Chapter 5 of 53

Bab 5 — Cahaya di Dalam Kristal

704 words

Pagi akhirnya tiba. Cahaya matahari menyinari kediaman keluarga Eisenwald ketika Lucian membuka matanya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap langit-langit kamarnya. Hari ini. Ia tidak perlu menebak lagi. Hari ini ia akan mengetahui Affinity yang berada di dalam dirinya. Lucian bangkit dari tempat tidur dan mulai bersiap. Pakaian yang telah disiapkan sejak malam sebelumnya sudah menunggunya. Jubah biru gelap dengan aksen emas dan detail putih keperakan. Lambang kecil keluarga Eisenwald terpasang di kerah kanannya. Setelah mengenakannya, Lucian berdiri di depan cermin. Tidak ada yang berubah dari wajahnya. Namun ada sedikit rasa penasaran yang tidak bisa ia sembunyikan. Tok. Tok. “Kak?” Lucian menoleh. Clara membuka pintu sedikit. “Sudah siap?” “Sudah.” Clara masuk dan memandangnya. “Wah...” “Apa?” “Kak Cian kelihatan keren.” Lucian tersenyum kecil. “Terima kasih.” Clara kemudian mengangkat kedua tangannya. “Semangat!” Lucian menatapnya sebentar. Lalu mengangkat tangannya dan menepuk kepala Clara pelan. “Aku akan kembali nanti.” “Jangan lama-lama.” “Aku cuma mengikuti upacara.” “Iya, tapi tetap jangan lama.” Lucian tertawa kecil. “Baik.” Perjalanan menuju tempat upacara tidak berlangsung lama. Ketika mereka tiba, suasananya sudah ramai. Anak-anak seusia Lucian datang bersama keluarga masing-masing. Ada yang terlihat gugup. Ada yang terus berbicara karena terlalu bersemangat. Bahkan beberapa anak terlihat berusaha menebak Affinity mereka sendiri. Lucian hanya memperhatikan dari kejauhan. Ia tidak ikut menebak. Pengalaman mengajarinya bahwa dugaan sering kali berbeda dari kenyataan. Mereka memasuki aula. Di bagian tengah ruangan berdiri sebuah Resonance Crystal. Bentuknya seperti bola besar yang bening. Di dalamnya terdapat cahaya tipis yang bergerak perlahan. Lucian menatapnya. Jadi itu alatnya. Ia pernah membaca tentang kristal seperti itu. Namun melihatnya secara langsung terasa berbeda. Seorang penyihir tua berdiri di samping kristal. “Upacara akan segera dimulai.” Suasana aula perlahan menjadi tenang. “Setiap peserta akan maju satu per satu.” Ia mengangkat tangannya ke arah kristal. “Kalian hanya perlu menyentuhnya dan membiarkan mana kalian mengalir secara alami.” “Jangan memaksakan apa pun.” “Kristal akan menunjukkan resonansi yang paling kuat dalam diri kalian.” Lucian memperhatikan dengan saksama. Satu per satu peserta maju. Seorang anak menghasilkan cahaya merah. “Fire.” Anak berikutnya menghasilkan aliran air. “Water.” Yang lain menghasilkan pusaran angin. “Wind.” Sorak-sorai kecil terdengar dari keluarga mereka. Lucian terus menunggu. Sampai akhirnya— “Peserta berikutnya.” Penyihir tua itu melihat daftar di tangannya. “Lucian Eisenwald.” Beberapa kepala langsung menoleh. Lucian berdiri. Ia berjalan menuju tengah aula. Tidak terburu-buru. Tidak ragu. Sesampainya di depan kristal, ia berhenti. Penyihir tua itu berkata, “Letakkan tanganmu.” Lucian mengangkat tangannya. Telapak tangannya menyentuh permukaan kristal. Untuk sesaat— Tidak terjadi apa-apa. Lucian sedikit mengernyit. Kemudian— WHOOOM! Cahaya keemasan meledak dari dalam kristal. Seluruh aula dipenuhi cahaya. Lucian membuka matanya sedikit lebih lebar. Di dalam kristal terbentuk sebuah bola cahaya. Bulat. Terang. Hangat. Seperti matahari kecil. Cahaya itu semakin kuat. Penyihir tua tersebut menatap kristal dengan ekspresi terkejut. “Affinity...” Ia berhenti sesaat. “Solar.” Suasana aula langsung dipenuhi suara. “Solar?!” “Benarkah?” “Affinity Solar?” Lucian sendiri hanya menatap kristal. Solar. Jadi... ini Affinity-ku? Ada sesuatu yang aneh. Cahaya itu terasa familiar. Sangat familiar. Namun Lucian tidak bisa menjelaskan alasannya. Ia menarik tangannya. Cahaya perlahan meredup. Upacara selesai. Arthur tersenyum bangga. Eleanor terlihat lega. Clara yang menunggu dari tempatnya langsung mengangkat tangan. “Kak!” Lucian menoleh. Clara tersenyum lebar. Lucian membalasnya dengan senyum kecil. Ia kemudian kembali ke keluarganya. “Selamat,” kata Arthur. “Terima kasih, Ayah.” Eleanor memegang bahunya. “Bagaimana perasaanmu?” Lucian berpikir sebentar. “...Menarik.” Arthur tertawa. “Tentu saja kau menjawab begitu.” Beberapa saat kemudian, seluruh peserta dan keluarga mulai meninggalkan aula. Pesta telah disiapkan di tempat lain. Lucian ikut pergi bersama keluarganya. Tidak ada seorang pun yang memperhatikan kristal yang kini tertinggal sendirian. Aula menjadi semakin sunyi. Lalu— Ting. Sebuah titik cahaya muncul di dalam kristal. Kemudian satu lagi. Dan satu lagi. Cahaya kecil itu berkumpul di tengah. Sebuah bola keemasan kembali terbentuk. Namun kali ini... sesuatu yang berbeda muncul. Di sekeliling bola tersebut terdapat titik-titik cahaya kecil. Jumlahnya semakin banyak. Mereka berputar perlahan mengelilingi bola keemasan. Seperti... bintang-bintang yang mengelilingi matahari. Resonance Crystal bergetar pelan. Cahaya keemasan dan titik-titik kecil itu bertahan selama beberapa detik. Kemudian— Ting. Semuanya menghilang. Kristal kembali bening. Tidak ada seorang pun yang melihatnya. Tidak Lucian. Tidak Arthur. Tidak Eleanor. Tidak Clara. Tidak seorang pun. Dan Lucian tetap percaya bahwa hari itu, kristal hanya menunjukkan satu hal kepadanya. Solar. Padahal di dalam dirinya, sesuatu yang jauh lebih besar telah mulai terbangun

End of Chapter 5