Chapter 10 of 24

Janji Terukir di Kuil Sunyi

2.9k words

Udara di balik pilar terasa dingin menusuk, namun Nyonya Lin tak bergeming. Dari celah sempit antara ukiran kayu tua, matanya tak lepas dari dua bayangan di ruang belajar. Lentera temaram membiaskan cahaya jingga pada punggung Xiao Chen yang kini berdiri begitu dekat dengan meja Lin Yue. Terlalu dekat. Tubuh mungil putrinya sedikit condong ke arah pemuda itu, seolah tak sadar batas, atau mungkin tak peduli lagi. Nyonya Lin menahan napas. Ia sudah mencium bau ini sejak beberapa minggu lalu. Gelisah aneh pada Lin Yue setiap kali Xiao Chen mendekat, tatapan yang terlalu lama tertahan, dan bisikan-bisikan yang terputus mendadak saat ia melintas. Semua gestur canggung itu kini menemukan pembenarannya. Xiao Chen membungkuk, menunjuk aksara pada gulungan kertas di hadapan Lin Yue. Sekilas terlihat seperti pelajaran biasa. Tapi mata Nyonya Lin tak tertipu. Jari Xiao Chen tidak hanya menunjuk aksara; ujungnya bergesekan, sesaat, dengan punggung tangan Lin Yue. Gerakan sekecil itu, nyaris tak terlihat, namun Nyonya Lin yang sudah kenyang asam garam dunia tahu persis maknanya. Bukan sentuhan tak sengaja. Itu adalah sentuhan yang dicari, disentuh, dan dinikmati. Nyonya Lin bisa melihat bahu Lin Yue menegang sejenak, lalu sedikit rileks, seolah menerima. Sebuah desah halus nyaris tak terdengar lolos dari bibir putrinya. Desah yang lebih dari sekadar lelah belajar. “Mengapa kau melamun?” bisik Xiao Chen, suaranya rendah dan serak, bahkan dari kejauhan Nyonya Lin bisa merasakan kehangatan yang menguar dari nada itu. Ia tidak lagi menunjuk aksara, melainkan mencondongkan tubuh lebih dekat. Kepalanya sejajar dengan kepala Lin Yue, seolah mereka sedang berbagi rahasia yang paling gelap dan paling indah. Lin Yue tak menjawab, hanya menggeleng pelan. Rambutnya yang terurai sebagian menyentuh bahu Xiao Chen. Nyonya Lin merasakan sesuatu menusuk dadanya. Bukan hanya kecurigaan, tapi juga kilasan memori lama. Ingatan tentang dirinya di usia yang sama, tentang bisikan-bisikan terlarang di sudut taman, tentang sentuhan pertama yang membakar kulit. Ia melihat putrinya mengalihkan pandang, tatapan mereka bertemu dalam pantulan samar dari mangkuk tinta di meja. Kilatan hasrat yang tak bisa disembunyikan. Nyonya Lin merasakan perutnya bergejolak. Marah? Takut? Atau justru... sebuah gairah yang sudah lama terkubur kini tersentuh lagi? Ia benci mengakuinya, tapi ada denyutan aneh di bawah kulitnya. Xiao Chen menarik tangannya dari meja, tapi justru meletakkannya di belakang pinggang Lin Yue. Hanya sesaat, lalu kembali lagi ke meja. Sebuah sentuhan transparan, nyaris tak ada, namun pesan yang disampaikannya begitu terang. Nyonya Lin mengepalkan jemarinya. Bocah itu, shudong miskin itu, berani sekali. “Ayahmu bicara tentang perjodohan lagi,” Lin Yue akhirnya berbisik, suaranya pecah. Bahkan dari balik pilar, Nyonya Lin bisa menangkap kepedihan dalam nada itu. “Dengan putra Pejabat Fang. Mereka akan datang bulan depan.” Xiao Chen terdiam. Tubuhnya yang awalnya condong kini sedikit menegang. Nyonya Lin melihat rahangnya mengeras. Ia tahu betapa berartinya Lin Yue bagi Xiao Chen. Ia juga tahu ambisi Pejabat Lin, suaminya. Putra Pejabat Fang adalah tangga emas menuju kekuasaan. Tidak akan ada yang bisa menghalangi perjodohan itu, bahkan jika hati putrinya hancur berkeping-keping. “Aku tidak mau,” Lin Yue melanjutkan, suaranya lebih keras, namun penuh keputusasaan. “Aku tidak mau menikah dengannya, Xiao Chen. Kau tahu itu.” Nyonya Lin merasakan embusan napasnya tertahan. Jantungnya berdetak kencang. Ini bukan sekadar percakapan biasa antara tuan dan pelayan. Ini adalah pengakuan. Sebuah deklarasi yang nyaris terbuka. Ia seharusnya melangkah masuk, menghentikan ini semua. Tapi kakinya terpaku. Ada daya pikat aneh dari drama di depannya. Xiao Chen menoleh, menatap Lin Yue lurus. “Aku tahu,” katanya, suaranya kini tegas, seolah sedang mengambil keputusan besar. “Aku tidak akan membiarkan itu terjadi.” Sesaat, Nyonya Lin melihat Lin Yue menatap Xiao Chen dengan sorot mata penuh harap, penuh cinta, dan juga ketakutan. Ketakutan yang sama yang dulu pernah Nyonya Lin rasakan. Ketakutan untuk kehilangan cinta yang paling berharga. Nyonya Lin mundur perlahan, bayangan kegelapan menelannya. Ia sudah cukup melihat. Ia sudah cukup tahu. Perasaan campur aduk itu akan ia bawa ke kamar, merenungi apa yang harus ia lakukan selanjutnya. Ia hanya tahu satu hal: ia harus menghentikan ini. Atau mungkin… ia juga bisa mengambil bagian. Pikiran itu membuat punggungnya merinding. --- Lin Yue merasakan jantungnya berdegup seperti genderang perang, bukan karena ketakutan, melainkan karena keputusan yang baru saja mereka ambil. Malam telah larut, bulan sabit menggantung tipis di langit kelam. Angin malam berembus membawa aroma melati dari taman dan kelembapan dari sungai di belakang kediaman. Ia melangkah hati-hati melewati lorong-lorong sepi, jubah sutra yang ia kenakan terasa berat, seolah menahan napasnya. Di tangannya, ia menggenggam sebuah jepit rambut perak, satu-satunya hiasan yang ia kenakan. Bukan untuk mempercantik diri, melainkan untuk meneguhkan hati. Setiap langkahnya adalah langkah menuju sesuatu yang tak bisa ditarik kembali, sesuatu yang akan mengubah hidupnya selamanya. Perjodohan dengan putra Pejabat Fang yang akan datang bulan depan terasa seperti belenggu yang mengencang di lehernya. Ia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Ia mencapai gerbang kuil keluarga yang sudah lama tak terpakai, tersembunyi di balik pohon beringin tua. Gerbang kayu itu berderit pelan saat ia mendorongnya, suaranya memecah keheningan malam yang pekat. Hatinya mencelos. Apakah ini benar? Apakah ia siap mempertaruhkan segalanya untuk cinta yang terlarang ini? Udara di dalam kuil terasa lembap dan berbau dupa lama. Patung dewa-dewa yang sudah pudar termakan usia berdiri tegak, memandang kosong ke depan. Di tengah remangnya cahaya bulan yang masuk dari celah atap, Xiao Chen sudah menunggunya. Ia berdiri di dekat altar, siluetnya tegap namun terlihat gelisah. Tubuhnya tidak mengenakan jubah pelayan, melainkan jubah linen sederhana berwarna gelap, membuatnya tampak lebih dewasa, lebih berbahaya. Ketika mata mereka bertemu, Lin Yue merasakan gelombang kehangatan sekaligus ketakutan yang luar biasa. Ia takut pada konsekuensi, takut pada dosa, tapi jauh di dalam hatinya, ia lebih takut kehilangan Xiao Chen. Ia berjalan mendekat, setiap langkah terasa seperti menapak di atas awan. Kaki-kakinya gemetar, namun tekad di hatinya tak tergoyahkan. “Kau datang,” bisik Xiao Chen, suaranya serak. Ada kelegaan yang begitu nyata di sana. Ia mengulurkan tangannya, telapaknya terbuka, mengundangnya. Lin Yue melihat tato kecil berbentuk bunga teratai di pergelangan tangannya, simbol kesetiaan yang ia ukir sendiri saat mereka masih remaja. Lin Yue menggenggam tangan itu. Telapak Xiao Chen hangat, kuat, dan sedikit berkeringat. Kekuatan itu mengalir, menenangkan gemuruh di dadanya. Ia membiarkan Xiao Chen menariknya mendekat, hingga tubuh mereka hanya berjarak sehelai rambut. Aroma maskulin Xiao Chen, perpaduan wangi tanah dan embun pagi, memabukkan indranya. “Aku tidak bisa… membiarkan mereka memisahkanku darimu,” bisik Lin Yue, suaranya pecah. Ia mendongak, menatap mata hitam kelam Xiao Chen yang kini memantulkan cahaya rembulan. Di mata itu, ia melihat bayangannya sendiri, kecil dan rapuh, namun juga tekad yang membara. Xiao Chen mengelus pipinya dengan ibu jari, gerakannya begitu lembut hingga Lin Yue nyaris menitikkan air mata. “Tidak akan ada yang bisa memisahkan kita, Yue-er,” katanya, nada suaranya penuh janji. “Tidak ada.” Ia membelai rambut Lin Yue yang tergerai, menyisirnya ke belakang telinga. Jari-jarinya menyentuh leher Lin Yue yang sensitif, mengirimkan gelenyar aneh ke seluruh tubuhnya. Lin Yue merasakan napasnya tertahan. Ini dia. Momen yang akan mengubah segalanya. “Aku… aku takut,” Lin Yue mengaku, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menunduk, tak berani menatap mata Xiao Chen lagi. Rasa malu dan takut akan perbuatan terlarang ini membuncah di dadanya. Ajaran-ajaran leluhur, norma-norma, semua berteriak di kepalanya. Xiao Chen mengangkat dagunya perlahan, memaksa mata mereka bertemu lagi. “Jangan takut,” bisiknya, matanya memancarkan kehangatan yang menenangkan. “Aku di sini. Bersamamu. Ini adalah janji kita. Janji di hadapan para dewa, Yue-er. Janji yang tak akan bisa diingkari.” Ia menarik Lin Yue lebih dekat lagi, hingga dada mereka saling bersentuhan. Lin Yue bisa merasakan detak jantung Xiao Chen yang berpacu kencang, seirama dengan miliknya. Panas tubuhnya merambat, menembus lapisan tipis jubah mereka. Xiao Chen menunduk, bibirnya menyapu bibir Lin Yue, lembut, ragu-ragu, seolah meminta izin. Lin Yue memejamkan mata, membiarkan bibir mereka bertemu. Ciuman itu dimulai dengan kelembutan, perpaduan manis antara takut dan rindu. Lalu, seiring napas mereka yang memburu, ciuman itu menjadi lebih dalam, lebih menuntut. Xiao Chen melingkarkan lengannya di pinggang Lin Yue, menariknya lebih rapat, membenamkan tubuh Lin Yue sepenuhnya ke dalam dekapannya. Bibirnya bergerak dengan dahaga yang tak tertahankan, melumat bibir bawah Lin Yue, menghisapnya dengan lembut namun penuh gairah. Lin Yue balas menciumnya dengan intensitas yang sama, membiarkan tangannya melingkar di leher Xiao Chen, menarik rambutnya yang lembut. Setiap sentuhan membakar kulitnya, setiap isapan bibir memicu percikan api di dalam dirinya. Ia melupakan segala ketakutan, segala norma. Yang ada hanyalah Xiao Chen, kehangatan tubuhnya, dan janji yang mereka ukir dalam keheningan kuil ini. Xiao Chen memiringkan kepalanya, memperdalam ciuman mereka, lidahnya menyusup masuk, menjelajahi setiap lekuk rongga mulut Lin Yue. Sebuah desah panjang lolos dari tenggorokan Lin Yue. Ia tak pernah tahu ciuman bisa seintens ini, sememabukkan ini. Tubuhnya melemas dalam pelukan Xiao Chen, seluruh kendalinya runtuh. Xiao Chen melepaskan ciuman itu, hanya untuk menurunkannya ke leher jenjang Lin Yue. Bibirnya yang panas menyapu kulitnya, menghisapnya, meninggalkan jejak kemerahan yang samar. Lin Yue mendongak, membiarkan Xiao Chen melakukan sesukanya. Sensasi itu begitu baru, begitu liar, namun juga begitu memuaskan. Ia meremas bahu Xiao Chen, kakinya terasa lemas. “Manja sekali,” bisik Xiao Chen di telinganya, suaranya rendah dan menggoda. “Kau suka, ya?” Lin Yue hanya bisa mengangguk, napasnya terengah-engah. Ia tak sanggup bicara. Seluruh tubuhnya dipenuhi sensasi yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Xiao Chen tersenyum tipis, senyum yang begitu nakal, begitu menawan. Tangannya bergerak, perlahan, membuka simpul jubah sutra yang Lin Yue kenakan. Kain itu melorot, memamerkan bahu telanjang Lin Yue yang mulus. Xiao Chen menatapnya, matanya memancarkan gairah yang membara. “Indah,” bisiknya, suaranya nyaris tak terdengar. Ia menunduk lagi, mengecup bahu Lin Yue, lalu bergerak turun ke dadanya. Lin Yue merasakan sentuhan bibir Xiao Chen di kulitnya, membuatnya merinding. Ia memejamkan mata, pasrah sepenuhnya pada sensasi yang mengalir. “Kau begitu… hangat,” Xiao Chen mendesah, suaranya kian serak. Tangannya tak tinggal diam, ia kini mengelus punggung Lin Yue, membelai tulang punggungnya, lalu turun perlahan ke pinggul. Lin Yue merasakan otot-ototnya menegang dan mengendur di bawah sentuhan itu. Sebuah erangan pelan lolos dari bibirnya. Jubahnya kini terlepas sepenuhnya, terjatuh ke lantai kuil yang dingin. Lin Yue hanya mengenakan lapisan dalam tipis yang menutupi tubuhnya. Xiao Chen melepas jubahnya sendiri, membiarkan tubuh atletisnya terpampang di hadapan Lin Yue. Otot-ototnya terbentuk sempurna, kulitnya kecoklatan, memancarkan aura kekuatan dan maskulinitas yang memikat. Lin Yue menelan ludah, detak jantungnya semakin tak beraturan. “Jangan malu, Yue-er,” bisik Xiao Chen, ia melihat kegugupan di mata Lin Yue. “Kau sempurna.” Ia mencium Lin Yue lagi, kali ini dengan ciuman yang lebih dalam, lebih liar. Tangannya bergerak tanpa ragu, membelai paha Lin Yue yang mulus, mengusapnya perlahan. Lin Yue merasakan kehangatan menjalar di antara pahanya, sebuah sensasi yang membingungkan namun juga sangat menyenangkan. Napasnya tersengal, ia membiarkan dirinya tenggelam dalam pusaran sensasi yang baru ini. Xiao Chen menuntunnya ke tumpukan tikar yang sudah ia siapkan di sudut kuil. Tikar itu sedikit usang, namun terasa empuk di bawah tubuh Lin Yue. Mereka berbaring berdampingan, wajah mereka berhadapan. Xiao Chen menatap mata Lin Yue, mencari izin, mencari kepastian. Lin Yue membalas tatapan itu, ketakutan masih ada, namun tekadnya lebih besar. Ini adalah pilihannya. Pilihannya untuk Xiao Chen. “Kau yakin?” bisik Xiao Chen, suaranya lembut, penuh perhatian. Ia tidak ingin Lin Yue melakukannya karena terpaksa. Lin Yue mengangguk, matanya berkaca-kaca. Ia yakin. Sangat yakin. Ini adalah satu-satunya cara mereka bisa bersama, melawan takdir yang ingin memisahkan mereka. Xiao Chen menunduk, bibirnya mengecup kening Lin Yue, lalu turun ke hidung, dan akhirnya mendarat di bibirnya lagi. Ciuman yang penuh janji, penuh cinta. Tangannya menyingkap lapisan dalam Lin Yue, membiarkan kulitnya terpapar sepenuhnya. Ia mengelus perut rata Lin Yue, lalu turun lebih rendah, membelai area paling sensitif di antara kedua paha Lin Yue. Jari-jarinya yang hangat menyentuh kelembutan kulitnya, membuatnya terkesiap. “Kau sudah sangat basah untukku, Yue-er,” bisik Xiao Chen, suaranya serak dan menggoda. Ia merasakan desiran hangat yang mengalir di antara pahanya, sebuah respons alami dari tubuhnya yang tak bisa ia kendalikan. Lin Yue memejamkan mata, merasakan betapa memalukannya pengakuan itu, namun juga betapa membangkitkan gairah. Xiao Chen mengangkat tubuhnya sedikit, mencondongkan kepalanya ke bawah. Lin Yue merasakan napasnya yang hangat menerpa area intimnya. Sebuah kejutan. Ia tak pernah menyangka Xiao Chen akan melakukan hal ini. Jantungnya berdebar kencang, antara rasa malu dan rasa ingin tahu yang membara. Lidah Xiao Chen yang hangat dan basah menyentuhnya, lembut, lalu lebih berani. Sebuah kejutan listrik menjalari seluruh tubuh Lin Yue, membuatnya melengkungkan punggung dan mencengkeram tikar erat-erat. “Ahhh…” desah Lin Yue, suaranya tertahan. Sensasi itu begitu intens, begitu fokus, membuatnya nyaris gila. Lidah Xiao Chen bergerak dengan irama yang ahli, menghisapnya, menjilatnya, memainkan titik-titik paling peka. Lin Yue tak bisa menahan diri, tubuhnya bergerak liar, kakinya merapat, mencoba menahan gelombang kenikmatan yang membanjirinya. “Jangan ditahan, Yue-er,” bisik Xiao Chen, suaranya teredam, namun Lin Yue bisa mendengarnya jelas. “Lepaskan saja.” Ia mematuhi. Tubuhnya melengkung lagi, sebuah erangan panjang lolos dari tenggorokannya. Sensasi itu semakin kuat, semakin cepat, mendorongnya ke tepi jurang. Kakinya menendang udara, tangannya mencengkeram bahu Xiao Chen erat-erat. Ia merasakan tubuhnya menegang, lalu meledak dalam gelombang kenikmatan yang luar biasa. “Aahhh! Xiao Cheeennn…!” teriaknya tertahan, bibirnya tergigit erat. Seluruh tubuhnya bergetar, merasakan pelepasan yang begitu intens, begitu memabukkan. Xiao Chen mendongak, menatap mata Lin Yue yang kini berair dan dipenuhi gairah. Senyum puas terukir di bibirnya. Ia mengecup paha Lin Yue, lalu bangkit perlahan. Wajahnya menunjukkan gairah yang sama, namun ia terlihat lebih terkendali. Ia tahu ia harus menahan diri demi Lin Yue. Lin Yue merasakan tubuhnya lemas, namun juga dipenuhi energi baru. Ia menatap Xiao Chen, matanya penuh cinta dan rasa terima kasih. Ia telah menyerahkan dirinya sepenuhnya, dan Xiao Chen telah menerimanya dengan penuh hormat, namun juga penuh gairah. Xiao Chen berlutut di antara kedua pahanya, menatapnya dalam-dalam. Wajahnya serius, namun matanya memancarkan kehangatan yang tak terbatas. Ia meraih tangan Lin Yue, menggenggamnya erat. “Sekarang, kau sepenuhnya milikku, Yue-er,” bisiknya, suaranya tegas. “Dan aku milikmu.” Ia menurunkan pandangannya, menatap ke bagian bawah tubuh Lin Yue, tempat ia baru saja membawa Lin Yue ke puncak kenikmatan. Lin Yue merasakan darahnya berdesir. Ia tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Ini adalah puncaknya, ikatan yang tak terpisahkan. Xiao Chen membuka jubahnya lebih lebar, memperlihatkan kejantanannya yang sudah berdiri tegak, siap untuk bersatu. “Kau siap?” bisik Xiao Chen, sekali lagi memberinya kesempatan untuk mundur. Namun Lin Yue sudah melewati titik itu. Ia mengangguk, matanya menatap Xiao Chen tanpa ragu. Ia telah memilih. Memilih cinta ini, memilih takdir ini, apapun risikonya. Xiao Chen tersenyum lembut. Ia mencondongkan tubuh, bibirnya menyapu telinga Lin Yue. “Aku akan sangat mencintaimu,” bisiknya. Lalu, dengan gerakan yang pasti, ia mengangkat pinggul Lin Yue sedikit, memposisikan dirinya. Lin Yue merasakan sensasi sentuhan pertama, sebuah tekanan yang hangat dan kuat. Ia menahan napas, tubuhnya menegang. Xiao Chen menatap matanya, mencari keyakinan. Lin Yue membalas tatapan itu, mengangguk lagi. Sebuah desah panjang lolos dari bibir Xiao Chen, lalu dengan satu gerakan lembut namun tegas, ia mendorong masuk. Lin Yue merasakan sakit yang tajam, namun hanya sesaat, lalu digantikan oleh rasa penuh yang luar biasa. Tubuhnya melemas di bawah tekanan itu, namun tangannya mencengkeram bahu Xiao Chen erat-erat. “Hhh…” desah Xiao Chen, matanya terpejam sejenak. Ia terdiam, membiarkan Lin Yue menyesuaikan diri. Lin Yue merasakan air mata mengalir dari sudut matanya, bukan karena sakit, tapi karena keharuan dan konsekuensi dari apa yang telah mereka lakukan. Ini adalah titik baliknya. Tidak ada jalan kembali. Ia membuka matanya, menatap Xiao Chen yang kini mencondongkan tubuh ke atasnya, menatapnya dengan penuh cinta. “Kau baik-baik saja?” bisiknya. Lin Yue mengangguk, air mata masih mengalir, namun senyum tipis terukir di bibirnya. Ia baik-baik saja. Lebih dari baik-baik saja. Xiao Chen tersenyum. Ia mulai bergerak perlahan, memaju-mundurkan pinggulnya, awalnya lembut, lalu semakin dalam. Lin Yue merasakan tubuhnya beradaptasi, rasa sakit berganti menjadi kenikmatan yang mengalir. Setiap dorongan adalah janji, setiap sentuhan adalah deklarasi. Mereka bergerak seirama, dalam tarian kuno yang baru pertama kali Lin Yue rasakan. “Plok plok plok…” suara benturan kulit terdengar memenuhi kuil yang sunyi, berpadu dengan desahan Lin Yue dan erangan Xiao Chen. Ia memejamkan mata, membiarkan tubuhnya bergerak secara naluriah. Sensasi itu begitu kuat, begitu memabukkan, membuatnya melupakan segalanya. Xiao Chen membungkuk, mencium bibir Lin Yue, lalu mengusap air mata di pipinya. “Aku mencintaimu, Yue-er,” bisiknya di antara napasnya yang terengah-engah. “Sangat mencintaimu.” Lin Yue tak bisa menjawab, ia hanya bisa mengangguk, napasnya tersengal. Tubuhnya mencapai puncak lagi, kali ini lebih lambat, lebih dalam, lebih memuaskan. Xiao Chen mendorong lebih dalam, lebih cepat, membawanya ke tepi jurang sekali lagi. “Aahhh! Xiao Cheeennn…!” teriaknya, suaranya pecah, saat tubuhnya menegang dan meledak dalam gelombang kenikmatan yang luar biasa. Ia merasakan semburan hangat di dalam dirinya, tanda bahwa Xiao Chen juga telah mencapai puncaknya. “Croot croot croot…” suara itu begitu jelas di telinganya, begitu nyata. Mereka terbaring berpelukan, napas mereka terengah-engah, tubuh mereka berkeringat. Keheningan kembali menyelimuti kuil, hanya dipecahkan oleh detak jantung mereka yang berpacu kencang. Lin Yue menatap langit-langit kuil yang remang, menyadari apa yang baru saja mereka lakukan. Ia telah mengikat janji suci ini, tidak dengan kata-kata, tapi dengan tubuhnya. Xiao Chen membelai rambutnya, lalu mengecup keningnya. Ia memeluk Lin Yue erat, seolah tak ingin melepaskannya. Rasa hangat, puas, dan juga sedikit takut kini menyelimuti Lin Yue. Ia telah mengambil langkah besar, langkah yang tak bisa ditarik kembali. Di bawah patung dewa, saat Xiao Chen menatap matanya, Lin Yue tahu tak ada jalan kembali, dan ia merasakan desiran hangat yang mengalir di antara pahanya, tanda bahwa ia telah mengambil keputusan paling berani dalam hidupnya.

End of Chapter 10