Nyonya Lin mengamati jarum kaligrafi di tangannya, namun pikirannya tak juga tenang. Sudah seminggu sejak ia pertama kali melihat Lin Yue dan Xiao Chen bertukar pandang terlalu lama, tatapan yang sarat makna dan gairah tersembunyi. Gelagat canggung mereka, sentuhan yang terlalu dekat, bisikan yang tak sepenuhnya ia tangkap—semua itu berputar-putar di benaknya, membangun kecurigaan yang menyakitkan sekaligus memabukkan. Ia berusaha menekan gejolak itu, mengingatkan diri akan tugasnya sebagai penjaga kehormatan klan Lin, namun kenangan lama justru berkelebat, serupa bayangan hantu yang menggodanya. Perasaan aneh, rasa penasaran yang terlarang, menyelinap di antara kerutan keningnya. Ia menghela napas panjang, meletakkan pena dengan kasar, lantas bangkit dari meja. Ruangan terasa sesak, membelenggunya dengan segala kekhawatiran dan hasrat yang tak terucap.
Langkah kakinya membawanya berkeliling rumah, tanpa tujuan pasti. Biasanya, ia akan memeriksa persediaan beras di dapur atau meninjau kebun persik yang mulai berbuah, namun hari ini ia hanya ingin berjalan, menjauh dari pikiran yang terus-menerus mendera. Angin sore berembus pelan, menerbangkan helai rambutnya yang lepas dari sanggul. Ia melewati koridor panjang yang menuju ke bagian belakang kompleks, tempat kuil keluarga berdiri sunyi, jarang dikunjungi kecuali pada hari-hari persembahan. Debu tebal menyelimuti patung-patung dewa yang agung, dan aroma dupa lama masih samar-samar tercium di udara, membawa nuansa masa lalu yang pekat. Kuil itu selalu terasa dingin, seolah waktu berhenti di ambang pintunya yang kokoh.
Saat ia hampir melintas, sebuah suara samar menyapa telinganya, begitu lembut hingga nyaris tak terdengar di antara desir angin. Nyonya Lin menghentikan langkahnya, kepalanya sedikit miring, mencoba memastikan apa yang baru saja ia dengar. Bukan suara burung, bukan pula dedaunan yang bergesekan. Lebih mirip sebuah helaan napas, terputus-putus, seolah seseorang tengah menahan diri. Jantung Nyonya Lin mulai berdegup lebih cepat, sebuah irama tak beraturan yang menggema di rongga dadanya. Aliran darah terasa berdesir panas di bawah kulitnya, seperti bara api yang tiba-tiba menyala. Ia menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan kaku.
Nyonya Lin menatap pintu kuil yang tertutup rapat. Keheningan yang biasa menyelimuti tempat itu kini terasa janggal, seolah menyembunyikan sesuatu. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa itu hanyalah suara imajinasinya, pantulan dari pikirannya yang resah. Namun, naluri keibuannya berteriak, disusul oleh bisikan lain—bisikan gairah yang ia kenal, gairah terlarang yang pernah melintas di benaknya saat ia memergoki tatapan Lin Yue dan Xiao Chen. Sebuah kilasan memori melintas, bayangan masa mudanya sendiri yang penuh gejolak, sebuah rahasia yang terkubur dalam-dalam. Tubuhnya terasa menegang, campuran antara ketakutan dan rasa ingin tahu yang tak tertahankan.
Ia melangkah maju, perlahan, seolah takut mengganggu kesunyian yang ada. Setiap langkahnya terasa berat, kakinya seolah terbebani oleh beban yang tak terlihat. Udara di sekitar kuil terasa lebih dingin, namun wajah Nyonya Lin justru menghangat, pipinya merona merah samar. Ia berpegangan pada pilar kayu yang lapuk di samping kuil, napasnya tertahan, matanya terpaku pada pintu kayu berukir naga dan burung phoenix yang kusam. Debu halus menempel di ujung jari-jarinya, meninggalkan jejak kotor yang tak ia pedulikan sama sekali. Hanya suara-suara dari dalamlah yang menjadi fokus seluruh indranya, menguasai dirinya sepenuhnya.
Kemudian, suara itu terdengar lagi, lebih jelas kali ini. Sebuah desahan pendek, serak, seperti seseorang yang sedang menahan rasa sakit atau kenikmatan yang luar biasa. *Hnggh...* Sebuah erangan tertahan mengikutinya, sangat pelan, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Nyonya Lin meremang. *Ahh...* Tidak ada keraguan lagi. Ini adalah suara yang tidak seharusnya ada di kuil yang sunyi ini, suara yang hanya mungkin terjadi dalam keintiman yang paling dalam. Jantungnya berdebar kencang, memukuli tulang rusuknya seolah ingin keluar. Kepalanya terasa berputar, pusing oleh gelombang emosi yang campur aduk.
Kecurigaan berubah menjadi kepastian yang menusuk. Lin Yue. Xiao Chen. Merekalah yang ada di dalam sana, berdua. Rasa kaget dan amarah membanjiri Nyonya Lin, namun di bawahnya, ada denyut gairah lain, sebuah sensasi yang membakar dari dalam, mengingatkannya pada desakan-desakan yang pernah ia rasakan di masa lalu. Ia merasa cemas, takut akan konsekuensi yang akan menimpa putrinya, namun pada saat yang sama, ia merasakan tarikan aneh, rasa ingin tahu yang mendorongnya untuk menyaksikan kebenaran itu dengan mata kepalanya sendiri. Tangan Nyonya Lin gemetar, namun ia tidak mundur. Ia harus melihat, untuk mengkonfirmasi, untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu tertutup itu.
Kakinya bergerak tanpa diperintah, mendekati pintu. Udara terasa dingin di sekitar pergelangan kakinya, namun wajahnya justru memanas. Ia mendengar suara *plak... plak...* samar, disusul oleh desahan tertahan yang lebih intens. *Nnggh...* Suara rendah, dalam, seperti geraman kepuasan seorang pria juga ikut terdengar. *Grrr...* Nyonya Lin menahan napas, matanya membelalak sempurna. Otot-otot rahangnya mengencang, menahan napas yang terasa berat. Ia tidak bisa lagi menipu dirinya. Apa yang terjadi di dalam sana adalah sebuah perbuatan terlarang, sebuah pelanggaran besar terhadap norma-norma keluarga.
Jari-jari Nyonya Lin yang ramping terulur, menyentuh permukaan pintu kayu yang terasa dingin dan kasar. Ia merasakan tekstur ukiran naga yang usang di bawah sentuhannya. Kehangatan tubuhnya sendiri terasa kontras dengan dinginnya kayu. Ia menggeser kakinya sedikit, mencoba mencari celah, sebuah sudut pandang untuk melihat ke dalam. Pintu itu tertutup rapat, namun ia tahu ada celah kecil di antara dua panel yang tidak tertutup sempurna, sisa-sisa dari keretakan lama yang tak pernah diperbaiki. Matanya mencari, menemukan retakan itu. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan ia tahu, begitu ia melihat, tidak akan ada jalan untuk kembali. Sebuah keputusan tak terucap terukir di benaknya: ia harus tahu.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Nyonya Lin mendorong salah satu panel pintu yang sedikit longgar. *Kreeettt...* Suara kayu tua berderit pelan, memecah kesunyian. Ia membeku, takut suaranya akan terdengar oleh mereka yang ada di dalam. Namun, suara-suara dari dalam justru semakin intens, menenggelamkan derit pintu. Sebuah erangan panjang, penuh hasrat, meluncur dari bibir seorang wanita. *Ah... mas—sial, ah, aku mau... nggh-!* Dan desahan berat seorang pria. *Akh... nggh-shh...* Mereka terlalu larut dalam dunia mereka sendiri, terlalu sibuk dengan gairah yang membara, untuk menyadari kehadiran Nyonya Lin di luar.
Nyonya Lin menekan matanya ke celah sempit yang baru saja ia buka. Pandangannya menembus kegelapan remang-remang di dalam kuil. Debu beterbangan di udara, menari dalam cahaya redup yang berasal dari lentera kecil di sudut. Aroma aneh, campuran keringat dan sesuatu yang manis, menyeruak masuk. Melalui celah sempit itu, Nyonya Lin melihat bayangan dua tubuh yang menyatu, bergerak dalam ritme primal, dan ia merasakan napasnya tertahan, pandangannya terpaku pada pemandangan tak senonoh itu.