Chapter 51 of 53
Bab 51 — Orang yang Kembali dari Perjalanan
987 words
Pagi di Akademi Orion terasa berbeda.
Tidak ada lagi barisan panjang sepuluh ribu peserta. Tidak ada arena seleksi. Tidak ada gelang teleportasi darurat. Tidak ada ketegangan menunggu nama mereka diumumkan.
Yang tersisa hanyalah kehidupan sebagai siswa.
Lucian berjalan melewati koridor utama dengan buku di tangan. Seragam biru gelapnya tertata rapi, sementara langkahnya tenang seperti biasa.
Di sampingnya, Gideon berjalan sambil menguap.
“Gua masih belum terbiasa bangun sepagi ini.”
Valerine meliriknya.
“Bukankah kita sudah menjalani seluruh rangkaian ujian sejak pagi?”
“Itu berbeda.”
“Bagaimana?”
“Waktu ujian, gua punya alasan untuk bangun.”
Lucian menutup bukunya sebentar.
“Alasanmu sekarang adalah tidak terlambat.”
Gideon terdiam.
“...Itu alasan yang buruk.”
Valerine tersenyum tipis.
Mereka bertiga baru saja keluar dari kelas Taktik ketika sebuah suara terdengar dari ujung koridor.
“Kalau kalian mau masuk ke laboratorium artefak, jangan sentuh rak sebelah kiri.”
Lucian berhenti.
Suara itu terasa familiar.
Seorang pemuda berjalan mendekati mereka dengan beberapa kotak kecil di kedua tangannya. Rambutnya sedikit berantakan, pakaiannya rapi tetapi tidak seformal kebanyakan bangsawan di Orion.
Dia berhenti beberapa langkah dari mereka.
“Rak sebelah kiri penuh dengan kristal yang sedang diuji. Salah sedikit, satu lantai bisa ikut bergetar.”
Gideon mengangkat alis.
“Lu ngomong berdasarkan pengalaman?”
Pemuda itu tersenyum.
“Berdasarkan pengalaman orang lain.”
Lucian menatapnya beberapa detik.
Lalu ia mengenalinya.
“Julian.”
Julian Sterling.
Pemuda yang mereka temui dalam ujian camping.
Julian mengangkat satu alis.
“Wah. Gue kira bangsawan seperti lo sudah lupa sama peserta camping yang kerjaannya bongkar-bongkar barang.”
Lucian menjawab datar.
“Aku tidak mudah melupakan sesuatu yang menarik.”
Julian terkekeh.
“Masih sama rupanya.”
Gideon langsung mendekat.
“Jadi sekarang lu sekolah di sini?”
“Ya.”
“Masuk kelas apa?”
“Dragon.”
Gideon berhenti.
Valerine ikut menatap Julian.
Lucian hanya mengangguk kecil.
“Begitu.”
Julian mengangkat kotak di tangannya.
“Sayangnya gue nggak bisa lama-lama ngobrol. Professor Seraphine minta kristal ini dibawa ke workshop.”
“Perlu bantuan?” tanya Lucian.
Julian menatapnya.
“Dari lo?”
“Kenapa?”
“Karena terakhir kali gue lihat lo, lo lebih tertarik mengamati sistem daripada membantu mengangkat barang.”
Lucian menatap kotak-kotak itu.
“Benar.”
“...”
“Namun sekarang aku sedang mencoba memahami cara kerja workshop Orion.”
Julian tersenyum.
“Nah, itu baru alasan yang masuk akal.”
Gideon menepuk bahu Lucian.
“Lu cuma penasaran, kan?”
Lucian menatapnya.
“Bukankah itu hal yang sama?”
“Tidak.”
“Menurutku sama.”
Valerine menghela napas kecil.
“Sudahlah. Kalau terus berdebat, Julian akan terlambat.”
Julian mengangguk.
“Benar juga.”
Mereka kemudian berjalan bersama menuju workshop.
---
Workshop Orion jauh lebih ramai dibandingkan ketika mereka mengunjunginya saat orientasi.
Suara logam bertemu logam terdengar dari berbagai sudut. Kristal mana berpendar di dalam tabung pengaman. Beberapa siswa bekerja di meja masing-masing di bawah pengawasan Professor Seraphine Mordane.
Di bagian tengah ruangan, Borin Ironvale sedang memeriksa sebuah perangkat berbentuk silinder.
“Taruh di sana!”
Julian mengikuti perintah itu.
“Sudah.”
Borin melirik.
“Jangan berdiri seperti tiang. Buka kotaknya.”
Julian membuka salah satu kotak.
Di dalamnya terdapat beberapa kristal transparan dengan warna biru pucat.
Lucian langsung memperhatikan bentuknya.
“Kristal konduktor?”
Julian menoleh.
“Benar.”
Lucian mendekat.
“Strukturnya berbeda dari kristal yang digunakan pada laboratorium mana.”
“Karena ini bukan untuk penyimpanan.”
Julian mengambil satu kristal.
“Ini untuk transfer.”
Ia meletakkannya pada meja.
“Kristal biasa bisa menyimpan mana. Tapi ketika dipakai terus-menerus sebagai jalur transfer, struktur internalnya akan mengalami tekanan. Kalau terlalu tinggi, kristal retak.”
Lucian memperhatikan kristal tersebut.
“Jadi kalian membutuhkan material yang bisa mempertahankan aliran tanpa menyimpan terlalu banyak energi.”
Julian tersenyum.
“Persis.”
Borin berhenti bekerja.
Ia melirik Lucian.
“Kau cepat menangkapnya.”
Lucian tidak menjawab.
Matanya justru tertuju pada sebuah alat di belakang Julian.
Sebuah mesin kecil dengan beberapa pipa logam dan kristal mana di bagian tengah.
“Untuk apa alat itu?”
Julian mengikuti arah pandangnya.
“Mana regulator.”
Lucian mendekat.
“Masih menggunakan mekanisme tekanan?”
“Ya.”
“Tidak efisien.”
Julian langsung menatapnya.
“...Apa?”
Lucian menunjuk bagian tengah mesin.
“Aliran mana dipaksa melewati satu jalur. Ketika tekanan berubah, regulator harus menyesuaikan ulang. Itu menciptakan kehilangan energi.”
Julian menyipitkan mata.
“Terus?”
“Buat dua jalur.”
Julian terdiam.
Lucian mengambil pensil dan menggambar sketsa sederhana di atas kertas kosong.
“Jalur pertama untuk aliran utama. Jalur kedua sebagai penyeimbang. Ketika tekanan meningkat, sebagian aliran dialihkan.”
Julian memperhatikan gambar tersebut.
Lalu senyumnya perlahan muncul.
“Ini...”
Borin ikut mendekat.
Julian menunjuk sketsa itu.
“Kalau begini, regulator tidak perlu bekerja terlalu keras.”
Lucian mengangguk.
“Dan kehilangan mana bisa dikurangi.”
Julian menatap Lucian beberapa saat.
“Lo baru pertama kali masuk kelas di sini, kan?”
“Ya.”
“Kenapa rasanya lo sudah membaca setengah isi workshop?”
Lucian memasukkan pensil kembali ke saku.
“Pengalaman.”
Jawaban itu membuat Julian terdiam.
Bukan karena puas.
Justru karena jawabannya terlalu sederhana.
Julian pernah melihat Lucian dalam ujian camping. Ia tahu pemuda itu pintar.
Tapi yang sekarang berbeda.
Lucian bukan sekadar memahami teori.
Ia melihat sesuatu seolah-olah pernah menggunakannya selama bertahun-tahun.
Julian akhirnya tersenyum kecil.
“Menarik juga.”
Lucian menatapnya.
“Jangan gunakan kata itu.”
Julian bingung.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Valerine yang berdiri di belakang mereka langsung tersenyum tipis.
Gideon tertawa.
“Lu bakal sering dengar dia ngomong begitu.”
Julian mengangkat bahu.
“Kalau begitu gue harus punya kata sendiri.”
Borin tiba-tiba mengetuk meja.
“Kalau kalian sudah selesai mengobrol, siapa yang mau menguji rancangan itu?”
Julian menunjuk dirinya sendiri.
“Gue.”
Ia mengambil alat dan mulai bekerja.
Lucian berdiri di sampingnya.
“Aku bisa membantu.”
Julian melirik.
“Gue kira lo cuma mau melihat.”
“Aku ingin tahu apakah rancangan itu benar.”
“Jadi lo tidak percaya diri dengan perhitunganmu sendiri?”
“Justru karena aku percaya.”
Julian terkekeh.
“Baiklah, Tuan Muda.”
Untuk pertama kalinya sejak mereka memasuki Orion, Lucian merasa ada seseorang di luar lingkaran kecilnya yang bisa diajak berdiskusi tanpa perlu menjelaskan semuanya dari awal.
Bukan seorang bangsawan seperti Gideon.
Bukan seorang analis seperti Valerine.
Julian berbeda.
Dia memahami dunia melalui barang, kristal, alat, dan cara manusia menggunakannya.
Dan Lucian menyadari sesuatu.
Mungkin Akademi Orion bukan hanya tempat untuk belajar menjadi penyihir.
Mungkin tempat ini juga mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki cara berbeda dalam melihat dunia.
Lucian kembali menatap mesin di hadapannya.
“Menarik.”
Julian tersenyum.
“Gue mulai paham kenapa kata itu sering keluar dari mulut lo.”
Di kejauhan, sebuah kristal mana menyala.
Mesin mulai bekerja.
Dan untuk pertama kalinya, hubungan Lucian dengan Julian Sterling mulai benar-benar terbentuk.