Chapter 10 of 53

Bab 10 — Perjalanan Menuju Orion

704 words

Pagi itu, halaman kediaman Eisenwald terasa lebih sibuk dari biasanya. Sebuah kereta sihir telah menunggu di depan gerbang utama. Bentuknya menyerupai kereta perjalanan bangsawan pada umumnya. Namun, di bagian bawahnya terdapat beberapa kristal mana yang memancarkan cahaya kebiruan. Kristal-kristal tersebut menjadi sumber tenaga yang menggerakkan kereta tanpa bantuan kuda. Di samping pintu kereta berdiri seorang pria paruh baya dengan tuxedo hitam yang sangat rapi. Rambutnya telah dihiasi beberapa helai uban. Wajahnya tegas, hampir selalu tanpa ekspresi, dan posturnya tegak seperti seseorang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya dalam pelayanan kepada keluarga bangsawan. Di pinggangnya tergantung sebuah rapier sihir. Namanya Cedric Hawthorne. Pengawal pribadi Lucian. “Semua persiapan telah selesai, Tuan Muda.” Cedric memeriksa sekali lagi barang-barang yang akan dibawa. Lucian mengangguk. “Baik.” Di dekat kereta, seorang wanita muda dengan pakaian maid sedang membawa beberapa barang. Berbeda dengan Cedric yang kaku, wanita itu justru tampak jauh lebih ceria. “Yang ini masuk juga, kan?” “Ya, Fiona.” “Baik!” Fiona Bellamy memasukkan koper terakhir ke dalam kereta. Ia kemudian menepuk kedua tangannya. “Selesai!” Cedric menoleh. “Fiona.” “Ya?” “Pastikan tidak ada barang yang tertinggal.” Fiona menunjuk tumpukan barang. “Sudah aku periksa tiga kali.” Cedric diam. “Empat kali kalau yang tadi dihitung.” Cedric mengangguk. “Bagus.” Fiona tersenyum puas. Lucian yang berdiri tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan. “Kalian sudah seperti pasangan suami istri yang sedang memeriksa barang pindahan.” Fiona langsung tertawa. Cedric tetap diam. “Tuan Muda.” “Ya?” “Saya menyarankan agar Anda tidak membuat kesimpulan seperti itu.” Lucian menahan senyum. “Baik.” Di sisi lain halaman, Clara sedang memeluk Astra. Griffin muda itu masih berukuran kurang lebih sebesar tubuh Clara. Sayapnya telah tumbuh dengan jelas, tetapi tubuhnya masih terlalu kecil untuk ditunggangi. Clara mengusap kepalanya. “Astra, jangan nakal selama Kak Cian pergi, ya.” Astra mengeluarkan suara kecil. “Kriiik.” Lucian mendekat. “Dia tidak terlihat seperti akan nakal.” Clara langsung menatapnya. “Karena dia anak baik.” Astra kemudian menggigit ringan ujung pakaian Clara. Clara terdiam. “...Kadang-kadang.” Lucian tersenyum kecil. Fiona menahan tawanya. Cedric hanya berkata datar, “Perilaku tersebut sepertinya sudah cukup menjadi bukti.” “Cedric!” Untuk sesaat, suasana halaman dipenuhi tawa. Kemudian Eleanor berjalan mendekati Lucian. Ia merapikan kerah pakaian putranya dengan lembut. “Jaga dirimu di Orion.” Lucian mengangguk. “Aku akan baik-baik saja, Ibu.” Arthur menyusul dan menepuk bahu Lucian. “Dan jangan hanya belajar.” Lucian menatap ayahnya. “Apa maksud Ayah?” “Sesekali bersenang-senanglah.” Arthur tersenyum. “Kau tidak harus selalu berada di depan buku.” Lucian terdiam. Ia melirik ke arah Clara. Kemudian Astra. Lalu kembali menatap keluarganya. “...Aku akan mencoba.” Clara langsung berlari mendekat. “Kak Cian!” Lucian berjongkok. Clara memeluknya. “Jangan lama-lama!” Lucian tersenyum. “Aku akan pulang.” “Janji?” “Janji.” Clara melepaskan pelukannya. Kemudian ia menunjuk Astra. “Jangan lupa bawa Astra!” Lucian menoleh kepada Griffin kecil itu. Astra berdiri di samping Clara. “Dia ikut.” “Benar?” “Benar.” Clara tersenyum lebar. “Kalau begitu aku tenang!” Lucian berdiri. Ia menatap rumahnya untuk beberapa saat. Sepuluh tahun. Selama sepuluh tahun, tempat itu telah menjadi dunianya. Perpustakaan. Taman. Kamar. Meja makan. Dan orang-orang yang selama ini memanggilnya keluarga. Dalam kehidupan sebelumnya, ia pernah memiliki nama besar. Pernah memiliki kekuasaan. Pernah berdiri di puncak dunia sihir. Namun semua itu terasa berbeda sekarang. Karena kali ini... Ia memiliki tempat untuk kembali. “Tuan Muda.” Suara Cedric membuat Lucian menoleh. “Sudah waktunya.” Lucian mengangguk. “Baik.” Ia masuk ke dalam kereta. Astra ikut masuk dan duduk di sampingnya. Fiona masuk setelah memastikan seluruh barang telah tersimpan. Cedric menutup pintu. Sebelum menaiki bagian depan kereta, ia berdiri menghadap keluarga Eisenwald. “Saya akan memastikan Tuan Muda tiba dengan selamat.” Arthur mengangguk. “Aku mempercayakan Lucian kepadamu.” Cedric menundukkan kepala. “Merupakan kehormatan bagi saya.” Ia kemudian naik ke bagian depan. Beberapa saat kemudian— Wuuummm... Kristal mana di bawah kereta mulai menyala. Roda bergerak perlahan. Clara melambaikan tangan sekuat tenaga. “KAK CIAN!” Lucian membuka jendela. “Sampai jumpa, Clara!” “JANGAN LUPA PULANG!” “Aku tidak akan lupa!” Kereta mulai menjauh dari kediaman Eisenwald. Lucian terus melihat melalui jendela. Sampai akhirnya rumah itu semakin kecil dan perlahan menghilang dari pandangannya. Astra duduk di sampingnya. Fiona duduk berhadapan sambil tersenyum. Cedric mengendalikan kereta dari depan. Lucian menyandarkan tubuhnya ke kursi. Untuk pertama kalinya sejak kelahirannya kembali... Ia benar-benar meninggalkan rumah. Di hadapannya terbentang jalan panjang menuju sebuah tempat yang belum pernah ia datangi. Akademi Orion. Dan untuk pertama kalinya pula, dunia di luar kediaman Eisenwald mulai terbuka di hadapannya.

End of Chapter 10