Chapter 14 of 24
Perjumpaan Canggung
1.3k words
Udara sore itu terasa lebih berat dari biasanya, menekan bahu Xiao Chen saat ia menyapu dedaunan kering di halaman belakang Paviliun Anggrek. Beberapa hari telah berlalu sejak malam di kuil tua, namun setiap embusan angin seolah membawa kembali bisikan janji dan sentuhan Lin Yue. Jantungnya masih berdebar kencang memikirkan konsekuensi, rasa takut bercampur dengan kebahagiaan terlarang yang menghangatkan. Sapu bambu di tangannya terasa hambar, gerakannya otomatis, pikirannya melayang jauh. Ia bertanya-tanya apakah Lin Yue merasakan ketegangan yang sama, apakah bayangan Nyonya Lin yang memata-matai mereka masih menghantui. Setiap langkah kaki di koridor seolah ancaman, setiap bayangan yang melintas di dinding seolah mata yang mengintai. Ketidakpastian ini merayap dalam dirinya, mencengkeram erat. Ia harus tetap tenang, bertindak seolah tidak ada yang terjadi, demi Lin Yue dan janji mereka. Ia mengepalkan jemarinya di batang sapu, kuku-kuku putih menekan keras kayu yang kasar. Aroma tanah basah dan daun kering memenuhi indra penciumannya, namun itu tak cukup mengusir kegelisahan yang mengendap dalam rongga dadanya. Ia mengangkat pandangan, memindai sekeliling, mencari sosok yang mungkin sedang mengawasinya. Tidak ada siapa-siapa, hanya hening. Namun, keheningan itu justru terasa mencekik, seolah menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih besar. Ia menghela napas panjang, paru-parunya terasa sesak. Tangannya mulai berkeringat, membasahi genggaman pada gagang sapu. Ia harus mengalihkan fokusnya, berkonsentrasi pada tugas yang ada di depan mata. Membiarkan pikiran melayang hanya akan membuatnya semakin gelisah, semakin rentan terhadap kecurigaan. Tapi sulit. Sangat sulit. Setiap sela waktu luang, setiap detak jantung yang berlebih, selalu membawanya kembali pada Lin Yue, pada kehangatan tubuhnya, pada bisikan cintanya. Mereka telah melampaui batas, mengikat takdir di hadapan dewa-dewa yang bisu. Kini, mereka harus menanggung risikonya bersama. Sebuah bayangan melintas di ujung matanya, mendekat perlahan dari balik deretan pohon bambu. Refleks tubuhnya menegang, otot-otot di punggungnya menegang seperti tali busur yang ditarik. Ia mencoba menenangkan diri, memaksa denyut jantungnya untuk tidak berpacu. Ia menundukkan kepala, pura-pura sibuk menyapu, namun telinganya menangkap suara langkah kaki yang lembut, mendekat tanpa tergesa. Sepatu brokat, ujungnya dihiasi sulaman benang emas. Itu Nyonya Lin. Aroma melati yang kuat, khas Nyonya Lin, perlahan menyusup ke indra penciumannya, membuat napasnya tertahan. Ia merasakan tatapan wanita itu menusuk punggungnya, seolah berusaha membaca setiap pikiran terlarang yang bersembunyi di baliknya. Xiao Chen menelan ludah, kerongkongannya terasa kering. Ini dia. Momen yang ia takutkan. Ia memaksakan diri untuk tegak, memutar tubuh perlahan, menghadap wanita bangsawan itu dengan ekspresi setenang mungkin. Senyum tipis mengembang di bibir Nyonya Lin, namun matanya yang tajam memancarkan sesuatu yang lain, sesuatu yang membuat bulu kuduk Xiao Chen merinding. Wanita itu mengenakan jubah sutra berwarna biru laut, rambutnya disanggul tinggi dengan jepit giok. Ia terlihat anggun, namun aura dominasi tetap terpancar kuat. "Xiao Chen," suaranya terdengar lembut, namun setiap suku kata memiliki bobot yang tidak biasa. "Kau rajin sekali." Pujian itu terasa seperti pedang bermata dua. Xiao Chen membungkuk dalam, memberikan hormat. "Terima kasih, Nyonya." Ia berusaha menjaga nada suaranya tetap datar, tidak menunjukkan sedikit pun kegugupan. Ia tidak berani menatap langsung mata wanita itu, memilih untuk fokus pada sulaman di ujung jubahnya. Sebuah jeda singkat menggantung di udara, terasa begitu panjang dan berat. Xiao Chen merasakan jantungnya berdebar di balik tulang rusuk, menabuh irama yang tergesa. Ia menunggu, tahu bahwa ini bukan sekadar kunjungan biasa untuk memuji kerajinannya. Ada sesuatu yang lain, sesuatu yang tersembunyi di balik tatapan Nyonya Lin. "Lin Yue... ia jarang terlihat di taman akhir-akhir ini, ya?" Nyonya Lin bertanya, suaranya sedikit merendah. Pertanyaan itu datang dengan cara yang terlalu kasual, terlalu santai. Tapi itu mengenai tepat sasaran. Xiao Chen merasakan percikan panik membakar di dadanya. Ia mengangkat wajahnya sedikit, menatap Nyonya Lin sekilas sebelum kembali menunduk. "Hamba kurang tahu, Nyonya," jawabnya, berusaha agar suaranya tidak bergetar. "Hamba hanya bertugas di area ini." Ia berharap jawabannya terdengar meyakinkan, tidak terlalu mencurigakan. Nyonya Lin memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya tidak lepas dari Xiao Chen. Senyumnya melebar sedikit, kali ini dengan nuansa geli yang aneh. "Kau ini, selalu saja rendah hati. Padahal kau adalah pendamping belajarnya, bukan?" Ada penekanan pada kata 'pendamping', seolah kata itu menyimpan makna tersembunyi yang hanya mereka berdua pahami. Xiao Chen merasakan pipinya memanas. Ia tahu Nyonya Lin pasti melihat sesuatu, mencurigai sesuatu. Kecurigaan yang telah lama ia pendam, kini semakin menguat. "Hamba hanya membantu Nona Lin dengan pelajaran, Nyonya. Terkadang membantu menyalin naskah atau mencari buku." Ia berbohong, memutarbalikkan fakta dengan hati-hati. Ia harus mempertahankan batas, menunjukkan bahwa hubungan mereka tidak lebih dari sekadar tugas dan kewajiban. Tapi Nyonya Lin tidak melepaskannya. "Begitukah? Jadi kalian tidak pernah... mengobrol tentang hal lain?" Nadanya menjadi semakin lembut, hampir seperti bisikan. Namun, kelembutan itu justru terasa lebih mengancam. Xiao Chen merasakan telapak tangannya semakin berkeringat. Ia bisa merasakan denyutan di pelipisnya. Pertanyaan itu terlalu dekat, terlalu personal. Ia harus berhati-hati. Sebuah kesalahan kecil saja bisa menghancurkan segalanya. "Hanya hal-hal seputar pelajaran, Nyonya," ia berujar pelan, suaranya hampir tidak terdengar. Ia berharap jawabannya akan mengakhiri percakapan ini, menghentikan Nyonya Lin dari penggalian lebih lanjut. Namun Nyonya Lin hanya mengangguk pelan, seolah tidak sepenuhnya percaya. Matanya menelusuri wajah Xiao Chen, mencari celah, mencari tanda-tanda kebohongan. "Lin Yue adalah gadis yang sensitif, kau tahu itu, Xiao Chen?" Nyonya Lin melanjutkan, nadanya kini beralih menjadi lebih melankolis. "Mudah terluka, mudah merasa kesepian. Terutama sejak... perjodohan itu." Kata 'perjodohan' keluar begitu saja dari bibirnya, sebuah pukulan telak bagi Xiao Chen. Ia merasakan perutnya mual. Itu adalah ancaman yang nyata, sesuatu yang ia dan Lin Yue berjanji untuk lawan. Nyonya Lin mengamati reaksinya. Matanya menangkap kedutan kecil di rahang Xiao Chen, tarikan napasnya yang mendadak lebih dalam. Sebuah seringai kecil muncul di sudut bibirnya. "Ia membutuhkan seseorang yang bisa membuatnya ceria, seseorang yang bisa membuatnya melupakan tekanan ini." Tatapannya kini beralih ke Xiao Chen, menembus sampai ke dasar jiwanya. Xiao Chen merasakan hawa dingin merayapi tulang punggungnya. Nyonya Lin tidak sedang berbicara tentang guru les atau pelayan biasa. Ia berbicara tentang seseorang yang memiliki kedekatan emosional dengan Lin Yue. Itu adalah tuduhan terselubung, sebuah jebakan yang Nyonya Lin bentangkan dengan hati-hati. "Nona Lin selalu terlihat ceria di hadapan hamba, Nyonya," Xiao Chen membalas, berusaha mengembalikan percakapan ke jalur yang aman. Ia mencoba untuk bersikap netral, tidak menunjukkan emosi apa pun. "Ia sangat bersemangat tentang pelajaran, dan selalu berbicara tentang masa depan studinya." Ia mencoba mengalihkan fokus dari perjodohan, dari Lin Yue yang sensitif, ke Lin Yue yang cerdas dan ambisius. Sebuah gambaran yang lebih disukai oleh Pejabat Lin. Nyonya Lin mendengus kecil, sebuah suara yang nyaris tidak terdengar. "Masa depan studinya, ya? Atau masa depannya dengan seseorang?" Pertanyaan itu dilontarkan dengan tajam, sebuah tembakan langsung yang menembus pertahanan Xiao Chen. Tubuhnya menegang, seluruh sistem sarafnya berteriak waspada. Ia tidak bisa lagi berpura-pura tidak memahami arah pembicaraan ini. Nyonya Lin tahu. Ia tahu, atau setidaknya ia sangat yakin. Xiao Chen merasakan tenggorokannya tercekat. Ia mencoba mencari kata-kata, namun tidak ada yang keluar. Kepalanya dipenuhi kekosongan, hanya suara detak jantungnya yang bergemuruh di telinganya. Ia takut untuk menjawab, takut untuk berbohong, takut untuk mengatakan yang sebenarnya. "Xiao Chen," Nyonya Lin mendekat, langkahnya pelan dan pasti, mengurangi jarak di antara mereka. Aroma melati semakin pekat, mengungkung Xiao Chen. Ia bisa melihat detail halus di wajah Nyonya Lin, kerutan tipis di sudut matanya, bintik kecil di bawah hidungnya. Jarak mereka kini begitu dekat, ia bisa merasakan kehangatan tubuh Nyonya Lin memancar ke arahnya. Wanita itu mengangkat tangannya, jemarinya yang ramping bergerak perlahan. Xiao Chen merasakan napasnya tertahan. Ia ingin mundur, namun kakinya terasa terpaku di tanah. Ia tidak bisa bergerak. Nyonya Lin mendekat, jari-jarinya menyentuh lengan Xiao Chen seolah tak sengaja, dan bisikannya, "Apakah kau merindukan seseorang, Xiao Chen?" terasa seperti sentuhan api.