Chapter 9 of 24

Chapter 9: Kecurigaan Sang Ibu

533 words

Kecurigaan itu tumbuh perlahan, seperti lumut di bebatuan yang lembap, tak terlihat pada awalnya, namun mengakar kuat seiring waktu. Nyonya Lin, dengan naluri tajamnya sebagai seorang ibu dan pengelola rumah tangga, merasakan ada perubahan. Bukan hanya pada putrinya, Lin Yue, tetapi juga pada Xiao Chen. Wajah Lin Yue, yang biasanya cerah dan penuh semangat, kini seringkali diselimuti mendung tipis. Pandangan matanya menerawang, senyumnya terasa dipaksakan. Dia makan lebih sedikit, sering melamun, dan kerap kali ditemukan menatap jauh ke luar jendela kamarnya, seolah mencari sesuatu yang hilang. Gerakannya canggung, penuh dengan kegelisahan yang terpendam. Setiap kali Nyonya Lin memanggilnya, Lin Yue terlonjak kaget, seolah baru terbangun dari mimpi yang panjang dan rahasia. Perubahan ini tidak luput dari pengawasan Nyonya Lin. Sementara itu, Xiao Chen juga menunjukkan gelagat aneh. Anak itu, yang biasanya santun dan tenang, kini sesekali terlihat tegang. Garis rahangnya mengeras, tatapannya seringkali tertuju pada Lin Yue, cepat-cepat dialihkan jika ketahuan. Ada jeda-jeda aneh dalam percakapan mereka, bisikan-bisikan yang terputus, sentuhan tangan yang terlalu cepat ditarik. Semua itu adalah potongan-potongan teka-teki yang berhamburan di benak Nyonya Lin, perlahan membentuk sebuah gambar yang mengerikan. Beberapa hari setelah peristiwa di paviliun bambu, Nyonya Lin memutuskan untuk bertindak. Ia tidak bisa lagi menoleransi keganjilan ini. Ada rahasia di antara mereka, dan sebagai penjaga kehormatan keluarga Lin, ia harus mengungkapnya. Pagi itu, ia berpura-pura sibuk dengan urusan dapur, namun telinganya siaga. Ia mendengar langkah kaki Lin Yue menuju ruang belajar, disusul tak lama kemudian oleh Xiao Chen. Itu adalah rutinitas harian mereka, namun kali ini, Nyonya Lin merasakan aura yang berbeda. Pikirannya berputar. Apa yang mungkin disembunyikan putri tunggalnya dengan seorang shudong miskin? Instingnya berteriak tentang bahaya, tentang kehancuran reputasi, namun di sudut hati yang lain, ada secercah rasa ingin tahu yang aneh, geli, dan sedikit memalukan. Bukan hanya kemarahan yang membakar dadanya. Ada sesuatu yang lebih... pribadi. Sebuah sensasi asing, seperti gema dari gairah yang lama terpendam, berbisik tentang sebuah rahasia yang mungkin bisa ia rasakan sendiri, jika ia cukup berani untuk menyelaminya. Nyonya Lin mengambil syal sutra, menyampirkannya longgar di bahu. Ia melangkah keluar, menyusuri koridor samping, menjauh dari pandangan pelayan. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, tetapi karena antisipasi yang aneh. Ia merasa seperti seorang detektif, atau mungkin lebih tepatnya, seperti seorang pencuri yang hendak mencuri sesuatu yang berharga. Setibanya di dekat ruang belajar, ia tidak langsung masuk. Ia berhenti di balik pilar besar berukiran burung phoenix, menarik napas dalam-dalam. Suara guru yang sedang mengajar terdengar samar, disusul oleh suara lembut Lin Yue yang membaca puisi, dan suara berat Xiao Chen yang mengulang bait-bait klasik. Semua tampak normal. Terlalu normal, pikir Nyonya Lin. Ia tahu ada sesuatu di balik kesopanan dan keteraturan itu. Setelah beberapa waktu, ia mendengar suara guru berpamitan, lalu langkah kakinya menjauh. Ini dia. Nyonya Lin menahan napas. Ia mendengar Lin Yue dan Xiao Chen masih berada di dalam. Bisikan pelan mulai terdengar, seperti riak air yang mengalir di sungai. Ia mengintip sedikit dari balik pilar, matanya menyipit, fokus pada celah pintu yang sedikit terbuka. Di dalam, Lin Yue berdiri di dekat meja, memegang sebuah gulungan puisi. Xiao Chen berdiri di depannya, agak terlalu dekat untuk seorang shudong. Wajah Lin Yue memerah tipis, sementara Xiao Chen menatapnya dengan intensitas yang tidak pantas.

End of Chapter 9