Chapter 13 of 24
Chapter 13: Bayangan yang Menghantui
1.3k words
Nyonya Lin's breath hitched, a sharp, ragged sound that caught in her own throat. Udara dingin kuil yang ditinggalkan itu terasa menyesakkan, seolah setiap hembusan napasnya sendiri bisa mengkhianatinya. Di celah pintu kayu yang sudah lapuk, sebuah pemandangan terlarang terhampar, mengoyak ketenangannya seperti kain sutra yang dirobek paksa. Matanya melebar, pupilnya membesar, berusaha menelan setiap detail yang samar di antara bayangan yang menari. Dua sosok, terjalin rapat di atas tikar usang yang digelar di lantai batu, bergerak dengan ritme yang memabukkan. Lin Yue, putrinya, dengan rambut panjang terurai acak-acakan, lehernya mendongak, bibirnya sedikit terbelah. Di bawahnya, sesosok tubuh pria yang tak asing lagi. Xiao Chen. Jantung Nyonya Lin berdebar liar, memukul rusuknya seperti genderang perang. Bukan hanya amarah yang membakar, tetapi juga gelombang panas yang aneh, menjalar di perutnya. Rasa mual melilit, bercampur dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih memalukan. Dia menekan telapak tangan ke bibirnya, mencoba membungkam desahan terkejut yang nyaris lolos. Kepala Lin Yue terhuyung, matanya terpejam, dan dari bibirnya yang bengkak, terdengar rintihan pendek. *Ah...* Nyonya Lin merasakan tanah berputar di bawah kakinya. Putrinya. Putri tunggalnya, yang selama ini ia jaga dengan segenap jiwa dan raga, kini bergelut dalam perbuatan najis dengan seorang *shudong*. Seorang pelayan. Bayangan gerakan tubuh mereka tercetak tajam dalam benaknya, meski pandangannya masih terhalang kusen yang sempit. Sebuah tangan, telapaknya lebar dan jari-jarinya kuat, menggenggam pinggul Lin Yue, mengangkatnya sedikit. Kemudian bunyi yang basah, dalam, dan serak mengisi keheningan kuil. *Plak... plak...* Nyonya Lin merasa darahnya mendidih. Dia ingin berteriak, menghentikan kekejian ini. Tapi kakinya terpaku, seolah akar tak kasat mata telah mencengkeramnya di ambang pintu. Sebuah kekuatan aneh menahannya, bukan dari luar, melainkan dari dalam dirinya sendiri. Dia melihat punggung telanjang Xiao Chen yang berkeringat, otot-ototnya menegang setiap kali ia mendorong. Pundak lebar itu, yang dulunya hanyalah bocah kurus, kini memancarkan kekuatan yang brutal. Setiap sentakan membuat tubuh Lin Yue melengkung, merespons setiap hantaman, seolah putrinya tak punya keinginan lain selain menerima. Rintihan Lin Yue semakin panjang, bercampur dengan napasnya yang putus-putus. *Ngh... ahh...* Suara itu, seharusnya membuatnya jijik, justru membuat napas Nyonya Lin ikut memberat. Sebuah memori samar melintas, kilasan masa lalu yang telah lama ia kubur. Gairah terlarang yang pernah ia rasakan, kini bangkit kembali dengan kekuatan yang mengerikan. Dia membenci dirinya sendiri karena sensasi ini. Kebencian itu panas, membakar. Tapi panas lain juga menjalari tubuhnya, merayap dari pangkal paha hingga ke dadanya, membuat ujung putingnya mengeras. Dia mengutuk perasaannya sendiri, mengutuk kelemahan tubuhnya yang merespons adegan dosa di hadapannya. --- Nyonya Lin mendorong daun pintu sedikit lagi, engselnya berdecit pelan. Kedua sosok di dalam tidak menyadarinya, terlalu larut dalam hiruk-pikuk gairah mereka sendiri. Kini pandangannya lebih jelas, lebih brutal. Xiao Chen mendongak, wajahnya merah padam, rambutnya lepek oleh keringat. Matanya terpejam erat, rahangnya mengatup, menahan geraman yang berat. Wajah polos nan menggemaskan yang sering ia lihat di perpustakaan, kini berubah menjadi topeng hasrat yang primal, buas. Tangan Lin Yue mencengkeram bahu Xiao Chen, kukunya menancap di kulit. Sebuah erangan panjang, nyaris melengking, lolos dari tenggorokannya. *Ah... mas—sial, ah, aku mau... nggh-!* Nyonya Lin merasa jantungnya tercekat. Mas? Lin Yue memanggilnya dengan sebutan itu, sebutan intim yang hanya pantas untuk suami. Perutnya bergejolak, campuran cemburu yang tak masuk akal dan kemarahan yang membabi buta. Bagaimana mungkin putrinya bisa begitu rendah? Begitu vulgar? Dia melihat gerakan pinggul Xiao Chen yang semakin cepat, semakin bertenaga. Benturan kulit terdengar seperti irama mematikan, mengisi ruang yang pengap. *Cproot... cproot...* Setiap dorongan membuat tubuh Lin Yue terangkat, terhempas kembali dengan suara basah. Nyonya Lin melihat tetesan keringat mengalir di punggung Xiao Chen, membentuk alur di otot-ototnya yang menegang. Perutnya rata, dan di sana, sedikit di atas pinggangnya, ada tanda lahir kecil berbentuk bintang. Detail-detail remeh itu, yang selama ini hanya ia lihat sekilas sebagai bagian dari seorang pelayan, kini terasa begitu intim, begitu telanjang di hadapannya. Sebuah pikiran menakutkan menyelinap masuk. Bagaimana jika Xiao Chen adalah seorang pria yang terampil? Bagaimana jika ia memiliki daya pikat yang begitu kuat, sampai putrinya tidak bisa menolak? Nyonya Lin membenci pertanyaan itu, membenci kemungkinan bahwa *shudong* rendahan itu bisa memiliki kekuatan seperti itu. Dia melihat Lin Yue menggigit bibir bawahnya, menahan rintihan yang lebih keras. Matanya kini sedikit terbuka, menatap kosong ke langit-langit kuil yang berdebu, seolah mencari pegangan pada kekosongan. Wajahnya memerah, napasnya tersengal, dan ada kilatan basah di sudut matanya. Air mata gairah. Nyonya Lin menelan ludah, tenggorokannya kering. Tubuhnya terasa panas, seperti terjemur di bawah terik matahari musim panas. Ia merasakan sensasi geli yang tak menyenangkan merayapi pangkal pahanya, sebuah respons tubuh yang tak diinginkan, sebuah pengkhianatan dari dagingnya sendiri. Dia memalingkan wajah sejenak, menekan pelipisnya. Ini salah. Ini menjijikkan. Ini tidak bisa diterima. Dia adalah Nyonya Lin, istri seorang Pejabat kekaisaran, seorang ibu dari putri bangsawan. Dirinya tidak pantas merasakan gejolak kotor semacam ini. Namun, matanya tak bisa menolak untuk kembali. Seperti magnet yang tak terlihat, pandangannya tertarik kembali pada adegan di hadapannya. Dia melihat betapa rapatnya Lin Yue menjepit pinggul Xiao Chen, betapa putrinya sendiri menikmati setiap dorongan, setiap hantaman. Sebuah erangan yang dalam, seperti desahan serak, keluar dari bibir Xiao Chen. *Grrr... arrghh...* Ketegangan di udara terasa begitu pekat, begitu menggoda. Nyonya Lin merasakan sesuatu di dalam dirinya mengencang. Naluri keibuannya menjerit untuk menghentikan ini, untuk melindungi putrinya dari aib dan kehancuran. Tapi di sisi lain, ada suara lain, bisikan yang lebih kuno, lebih gelap, yang mendesaknya untuk tetap melihat. Untuk tetap merasakan. --- Xiao Chen membungkuk, menanamkan ciuman brutal di leher Lin Yue, mengisap kulitnya dengan rakus. Tangan kirinya menjambak rambut Lin Yue, menengadahkan kepalanya lebih tinggi, memperlihatkan leher jenjang putrinya yang kini penuh dengan bercak merah. Sebuah desahan panjang dan merintih lolos dari Lin Yue, sebuah suara yang nyaris tak ia kenali sebagai suara putrinya. *Nnggh-! Jangan... ah, tunggu... ah-as-taga...!* Gerakan Xiao Chen semakin cepat, lebih tak terkendali. Matanya kini terbuka, menatap Lin Yue dengan tatapan yang membara, penuh hasrat yang tak terhingga. Ada keringat yang menetes dari dagunya, membasahi dahi Lin Yue. Nyonya Lin bisa melihat betapa Xiao Chen mencintai putrinya, betapa ia menginginkan Lin Yue sampai ke tulang-tulangnya. Perasaan itu, penglihatan itu, menusuk Nyonya Lin seperti belati panas. Cinta terlarang ini begitu kuat, begitu nyata. Dan itu membuatnya marah. Marah karena putrinya berani melanggar semua norma. Marah karena seorang pelayan bisa memiliki daya pikat seperti itu. Marah karena dirinya sendiri merasakan sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan. Nyonya Lin merasakan darahnya berdesir, bergejolak di seluruh tubuhnya. Sebuah tekanan aneh muncul di antara kedua pahanya, sebuah denyutan yang semakin kuat seiring dengan ritme Xiao Chen yang semakin cepat. Ia menggigit bibirnya, merasakan asin darah di lidahnya, mencoba mengalihkan perhatian dari sensasi memalukan itu. Xiao Chen mengeluarkan geraman berat, tertahan di tenggorokannya. *Gh-h... sial—ah!* Tubuhnya menegang, punggungnya melengkung, dan ia memompa dengan kekuatan terakhir yang tersisa, membenamkan dirinya sedalam mungkin. Lin Yue menjerit, sebuah jeritan yang pecah, penuh pelepasan. *Sayang... ah, ya—ya ampun, aku... ah-nggh, akh-!* Pada puncaknya, Xiao Chen mendesah serak, rahangnya mengatup erat. *Akh... nggh-shh...* Tubuhnya tersentak keras beberapa kali, dan Nyonya Lin bisa melihat, bahkan dari jarak ini, otot-ototnya berkedut hebat. Kemudian, dengan suara basah yang tak bisa disalahartikan, cairan hangat membanjiri bagian dalam Lin Yue. *Croot... croot...* Nyonya Lin merasakan kejutan yang aneh, seolah cairan panas itu memercik ke kulitnya sendiri. Lututnya melemas, hampir ambruk. Ia meraih kusen pintu, mencengkeramnya erat, buku-buku jarinya memutihkan. Bau keringat, bau gairah, bau sperma yang baru saja tumpah, menyeruak memenuhi udara, menusuk hidungnya. Xiao Chen ambruk di atas Lin Yue, napasnya terengah-engah, kepalanya terkulai di ceruk leher putrinya. Lin Yue hanya bisa terisak pelan, tubuhnya bergetar hebat di bawah beban Xiao Chen. Nyonya Lin menatap pemandangan itu, hatinya tercabik antara jijik dan gairah yang menggerogoti. Ia melihat lelehan sperma yang mengalir perlahan dari pangkal paha Lin Yue, membasahi tikar usang. Pemandangan itu vulgar, kotor, dan seharusnya hanya memicu kemarahan murni. Namun, di tengah semua itu, pandangan Nyonya Lin terpaku pada penis besar Xiao Chen yang memompa di antara paha putrinya, dan ia merasakan panas yang membakar menjalar di antara pahanya sendiri, sebuah pengkhianatan emosional yang tak ia duga.