Chapter 11 of 24
Sumpah Tubuh dan Jiwa
2.3k words
Udara di dalam kuil tua itu terasa dingin, membawa aroma lembap lumut dan dupa basi yang telah lama padam. Debu tebal menyelimuti patung-patung dewa yang retak, seolah waktu sendiri telah berhenti berdecak di tempat suci yang ditinggalkan ini. Lin Yue berdiri mematung di hadapan Xiao Chen, napasnya tersangkut di tenggorokan, tiap embusan udara terasa membekukan paru-parunya. Matanya terpaku pada sosok pemuda di depannya, siluet tegap yang kini terasa begitu asing, namun sekaligus sangat dikenali.
"Lin Yue," bisik Xiao Chen, suaranya serak, memecah keheningan yang menyesakkan itu. Ia melangkah maju, mendekat perlahan, gerakannya seperti predator yang sabar mengintai mangsa, namun di matanya terpancar kelembutan yang memohon. Jantung Lin Yue berdegup tak karuan, iramanya bertalu-talu memukul rusuknya, seolah ingin melarikan diri dari sangkarnya.
Ia bisa merasakan hawa panas menjalar dari telapak kaki hingga ke puncak kepalanya, membakar setiap syarafnya dengan sensasi ganjil. Sebuah campuran rasa takut dan antisipasi yang aneh berputar-putar di benaknya, menciptakan pusaran emosi yang memabukkan. Apakah ia siap melangkah sejauh ini, menginjak batas yang tak pernah bisa ia tarik kembali?
"Kau yakin?" tanya Xiao Chen lagi, kini jarak mereka begitu dekat sehingga Lin Yue bisa merasakan kehangatan napasnya menerpa pipi. Aroma maskulin yang lembut, khas Xiao Chen, menyerbu indranya, mengikis sedikit demi sedikit benteng keraguan yang selama ini ia bangun. Matanya mencari, mencoba membaca keraguan di wajah Lin Yue, namun yang ia temukan hanyalah keterpukauan.
Lin Yue menelan ludah, tenggorokannya terasa kering dan kaku. Ia mengangguk pelan, gerakannya nyaris tak terlihat, namun itu sudah cukup bagi Xiao Chen. Keputusan itu terasa seperti melompat dari tebing yang tinggi, tanpa tahu apakah ada dasar di bawah sana, hanya keyakinan buta pada tangan yang akan menopangnya. Ia mengulurkan tangannya, jemarinya gemetar saat menyentuh lengan Xiao Chen.
Sentuhan itu seperti percikan api yang membakar hutan kering. Xiao Chen langsung menyambutnya, menggenggam jemari Lin Yue dengan kelembutan yang menghanyutkan, lalu menariknya mendekat. Tubuh mereka bertabrakan, menciptakan gesekan kain sutra dengan linen kasar, sebuah kontras yang memantik sensasi aneh. Lin Yue merasakan otot-otot di tubuh Xiao Chen menegang, antisipasi yang sama menjalari mereka berdua.
"Aku milikmu," bisik Lin Yue, suaranya nyaris tak terdengar, tenggelam dalam degup jantungnya sendiri. Kata-kata itu keluar begitu saja, tanpa ia sadari, sebuah pengakuan yang tulus dan membebaskan. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam momen yang terasa begitu sakral dan terlarang ini, menyerahkan diri sepenuhnya pada takdir yang telah mereka pilih.
Xiao Chen membungkuk, bibirnya menyapu bibir Lin Yue dengan lembut, sebuah ciuman pembuka yang lambat dan penuh makna. *Mmmuach...* Suara kecupan basah itu bergema samar di keheningan kuil, seolah menjadi saksi bisu atas sumpah yang tak terucapkan. Lin Yue membalas ciumannya, bibirnya yang kaku perlahan melunak, menerima setiap sentuhan, setiap isapan yang diberikan Xiao Chen.
Ciuman itu semakin dalam, semakin menuntut, seolah Xiao Chen ingin menyerap seluruh keberadaan Lin Yue ke dalam dirinya. Lidah mereka saling bertautan, menari-nari dalam irama gairah yang membara, mengirimkan gelombang panas ke seluruh tubuh Lin Yue. Ia merasakan pusing, namun bukan pusing karena kekurangan oksigen, melainkan pusing karena luapan emosi yang begitu kuat.
Xiao Chen melepaskan ciumannya sejenak, menatap mata Lin Yue yang kini setengah terpejam, berkaca-kaca karena gairah. "Cantik," bisiknya, ibu jarinya membelai lembut rahang Lin Yue. "Kau sangat cantik." Pujian itu terasa seperti sentuhan api, membakar pipinya hingga merona merah, namun di saat yang sama, memberikan keyakinan yang ia butuhkan.
Tangannya mulai bergerak, meluncur dari pinggang hingga ke punggung Lin Yue, membelai garis tubuhnya yang ramping di balik kain sutra gaunnya. Xiao Chen dengan sigap memutar posisi, mendorong Lin Yue hingga punggungnya bersandar pada salah satu pilar kayu tua yang lapuk. Dinginnya kayu terasa kontras dengan panas yang kini membakar kulitnya.
"Xiao Chen..." Lin Yue memanggil namanya, sebuah bisikan putus asa yang tersendat, antara memohon untuk berhenti atau meminta lebih. Ia tak bisa lagi membedakan mana yang ia inginkan, tubuhnya telah dikuasai oleh hasrat yang selama ini terpendam. Pikirannya kosong, hanya menyisakan sensasi yang membanjiri indranya, mengalir seperti lava pijar.
Xiao Chen tak menjawab, ia hanya tersenyum tipis, senyuman yang begitu menawan dan mematikan. Matanya menyiratkan tekad bulat, hasrat yang tak terbendung, dan sedikit kenakalan yang selalu Lin Yue sukai. Ia kembali menunduk, bibirnya menuruni leher jenjang Lin Yue, menghisap dan mengecup kulit lembut itu, meninggalkan jejak-jejak merah yang samar.
*Mwah... ngh... ah...* Desahan pendek lolos dari bibir Lin Yue, kepalanya mendongak, memberikan akses lebih pada Xiao Chen. Jari-jemarinya mencengkeram erat bahu Xiao Chen, kukunya menancap samar di kain linen, sebuah respons refleks atas sensasi yang membanjirinya. Udara dingin di kuil seolah tak lagi terasa, tergantikan oleh panas yang membara di antara tubuh mereka.
Xiao Chen dengan cekatan membuka ikatan gaun Lin Yue, kain sutra yang lembut itu meluncur turun dari bahunya, memperlihatkan kulit porselennya yang mulus di bawah cahaya temaram. Matanya memancarkan kekaguman, menatap Lin Yue seolah ia adalah harta karun paling berharga yang pernah ia temukan. Lin Yue merasa malu, namun tatapan itu juga memberinya kekuatan.
"Jangan takut," bisik Xiao Chen, suaranya berat dan rendah, menenangkan. "Aku akan menjagamu." Tangannya yang hangat kini menyentuh payudaranya, meremas lembut, ibu jarinya mengelus putingnya yang menegang. *Ngh...* Lin Yue memejamkan mata, sensasi itu begitu baru, begitu intens, hingga ia merasa seluruh tubuhnya bergetar hebat.
---
Xiao Chen dengan cepat berlutut di hadapan Lin Yue, lututnya menyentuh lantai dingin kuil yang berdebu. Matanya menatap tepat ke arahnya, penuh pemujaan, namun juga hasrat yang membakar. Lin Yue terkesiap, menyadari apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Rasa malu dan gejolak gairah bercampur aduk, menciptakan gelombang sensasi yang tak terkendali di perutnya.
Ia bisa merasakan hawa panas menjalar dari bawah perutnya, menarik seluruh perhatiannya ke satu titik. Xiao Chen tersenyum tipis, senyuman yang menyiratkan kenakalan dan janji kenikmatan. Tangannya meraih pinggul Lin Yue, menariknya mendekat, membuat celah di antara pahanya semakin terbuka. Angin dingin seolah menari di antara kakinya, namun sensasi itu segera lenyap saat Xiao Chen menunduk.
*Sllrrp...* Suara basah itu menggema di keheningan, mengirimkan sengatan listrik ke seluruh tubuh Lin Yue. Lidah Xiao Chen yang hangat dan basah kini bermain-main di tengah pahanya, mengelus dan menjilat klitorisnya yang sudah membengkak. Lin Yue tersentak, punggungnya melengkung secara otomatis, tangannya mencengkeram pilar kayu di belakangnya dengan erat.
"Ah..." Desahan panjang lolos dari bibirnya, sebuah rintihan yang tidak bisa ia tahan lagi. Sensasi yang tak pernah ia bayangkan ini melumpuhkannya, membuat kakinya gemetar hebat, nyaris tak mampu menopang bobot tubuhnya. Xiao Chen semakin intens, lidahnya bergerak cepat dan keras, menghisap dan menjilat tanpa ampun, seolah ingin melahap seluruh esensinya.
"Xiao Chen... nggh... ini... ah..." Lin Yue mencoba berbicara, namun kata-katanya terputus oleh gelombang kenikmatan yang datang bertubi-tubi. Wajahnya memerah padam, peluh mulai membanjiri dahinya, matanya terpejam erat, menikmati setiap sentuhan yang diberikan Xiao Chen. Ini adalah pengalaman yang sama sekali baru, sebuah ledakan gairah yang tak tertahankan.
Gerakan Xiao Chen semakin cepat, semakin dalam, terkadang menembus hingga ke tenggorokannya, memenuhi seluruh dirinya dengan sensasi yang begitu liar dan memabukkan. Lin Yue bisa merasakan tubuhnya berdenyut, setiap ototnya menegang, bersiap untuk ledakan yang ia tahu akan datang. Ia tak bisa lagi menahan diri, hanya bisa membiarkan instingnya mengambil alih.
"Cepat... ah... lebih cepat... sayang..." bisiknya, suaranya serak dan putus asa. Tubuhnya sudah mencapai batasnya, ambang kenikmatan yang begitu dekat, namun terasa begitu jauh. Xiao Chen seolah mengerti, ia semakin menekan, menghisap dengan kekuatan yang luar biasa, membuat Lin Yue menjerit tertahan.
"Ah... mas... sial, ah, aku mau... nggh-! Jangan... ah, tunggu... ah-as-taga...!" Lin Yue menjerit, suaranya pecah, kakinya bergetar hebat sebelum akhirnya lututnya lemas. Ia meluncur turun, namun Xiao Chen dengan sigap menopangnya, menjaganya agar tidak jatuh. Tubuhnya kejang, melengkung dalam pelepasan yang dahsyat, cairan hangat membanjiri antara pahanya.
*Croot... croot...* Suara basah itu terdengar jelas di keheningan kuil, bercampur dengan desahan panjang Lin Yue yang kini hanya bisa terisak pelan. Kelelahan yang nikmat menyelimutinya, namun di saat yang sama, ia merasakan kelegaan yang luar biasa. Xiao Chen tetap di posisinya, membersihkan cairan itu dengan lidahnya, memastikan tak ada jejak yang tersisa di kulitnya.
---
Setelah beberapa saat, Xiao Chen bangkit, menatap Lin Yue dengan senyuman puas. Wajah Lin Yue masih merah padam, napasnya terengah-engah, matanya basah oleh air mata kenikmatan. Ia meraih tangan Xiao Chen, menariknya mendekat, merasakan kehangatan telapak tangannya yang mengikis rasa dingin di kulitnya. Ini adalah sensasi yang belum pernah ia alami sebelumnya, sebuah perpaduan yang aneh antara kepasrahan dan kebahagiaan.
"Kau luar biasa," bisik Xiao Chen, suaranya dalam, matanya memancarkan api. Ia mencium kening Lin Yue dengan lembut, lalu turun ke bibirnya, sebuah ciuman yang kini terasa lebih tenang, namun tak kalah dalam. Lin Yue membalasnya, melingkarkan lengannya di leher Xiao Chen, menariknya lebih dekat, seolah tak ingin ada jarak di antara mereka.
"Aku... aku tidak tahu..." Lin Yue memulai, suaranya masih bergetar. "Aku tidak pernah membayangkan..." Ia tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, karena Xiao Chen sudah memangkasnya dengan ciuman yang lebih dalam, menyerap semua kata-kata yang ingin ia ucapkan. Rasa malu perlahan memudar, digantikan oleh kehangatan dan rasa memiliki yang kuat.
Xiao Chen mengangkat tubuh Lin Yue, menggendongnya dalam pelukan erat, lalu mendudukkannya di atas sebuah altar batu yang rendah, yang dulunya mungkin digunakan untuk persembahan. Gaunnya yang sudah melorot di bahu, kini tersingkap lebih jauh, memperlihatkan pahanya yang mulus. Cahaya temaram lentera yang ia bawa hanya menambah kesan intim pada adegan itu.
"Jangan pikirkan apa pun sekarang, Yue-er," bisik Xiao Chen, tangannya membelai paha Lin Yue yang terbuka. "Pikirkan saja kita, di sini, sekarang." Ia mencondongkan tubuh, menekan bibirnya ke bibir Lin Yue, sebuah isapan lembut yang membuat Lin Yue kembali berdesir. Semua keraguan, semua ketakutan akan konsekuensi, seolah sirna di bawah sentuhan magis Xiao Chen.
Xiao Chen menarik napas dalam, memejamkan mata sejenak, seolah mengumpulkan seluruh kekuatannya. Tangannya kini bergerak ke bawah, membelai paha dalam Lin Yue, lalu berhenti di antara kedua kakinya. Lin Yue merasakan jantungnya kembali berdebar kencang, kali ini dengan irama yang lebih mendesak, lebih bersemangat, mengantisipasi sensasi yang akan datang.
"Xiao Chen..." Lin Yue berbisik lagi, suaranya nyaris tak terdengar. Ia bisa merasakan kehangatan jari-jari Xiao Chen yang menyentuh inti dirinya, sebuah sentuhan yang mengirimkan gelombang kenikmatan baru. Ia membuka matanya, menatap Xiao Chen, mencari jawaban atas semua pertanyaan yang tak terucapkan di matanya.
"Ini sumpah kita, Yue-er," kata Xiao Chen, suaranya serius, namun matanya tetap memancarkan gairah yang tak tertahankan. "Sumpah yang akan mengikat kita, tubuh dan jiwa, selamanya." Ia tersenyum tipis, sebuah senyuman yang begitu meyakinkan, menghapus sisa-sisa keraguan terakhir dari hati Lin Yue. Ia mengangguk, menyerahkan diri sepenuhnya.
Dengan gerakan yang perlahan, penuh kehati-hatian, Xiao Chen mulai mendorong masuk. Lin Yue merasakan sedikit nyeri, sebuah sensasi perih yang menyengat, namun rasa sakit itu segera bercampur dengan gelombang kehangatan yang membanjiri dirinya. Tubuhnya menegang, bibirnya mengatup erat, mencoba menahan desahan yang ingin meloloskan diri.
"Tenang, sayang..." bisik Xiao Chen, mengecup kening Lin Yue. "Biarkan aku memelukmu." Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Lin Yue, mengembuskan napas hangat, mencoba menenangkan Lin Yue. Perlahan, rasa sakit itu mereda, digantikan oleh sensasi penuh yang belum pernah ia rasakan sebelumnya, sebuah keintiman yang melampaui batas.
---
Xiao Chen mulai bergerak, pelan pada awalnya, memberi waktu bagi Lin Yue untuk menyesuaikan diri. Setiap dorongan terasa dalam dan penuh, memenuhi seluruh rongga intimnya dengan sensasi yang begitu baru. Lin Yue mencengkeram erat bahu Xiao Chen, matanya terpejam, menikmati setiap gesekan, setiap sentuhan yang kini menguasai dirinya sepenuhnya.
"Rasakan aku, Yue-er," bisik Xiao Chen, suaranya serak karena gairah yang tertahan. "Rasakan bagaimana aku mencintaimu." Kata-kata itu, di tengah-tengah keintiman yang begitu dalam, terasa seperti janji suci. Lin Yue merasakan aliran panas menjalar dari titik pertemuan mereka, menyebar ke seluruh tubuhnya, membakar setiap selnya dengan hasrat.
Ia mengangguk, tak mampu berkata-kata, hanya bisa merespons dengan desahan pendek yang lolos dari bibirnya. Ritme Xiao Chen semakin cepat, semakin intens, membuat tubuh Lin Yue berayun mengikuti setiap gerakan. Keringat mulai membanjiri punggungnya, lengket dan hangat, namun ia tak peduli. Dunia seolah lenyap, hanya menyisakan mereka berdua di dalam kuil tua ini.
*Plak... plak... cproot... cproot...* Suara benturan kulit yang basah dan dalam itu menggema di keheningan, bercampur dengan desahan Lin Yue yang kini semakin keras. Ia tak lagi mencoba menahannya, membiarkan setiap rintihan, setiap jeritan, lolos dari bibirnya. Rasanya seperti terbang, melayang tinggi di antara awan-awan kenikmatan yang tak berujung.
"Ah... ah... ya... ya ampun... Xiao Chen..." Lin Yue menjerit, kepalanya mendongak, matanya terpejam erat. Otot-otot di tubuhnya menegang, kakinya mencengkeram pinggang Xiao Chen dengan erat. Ia bisa merasakan gelombang kenikmatan lain yang datang, lebih kuat, lebih dahsyat dari sebelumnya. Tubuhnya bergetar tak terkendali, mencapai puncak yang memabukkan.
Xiao Chen menggeram rendah, *grrr... arrghh...* ia membenamkan wajahnya di leher Lin Yue, mendorong masuk lebih dalam, lebih cepat. Tubuhnya bergetar hebat, merasakan jepitan otot Lin Yue yang maksimal, sebuah tanda bahwa ia juga mencapai puncaknya. Ia mengerang, rahangnya mengatup erat, menahan pelepasan yang dahsyat.
"Gh-h... sial—ah!" desahnya, tubuhnya menegang kaku, lalu ia merasakan semburan cairan panas membanjiri dinding intim Lin Yue. *Croot... croot...* Suara basah itu menjadi penutup dari badai gairah mereka. Mereka berdua terengah-engah, tubuh mereka terkulai lemas di atas altar, saling berpelukan erat, napas mereka berpadu.
Kelelahan yang nikmat menyelimuti Lin Yue, ia merasa begitu ringan, namun di saat yang sama, begitu berat oleh emosi yang campur aduk. Ia telah melewati batas, telah menyerahkan segalanya. Sebuah rasa takut yang dingin merayapi hatinya, namun juga kelegaan yang mendalam. Mereka telah mengikat sumpah, sumpah yang tak bisa diputuskan oleh siapa pun.
Xiao Chen menarik diri perlahan, melepaskan dirinya dari Lin Yue. Lin Yue merasakan kekosongan yang dingin saat tubuh mereka terpisah, namun kehangatan dari Xiao Chen masih meresap di kulitnya. Ia membuka mata, menatap Xiao Chen yang kini menatapnya dengan tatapan penuh cinta dan penyesalan. Di mata itu, ia melihat bayangan masa depan mereka, tak pasti namun terikat erat.
Saat tubuh mereka terlepas, Lin Yue melihat jejak darah di paha dalamnya, bukti fisik dari sumpah mereka, dan ia tahu bahwa takdir mereka kini terpaut oleh benang merah yang tak terlihat, namun tak bisa diputuskan.