Chapter 9 of 53

Bab 9 — Elang dari Taman

1.4k words

Sudah satu bulan sejak Lucian mulai melatih kekuatannya. Pagi itu, kediaman Eisenwald terasa lebih ramai dari biasanya. Lucian baru saja selesai sarapan ketika Clara muncul di hadapannya. “Kak Cian!” Lucian menoleh. Clara berdiri sambil tersenyum lebar. “Ayo ke taman!” Lucian menghela napas. “Aku sedang ingin membaca.” “Baca terus.” Clara langsung menarik tangannya. “Kak Cian terlalu sering di perpustakaan.” “Aku sedang berlatih.” “Di taman juga bisa latihan.” Lucian terdiam. Argumen itu... sulit dibantah. Akhirnya ia mengikuti Clara. Seekor Elang Taman keluarga Eisenwald cukup luas. Pepohonan tumbuh di sepanjang sisi taman, sementara rumput hijau memenuhi sebagian besar halaman. Clara berlari lebih dulu. Lucian berjalan santai di belakangnya. Namun baru beberapa menit berada di sana— Clara tiba-tiba berhenti. “Kak Cian.” Lucian ikut berhenti. “Ada apa?” Clara menunjuk ke salah satu pohon. “Lihat.” Di salah satu cabang pohon, seekor elang sedang bertengger. Lucian memperhatikannya. Dari penampilannya, tidak ada sesuatu yang terlalu mencolok. Namun Lucian bisa merasakan sedikit aliran mana dari tubuhnya. “Magic Beast.” Mata Clara langsung berbinar. “Benarkah?” Lucian mengangguk. “Sepertinya.” Clara berjalan perlahan mendekat. Elang itu tidak langsung terbang. Ia hanya memperhatikan Clara dari atas pohon. Clara berhenti beberapa langkah darinya. “Dia nggak takut.” Lucian juga memperhatikan. Benar. Elang itu tidak menunjukkan tanda ingin menyerang atau melarikan diri. Tatapannya justru tenang. Beberapa saat kemudian, elang tersebut mengepakkan sayapnya. Ia turun dari pohon. Terbang rendah. Lalu mendarat di tanah tidak jauh dari Clara. Clara tersenyum. “Halo.” Lucian hanya mengamati. Elang itu kemudian berjalan mendekati Clara. Clara mengulurkan tangannya. Elang itu tidak menolak. “Lucu banget.” Lucian menghela napas kecil. “Jangan terlalu cepat dekat dengannya.” “Tapi dia baik.” “Kita belum tahu.” Clara menoleh. “Makanya kita kenalan dulu.” Lucian terdiam. Kemudian tanpa sadar tersenyum kecil. “...Terserah.” Kontrak Beberapa hari berlalu. Elang tersebut masih sering muncul di taman. Kadang bertengger di pohon. Kadang mengikuti Clara ketika bermain. Kadang hanya berada tidak jauh dari Lucian ketika ia berlatih. Hubungan mereka perlahan menjadi semakin dekat. Suatu sore, Clara duduk di rumput sambil memandang elang tersebut. Kemudian ia menoleh kepada Lucian. “Kak Cian.” “Hm?” “Bikin kontrak sama dia.” Lucian menatap Clara. “Kontrak?” Clara mengangguk. “Biar dia bisa ikut Kak Cian.” Lucian kembali melihat elang itu. Membuat kontrak dengan Magic Beast bukan sesuatu yang boleh dilakukan sembarangan. Namun elang tersebut sudah menunjukkan ketertarikannya pada mereka. Lucian akhirnya berdiri. Ia mendekati elang tersebut. “Kalau memang kau bersedia...” Mana perlahan mengalir dari tubuh Lucian. Sebuah lingkaran kontrak muncul di bawah kaki mereka. Elang itu tidak melawan. Ia justru menatap Lucian dengan tenang. Lucian mengulurkan tangannya. “Kalau begitu, mari kita buat kontrak.” Cahaya kontrak menyelimuti keduanya. Beberapa saat kemudian— kontrak selesai. Lucian merasakan keberadaan baru di dalam pikirannya. Sebuah hubungan yang sederhana. Namun jelas. Ia kini memiliki seorang partner. Clara langsung bersorak. “Berhasil!” Lucian menatap elang tersebut. “Sekarang kau bagian dari keluarga ini.” Elang itu mengepakkan sayapnya. Clara tertawa. “Dia suka!” Lucian hanya menggelengkan kepala. Hari-hari Bersama Hari demi hari berlalu. Elang tersebut mulai menemani Lucian berlatih. Ketika Lucian melakukan latihan kompresi, elang itu sering bertengger di pagar dan memperhatikan. Kadang Clara mengajaknya bermain. Kadang elang itu terbang mengelilingi taman. Lucian juga mulai memahami kemampuan partner barunya. Kecepatan. Penglihatan. Kemampuan membaca arah angin. Dan yang paling menarik— potensi mana yang dimilikinya. Elang itu bukan Magic Beast yang lemah. Namun Lucian belum mengetahui seberapa jauh potensinya. Baginya, itu tidak terlalu penting. Setidaknya untuk sekarang. Ia hanya ingin membangun hubungan yang baik dengannya. Clara bahkan mulai menganggap elang tersebut sebagai bagian dari keluarga. Setiap pagi ia mencarinya. Setiap sore ia mengajaknya bermain. Dan perlahan— elang itu semakin terbiasa dengan keduanya. Hari Kedua Puluh Delapan Hari keberangkatan Lucian ke Akademi Orion semakin dekat. Pagi itu Lucian sedang berlatih ketika elang tersebut tiba-tiba terlihat gelisah. Ia mengepakkan sayap berkali-kali. Kemudian tubuhnya mulai memancarkan cahaya. Lucian menghentikan latihannya. “Apa?” Clara yang berada di dekatnya juga melihat. “Kak Cian...” Elang itu jatuh perlahan ke tanah. Cahaya semakin kuat. Tubuhnya mulai berubah. Lucian segera mendekat. Namun tidak ada tanda serangan. Tidak ada tanda penyakit. Hanya perubahan energi yang sangat aneh. “Apa yang terjadi padanya?” Lucian tidak tahu. Ia mencoba merasakan aliran mana melalui kontrak. Dan yang ia rasakan justru membuatnya semakin bingung. Energinya sedang berubah. Namun menuju apa? Lucian tidak bisa memastikan. Kemudian tubuh elang itu perlahan tertutup lapisan keras. Bentuknya berubah. Sampai akhirnya— di hadapan Lucian dan Clara... yang tersisa hanyalah sebuah telur. Clara terdiam. Lucian juga. Mereka saling menatap. “...Telur?” Lucian mengamati benda tersebut. Tidak ada penjelasan dalam buku-buku yang pernah ia baca tentang perubahan seperti ini. Ia menyentuh permukaannya dengan hati-hati. Masih ada aliran mana di dalamnya. Partner mereka masih hidup. Hanya saja... berada dalam kondisi yang sama sekali tidak mereka pahami. Clara memeluk telur tersebut. “Dia nggak apa-apa, kan?” Lucian mengangguk perlahan. “Masih ada mana di dalamnya.” “Berarti dia masih hidup?” “Iya.” Clara tersenyum lega. “Syukurlah.” Lucian menatap telur itu sekali lagi. Ia belum tahu apa yang sedang terjadi. Dan ia sama sekali tidak menyangka bahwa perubahan tersebut adalah tanda evolusi. Apalagi bahwa Magic Beast yang mereka kenal sebagai seekor elang... sedang menuju bentuk yang jauh lebih besar. Sehari Sebelum Keberangkatan Malam itu, telur tersebut masih belum berubah. Lucian duduk di sampingnya. Clara juga berada di sana. Mereka tidak tahu kapan telur itu akan pecah. Mereka bahkan tidak tahu apa yang akan keluar. Clara menyentuh permukaannya. “Menurut Kak Cian, besok dia sudah bangun?” Lucian menggeleng. “Tidak tahu.” “Kalau bentuknya masih elang?” “Mungkin.” Clara berpikir sebentar. “Kalau bukan?” Lucian menatap telur itu. “Kalau bukan... kita lihat saja nanti.” Tidak ada dari mereka yang mengetahui jawabannya. Tidak ada yang menyangka bahwa sesuatu yang jauh lebih besar sedang berkembang di dalam telur itu. Dan keesokan harinya— tepat sebelum Lucian meninggalkan kediaman Eisenwald untuk menuju Akademi Orion... retakan pertama muncul di permukaan telur. Retakan itu semakin melebar. Krek... Lucian yang sedang duduk di samping telur itu langsung membuka matanya. Clara yang sejak tadi menempelkan wajahnya di dekat telur juga terdiam. “...Kak Cian.” “Ya?” “Telurnya... pecah.” Lucian mengangguk pelan. “Aku juga bisa melihatnya.” Krek! Retakan kedua muncul. Cahaya lembut keluar dari celah-celah cangkang. Lucian spontan berdiri. “Clara, mundur sedikit.” “Kenapa?” “Entahlah. Lebih baik berjaga-jaga.” Clara menurut, meski matanya tetap terpaku pada telur. Beberapa detik kemudian— CRACK! Cangkang itu pecah. Sesuatu keluar dari dalamnya. Sepasang sayap besar terbuka perlahan. Bulu-bulu putih keabu-abuan bergerak mengikuti hembusan udara yang tercipta dari kepakan pertamanya. Tubuhnya jauh lebih besar daripada seekor elang biasa. Lucian terdiam. Clara juga. Makhluk itu menatap mereka. Bukan lagi seekor elang. Di hadapan mereka berdiri seekor Griffin. Clara perlahan mendekat. “...Kak Cian.” “Hmm?” “Itu... elang kita?” Lucian menatap Griffin tersebut beberapa saat. “Secara teknis...” Ia mengamati sayap, tubuh, dan bentuk kepalanya. “...sepertinya bukan lagi.” Clara berkedip. Lalu wajahnya perlahan berubah menjadi senyum lebar. “Jadi dia berubah?!” Griffin itu mendekat kepada Clara dan menundukkan kepalanya. Clara langsung mengusap bulunya. “Lucu banget!” Lucian menghela napas kecil. “Ukuran tubuhnya hampir sebesar dirimu.” “Justru itu yang bikin keren!” Griffin tersebut kemudian berjalan menuju Lucian. Ia berhenti tepat di hadapannya. Lucian mengulurkan tangan. Makhluk itu menyentuhkan kepalanya pada telapak tangan Lucian. Senyum kecil muncul di wajah Lucian. “Sepertinya kau masih mengingat kami.” Clara tiba-tiba mengangkat tangannya. “Aku punya nama!” Lucian menoleh. “Nama?” Clara mengangguk penuh semangat. “Astralion!” Lucian terdiam sesaat. “...Astralion?” “Iya!” Clara menunjuk Griffin itu. “Namanya Astralion!” Griffin tersebut mengeluarkan suara rendah, seolah menyetujui. Lucian tersenyum tipis. “Baiklah.” Ia menepuk kepala Astralion. “Selamat datang, Astralion.” Clara langsung memeluk leher Griffin itu. “Tapi namanya panjang.” Lucian menatapnya. “Bukankah kau yang memilih?” Clara tertawa. “Kalau begitu panggilannya Astra saja!” Lucian menggeleng kecil. “Kau memang suka membuat sesuatu menjadi lebih sederhana setelah membuatnya panjang.” “Hehehe.” Untuk pertama kalinya, Lucian benar-benar menyadari sesuatu. Besok ia akan meninggalkan rumah. Ia akan pergi menuju Orion. Namun kali ini... Ia tidak akan pergi sendirian. Lucian menatap Astra yang kini sibuk bermain bersama Clara. Kemudian pandangannya beralih ke langit. “Sepertinya perjalanan kali ini akan lebih ramai dari yang kukira.” Keesokan harinya. Pagi di kediaman Eisenwald terasa berbeda. Barang-barang Lucian telah disiapkan. Surat dari Orion tersimpan aman. Tongkat sihirnya telah dibawa. Dan di halaman depan— Astra berdiri dengan kedua sayapnya terbuka. Clara memegang bulunya sambil tersenyum lebar. Arthur dan Eleanor berdiri tidak jauh dari mereka. Lucian mengenakan pakaian perjalanan keluarga Eisenwald. Ia menatap rumahnya beberapa saat. Lalu menarik napas. Hari keberangkatannya telah tiba.

End of Chapter 9