Chapter 7 of 53
Bab 7 — "Hampir Saja"
905 words
Malam telah larut di kediaman Eisenwald.
Cahaya lampu mana di kamar Lucian perlahan meredup.
Di atas meja, surat dari Akademi Orion masih tergeletak rapi.
Namun malam ini, Lucian tidak memikirkan akademi.
Ia duduk bersila di atas tempat tidur.
Sudah beberapa hari sejak Upacara Kedewasaan Penyihir.
Kini waktunya memastikan apa yang sebenarnya berada di dalam tubuhnya.
Lucian memejamkan mata.
Napasnya menjadi perlahan dan teratur.
Mana mulai bergerak mengikuti kehendaknya.
Tidak ada rasa gugup.
Tidak ada kebingungan.
Proses ini sudah sangat ia kenal.
Dalam kehidupan pertamanya sebagai Aurelius Vance, ia telah melewati seluruh tingkatan penyihir.
Wizard Level 1.
Wizard Level 2.
Hingga—
Wizard Level 9.
Setelah itu, barulah seorang penyihir dapat melangkah menuju ranah Archmage.
Dan Lucian pernah mencapai puncak tersebut.
Karena itu, membentuk Mana Circle pertama bukanlah sesuatu yang sulit baginya.
Ia tahu bagaimana mana harus dikumpulkan.
Bagaimana alirannya harus diarahkan.
Bagaimana struktur Circle harus dibentuk.
Mana berputar semakin cepat.
Kemudian perlahan membentuk sebuah lingkaran.
Satu Mana Circle.
Lucian tetap tenang.
“Wizard Level satu.”
Hanya itu.
Ia belum kembali ke kekuatan yang pernah dimilikinya.
Namun setidaknya fondasinya telah terbentuk.
Lucian kemudian mengarahkan kesadarannya lebih dalam.
Ia mencari Affinity yang telah ditunjukkan oleh Resonance Crystal.
Solar.
Mana di dalam tubuhnya mulai berubah.
Cahaya keemasan muncul.
Sebuah lingkaran bercahaya perlahan terbentuk di sekitar pusat jantungnya.
Lucian merasakan energi tersebut.
Hangat.
Terang.
Stabil.
“Jadi ini Solar.”
Namun—
beberapa detik kemudian, sesuatu yang lain muncul.
Lucian langsung membuka matanya.
Energi kedua mulai muncul dari tempat yang sama.
Bukan Solar.
Energi itu terasa berbeda.
Lebih luas.
Lebih dalam.
Seolah membawa sesuatu yang berasal dari ruang yang jauh di luar dirinya.
Lucian terdiam.
Kemudian ia mengenalinya.
“...Star.”
Ingatan Aurelius muncul.
Affinity yang pernah ia miliki dalam kehidupan pertamanya.
Light & Cosmic Energy.
Lucian perlahan menyadari kenyataan yang tidak pernah ia bayangkan.
Dalam kehidupan pertama—
ia adalah Aurelius.
Ia memiliki satu Affinity unik.
Dalam kehidupan kedua—
ia terlahir sebagai Lucian.
Ia mendapatkan Affinity unik lainnya.
Dua kehidupan.
Satu jiwa.
Dan sekarang—
keduanya berada dalam tubuh yang sama.
Dua energi itu terus berkembang.
Solar.
Star.
Namun ada satu masalah.
Keduanya muncul di tempat yang sama.
Jantung.
Lucian mencoba mengendalikan keduanya.
Awalnya berhasil.
Solar mengalir dengan tenang.
Star mengikuti.
Namun semakin jauh ia mencoba menyelaraskan keduanya—
semakin kuat tekanan yang muncul.
Lucian mengerutkan kening.
“Tidak mungkin...”
Mana mulai bergejolak.
Kedua energi tersebut saling beresonansi.
Kemudian—
DUUM!
Tubuh Lucian tersentak.
Napasnya terputus.
Ia langsung kehilangan kendali atas aliran mana.
Kedua Circle berputar dengan kecepatan yang tidak seharusnya.
Jantungnya terasa seperti dihantam dari dalam.
Lucian menahan rasa sakit dan segera mencoba menstabilkan aliran.
Namun justru semakin buruk.
Solar dan Star tidak bisa terus berada di pusat yang sama.
Lucian menyadarinya.
Kalau dibiarkan—
tubuhnya tidak akan mampu menahannya.
“Kalau terus seperti ini...”
Napasnya semakin berat.
“...aku bisa mati.”
Untuk pertama kalinya sejak terlahir kembali, Lucian benar-benar berada dalam situasi yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan pengetahuan lamanya.
Namun ia tidak menyerah.
Dia pernah menghadapi sesuatu yang jauh lebih sulit dalam kehidupan pertama.
Ia tidak akan mati hanya karena kekuatan yang baru saja ia temukan.
Lucian memusatkan seluruh kesadarannya.
Ia mencoba memisahkan kedua energi tersebut.
Tidak berhasil.
Ia mencoba menekan Solar.
Tidak berhasil.
Ia mencoba menekan Star.
Keduanya kembali bertabrakan.
“Kalau begitu...”
Lucian menggertakkan gigi.
“...salah satunya harus dipindahkan.”
Ia mengarahkan mana ke salah satu Circle.
Namun tubuhnya kembali bergetar.
Tekanan semakin besar.
Penglihatannya mulai kabur.
Lucian tidak tahu apakah usahanya akan berhasil.
Ia hanya tahu satu hal.
Ia harus memindahkan salah satunya.
Dengan sisa konsentrasinya, Lucian memaksa aliran Star bergerak menjauh dari jantung.
Sedikit.
Kemudian sedikit lagi.
Star menolak.
Lucian terus memaksanya.
Sampai akhirnya—
Circle Star bergerak.
Melewati jalur mana di dalam tubuhnya.
Turun.
Semakin rendah.
Hingga akhirnya berhenti di bawah pusat tubuhnya.
Dantian bawah.
Saat Star Circle mencapai tempat itu—
tekanan yang memenuhi tubuh Lucian tiba-tiba berkurang.
Solar tetap berada di jantung.
Star berada di dantian.
Dua pusat.
Dua energi.
Namun masih terhubung.
Lucian terdiam.
Napasnya tersengal.
Keringat membasahi wajahnya.
Untuk beberapa saat, ia hanya duduk diam.
Kemudian perlahan—
ia merasakan tubuhnya kembali stabil.
“...Berhasil.”
Ia menatap dadanya.
Solar Circle masih berputar di sekitar jantung.
Kemudian ia merasakan pusat energi lainnya.
Star Circle berada jauh lebih rendah.
Lucian menghela napas panjang.
Ia sendiri bahkan tidak sepenuhnya sadar bagaimana ia berhasil memindahkannya.
Namun hasilnya nyata.
Dua energi yang sebelumnya hampir menghancurkan tubuhnya kini dapat mengalir secara bersamaan.
Lucian mencoba mengalirkan sedikit Solar.
Star ikut bergerak.
Ia mencoba mengalirkan Star.
Solar kembali merespons.
Lucian terdiam.
“Jadi... mereka memang harus bersama.”
Bukan dua Affinity yang bisa digunakan secara terpisah.
Ketika kekuatan itu dikeluarkan—
Solar dan Star harus mengalir bersamaan.
Dua energi tersebut kemudian menyatu menjadi satu fenomena baru.
Sebuah kekuatan yang tidak pernah dimiliki Aurelius.
Tidak pernah dimiliki Lucian secara terpisah.
Solar Genesis.
Lucian menatap kedua Circle tersebut.
“Menarik...”
Ia tersenyum tipis.
“Tapi ini masih belum menjelaskan semuanya.”
Ia tahu satu hal dengan pasti.
Meski tubuhnya sekarang memiliki dua Circle yang terlihat berbeda—
ia tetap Wizard Level 1.
Karena perkembangan tingkat penyihir tidak ditentukan oleh banyaknya fenomena aneh yang terdapat di dalam tubuhnya.
Ia ditentukan oleh Mana Circle yang berhasil dibangun untuk perkembangan tingkat penyihir.
Dan saat ini—
ia baru memiliki satu.
Lucian bersandar perlahan.
Malam kembali sunyi.
Namun pikirannya justru semakin ramai.
Ia telah mendapatkan kehidupan kedua.
Ia telah mendapatkan Affinity baru.
Dan sekarang dua kehidupan itu telah bertemu di dalam satu tubuh.
Lucian menatap langit malam melalui jendela.
Bintang-bintang bersinar jauh di atas sana.
Senyumnya kembali muncul.
“Sepertinya... kehidupan kedua ini akan jauh lebih menarik daripada yang kubayangkan.”