Chapter 8 of 53
Bab 8 — Kekuatan yang Tersembunyi
1.1k words
Pagi datang di kediaman Eisenwald.
Cahaya matahari menyelinap melewati tirai kamar.
Lucian perlahan membuka mata.
Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam.
Kemudian kejadian semalam kembali terlintas di pikirannya.
Solar.
Star.
Keduanya muncul di dalam tubuhnya.
Awalnya berada di tempat yang sama.
Lalu hampir menghancurkan tubuhnya sendiri.
Tangannya perlahan menyentuh bagian dadanya.
Solar masih berada di sana.
Kemudian ia merasakan pusat energi yang lain.
Jauh lebih rendah.
Di dalam dantian.
Star.
Lucian menarik napas panjang.
“Setidaknya sekarang mereka tidak saling bertabrakan seperti semalam.”
Ia bangkit dari tempat tidur.
Ada satu hal yang ingin ia pastikan.
Seberapa jauh kekuatan ini bisa ia kendalikan?
Hari Pertama
Setelah sarapan, Lucian pergi ke taman belakang.
Ia memilih tempat yang cukup jauh dari rumah.
Tidak ada tongkat di tangannya.
Lucian berdiri menghadap sebuah batu besar.
Ia memejamkan mata.
Mana mulai mengalir.
Solar merespons dari jantungnya.
Cahaya keemasan perlahan muncul.
Namun seperti yang ia temukan semalam—
Star ikut bergerak dari dantian.
Lucian tidak mencoba menghentikannya.
Ia membiarkan kedua energi tersebut mengalir bersama.
Cahaya Solar dan energi Star kemudian bertemu.
Solar Genesis.
Sebuah bola cahaya kecil terbentuk di telapak tangannya.
Lucian mengarahkannya ke batu.
BOOM!
Batu itu pecah.
Lucian terdiam.
Bukan karena kekuatannya.
Ia justru memperhatikan sesuatu yang lain.
Tubuhnya terasa kosong.
“Mana-ku...”
Ia menatap tangannya.
“Cepat sekali habis.”
Padahal serangan tadi tidak menggunakan kekuatan besar.
Lucian mengerutkan kening.
Ia tahu persis berapa banyak mana yang seharusnya dibutuhkan untuk serangan seperti itu.
Namun tubuhnya menghabiskan jauh lebih banyak.
“Menarik.”
Ia tidak langsung mengambil kesimpulan.
Sebagai mantan Archmage, Lucian tahu satu hal:
Satu percobaan tidak cukup untuk menentukan sebuah masalah.
Hari Kelima
Lucian mulai mencatat hasil latihannya.
Berapa banyak mana yang digunakan.
Berapa lama ia mempertahankan Solar Genesis.
Seberapa besar kekuatan yang dihasilkan.
Dan berapa lama tubuhnya membutuhkan waktu untuk pulih.
Hari demi hari, pola yang sama muncul.
Mana miliknya selalu habis lebih cepat.
Lucian mencoba menggunakan Solar Genesis dengan output yang lebih kecil.
Tetap boros.
Ia mencoba menggunakan teknik yang lebih sederhana.
Tetap boros.
Bahkan ketika ia hanya mempertahankan cahaya kecil di telapak tangannya—
mana yang terkuras masih terasa tidak wajar.
Lucian menutup buku catatannya.
“Ini bukan masalah kontrol.”
Ia mulai mencurigai tubuhnya.
Hari Kesepuluh
Lucian melakukan percobaan lain.
Kali ini ia menggunakan mantra dasar yang kebutuhan mananya sudah sangat ia kenal dari kehidupan sebelumnya.
Ia mengaktifkan mantra.
Kemudian menghentikannya.
Lucian melihat hasil pengukuran mana.
Alisnya terangkat.
“...Dua kali.”
Ia melakukan percobaan kedua.
Hasilnya sama.
Ketiga.
Tetap sama.
Lucian bersandar di kursinya.
Mantra yang seharusnya menggunakan sejumlah mana tertentu membutuhkan dua kali lipat ketika digunakan tubuhnya.
“Jadi bukan Solar Genesis.”
Ia menatap tangannya.
“Bahkan sihir biasa juga terkena.”
Sebuah kemungkinan mulai terbentuk dalam pikirannya.
Ada sesuatu pada tubuh ini.
Sesuatu yang tidak pernah dimiliki Aurelius.
Hari Kelima Belas
Lucian menghabiskan beberapa hari berikutnya di perpustakaan.
Buku-buku tentang mana.
Buku-buku tentang tubuh penyihir.
Catatan medis.
Berbagai penyakit yang berhubungan dengan mana.
Sampai akhirnya matanya berhenti pada sebuah istilah.
Mana Lektatik Syndrome.
Lucian membaca penjelasannya perlahan.
Semakin lama ia membaca, semakin jelas jawabannya.
Kondisi tersebut menyebabkan tubuh menggunakan mana jauh lebih banyak daripada kebutuhan normal.
Dalam kasus tertentu—
konsumsi dapat mencapai dua kali lipat.
Lucian menutup buku.
Kini semuanya masuk akal.
Mana yang terasa cepat habis.
Latihan yang terlalu menguras tubuh.
Bahkan mantra sederhana yang menggunakan lebih banyak mana dari seharusnya.
“Jadi ini penyebabnya.”
Lucian bersandar.
Dalam kehidupan pertamanya, Aurelius tidak pernah memiliki kondisi seperti ini.
Tubuh Aurelius mampu menampung dan menggunakan mana secara normal.
Namun tubuh Lucian berbeda.
Ia bukan hanya mendapatkan kehidupan baru.
Ia juga mendapatkan tubuh baru dengan batasannya sendiri.
Lucian terdiam beberapa saat.
Kemudian tersenyum tipis.
“Kalau begitu, aku harus menyesuaikan diri.”
Hari Kedua Puluh
Hari-hari berikutnya dihabiskan untuk eksperimen.
Lucian tidak mencoba meningkatkan kekuatan.
Ia justru mencoba mengurangi pemborosan.
Solar Genesis secara alami menghasilkan energi dalam jumlah besar.
Masalahnya, sebagian besar energi itu tidak diperlukan untuk serangan kecil.
Lucian memperhatikan bola cahaya di tangannya.
Kemudian ia mempersempit aliran mana.
Bola itu mengecil.
Lebih kecil.
Lebih padat.
Lucian terus menekannya.
Cahaya yang sebelumnya memenuhi telapak tangan kini hanya tersisa sebagai titik kecil.
“Kalau kekuatannya dipadatkan...”
Lucian mengangkat tangan.
Telunjuknya lurus.
Ibu jarinya terangkat.
👉🏻
Energi terkumpul di ujung jarinya.
Kemudian—
Pah!
Sebuah proyektil cahaya melesat.
Target kayu di kejauhan langsung berlubang.
Lucian terdiam.
Ia segera memeriksa sisa mana di tubuhnya.
Masih jauh lebih hemat dibandingkan percobaan sebelumnya.
Senyum kecil muncul di wajahnya.
“Berhasil.”
Ini bukan Affinity baru.
Bukan pula kekuatan baru.
Hanya teknik.
Kompresi.
Dengan memadatkan Solar Genesis menjadi bentuk yang jauh lebih kecil, Lucian bisa mengurangi energi yang terbuang.
Namun teknik itu masih belum sempurna.
Beberapa kali percobaan berikutnya gagal.
Ada yang terlalu padat.
Ada yang pecah sebelum ditembakkan.
Ada pula yang menghilang karena konsentrasi Lucian terputus.
Tapi Lucian tidak keberatan.
Ia sudah terbiasa dengan proses seperti ini.
Pengetahuan Aurelius memberinya dasar.
Namun tubuh Lucian memaksanya menemukan cara baru.
Hari Kedua Puluh Lima
Lucian mulai terbiasa dengan keberadaan dua pusat energinya.
Solar di jantung.
Star di dantian.
Keduanya masih harus mengalir bersama ketika Solar Genesis digunakan.
Namun sekarang ia sudah mampu menjaga keduanya tetap stabil.
Setidaknya untuk sementara.
Ia juga mulai memahami kelemahannya.
Semakin besar kekuatan yang dikeluarkan, semakin besar pula beban pada tubuhnya.
Karena Mana Lektatik Syndrome, biaya mana yang seharusnya sudah besar menjadi dua kali lipat.
Artinya—
cara bertarung Aurelius tidak bisa begitu saja digunakan oleh Lucian.
Ia membutuhkan efisiensi.
Ia membutuhkan kontrol.
Dan yang paling penting—
ia membutuhkan cara untuk membuat tubuhnya bekerja sesuai dengan kekuatannya.
Hari Ketiga Puluh
Satu bulan telah berlalu.
Pagi itu Lucian berdiri di taman.
Di depannya terdapat beberapa target kayu.
Ia mengangkat tangannya.
👉🏻
Sebuah titik cahaya terbentuk.
Pah!
Target pertama terkena.
Lucian menggerakkan tangannya.
Pah!
Target kedua.
Kemudian ketiga.
Tidak ada ledakan besar.
Tidak ada energi yang terbuang percuma.
Hanya serangan kecil yang cepat dan terarah.
Lucian menurunkan tangannya.
Ia masih seorang Wizard Level 1.
Masih memiliki Mana Lektatik Syndrome.
Masih belum sepenuhnya memahami kekuatan tersembunyi yang dibawa oleh dua kehidupannya.
Namun satu bulan terakhir telah mengajarinya sesuatu.
Ia tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan Aurelius.
Ia harus menciptakan jalannya sendiri sebagai Lucian.
Lucian menatap langit.
Kemudian tersenyum kecil.
“Kalau tubuh ini berbeda...”
Ia mengepalkan tangannya.
“...maka aku hanya perlu menemukan cara bertarung yang sesuai dengannya.”
Dari kejauhan terdengar suara langkah kecil.
“Kak Cian!”
Lucian menoleh.
Clara berlari menuju taman.
Dan tanpa Lucian sadari—
bulan berikutnya akan membawa sesuatu yang sama sekali tidak berhubungan dengan latihan sihir.
Sesuatu yang kelak akan menjadi partnernya dalam perjalanan menuju Akademi Orion.
Seekor elang.