Chapter 6 of 53

Bab 6 — Surat yang Tak Terduga

586 words

Pagi datang seperti biasanya di kediaman Eisenwald. Cahaya matahari menyusup melalui celah tirai kamar, jatuh tepat ke wajah seorang anak laki-laki yang masih terbaring di tempat tidurnya. Lucian perlahan membuka mata. Ia menatap langit-langit kamar beberapa saat. Kemudian ingatannya kembali pada kejadian kemarin. Upacara Kedewasaan Penyihir. Resonance Crystal. Dan cahaya keemasan yang memenuhi ruangan. Solar. Lucian duduk di tepi tempat tidur. “Jadi... Affinity-ku adalah Solar.” Ia mengangkat tangannya. Tidak ada perubahan apa pun. Lucian memejamkan mata dan mencoba merasakan mana di dalam tubuhnya. Aliran energi perlahan terasa. Hangat. Namun ketika ia mencoba menariknya sedikit lebih banyak— Lucian langsung menghentikannya. Tubuhnya terasa tidak nyaman. “...Sepertinya aku belum bisa menggunakan banyak mana.” Ia membuka mata. Ada satu hal yang belum ia pahami. Mengapa menggunakan mana terasa lebih berat daripada yang seharusnya? Lucian belum mengetahui bahwa tubuhnya memiliki Mana Lektatik Syndrome. Ia hanya menganggap dirinya perlu belajar mengendalikan mana dengan lebih baik. “Kalau begitu, aku harus mulai dari dasar.” Ia turun dari tempat tidur. Beberapa saat kemudian, Lucian berjalan menuju ruang makan. Begitu masuk, ia langsung melihat Clara yang sedang duduk di samping Eleanor. Clara menoleh. “Kak!” Lucian duduk. “Pagi.” Clara langsung mendekatkan wajahnya. “Kak Cian bisa bikin matahari?” Lucian berhenti mengambil roti. “...Apa?” “Kemarin katanya Kak dapat Solar.” Arthur yang sedang meminum tehnya langsung tertawa. “Sepertinya Clara sudah punya banyak pertanyaan.” “Memangnya kalau punya Solar langsung bisa membuat matahari?” tanya Lucian. Clara berpikir sebentar. “Bisa?” “Tidak sesederhana itu.” Clara mengembungkan pipinya. “Yah.” Eleanor tersenyum. “Biarkan kakakmu sarapan dulu.” Clara kembali ke tempat duduknya. Namun beberapa detik kemudian ia berbisik, “Kalau Kak Cian bisa bikin matahari, jangan bikin di kamarku.” Lucian menatapnya. “Aku juga tidak punya alasan untuk melakukan itu.” Arthur kembali tertawa. Pagi itu berlalu dengan sederhana. Tidak ada perayaan besar. Tidak ada perubahan mendadak. Bagi Lucian, kehidupan tetap berjalan seperti biasa. Hanya saja sekarang ia memiliki satu hal baru untuk dipelajari. Solar. Setelah sarapan, Lucian kembali ke perpustakaan. Ia mengambil beberapa buku mengenai Affinity berbasis energi. Satu demi satu halaman dibuka. Solar dikenal sebagai Affinity yang berkaitan dengan energi matahari dan panas. Namun semakin lama Lucian membaca, semakin banyak hal yang terasa tidak cocok. “Hmm...” Ia menyentuh dagunya. Penjelasan mengenai Solar cukup jelas. Tetapi ada sesuatu dalam aliran mana miliknya yang terasa berbeda. Seolah-olah ada bagian lain yang belum ia pahami. Lucian menutup buku. “Perasaanku saja?” Ia tidak memaksakan diri mencari jawabannya. Untuk saat ini, ia memilih mempelajari apa yang sudah diketahui. Ia mengambil buku lain. Kemudian buku berikutnya. Sampai— Tok. Tok. Lucian menoleh. Pintu perpustakaan terbuka. Seorang pelayan berdiri di sana. “Tuan Muda, ada seseorang yang ingin bertemu dengan Tuan Arthur.” “Siapa?” “Seorang pembawa surat resmi.” Lucian mengangguk. “Baik.” Ia kembali melihat bukunya. Namun beberapa menit kemudian, langkah kaki terdengar dari lorong. Lebih cepat dari biasanya. Lucian mengangkat kepala. Pintu perpustakaan terbuka. Arthur berdiri di sana. Di tangannya terdapat sebuah amplop berwarna putih keperakan. “Ada sesuatu untukmu, Lucian.” Lucian berdiri. “Untukku?” Arthur mengangguk. Ia menyerahkan amplop tersebut. Lucian menerimanya. Begitu melihat lambang yang tercetak pada bagian depan, tatapannya berhenti. Sebuah lambang akademi. Arthur memperhatikan reaksinya. “Buka saja.” Lucian perlahan membalik amplop itu. Segelnya masih utuh. Ia membukanya. Matanya membaca baris pertama. Kemudian baris berikutnya. Wajahnya tetap tenang. Namun tatapannya mulai berubah. Di bagian atas surat tertulis jelas: AKADEMI ORION Lucian terdiam. Arthur tersenyum kecil. “Sepertinya seseorang baru saja mendapatkan kesempatan baru.” Lucian menurunkan surat itu sedikit. “Akademi Orion...” Untuk pertama kalinya sejak upacara kemarin, pikirannya tidak lagi hanya tertuju pada Affinity barunya. Ada sesuatu yang jauh lebih besar menunggunya. Dan kali ini... namanya tertulis di sana.

End of Chapter 6