajah, berusaha menghindari sentuhan yang semakin berani itu. Ia bisa merasakan dadanya bergemuruh. Nyonya Lin menarik jarinya, namun kali ini ia melangkah ke depan, memblokir jalan Xiao Chen menuju pintu. Wajahnya begitu dekat, mata hitamnya yang besar menatap tajam ke dalam mata Xiao Chen. Aroma melati semakin intens, nyaris memusingkan. "Pelayan?" ia mencibir, bibirnya membentuk senyum tipis. "Seorang pelayan tidak akan memiliki tatapan seperti itu. Tatapan yang sama persis dengan yang kulihat di kuil tua itu." Bibirnya terbuka sedikit, memperlihatkan deretan giginya yang putih. "Penuh hasrat yang tak terkendali." Xiao Chen merasa darahnya mendidih. Dia tahu. Dia tahu segalanya. Ketakutan bercampur dengan rasa malu dan gairah yang tak terucapkan. Dia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering. "Nyonya Besar, saya..." "Tidak perlu menyangkal," Nyonya Lin memotongnya dengan nada memerintah. Ia mengangkat tangan, dan kali ini, ujung jari telunjuknya menyentuh bibir bawah Xiao Chen, mengusapnya perlahan. "Aku melihatnya. Aku melihat bagaimana kau memperlakukan putriku. Dengan gairah yang buas, tanpa sedikit pun rasa takut." Sentuhan itu begitu intim, begitu provokatif. Xiao Chen merasakan panas menjalari bibirnya, turun ke dadanya. Otot rahangnya mengencang, menahan dorongan untuk menarik diri atau malah, sebaliknya, membalas sentuhan itu. Rasa takut ketahuan berbaur dengan gejolak aneh di perutnya. "Apakah kau tahu," Nyonya Lin berbisik lagi, matanya berkelana ke bibir Xiao Chen, lalu turun ke lehernya. "Gairah semacam itu... tidak mudah ditemukan. Terutama pada pria yang sudah terbiasa dengan kekuasaan." Ia menghela napas panjang, dan dadanya yang berisi terlihat naik turun di balik jubah sutra birunya. Xiao Chen hanya bisa menatapnya, terperangkap. Perintah untuk pergi tidak pernah keluar dari bibirnya, atau bahkan dari pikirannya. Ia merasa tubuhnya sendiri berkhianat, merasakan sensasi yang seharusnya tidak ia rasakan, membayangkan hal-hal yang tidak seharusnya ia bayangkan dengan ibu dari wanita yang dicintainya. Ia menggenggam erat gulungan sutra itu, buku-buku jarinya memutih. --- Nyonya Lin melangkah mundur satu langkah, memberinya sedikit ruang, namun tatapan matanya tetap menguncinya. Ia menyilangkan lengannya di depan dada, jubah sutranya sedikit meregang, menonjolkan lekuk tubuhnya yang matang. Udara di antara mereka terasa tebal, dipenuhi ketegangan yang nyaris bisa disentuh. "Lin Yue," Nyonya Lin memulai, suaranya lebih tenang sekarang, namun setiap kata terasa seperti tetesan racun. "Dia adalah wanita yang dilindungi. Dia tidak tahu apa-apa tentang sisi lain kehidupan, tentang gairah yang membakar, tentang bagaimana seorang pria sejati bisa membuat seorang wanita menjerit kesenangan." Bibirnya melengkung sinis. Xiao Chen merasakan darahnya berdesir hebat. Kata-kata Nyonya Lin menusuk tepat ke inti pengalamannya dengan Lin Yue, ke momen paling intim mereka. Rasa bersalah melanda, disusul oleh kemarahan yang samar. Beraninya Nyonya Lin berbicara seperti itu tentang putrinya sendiri? "Lin Yue mencintaiku," kata Xiao Chen, suaranya rendah dan penuh tekad. Ia mencoba memancarkan kekuatan, menegaskan posisinya. "Dia adalah duniaku." Nyonya Lin tertawa lagi, kali ini lebih keras, lebih mengejek. "Dunia? Apakah duniaku ini cukup untuk membuatmu bahagia, Xiao Chen? Atau apakah kau merindukan sesuatu yang lebih... menantang? Sesuatu yang lebih... dewasa?" Matanya menelanjanginya dengan tatapan yang membakar, seolah bisa melihat langsung ke dalam jiwanya, atau lebih tepatnya, ke dalam celana dalamnya. Xiao Chen merasa sekujur tubuhnya terbakar. Otaknya berteriak untuk lari, untuk melawan, namun tubuhnya terasa seperti terpaku di tempat, merespons setiap sinyal yang Nyonya Lin kirimkan. Gairah yang baru saja ia rasakan bersama Lin Yue kini terasa ditarik-tarik, disalahgunakan, namun entah mengapa, juga terasa memikat dengan cara yang gelap. "Nyonya Besar, tolong..." Xiao Chen berbisik, berusaha menemukan kata-kata yang tepat, namun lidahnya terasa kelu. Ia bisa merasakan ereksi samar mulai terbentuk di balik kain celananya, dan itu membuatnya semakin panik. Pengkhianatan. Nyonya Lin melangkah mendekat lagi, kali ini begitu dekat hingga Xiao Chen bisa merasakan panas tubuhnya menembus kain tipis. Jemarinya yang dingin menyentuh kancing jubah luar Xiao Chen, mengusapnya perlahan. "Aku tahu apa yang diinginkan pria sepertimu, Xiao Chen. Bukan hanya cinta yang naif, tapi api yang membakar, sensasi yang menghancurkan." Ibu jarinya menyentuh jakun Xiao Chen, mengusapnya. Napas Xiao Chen tersengal. Ia bisa merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Bau melati semakin kuat, memabukkan, menenggelamkan semua rasionalitasnya. Ia bisa melihat setiap pori-pori di kulit Nyonya Lin, kilau tipis di bibirnya yang penuh. "Kau tahu, aku bisa memberimu lebih dari sekadar dunia." Nyonya Lin berbisik, suaranya serak dan menggoda, nyaris tak terdengar. "Aku bisa memberimu seluruh semesta. Aku bisa mengajarimu apa artinya menjadi seorang pria sejati, apa artinya memuaskan wanita hingga ke tulang sumsumnya." Jari Nyonya Lin kini turun, mengusap ringan dada Xiao Chen, tepat di atas jantungnya yang berdebar kencang. Sentuhannya terasa seperti membakar, membangkitkan semua sensasi yang baru saja ia alami, namun dengan intensitas yang lebih gelap, lebih terlarang. Matanya tak lepas dari mata Xiao Chen, tatapan yang menantang dan memprovokasi. Xiao Chen menutup matanya sejenak, mencoba mengusir bayangan Lin Yue, namun yang datang justru bayangan Nyonya Lin di kuil, bayangan mata Nyonya Lin saat mengintip, penuh hasrat yang sama buasnya dengan miliknya. Ia tidak bisa lagi menyangkal bahwa ada sesuatu yang beresonansi dalam dirinya, sesuatu yang kotor dan memikat. "Kau sangat muda, Xiao Chen," Nyonya Lin melanjutkan, suaranya merayu. "Dan sangat... kuat. Aku bisa merasakannya." Tangannya menyentuh lengannya yang berotot, mengusapnya dengan jemari yang dingin. "Kekuatan yang seharusnya tidak hanya dinikmati oleh satu gadis kecil." Tubuh Xiao Chen bergetar. Ia merasa seperti ada dua bagian dari dirinya yang saling berperang, satu berteriak untuk setia pada Lin Yue, yang lain tertarik pada jurang gelap yang Nyonya Lin tawarkan. Ini adalah godaan yang paling berbahaya, karena ia tahu ia memiliki kekuatan untuk menghancurkan, dan dihancurkan. Nyonya Lin tersenyum, senyum penuh kemenangan. Ia tahu dia telah menancapkan cengkeramannya. Dia melangkah semakin dekat, menekan dadanya yang montok ke lengan Xiao Chen, sentuhan yang tak bisa lagi disebut 'tak disengaja'. Panas tubuhnya meresap, membakar. "Kau tidak perlu khawatir tentang Pejabat Lin," bisik Nyonya Lin, suaranya meyakinkan. "Dia tidak akan pernah tahu. Kita bisa menyimpan rahasia kita sendiri, rahasia yang lebih dalam, lebih gelap dari yang kau miliki dengan Lin Yue." Sebuah desah kecil keluar dari bibirnya. Xiao Chen merasakan denyutan di selangkangannya semakin kuat. Ia membenci dirinya sendiri, namun ia tak bisa mengendalikan reaksi fisiknya. Rasa takut, gairah, dan kebingungan bercampur menjadi satu adukan mematikan di dalam dirinya. Ia menatap Nyonya Lin, matanya membelalak, terperangkap. Nyonya Lin mengambil satu langkah terakhir, merapatkan tubuhnya sepenuhnya ke hadapan Xiao Chen. Ia membungkuk perlahan, memperlihatkan belahan dadanya yang montok di balik kerah jubah sutranya yang terbuka. Aroma melati dan musk tubuhnya menyeruak, membanjiri indra Xiao Chen. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Xiao Chen, suaranya rendah, nyaris tak terdengar, namun menggema di seluruh tubuh Xiao Chen. "Kau tahu, Xiao Chen, aku bisa mengajarimu banyak hal yang belum pernah Lin Yue tahu."

End of Chapter 15