Chapter 53 of 53
Bab 53 — Batas yang Tidak Perlu Dilewati
861 words
Keesokan paginya, Arena Orion kembali dipenuhi suara para siswa.
Namun kali ini tidak ada ujian.
Tidak ada papan pengumuman.
Tidak ada penilaian.
Hanya latihan.
Lucian berdiri di tengah arena bersama Gideon dan Valerine. Di sisi lain, Rosalind berjalan memasuki lapangan dengan langkah tenang.
Rambutnya bergerak ringan tertiup angin.
Di tangannya tidak ada senjata.
Ia hanya mengangkat satu tangan.
Percikan listrik muncul di antara jemarinya.
Krak!
Beberapa siswa yang sedang berlatih langsung menoleh.
Gideon menghela napas.
“Dia serius ternyata.”
Valerine memperhatikan Rosalind.
“Sepertinya memang begitu.”
Lucian tetap tenang.
Rosalind berhenti beberapa meter di depannya.
“Aku tidak datang untuk bertarung sampai salah satu dari kita kalah.”
Lucian mengangguk.
“Lalu?”
“Uji kemampuan.”
“Dengan aturan?”
Rosalind menunjuk lingkaran arena.
“Tidak ada serangan mematikan. Tidak keluar dari batas. Kita berhenti ketika salah satu menyerah atau instruktur menghentikan.”
Lucian melihat sekeliling.
Professor Magnus Arkwright ternyata sudah berdiri di sisi arena.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Hanya mengamati.
Lucian memahami maksudnya.
“Baik.”
Rosalind mengambil posisi.
Lucian berdiri santai.
Magnus mengangkat tangan.
“Mulai.”
BOOM!
Rosalind langsung bergerak.
Api muncul di bawah kakinya dan mendorong tubuhnya ke depan.
Lucian menghindar ke samping.
Sebuah bola api melesat melewati tempatnya berdiri.
WUSSH!
Lucian mengangkat satu jari.
Cahaya keemasan muncul.
Namun sebelum ia menembakkan apa pun—
KRAK!
Petir menghantam dari atas.
Lucian melompat mundur.
Petir menghantam tanah dan meninggalkan retakan kecil.
“Cepat,” gumam Gideon.
Valerine mengangguk.
“Dia tidak memberikan waktu untuk membentuk mantra.”
Lucian tersenyum tipis.
“Menarik.”
Rosalind mendengar itu.
“Jangan terlalu santai.”
Api menyebar di permukaan arena.
Lucian segera menyadari sesuatu.
Rosalind tidak menyerangnya secara langsung.
Ia sedang mengubah medan.
Api menutup beberapa jalur.
Petir menjaga ruang kosong.
Rosalind menciptakan area yang semakin sempit bagi lawannya.
Lucian bergerak mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga—
Ia berhenti.
Rosalind langsung meluncurkan petir.
Lucian mengangkat tangan.
☀️
Cahaya keemasan muncul.
Sebuah lapisan Solar Genesis terbentuk tipis di depannya.
BOOM!
Petir bertabrakan dengan lapisan itu.
Ledakan kecil terjadi.
Lucian terdorong beberapa meter.
Namun tetap berdiri.
Rosalind menyipitkan mata.
“Itu teknik yang sama dari ujian.”
“Benar.”
“Kau masih menahannya.”
Lucian tidak menjawab.
Rosalind mengangkat kedua tangannya.
Api dan petir muncul bersamaan.
Fire + Lightning.
Dua elemen Common Affinity yang dikendalikan dengan presisi tinggi.
Lucian memperhatikan alirannya.
Ia tidak hanya menggabungkan dua serangan.
Ia membuat keduanya saling menutupi.
Api memaksa lawan bergerak.
Petir menunggu arah gerakan tersebut.
Sebuah kombinasi sederhana.
Tetapi efektif.
Lucian menghela napas.
Dia bukan sekadar memiliki mana besar.
Dia benar-benar menguasai Affinity-nya.
Rosalind menyerang.
Lucian bergerak.
Api.
Petir.
Api.
Petir.
Setiap serangan membuat ruang geraknya semakin kecil.
Gideon mulai serius memperhatikan.
“Lucian mulai terpojok.”
Valerine menggeleng.
“Tidak.”
Gideon menatapnya.
“Kenapa?”
“Lihat kakinya.”
Lucian memang tidak panik.
Ia justru terus bergerak menuju satu sisi arena.
Sisi yang sejak awal dipenuhi bekas retakan.
Rosalind menyadarinya terlambat.
“Kau sengaja menuju sana?”
Lucian tersenyum.
“Ya.”
Ia berhenti.
Rosalind langsung melepaskan petir.
Lucian menghentakkan kaki.
BOOM!
Mana mengalir melalui retakan tanah.
Solar Genesis yang sangat tipis menyentuh permukaan arena.
Bukan untuk menyerang.
Tetapi untuk memantulkan sebagian energi.
Petir Rosalind menyambar tanah.
Namun jalurnya berubah.
KRAK!
Petir meleset beberapa meter dari Lucian.
Rosalind membelalakkan mata.
“Medan...”
Lucian mengangguk.
“Kalau aku tidak bisa mengalahkan seranganmu secara langsung, aku hanya perlu mengubah cara serangan itu mencapai aku.”
Rosalind tersenyum kecil.
“Bagus.”
Ia mengangkat tangannya lagi.
Namun sebelum serangan berikutnya dilepaskan—
“Cukup.”
Suara Magnus terdengar.
Seluruh arena langsung tenang.
Rosalind menurunkan tangannya.
Lucian juga menghentikan aliran mana.
Magnus berjalan ke tengah arena.
“Kalian berdua sudah menunjukkan cukup.”
Ia melihat Rosalind.
“Kau punya kontrol elemen yang sangat baik.”
Kemudian ia menatap Lucian.
“Dan kau menggunakan lingkungan dengan baik.”
Magnus berhenti sejenak.
“Tapi ada satu hal yang harus kalian pahami.”
Ia memandang keduanya.
“Latihan bukan tempat untuk membuktikan siapa yang paling kuat.”
Rosalind diam.
Lucian juga.
“Latihan adalah tempat untuk menemukan apa yang belum kalian pahami.”
Magnus berbalik.
“Kalau kalian hanya ingin menang, arena ini terlalu kecil untuk tujuan kalian.”
Ia pergi.
Rosalind memandang Lucian.
“Kurasa pertarungan kita belum selesai.”
Lucian memasukkan tangannya ke saku.
“Aku juga tidak menganggapnya selesai.”
Rosalind kemudian berbalik dan pergi.
Gideon menghampiri Lucian.
“Gua kira kalian bakal lanjut sampai arena hancur.”
“Tidak perlu.”
Valerine tersenyum.
“Dia mendapatkan apa yang dia inginkan.”
Lucian menatap arena.
“Apa?”
“Jawaban.”
Lucian terdiam.
Ia baru sadar.
Rosalind tidak benar-benar ingin mengalahkannya.
Ia ingin melihat apakah Lucian memang sengaja menahan diri.
Dan sekarang dia sudah mendapatkan jawabannya.
Lucian memang menahan diri.
Tetapi bukan karena takut.
Ia hanya belum menemukan alasan untuk menggunakan lebih banyak.
---
Di luar arena, Rosalind berjalan sendirian.
Ia menatap telapak tangannya.
Api kecil muncul.
Kemudian petir.
Keduanya padam.
Dia tidak bertarung dengan cara biasa.
Rosalind teringat bagaimana Lucian menggunakan medan.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Tidak ada mantra besar.
Tidak ada usaha memamerkan kekuatan.
Namun setiap tindakannya memiliki tujuan.
Rosalind tersenyum tipis.
“Lucian Eisenwald...”
Ia menatap langit.
“Seberapa jauh sebenarnya batasmu?”
Sementara itu, di sisi lain akademi—
Seorang pemuda sedang berlari membawa tiga kotak kristal.
“WOI! JULIAN!”
Suara Borin terdengar dari kejauhan.
“JANGAN BAWA SEMUANYA SEKALIGUS!”
Julian menoleh.
“GUE BISA!”
Salah satu kotak hampir jatuh.
Julian menangkapnya dengan susah payah.
“...Masih bisa.”
Dan dari kejauhan, Lucian yang baru keluar dari arena melihat kejadian itu.
Ia berhenti.
Menatap Julian.
Kemudian tersenyum kecil.
Akademi Orion ternyata jauh lebih ramai daripada yang ia bayangkan.
Dan baru minggu pertama.