Chapter 52 of 53
Bab 52 — Cara Berpikir yang Berbeda
971 words
Bel tanda pergantian kelas terdengar di seluruh Akademi Orion.
Lucian keluar dari workshop bersama Gideon, Valerine, dan Julian.
Julian masih membawa catatan yang penuh coretan.
“Gue masih kepikiran rancangan tadi.”
Gideon menatapnya.
“Lu serius mau memperbaikinya?”
“Bukan cuma memperbaiki.”
Julian mengangkat catatannya.
“Gue mau bikin versi yang bisa dipakai untuk mesin yang lebih besar.”
Valerine melirik sketsa itu.
“Mesin industri?”
“Ya.”
“Bukankah itu membutuhkan kristal dalam jumlah besar?”
“Betul.”
Julian tersenyum.
“Dan itu berarti lebih banyak orang yang membutuhkan kristal.”
Lucian berjalan sambil membaca jadwal kelasnya.
“Jadi tujuanmu bukan sekadar membuat alat.”
Julian menatapnya.
“Memangnya?”
“Kau memikirkan bagaimana alat itu akan digunakan.”
Julian terdiam sebentar.
Kemudian ia tertawa kecil.
“Kalau alatnya cuma bagus di atas meja, buat apa?”
Lucian mengangkat pandangan.
Jawaban itu sederhana.
Namun ia menyukainya.
Di kehidupan pertamanya, Aurelius sering melihat para penyihir menciptakan sesuatu yang luar biasa hanya untuk membuktikan bahwa mereka mampu.
Julian berbeda.
Ia berpikir tentang penggunaan.
Tentang kebutuhan.
Tentang dunia di luar laboratorium.
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Julian menunjuknya.
“Nah, itu lagi.”
Gideon tertawa.
“Sudahlah. Dia memang begitu.”
Mereka sampai di persimpangan koridor.
Jadwal mereka mulai berbeda.
Valerine menuju kelas Rune.
Gideon menuju latihan Magic Battle-Mage.
Julian kembali ke workshop.
Sementara Lucian menuju kelas Teori Affinity bersama Professor Celestine.
Sebelum berpisah, Julian berkata,
“Lucian.”
Lucian menoleh.
“Kalau nanti lo punya ide lain soal mesin itu, kasih tahu gue.”
“Baik.”
“Dan jangan bilang ‘menarik’ doang.”
Lucian mengangkat alis.
“Aku akan mempertimbangkannya.”
Julian tertawa.
“Ya, itu lebih baik.”
Mereka berpisah.
Namun kali ini, Julian tidak lagi terasa seperti seseorang yang kebetulan mereka temui di ujian.
Ia mulai menjadi bagian dari kehidupan Orion mereka.
---
Kelas Teori Affinity
Ruangan itu lebih tenang dibandingkan kelas-kelas sebelumnya.
Tidak ada arena.
Tidak ada senjata.
Hanya meja, papan tulis, dan kristal-kristal kecil yang digunakan sebagai media pembelajaran.
Professor Celestine berdiri di depan kelas.
Hari itu ia membawa tiga kristal berbeda.
“Pada ujian masuk, kalian sudah menunjukkan kemampuan menggunakan Affinity.”
Ia meletakkan kristal pertama.
“Sekarang saya ingin kalian memahami sesuatu yang lebih penting.”
Kristal itu menyala.
“Batas Affinity kalian.”
Beberapa siswa mulai memperhatikan.
Celestine menatap seluruh kelas.
“Affinity bukan sekadar sumber kekuatan. Affinity menentukan bagaimana mana kalian berinteraksi dengan dunia.”
Ia mengangkat kristal kedua.
“Dua orang bisa memiliki jumlah mana yang hampir sama.”
Kristal kedua menyala.
“Tetapi hasil sihir mereka dapat berbeda jauh.”
Ia mengangkat kristal ketiga.
“Karena yang menentukan bukan hanya jumlah.”
Lucian menyandarkan tubuhnya sedikit.
Ia sudah memahami konsep itu sejak kehidupan pertama.
Namun ia tetap mendengarkan.
Karena ada sesuatu yang ingin ia ketahui.
Celestine melanjutkan.
“Pemahaman.”
Beberapa siswa mulai mencatat.
“Semakin kalian memahami sifat Affinity kalian, semakin sedikit mana yang terbuang.”
Lucian langsung teringat kondisinya sendiri.
Mana Lektatik Syndrome.
Tubuhnya membutuhkan mana dua kali lebih banyak dibandingkan penyihir normal.
Efisiensi bukan sekadar pilihan baginya.
Itu kebutuhan.
Celestine kemudian menggambar dua lingkaran di papan.
“Misalnya, seorang penyihir menggunakan seratus unit mana.”
Ia menulis angka di bawahnya.
100
“Jika tekniknya tidak efisien, mungkin hanya enam puluh atau tujuh puluh unit yang benar-benar menjadi efek sihir.”
Ia menggambar lingkaran kedua.
“Penyihir yang memahami Affinity-nya dapat menghasilkan efek yang sama dengan konsumsi lebih rendah.”
Lucian memperhatikan angka tersebut.
Itu sebabnya teknik kompresi penting.
Ia sudah mengetahui prinsipnya.
Solar Genesis memiliki kecenderungan menghasilkan energi besar.
Kalau dibiarkan mengalir begitu saja, konsumsi mananya akan menjadi masalah.
Terlebih tubuhnya sendiri sudah memiliki keterbatasan.
Celestine kemudian berkata,
“Sekarang saya ingin kalian melakukan latihan sederhana.”
Setiap siswa mendapatkan kristal kecil.
“Alirkan mana kalian ke kristal.”
Satu per satu siswa mulai mencoba.
Kristal berubah warna sesuai Affinity masing-masing.
Ketika giliran Lucian tiba, ia menyentuh kristal.
Mana mengalir.
Namun ia tidak mengalirkannya secara kasar.
Ia mengatur alirannya sedikit demi sedikit.
Stabil.
Terukur.
Tidak ada energi yang terbuang.
Kristal menyala dengan cahaya keemasan lembut.
Celestine memperhatikannya.
“Lucian.”
“Ya, Professor?”
“Kau mengatur aliranmu dengan sangat hati-hati.”
“Apakah itu salah?”
“Tidak.”
Celestine berjalan mendekat.
“Justru sebaliknya.”
Ia melihat kristal tersebut.
“Tapi jangan sampai kehati-hatian membuatmu takut menggunakan kekuatan.”
Lucian diam.
Kalimat itu sederhana.
Namun ada bagian dari dirinya yang memahami maksudnya.
Ia terlalu terbiasa menghitung risiko.
Terlalu terbiasa menyembunyikan kemampuan.
Pengalaman Aurelius membuatnya tahu bahwa kekuatan besar tanpa kendali bisa menjadi bencana.
Tetapi mungkin...
menahan diri terlalu jauh juga bukan jawaban.
Celestine kembali ke depan kelas.
“Tujuan seorang penyihir bukan menggunakan mana sesedikit mungkin.”
Ia menatap seluruh siswa.
“Tujuannya adalah menggunakan mana secukupnya untuk menghasilkan hasil yang dibutuhkan.”
Lucian menatap kristalnya.
Kalimat itu ia simpan dalam pikirannya.
---
Setelah kelas berakhir, Lucian keluar bersama Gideon.
Gideon mengusap lehernya.
“Gua masih lebih suka latihan fisik.”
Valerine yang baru keluar dari kelas sebelah menjawab,
“Karena teori membuatmu berpikir.”
“Dan itu masalah?”
“Untukmu, mungkin.”
“Woi.”
Lucian tertawa kecil.
Namun sebelum mereka melanjutkan langkah—
Suara perempuan terdengar dari belakang.
“Lucian Eisenwald.”
Mereka berhenti.
Seorang gadis berdiri beberapa meter dari mereka.
Rambutnya teratur sempurna.
Seragam Dragon dikenakan tanpa satu pun lipatan yang terlihat.
Tatapannya tajam.
Aura mana yang mengelilinginya terasa panas.
Lady Rosalind von Eisenach.
Ia berjalan mendekat.
Matanya tertuju pada Lucian.
“Aku ingin membicarakan sesuatu.”
Gideon langsung menatap Lucian.
Valerine hanya diam.
Lucian menutup bukunya.
“Apa?”
Rosalind berhenti tepat di hadapannya.
“Cara kau menggunakan sihir.”
Lucian mengangkat alis.
Rosalind melanjutkan.
“Kau terlalu berhati-hati.”
Koridor mendadak terasa lebih sunyi.
Lucian menatapnya beberapa detik.
“Dan menurutmu itu masalah?”
“Ya.”
Rosalind menjawab tanpa ragu.
“Penyihir yang selalu menahan diri tidak akan pernah mengetahui batas sebenarnya dari kemampuannya.”
Lucian tersenyum tipis.
“Begitu juga penyihir yang tidak tahu kapan harus berhenti.”
Mata Rosalind sedikit menyipit.
Gideon perlahan mundur.
“Kayaknya gua nggak perlu ikut campur.”
Valerine mengangguk.
“Untuk kali ini, saya setuju.”
Rosalind tidak mengalihkan pandangan dari Lucian.
“Kalau begitu, kita lihat siapa yang benar.”
Lucian memasukkan tangannya ke saku.
“Silakan.”
Rosalind berbalik.
Namun sebelum pergi, ia berkata,
“Besok. Arena latihan.”
Lucian memandang punggungnya.
Sebuah tantangan baru saja diberikan.
Dan untuk pertama kalinya sejak kehidupan akademinya dimulai—
Lucian tidak bisa menghindari satu hal.
Ia harus menunjukkan sedikit dari apa yang sebenarnya mampu ia lakukan.